Chapter Nine
Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
POV Celine
Aku menyesal menantang Arsen tepat pada detik ketiga.
Masalahnya, gengsi melarangku mengaku.
Kami berdiri berhadapan di ruangannya setelah rapat makan siang dibatalkan. Jarak kami cukup sopan untuk ukuran kantor, tetapi tatapan Arsen membuat meja kerja, dinding kaca, dan gedung-gedung di belakangnya terasa hilang.
“Aturannya sederhana,” kataku. “Siapa yang berkedip atau lihat ke tempat lain duluan, kalah.”
“Batas waktunya sepuluh detik.”
“Takut lebih lama?”
“Aku cuma nggak mau kamu pingsan.”
Aku tertawa. Itu kesalahan pertama. Pria ini mulai memakai humor keringnya sebagai senjata.
Aku menyalakan penghitung waktu di ponsel dan menaruhnya di meja.
“Siap?”
“Dari tadi.”
“Sombong.”
“Mulai, Celine.”
Aku menekan tombol.
Detik pertama, mudah. Aku fokus pada mata gelapnya dan mengingatkan diri bahwa aku pernah menatap klien marah, investor sok penting, bahkan ibu sendiri saat ketahuan pulang lewat tengah malam.
Detik kedua, Arsen sama sekali tidak berkedip.
Detik ketiga, ekspresinya berubah tipis. Bukan senyum. Lebih seperti ia tahu persis apa yang mulai terjadi kepadaku.
Detik keempat, aku sadar ia sedang melihatku sungguh-sungguh. Bukan melawan taruhan, bukan menunggu aku menyerah. Tatapannya turun sepersekian detik ke bibirku lalu kembali ke mata.
Seharusnya itu membuatnya kalah.
Sayangnya, gerakan itu terlalu cepat dan terlalu merusak konsentrasiku.
Detik kelima, napasku berubah.
Detik keenam, Arsen maju setengah langkah.
“Curang,” bisikku.
“Aku nggak menyentuh kamu.”
Detik ketujuh, suaranya yang rendah terasa seperti sentuhan juga.
Detik kedelapan, mataku jatuh ke mulutnya.
Ponsel berbunyi dua detik kemudian, tetapi kekalahanku sudah sah.
Arsen melihat layar, lalu kembali menatapku. “Delapan detik.”
“Kamu lihat bibirku di detik empat.”
“Aturannya lihat ke tempat lain. Bibirmu masih bagian dari kamu.”
“Aku mau banding.”
“Ditolak.”
Aku menyilangkan tangan. “Kenapa kamu jago banget?”
“Fokus adalah bagian dari pekerjaanku.”
“Kalau semua fokusmu kayak barusan, aku mulai kasihan sama angka-angka di laporan.”
Ia mengambil ponselku dari meja dan memberikannya kepadaku. Ujung jemarinya berhenti sebelum menyentuh tanganku.
“Sekarang,” katanya, “hadiahku apa?”
Aku membuka mulut.
Kosong.
Aku, Celine Maheswari, perempuan yang pernah menawarkan diri menjadi agenda makan siang seorang bos saat wawancara kerja, tidak punya satu balasan pun.
Untung sekaligus sial, pintu terbuka sebelum Arsen sempat menikmati kemenangannya lebih lama.
Keanu masuk membawa lembar susunan acara gala. “Aku baru lihat desain final—” Ia berhenti, memandang kami bergantian. “Saya mengganggu sesuatu?”
“Iya,” jawab Arsen.
“Nggak,” jawabku bersamaan.
Keanu tersenyum lebar. “Jawaban yang sangat menenangkan.”
Aku merebut lembar acara dari tangannya. “Aku lagi cek urutan sambutan. Pembukaanmu tujuh menit, video Nadi tiga menit, lalu pengumuman program beasiswa.”
“Kamu mengalihkan topik dengan cantik.”
“Aku memang cantik dalam banyak hal.”
“Betul.” Keanu memandang contoh kain kebaya yang masih terbuka di layar tabletku. “Kamu pakai hijau buat gala?”
“Zamrud.”
“Bahaya. Saya perlu kacamata gelap.”
Aku tertawa, lalu sengaja melirik Arsen. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Keanu menangkap permainan itu dan, karena sahabat yang baik rupanya senang mencari masalah, membungkuk kecil sambil menawarkan lengannya.
“Kalau bosmu berniat bersembunyi di ruang kontrol, datang sama saya. Setidaknya ada satu Co-CEO yang tahu cara menikmati pesta.”
Aku belum sempat menjawab ketika Arsen mengambil lembar acara dari tanganku.
“Celine mendampingiku saat sesi investor.”
Keanu menoleh. “Sesi investor yang mana?”
“Delegasi Singapura datang pukul tujuh dua puluh.”
“Itu jadwal Bram.”
“Aku ambil alih.”
“Sejak kapan?”
“Sekarang.”
Keanu menahan tawa dengan cara yang sangat tidak meyakinkan. “Tentu. Demi efisiensi.”
“Demi memastikan pembahasan produk akurat.”
Aku menatap Arsen. “Dan aku harus ada di sana karena?”
“Kamu pegang alur tamu eksekutif.”
“Ada tiga event officer yang juga pegang.”
“Kamu paling paham perubahan terakhir.”
Alasannya masuk akal. Sayangnya, ia memberi alasan terlalu banyak untuk orang yang biasanya cuma butuh satu kalimat.
Keanu menepuk bahuku. “Selamat, Celine. Kamu baru saja jadi aset strategis.”
“Keluar, Keanu,” kata Arsen.
Keanu pergi sambil tertawa.
Begitu pintu tertutup, aku melangkah mendekati meja. “Kamu cemburu?”
“Nggak.”
“Jawabanmu cepat banget.”
“Karena pertanyaannya gampang.”
“Kalau begitu, aku datang sama Keanu, ya?”
Tatapan Arsen naik dari lembar acara. “Kamu punya sesi investor.”
“Nah, itu dia.” Aku menahan senyum. “Pak Arsen yang sangat objektif mendadak merebut jadwal komisaris cuma karena Keanu nawarin lengan.”
“Aku merapikan pembagian kerja.”
“Tentu.”
“Berhenti tersenyum begitu.”
“Nggak bisa. Ini hari bersejarah.”
Ia meletakkan lembar acara. “Kamu baru kalah taruhan.”
“Tapi aku menang informasi.”
“Informasi yang salah.”
“Kalau salah, tatap aku dan bilang kamu sama sekali nggak peduli aku datang sama siapa.”
Arsen menatapku.
Aku menunggu.
Ia tidak mengucapkan kalimat itu.
Sebaliknya, ia bertanya, “Hadiahku?”
Permainan di wajahku pelan-pelan hilang. Arsen bisa saja meminta hal kecil. Kopi, satu jam tanpa gangguan, atau pembatalan makan siang yang tadi kujadikan taruhan. Namun cara ia menunggu membuatku sadar aku tidak ingin hadiah ini menjadi lelucon kosong.
“Datang ke gala,” kataku.
“Aku memang datang.”
“Bukan muncul lima menit, salaman sama dua orang, lalu hilang ke ruang kontrol. Tinggal di ruangan utama.”
Rahangnya menegang sangat tipis.
Aku tahu permintaanku menyentuh batas yang bukan sekadar sifat antisosial. Sejak konferensi pers, aku makin yakin ada alasan kenapa sorotan kamera membuat seluruh tubuhnya berubah. Aku tidak tahu alasannya, jadi aku tidak akan mendorong terlalu jauh.
“Satu jam,” kataku. “Nggak perlu pidato. Nggak perlu keliling sendiri. Kamu boleh pergi kalau situasinya bikin kamu nggak nyaman.”
“Kamu sedang memberiku hadiah atau tugas?”
“Kesempatan buat lihat aku pakai kebaya.”
Tatapannya sempat turun ke tabletku yang menampilkan kain hijau zamrud.
“Empat puluh lima menit,” katanya.
“Enam puluh.”
“Lima puluh.”
“Enam puluh, dan aku nggak akan mengganggumu selama sesi investor.”
“Itu memang pekerjaanmu.”
“Lima puluh delapan.”
Sudut bibirnya bergerak. “Satu jam.”
“Deal.”
Aku mengulurkan tangan. Ia melihatnya, lalu menjabat singkat. Genggamannya hangat dan mantap. Tidak ada yang romantis dari jabat tangan kantor, kecuali pria di depanku menahannya sepersekian detik lebih lama.
Sore itu, pekerjaanku membalas seluruh kesombongan pagi tadi. Vendor utama salah memasukkan nomor meja untuk delegasi asing, dua undangan VIP punya kode kursi yang sama, dan Bram mengirim perubahan daftar tamu tanpa lewat tim acara.
Aku mengumpulkan tiga event officer di ruang kecil, membagi ulang blok kursi, lalu meminta sistem registrasi mencetak kode baru tanpa mengubah urutan protokol. Saat salah satu staf junior hampir menangis karena mengira kesalahan itu miliknya, aku menunjukkan surel perubahan Bram yang masuk setelah daftar dikunci.
“Kamu nggak salah,” kataku. “Simpan semua versi file. Jangan hapus apa pun.”
Maya yang kebetulan lewat berhenti di pintu. “Kenapa semua versi harus disimpan?”
“Karena akhir-akhir ini terlalu banyak orang suka minta data setelah kejadian,” jawabku.
Maya menatapku sesaat, lalu mengangguk. “Kirim salinannya ke Legal.”
Ada sesuatu yang tidak ia jelaskan. Aku mencatatnya dalam kepala untuk ditanya nanti.
Saat mengumpulkan berkas, aku melihat tiga perubahan lain dari kantor Bram dalam dua minggu terakhir. Semuanya datang setelah batas waktu, lalu staf lapangan yang kena tegur ketika hasilnya tidak sesuai. Bisa saja cuma kebiasaan kerja yang buruk. Bisa juga cara sengaja membuat kekacauan kecil lalu mencari orang untuk disalahkan.
Aku menandai ketiga surel itu dan memasukkannya ke folder Legal tanpa membuat tuduhan. Kalau ada pola, data akan bicara. Kalau tidak, setidaknya Siska dan tim acara punya jejak yang bisa melindungi mereka.
Menjelang pulang, aku mengirim jadwal final kepada Arsen. Ia membalas dengan satu koreksi kecil dan pengingat agar aku datang lebih awal untuk briefing investor.
Aku mengangkat ponsel, memotret dua pilihan anting di atas meja, lalu mengirimnya.
Yang kiri atau kanan? Ini kesempatan kedua buat membuktikan seleramu.
Jawabannya datang satu menit kemudian.
Kanan. Yang kiri akan tersangkut di kebaya.
Aku memandangi layar.
Dia bukan cuma memilih. Dia memperhatikan detail potongan kebaya di tabletku tadi.
Kamu lihat sampai sedetail itu?
Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Aku lihat semua yang masuk ruang kerjaku.
Pipiku menghangat.
Aku mengetik sambil tersenyum.
Mulai hitung mundur, Pak Arsen. Aku bakal bikin satu jam itu susah dilupain.
Itu ancaman?
Janji.
Kali ini ia tidak membalas.
Namun pada Jumat malam, aku berniat memastikan Arsen Adiprana menyesal pernah menyetujui enam puluh menit bersamaku.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan reading
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima