Chapter Five
Kasir yang Terlalu Ramah
POV: Erga
Kertas bertuliskan DICADANGKAN UNTUK ATLET GALAK bertahan selama lima hari sebelum manajer kedai melihatnya.
“Kita nggak bisa mencadangkan meja setiap malam untuk satu orang,” kata Pak Dimas.
Aku berdiri di depannya sambil memegang clipboard stok. “Dia pelanggan tetap.”
“Pelanggan lain juga bayar.”
“Dia datang hampir tutup. Jam ramai sudah lewat.”
Pak Dimas melihat kertas yang kutulis, lalu melihatku. “Atlet galak?”
“Identifikasi internal.”
“Kamu suka sama dia?”
“Kita sedang membahas operasional kedai.”
“Berarti iya.”
Aku menyodorkan clipboard. “Stok susu oat tinggal empat.”
Pak Dimas tertawa, tetapi akhirnya mengizinkan reservasi setelah pukul sembilan. Kemenangan kecil yang tidak boleh diketahui Nadira, karena harga diriku masih ingin mempertahankan sisa-sisa bentuknya.
Malam itu kedai lebih ramai dari biasanya. Ada komunitas buku di meja panjang, tiga pekerja kantor di dekat jendela, dan seorang perempuan bergaun merah yang sudah dua kali memesan minuman hanya untuk kembali ke kasir.
“Mas Erga, rekomendasi yang manis apa?” tanyanya.
“Caramel latte.”
“Kalau yang nggak ada di menu?”
“Air putih.”
Dia tertawa lebih keras daripada kualitas jawabanku.
Bel pintu berbunyi pukul sembilan lewat empat puluh sembilan.
Nadira masuk memakai celana olahraga hitam dan hoodie abu-abu. Tatapannya langsung menuju kursi pojok. Begitu melihat kertas reservasi baru—kali ini hanya bertuliskan NADIRA—bahunya turun sedikit.
Kemudian dia melihat perempuan bergaun merah di depan kasir.
Bahunya naik lagi.
“Mas Erga punya Instagram?” tanya perempuan itu.
“Kedai punya.”
“Yang pribadi.”
“Isinya foto struk sama kucing tetangga.”
“Aku suka kucing.”
“Erga.”
Suara Nadira memotong percakapan dengan ketepatan seorang pelatih meniup peluit.
Aku menoleh. “Ya?”
“Kopiku.”
“Belum dibuat.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Buat.”
Perempuan bergaun merah melirik Nadira, mengenalinya, lalu memilih menyingkir dengan latte yang baru setengah jadi. Aku mulai menyiapkan americano.
“Hari yang buruk?” tanyaku.
“Belum.”
Jawaban itu terdengar seperti ancaman bersyarat.
Aku membawa pesanannya ke meja. Nadira sedang melepas hoodie. Di baliknya ada kaus latihan tanpa lengan dan bekas plester di bahu. Mataku berhenti di sana sepersekian detik sebelum naik ke wajahnya.
Dia menyadarinya.
Tentu saja.
“Ada yang salah?” tanyanya.
“Plesternya hampir lepas.”
“Cuma itu?”
“Apa lagi?”
“Nggak ada.” Dia mengambil cangkir. “Kembali saja ke pelangganmu.”
“Semua yang duduk di sini pelanggan saya.”
“Yang itu kelihatannya butuh pelayanan khusus.”
Aku menarik kursi seberang dan duduk. “Kamu sedang marah?”
“Nggak.”
“Cemburu?”
Nadira hampir tersedak kopi.
Aku tidak tahu keberanian dari mana yang membuat kata itu keluar. Mungkin dari caranya menatap perempuan tadi seperti sedang menilai apakah gaunnya memenuhi standar keselamatan.
“Aku?” Nadira meletakkan cangkir terlalu keras. “Cemburu sama pelangganmu?”
“Saya hanya mengumpulkan data.”
“Datanya salah.”
“Baik.”
“Aku cuma terganggu karena kamu terlalu ramah.”
“Pekerjaan saya memang ramah.”
“Nggak perlu sampai kasih Instagram.”
“Saya belum kasih.”
“Tapi kamu mempertimbangkan.”
“Saya sedang mempertimbangkan kenapa kamu peduli.”
Tatapan kami bertahan. Nadira tidak terlihat malu. Justru dagunya terangkat sedikit, seolah memutuskan menyerang daripada mundur.
“Karena aku pelanggan tetap.”
“Hubungannya?”
“Aku harus memastikan fokus kasir tidak turun.”
“Fokus saya baik.”
“Buktikan.”
Dia menyandarkan siku di meja dan mendekat. Jarak wajah kami menyusut sampai aku bisa melihat garis tipis eyeliner yang biasanya luput dari perhatian.
“Apa yang beda?” tanyanya.
Jangan sampai salah untuk kedua kali.
Aku memperhatikan dengan hati-hati. Rambut masih dikuncir. Bibir tanpa warna cokelat yang pernah membuatku gagal bekerja. Antingnya berbeda—bukan garis perak, melainkan bulatan kecil biru tua.
Namun bukan itu.
“Kamu pakai parfum,” kataku.
Nadira berkedip.
“Biasanya kamu datang bau es, hairspray, sama minyak otot.”
“Cara memujimu menyedihkan.”
“Tapi benar.”
Dia mundur dengan senyum puas. “Lumayan.”
“Jadi saya boleh tetap bekerja?”
“Untuk sementara.”
Aku berdiri. Sebelum pergi, dia menangkap ujung apronku.
Gerakannya ringan, hanya dua jari. Namun cukup membuat seluruh tubuhku sadar bahwa aku berdiri sangat dekat dengannya.
“Satu lagi,” katanya.
“Apa?”
“Mulai sekarang, kalau aku datang, jangan terlalu ramah sama perempuan lain.”
“Kenapa?”
Nadira memiringkan kepala. “Biar aku nggak perlu menghabiskan kopi pahit cuma untuk mengusir mereka.”
Aku menatap tangannya pada apron, lalu wajahnya.
“Jadi waktu itu memang cemburu?”
Dia melepaskan apron. “Kamu terlalu percaya diri.”
“Dan kamu belum menjawab.”
“Buatkan cheesecake.”
“Nadira.”
“Whipped cream dua kali.”
Dia kembali memainkan ponsel seolah percakapan selesai. Aku berjalan ke belakang meja dengan jantung yang bekerja lebih keras daripada mesin espresso.
Sasa menatapku sambil menyusun piring.
“Jangan senyum begitu,” kataku.
“Aku nggak senyum.”
“Wajahmu berisik.”
“Dia cemburu.”
“Dia bilang nggak.”
“Dan kamu percaya?”
Aku mengambil cheesecake. “Aku percaya hal yang dikatakan orang.”
“Makanya hidupmu begini.”
Aku menambahkan whipped cream dua kali dan membawanya kepada Nadira. Dia tidak mengucapkan terima kasih, tetapi kakinya bergeser di bawah meja, membuka ruang pada kursi di sebelahnya.
Aku tidak duduk. Kalau aku menuruti setiap undangan kecil yang mungkin hanya ada di kepalaku, aku akan lupa caranya menjaga jarak.
Sebagai gantinya, aku mengangkat piring kosongnya ketika dia selesai. Ada noda whipped cream di sudut bibirnya. Aku meletakkan tisu di depannya.
“Apa?” tanyanya.
Aku menunjuk sudut mulut sendiri.
Nadira mengusap sisi yang salah.
“Sebelahnya.”
Dia mengusap lagi dan tetap melewatkan noda itu. Aku seharusnya menyerahkan cermin atau membiarkannya. Tanganku justru bergerak lebih dulu.
Ibu jariku menyapu sedikit krim dari sudut bibirnya.
Nadira diam.
Aku juga.
Sentuhan itu berlangsung kurang dari satu detik, tetapi meja, kursi, dan suara percakapan pelanggan lain seolah menjauh. Bibirnya terbuka sedikit. Tatapannya turun ke tanganku sebelum kembali ke mataku.
Aku menarik tangan dan mengambil tisu.
“Maaf.”
Nadira tidak menjawab. Dia hanya mengambil tisu dari tanganku dan membersihkan ibu jariku perlahan, meskipun krimnya hampir tidak tersisa.
“Kalau perempuan tadi yang belepotan,” katanya, “kamu juga bersihkan?”
“Saya akan kasih tisu.”
“Kenapa aku nggak?”
Pertanyaan itu memiliki terlalu banyak jawaban berbahaya.
“Kamu pelanggan tetap,” kataku akhirnya.
“Oh.” Nadira masih memegang ujung jariku. “Jadi pelayanannya memang khusus.”
Dia melepaskannya, tetapi senyum puasnya bertahan sampai aku kembali ke belakang meja.
Sasa menatapku seolah baru menyaksikan kejahatan terjadi di ruang publik.
“Jangan mulai,” bisikku.
“Aku bahkan belum bicara.”
“Wajahmu lagi-lagi berisik.”
Saat pulang, Nadira berhenti di pintu.
“Minggu depan aku ada acara penghargaan,” katanya.
“Selamat.”
“Belum menang.”
“Tetap selamat harus menghadiri acara membosankan.”
Dia tersenyum. “Dress code-nya pakaian tradisional.”
“Kebaya?”
“Mungkin.”
“Bagus.”
“Kamu suka perempuan pakai kebaya?”
Aku membalik tanda open agar tidak perlu menatapnya ketika menjawab. “Kebaya bikin perempuan kelihatan anggun.”
“Semua perempuan?”
“Saya belum melakukan riset selengkap itu.”
Nadira mengangguk kecil, menyimpan jawabanku entah untuk apa.
“Sampai besok, Mas Kasir.”
Dia pergi. Dari balik kaca, kulihat dia membuka ponsel dan langsung menelepon seseorang.
Aku tidak tahu malam itu Nadira meminta penata gayanya mengganti gaun yang sudah dipilih.
Aku bahkan masih berpikir pertanyaan tentang kebaya tadi hanya bagian lain dari percakapan yang akan dia lupakan sebelum sampai rumah.
Aku juga tidak tahu bahwa seminggu kemudian, dia akan datang ke kedai memakai kebaya biru tua dan membuat semua orang lupa cara bergerak.
Yang kutahu hanya satu: kopi Nadira kembali tidak habis.
Dan harapanku, sayangnya, sudah telanjur tumbuh terlalu banyak untuk dibuang bersama sisanya.
- 1 Pelanggan Terakhir
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah reading
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman
- 15 Poster Tanpa Nama
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah
- 20 Dua Tahun
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama