Chapter Twenty One

Pulang dalam Keadaan Apa Pun

POV: Erga Oktariano

Nadira menerima tawaran dua tahun itu.

Aku mengetahuinya dari unggahan federasi sebelum dia sempat mengatakannya sendiri. Foto Nadira berdiri bersama Coach Maya dan perwakilan sponsor memenuhi layar. Senyumnya sempurna.

Aku tahu senyum itu tidak sampai ke matanya.

Tiga malam dia tidak datang ke kedai. Kursi pojok tetap diberi tanda reservasi sampai tutup. Pada malam keempat, aku melepas tandanya sendiri.

Sasa memperhatikanku dari belakang mesin espresso. “Kalau kursinya tetap kosong, kenapa setiap malam dibersihkan dua kali?”

“Debu.”

“Kursi lain juga berdebu.”

Aku tidak menjawab. Malam pertama tanpa Nadira, aku salah membuat tiga pesanan. Malam kedua, tanganku otomatis menyiapkan americano pukul sembilan lewat empat puluh sembilan. Malam ketiga, aku membawa kopi yang tidak diminum itu pulang dan membiarkannya dingin di meja.

Selama tiga malam itulah aku membuat gelang. Tali sepatu lama Nadira masih tersimpan di laci bersama struk pertama yang mencantumkan namanya. Pengrajin bertanya apakah tali usang itu benar-benar ingin dipertahankan.

“Bagian yang rusak justru penting,” jawabku.

Aku ingin Nadira membawa bukti bahwa benda yang gagal masih bisa berubah menjadi sesuatu yang layak disimpan. Mungkin sebenarnya gelang itu juga pesan untuk diriku.

Lalu bel pintu berbunyi pukul sembilan lewat empat puluh sembilan.

Nadira masuk dengan hoodie abu-abu, rambut basah oleh gerimis, dan wajah yang terlalu tenang. Dia melihat kursinya tanpa tanda, kemudian duduk.

Aku membuat americano. Saat meletakkannya, dia berkata, “Aku terima tawarannya.”

“Saya tahu.”

“Dari internet?”

“Iya.”

“Selamatnya mana?”

“Selamat.”

Nadira tertawa kecil tanpa bahagia. “Kamu benar-benar menyebalkan.”

Aku duduk di seberang. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi semuanya terasa egois. Aku mengeluarkan kotak kecil dari saku.

“Apa itu?”

Di dalamnya ada gelang tipis dari tali sepatu skate lama yang pernah putus. Nadira membuang tali itu di kedai setelah menyebutnya saksi kegagalan terburuk. Aku menyimpannya, membersihkan, lalu meminta pengrajin memasang pengait perak.

“Kamu masih simpan?” tanyanya.

“Kamu selalu bangkit setelah jatuh. Saya pikir kamu perlu membawanya.”

Aku memasangkan gelang di pergelangan kirinya. Nadira memperhatikan jemariku tanpa bicara.

“Kenapa bukan tangan kanan?”

“Yang kanan pernah cedera.”

“Kamu ingat semuanya?”

“Sayangnya.”

Matanya berkaca-kaca. “Kamu memberi hadiah perpisahan?”

“Hadiah pertandingan.”

“Aku belum bertanding.”

“Makanya dipakai.”

Nadira berdiri. Aku ikut berdiri karena tidak tahu harus melakukan apa. Dia mendekat sampai ujung sepatunya menyentuh sepatuku.

“Aku marah sama kamu,” katanya.

“Saya tahu.”

“Aku ingin kamu minta aku tinggal.”

Dadaku mengencang. “Saya tahu.”

“Tapi kalau kamu benar-benar minta, mungkin aku akan membencimu.”

“Saya juga tahu.”

“Berhenti tahu semuanya.”

Air matanya jatuh. Aku mengangkat tangan dan menyekanya dengan ibu jari.

“Saya nggak tahu cara membuat ini nggak sakit,” kataku.

Nadira menangkap pergelangan tanganku. “Bilang kamu akan rindu.”

“Setiap hari.”

“Bilang kamu ingin aku pulang.”

“Saya ingin kamu selalu pulang.”

“Bilang aku penting.”

“Kamu bagian terbaik dari hari saya.”

Nadira menekan kepalan tangan ke dadaku. “Kalau begitu kenapa aku selalu merasa kamu siap hidup tanpa aku?”

“Karena saya pernah hidup sebelum kamu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Karena kalau saya mengaku nggak bisa, kamu akan merasa bertanggung jawab.”

“Aku mau bertanggung jawab atas pilihan yang kubuat.”

“Dan saya mau memastikan pilihan itu tetap milikmu.”

Kami kembali berputar pada lingkaran yang sama. Bedanya, kali ini air mata Nadira sudah jatuh dan pertahananku ikut retak.

“Saya takut,” kataku.

Dia diam.

“Bukan cuma takut kamu tinggal dan menyesal. Saya takut kamu pergi dan menemukan hidup yang jauh lebih besar, lalu menyadari kedai ini terlalu kecil untuk kembali.”

Wajah Nadira melembut. “Akhirnya.”

“Apa?”

“Kamu bicara tentang ketakutanmu, bukan masa depanku.”

Dia menyentuh pipiku. “Aku nggak bisa janji dua tahun nggak akan mengubah apa pun. Tapi aku juga nggak bisa membawa kita kalau kamu terus menaruh dirimu di luar semua keputusan.”

Tangisnya pecah tanpa suara. Aku menariknya ke pelukan. Tubuh Nadira gemetar di dadaku, kedua tangannya mencengkeram apron.

Aku mencium keningnya lama.

“Pulang dalam keadaan menang atau kalah,” bisikku. “Saya tetap menunggu.”

“Jangan cuma menunggu.”

“Lalu?”

Nadira mengangkat wajah. “Minta tempat.”

Aku belum siap. Ketakutan membuatku diam terlalu lama.

Dia melepaskan pelukan dan mengusap air mata. “Besok aku datang lagi. Pikirkan apa yang benar-benar kamu mau, bukan apa yang terbaik buat aku.”

Nadira pergi tanpa menyentuh kopinya.

Aku berdiri di samping kursi pojok, menyadari bahwa selama ini aku menggunakan ketulusan sebagai tempat bersembunyi. Membebaskannya mudah. Mengakui bahwa kepergiannya akan menghancurkanku jauh lebih sulit.

Malam itu, aku menulis satu kalimat pada tanda reservasi baru:

TEMPAT INI MENUNGGU ZIVANA NADIRA PULANG.

Namun besok, untuk pertama kalinya, kursi itu bukan jawaban yang dia butuhkan.

Dia membutuhkan aku.

Dan aku harus memutuskan apakah berani mengatakan bahwa aku juga membutuhkannya.

Setelah kedai tutup, aku pulang ke rumah Ibu. Beliau sedang menonton ulang video lama acara sekolah, salah satu rekaman terakhir Ayah dengan kamera yang kujual.

“Kalau Ayah masih ada, dia akan bilang apa?” tanyaku.

Ibu tidak bertanya tentang siapa. “Dia akan bilang jangan memakai pengorbanan untuk menghindari kebahagiaan.”

“Saya cuma nggak mau menahannya.”

“Meminta tempat bukan menahan.”

Aku melihat layar. Dalam video, Ayah berdiri di belakang kamera, suaranya memanggil namaku agar melihat lensa. Selama bertahun-tahun aku mengira cinta berarti menjadi orang di belakang kamera—merekam, menjaga, dan tidak perlu masuk ke gambar.

Nadira memintaku berdiri di dalamnya.

Malam itu aku berlatih mengatakan, “Saya membutuhkan kamu,” kepada kamar kosong. Kalimatnya terasa egois. Juga terasa jujur.