Chapter Sixteen
Kalau Aku Mau Baristanya
POV: Zivana Nadira
Aku datang untuk menagih bunga.
Erga sedang membuat cappuccino ketika aku berdiri di depan kasir. Dia melihatku, lalu melihat jam.
“Kamu datang lebih awal.”
“Aku mau pesan.”
“Americano?”
“Baristanya.”
Tangannya berhenti di atas pitcher. Sasa, yang sedang menyusun sedotan, berbalik tanpa malu-malu.
“Nggak dijual,” jawab Erga.
Aku menarik kerah apronnya. “Kalau dicicipin?”
“Kedai masih ramai.”
“Makanya aku belum cium.” Aku tersenyum. “Aku sedang sopan.”
Sasa menjatuhkan satu pak sedotan dan kabur ke belakang sambil menutup mulut. Erga menatapku dengan wajah seseorang yang sedang menghitung sisa kesabaran.
“Bunganya bukan itu,” katanya.
“Belum kutentukan.”
“Bayar pakai uang saja.”
“Membosankan.”
Aku melepaskan apron dan menuju kursi pojok. Lima menit kemudian, Erga membawa americano serta cheesecake. Di atas whipped cream ada tulisan kecil dari saus cokelat: UTANG DITOLAK.
Aku memotretnya. “Bukti penolakan kasih sayang.”
“Bukti kedai menjaga pembukuan.”
“Kalau aku benar-benar cium kamu di depan pelanggan?”
“Saya akan percaya kamu berani.”
“Cuma itu?”
“Dan mungkin menjatuhkan satu atau dua cangkir.”
Aku berdiri, sengaja memperpendek jarak. Erga tidak mundur, tetapi matanya berubah waspada.
“Aku bisa buktikan sekarang.”
“Kamu ingin atau hanya ingin menang?”
Pertanyaannya menghentikanku.
Erga tidak terlihat marah. Dia hanya jujur, seperti malam ketika meminta agar aku tidak menjadikan harapannya permainan.
“Dua-duanya,” jawabku.
“Kalau begitu tunggu sampai keinginannya lebih besar daripada permainan.”
“Kamu menolak aku?”
“Saya memastikan kamu nggak akan menyesal.”
Aku ingin kesal. Sebaliknya, dadaku menghangat. Bahkan ketika aku menawarkan sesuatu yang selama ini jelas dia inginkan, Erga masih lebih memikirkan perasaanku setelahnya.
“Kalau aku nggak akan menyesal?”
“Minta lagi saat kita tidak punya penonton.”
“Di gudang?”
Erga hampir tersedak ludah sendiri. “Minum kopimu.”
Aku tertawa dan kembali duduk. Sepanjang satu jam berikutnya, aku mengganggunya lewat pesan meski hanya berjarak beberapa meter.
Ketika kedai mulai sepi, aku masuk ke area belakang dengan alasan ingin belajar membuat kopi. Erga menolak tiga kali sebelum menyerah dan memasangkan apron cadangan pada tubuhku.
“Terlalu panjang,” kataku sambil memegang tali.
“Karena biasanya dipakai orang dewasa yang tidak mengganggu pegawai.”
“Pasangkan.”
Erga berdiri di belakangku dan mengikat tali apron di pinggang. Jemarinya tidak menyentuh kulit, tetapi kedekatan itu membuat bahuku menegang.
“Pegang pitcher,” katanya.
Aku sengaja berdiri membelakanginya dan menarik kedua tangannya ke pinggangku. “Ajarnya dari sini. Biar tanganku nggak salah gerak.”
“Kamu sengaja, ya?”
“Baru sadar?”
Dia tetap mengajarkan sudut pitcher, tetapi suaranya menjadi lebih berat. Susu pertama terlalu berbusa. Yang kedua tumpah. Pada percobaan ketiga, gambar di permukaan kopi tampak seperti awan rusak.
“Ini hati,” kataku.
“Hati siapa bentuknya begitu?”
“Punyamu. Rusak karena terlalu sering menahan diri.”
Tangannya berhenti membimbing. “Punya kamu?”
Aku menoleh. Wajah kami dekat.
“Masih bagus. Tapi kamu mulai bikin masalah.”
Erga memutar tubuhku perlahan sampai berhadapan. “Saya nggak mau kamu mengatakan sesuatu hanya karena suasananya mendukung.”
“Aku juga nggak mau kamu menganggap semua yang kulakukan nggak punya arti.”
Jarak bibir kami tinggal beberapa sentimeter. Aku belum meminta. Dia belum mengambil. Namun diam itu terasa seperti janji yang sedang dibentuk.
Sasa memanggil karena ada pelanggan. Kami langsung terpisah.
Aku membawa latte berbentuk hati rusak ke kursi pojok dan meminumnya sampai habis. Rasanya terlalu banyak susu, tetapi aku menyukai bukti bahwa kami baru saja membuat sesuatu bersama.
Kalau gudangnya dikunci, kamu masih bisa kabur?
Dia membaca, menatapku, lalu membalas.
Ada pintu darurat.
Aku berdiri di depannya.
Jendela.
Lantai dua.
Saya ambil risiko.
Aku tertawa sendiri sampai pelanggan di meja sebelah menoleh.
Menjelang tutup, ponsel Erga berdering. Wajahnya berubah begitu membaca nama penelepon. Dia masuk ke belakang, tetapi aku masih mendengar potongan suaranya.
“Bima, pelan-pelan. Ibu kenapa?”
Kursiku bergeser sebelum kupikirkan. Erga keluar dengan wajah pucat sambil melepas apron.
“Aku ikut,” kataku.
“Nggak perlu.”
“Ibumu di rumah sakit?”
“Bima sudah di sana.”
“Aku ikut.”
Dia hendak menolak lagi. Aku mengambil kunci motornya dari meja.
“Kamu gemetar. Kita naik mobil.”
Untuk pertama kalinya, Erga tidak melawan perintahku.
Di perjalanan, seluruh godaan malam itu menghilang. Aku menggenggam tangannya di bangku belakang. Erga menatap jalan, rahangnya kaku.
“Ibu punya masalah jantung,” katanya akhirnya. “Biasanya terkontrol.”
“Kali ini?”
“Bima bilang sesak.”
Aku tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Janji kosong tidak akan membantu. Aku hanya menggenggam lebih erat.
Di depan IGD, Erga menarik tangannya.
“Kamu pulang saja. Besok latihan.”
“Aku tinggal.”
“Nadira—”
“Jangan pakai suara kasirmu. Malam ini aku nggak pesan apa-apa.”
Dia memandangku, lelah dan takut.
“Aku tinggal karena aku mau,” lanjutku. “Bukan karena kamu minta.”
Erga mengangguk sekali.
Malam itu aku tidak menagih bunga. Aku duduk di sampingnya di kursi rumah sakit sampai pagi, tangan kami bertaut di antara dua tubuh yang terlalu lelah untuk berpura-pura hubungan ini masih sederhana.
Sekitar pukul tiga, Bima keluar membawa dua kopi vending machine. Dia mengenaliku dan langsung berhenti.
“Kak Nadira?”
“Jangan pakai Kak.”
Dia melihat tangan kami. “Baik. Calon—”
Erga terbangun dan langsung menendang pelan sepatu adiknya.
“Ibu gimana?” tanyanya.
“Tidur. Kata perawat besok pindah kamar.” Bima menyerahkan kopi. “Aku pulang ambil baju.”
“Saya ikut,” kataku.
Erga menggeleng. “Kamu tetap di sini saja.”
Kalimat itu kecil, tetapi untuk pertama kalinya dia memintaku tinggal.
Setelah Bima pergi, Erga meminum kopi dan langsung mengernyit.
“Buruk?”
“Sangat.”
Aku mengambil gelasnya, mencicipi, lalu menahan tawa. “Sekarang kamu tahu rasanya hidup tanpa barista.”
“Tragis.”
“Kalau aku cium, membaik?”
Dia menatapku lama, kelelahan menghapus sebagian pertahanannya. “Mungkin.”
Aku mendekat, tetapi hanya mencium pelipisnya. “Sisanya nanti.”
“Kenapa?”
“Aku ingin saat pertama kali kamu mencium aku, pikiranmu cuma ada di aku.”
Erga menutup mata. “Itu tuntutan berat.”
“Aku atlet nasional. Standarku tinggi.”
Dia menyandarkan kepala ke bahuku. Kali ini aku yang diam agar dia bisa tidur. Aku memahami bahwa keberanian bukan selalu mendekatkan bibir. Kadang keberanian adalah menunggu ketika orang yang dicintai sedang tidak punya ruang untuk menerima apa pun.
- 1 Pelanggan Terakhir
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman
- 15 Poster Tanpa Nama
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya reading
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah
- 20 Dua Tahun
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama