Chapter Thirty
Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima
POV Celine
Setahun setelah gala pertama, aku kembali mengenakan kebaya hijau zamrud.
Kain batik sogannya sama. Sanggul rendahnya sama. Namun penjahit menambah sulaman emas tipis di ujung lengan, seperti garis cahaya yang baru terlihat saat aku bergerak.
Perempuan di depan cermin juga tidak lagi sama.
Aku bukan sekretaris yang berharap satu tatapan cukup jujur untuk membuktikan perasaannya. Aku memimpin empat puluh dua orang, memotong waktu keputusan operasional Evolte hampir sepertiga, dan baru pulang dari pembukaan pusat kendali Nadi di Bangkok. Hubunganku dengan Arsen bukan lagi pertanyaan yang harus kujawab lewat godaan.
Tapi aku tetap ingin mengacaukan konsentrasinya.
Pintu ruang rias terbuka. Keanu masuk lebih dulu, lalu berhenti di tempat.
“Saya sudah pernah lihat kebaya ini,” katanya. “Tetap saja, saya mulai kasihan pada Arsen.”
“Dia di luar?”
“Sejak lima menit lalu. Saya larang masuk karena Anda belum selesai.”
“Keputusan bagus.”
“Saya selalu bagus.”
Keanu membuka pintu lagi. Arsen berdiri di koridor dengan tuksedo hitam dan dasi kupu-kupu. Setahun terakhir membuatnya lebih terbiasa pada kamera, bukan lebih suka. Ia memberi dua wawancara besar, memimpin presentasi ekspansi regional, lalu kembali bekerja di tempat yang memang ia pilih. Keanu tetap menjadi wajah utama Evolte. Arsen tidak lagi memakai pembagian itu untuk menghilang.
Tatapannya jatuh kepadaku.
Percakapan di koridor melambat, persis seperti dulu. Bedanya, Arsen tidak buru-buru memperbaiki wajahnya.
Matanya melembut. Bibirnya terbuka sedikit. Ia melihatku dari sanggul sampai kain batik, lalu kembali ke mataku tanpa menyembunyikan apa pun.
“Kamu masih perempuan tercantik di ruangan ini,” katanya.
Keanu mengangkat tangan. “Saya pergi sebelum kadar gula naik.”
Setelah ia menjauh, aku mendekati Arsen. “Masih?”
“Sejak pertama kali.”
“Dulu kamu butuh waktu lama buat bilang.”
“Aku sedang mengejar banyak ketertinggalan.”
Ia mengulurkan tangan, menunggu. Aku meletakkan tanganku di telapak tangannya. Arsen mengangkatnya dan mencium punggung tanganku, tepat di depan orang-orang yang dulu harus menebak apa yang ia rasakan.
“Hati-hati,” kataku. “Ada wartawan.”
“Aku tahu.”
“Nggak takut besok masuk berita?”
“Beritanya akan kalah sama laporan ekspansi.”
“Sombong.”
“Fakta.”
Di aula, layar utama menampilkan perjalanan setahun Evolte. Kemitraan regional berjalan tanpa akuisisi. Valuasi perusahaan melewati tiga puluh triliun. Nadi kini dipakai di empat negara, dan sistem operasi lintas tim yang kubangun menjadi standar baru perusahaan.
Pemeriksaan terhadap Bram juga selesai. Audit independen membuktikan aliran dana, pemulihan akun delegasi, dan perintah kebocoran. Ia resmi diberhentikan melalui rapat pemegang saham luar biasa dan menghadapi proses hukum bersama dua kontraktor. Tidak ada pengakuan dramatis. Hanya bukti yang cukup kuat untuk bertahan setelah sorotan media pindah.
Aku membaca ringkasan itu di layar tanpa merasa hidup kami masih terikat padanya. Bram sudah menjadi catatan risiko, bukan pusat cerita.
Bu Ratih duduk di meja depan bersama ibuku. Keduanya baru bertemu enam bulan lalu dan sejak itu punya grup pesan sendiri yang tidak mengundang kami. Ibuku melambai ketika melihatku masuk. Bu Ratih tersenyum pada Arsen seperti orang yang tahu sesuatu yang belum kuketahui.
Aku menyipitkan mata. “Ibumu kelihatan mencurigakan.”
“Dia selalu begitu kalau dekat ibumu.”
“Kamu tahu sesuatu?”
“Banyak.”
“Tentang malam ini?”
Arsen menatap panggung. “Kita punya presentasi tujuh menit lagi.”
“Pengalihan topik. Sangat mencurigakan.”
Presentasi berjalan lancar. Keanu membuka dengan cerita tentang Evolte yang belajar tumbuh tanpa kehilangan kendali. Aku menjelaskan perubahan operasi regional, lalu Arsen menutup dengan strategi produk lima tahun. Ia tidak membaca teks. Ia menjawab pertanyaan investor, memberi kredit pada tim, dan membiarkan Keanu mengambil bagian yang memang lebih dikuasai sahabatnya.
Saat turun dari panggung, ia menyentuh punggungku sebentar. Sentuhan kecil, cukup untuk bilang kami berhasil tanpa mengubah momen kerja menjadi pertunjukan cinta.
Musik mulai setelah makan malam. Tahun lalu, aku menarik Arsen ke lantai dansa yang hampir kosong. Malam ini ia berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangan di depan semua orang.
“Mau dansa?” tanyanya.
“Kamu yakin? Banyak saksi.”
“Aku butuh mereka untuk memastikan kamu nggak menginjak kakiku lalu menyangkal.”
“Fitnah.”
Aku menerima tangannya.
Arsen membawa kami ke tengah lantai dansa. Tangannya berada di pinggangku, mantap dan hangat. Aku menyandarkan tangan di bahunya. Tidak ada lagi jarak satu langkah yang sengaja ia jaga. Tidak ada alasan profesional yang kami pakai untuk mendekat.
“Dulu kamu bilang ada hal yang sebaiknya nggak kucari,” kataku.
“Kamu tetap cari semuanya.”
“Dan ketemu.”
“Belum semuanya.”
“Ancaman atau janji?”
“Tergantung perilakumu.”
Aku menarik dasi kupu-kupunya sedikit. “Aku nggak pernah punya perilaku baik.”
Arsen memutar tubuhku dengan mulus, lalu menarikku kembali. “Aku tahu. Sudah terlambat menyesal.”
Kami berdansa sampai satu lagu selesai. Ketika lagu kedua mulai, Arsen membungkuk dekat telingaku.
“Mau kabur?”
“Dari gala perusahaan sendiri?”
“Kita sudah menyelesaikan semua agenda resmi.”
Aku melihat ibu kami yang sedang tertawa bersama, Keanu yang sibuk bicara dengan investor, dan timku yang memenuhi lantai dansa.
“Ayo,” kataku.
Kami meninggalkan gala lewat pintu utama. Tidak ada penyamaran, tidak ada mobil yang menunggu di basement. Kalau orang melihat kami pergi bersama, mereka hanya melihat dua orang yang memang sudah setahun memilih pulang ke arah yang sama.
Kedai kencan pertama hampir tutup saat kami tiba. Pelayan yang mengenali kami membuat dua kopi tanpa bertanya: americano tanpa gula untuk Arsen dan es kopi susu karamel dengan gula setengah untukku.
“Dia hafal,” kataku.
“Kita datang terlalu sering.”
“Satu sore tanpa agenda selalu berakhir di sini.”
“Kamu yang selalu memilih.”
“Dan kamu selalu ikut.”
“Itu gunanya partner.”
Kata itu masih membuatku hangat.
Bukannya pulang, Arsen membawa mobil ke Evolte. Lantai tiga puluh tujuh gelap dan sepi. Meja sekretaris lamaku sudah ditempati orang baru yang jauh lebih sopan dan tidak pernah menulis perintah tersenyum di kalender bos.
Di ruang kerja Arsen, hanya lampu meja yang menyala. Dua cangkir kopi kami diletakkan berdampingan.
“Kita ke sini buat apa?” tanyaku.
“Ada sesuatu yang mau kutanyakan.”
Ia tidak langsung membuka laci atau berlutut. Arsen berdiri di depanku dengan kedua tangan kosong.
“Setahun ini kamu masuk ke seluruh bagian hidupku tanpa mengambil bagian mana pun dariku,” katanya. “Kamu punya pekerjaan sendiri, keputusan sendiri, keluarga dan mimpi yang nggak berputar mengelilingiku. Aku juga tetap punya terapi, tanggung jawab, dan pilihan yang harus kujalani sendiri.”
Aku menahan napas.
“Tapi semua yang kita jalani terasa lebih utuh saat dipilih bareng.” Ia mengambil kotak kecil dari saku dalam tuksedo. “Aku nggak mau kamu menjadi bagian dari rencanaku. Aku mau kita membuat rencana yang jadi milik kita berdua.”
Arsen membuka kotak itu. Sebuah cincin sederhana dengan satu batu bening memantulkan cahaya lampu.
“Celine Maheswari, kamu mau membangun masa depan sama aku?”
Tidak ada kamera. Tidak ada layar gala. Hanya ruang yang dulu terlalu sunyi, dua kopi, dan pria yang akhirnya bertanya sebelum memutuskan.
Aku menatapnya dengan sengaja cukup lama sampai garis di antara alisnya muncul.
“Ini keputusan bisnis lima tahun?” tanyaku.
“Nggak.”
“Sudah dihitung risikonya?”
“Semuanya.”
“Dan proyeksi hasil?”
Arsen menatapku lurus. “Untuk pertama kalinya, aku nggak butuh prediksi buat memilih.”
Mataku terasa panas.
Aku mengulurkan tangan. “Kalau begitu, iya.”
Ia memasangkan cincin ke jariku, lalu tetap memegang tanganku seolah memastikan jawabanku nyata. Aku menariknya berdiri sebelum ia sempat mengatakan sesuatu yang terlalu rapi, kemudian memeluknya.
Napas Arsen keluar di dekat rambutku. Tidak ada ketegangan. Hanya lega yang begitu dalam sampai tubuhnya terasa lebih ringan.
“Ibu kita tahu?” tanyaku.
“Iya.”
“Keanu?”
“Dia membantu mengambil cincin.”
“Maya?”
“Dia memeriksa apakah penyimpanannya tercatat sebagai pengeluaran pribadi.”
Aku tertawa di bahunya. “Romantis sekali.”
“Aku dikelilingi orang yang terlalu peduli tata kelola.”
“Kamu yang mengajari.”
Aku mundur sedikit. “Setelah ini, struktur kerjaku nggak berubah.”
“Nggak.”
“Aku tetap melapor ke Keanu dan komite.”
“Iya.”
“Dan jangan tiba-tiba pesan gedung pernikahan buat bulan depan.”
“Aku belum memesan apa pun.”
“Belum?”
“Aku punya daftar awal.”
Aku menatapnya.
Arsen mengangkat kedua tangan. “Daftar pertanyaan yang perlu kita putuskan bareng. Bukan daftar keputusan.”
“Bagus. Pernikahannya kita rancang setelah bicara sama ibu-ibu kita. Tempat tinggal juga kita putuskan bareng. Aku nggak otomatis pindah ke rumahmu cuma karena ada satu laci.”
“Aku tahu.”
“Kok cepat setuju?”
“Karena aku mau menikah denganmu, bukan mengambil alih hidupmu.”
Jawaban itu terasa lebih kuat daripada janji bahwa semua akan selalu mudah.
Arsen mencium keningku, lalu bibirku. Ciumannya hangat dan pelan. Bukan akhir dari pengejaran, melainkan awal dari keputusan lain yang akan terus kami buat bersama.
Saat mengambil kopi, aku melihat layar tabletnya masih menyala. Kalender hari ini penuh sejak pagi, tetapi ada satu agenda pribadi pada pukul empat lewat lima puluh lima.
16.55 — Membuat Celine tersenyum sebelum pukul lima.
Aku menoleh. “Kamu serius memasukkan ini ke kalender?”
“Agenda penting harus dijadwalkan.”
“Tadi jam lima aku lagi marah karena susunan kursi gala diubah.”
“Aku kirim foto Keanu waktu ketumpahan kopi.”
“Jadi itu sengaja?”
“Target tercapai.”
Aku berdiri di depannya, meraih dasi yang sudah ia ganti setelah dansa, lalu menariknya pelan.
“Kalau aku tarik sedikit lagi,” bisikku, “kamu bakal mendekat atau—”
Arsen tidak menunggu pertanyaanku selesai. Tangannya melingkar di pinggangku dan menarikku tepat ke tubuhnya.
“Kamu sudah tahu jawabannya.”
Ia menciumku sampai dasinya miring dan kopiku hampir dingin. Ketika kami berpisah, cincin di jariku berkilau di antara kami.
Di atas meja ada dua kopi. Di tubuhku masih terpasang kebaya zamrud. Dasi Arsen miring karena tanganku.
Dan pria yang dulu harus kujadwalkan untuk tersenyum kini tersenyum tanpa disuruh.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima reading