← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Twenty Eight

Bukan Lagi Sekretarisnya

POV Arsen

Mengundurkan diri dari proses seleksi Celine membutuhkan waktu empat menit.

Berhenti memikirkan proses itu membutuhkan tiga hari dan tetap gagal.

Aku menandatangani pernyataan konflik, menyerahkan hak akses panel, dan meminta seluruh hasil wawancara disembunyikan dari akun eksekutifku sampai keputusan final. Maya menjadi pengawas kepatuhan. Keanu memimpin panel bersama dua komisaris independen dan satu konsultan organisasi dari luar Evolte.

Strukturnya bersih.

Masalahnya, aku tetap tahu kapan Celine masuk gedung untuk presentasi akhir.

Pukul delapan lewat empat puluh, namanya muncul di daftar tamu lantai dua puluh. Aku mematikan notifikasi sebelum sistem sempat menunjukkan ruang yang ia pakai.

Ponsel pribadiku bergetar.

Celine: Jangan cari tahu pertanyaan panel.

Arsen: Aku tidak mencari tahu.

Celine: Kamu baru saja menulis “tidak” dengan lengkap. Berarti kamu lagi tegang.

Arsen: Fokus wawancara.

Celine: Nah. Bosnya keluar. Nanti malam kembali jadi pacar.

Aku menaruh ponsel menghadap meja.

Keinginan untuk membantu terasa hampir sama kuat dengan keinginan untuk mengendalikan. Dulu aku akan menyamarkan campur tangan sebagai perlindungan: mengirim data, menyusun argumen, atau memastikan panel memahami nilainya. Sekarang aku tidak melakukan apa pun.

Bukan karena tidak peduli. Justru karena karier Celine harus bisa berdiri tanpa bayanganku.

Aku menghabiskan pagi dengan rapat ekspansi dan evaluasi ulang Northstar. Evolte menolak jadwal akuisisi mereka, tetapi tetap membuka kemitraan teknologi tanpa perpindahan kendali. Strategi itu menjaga akses pasar regional sekaligus membuat perusahaan tetap independen. Dua investor lama mendukungnya sebelum makan siang.

Pukul dua, presentasi Celine selesai. Aku tahu karena ia mengirim satu foto gelas air kosong.

Celine: Masih hidup. Tidak membunuh satu panelis pun.

Arsen: Standar keberhasilanmu rendah.

Celine: Tadi kamu bilang bukan bos. Pacar seharusnya bilang aku hebat.

Arsen: Kamu hebat. Sekarang makan.

Balasannya berupa foto lidah terjulur. Aku menyimpannya sebelum sempat mempertimbangkan apakah tindakan itu merusak wibawa.

Keputusan panel baru keluar dua hari kemudian.

Keanu masuk ke ruanganku membawa amplop tertutup. “Sebelum kamu bertanya, saya tidak datang untuk membocorkan hasil.”

“Lalu?”

“Maya ingin memastikan kamu menerima salinan deklarasi setelah pengumuman dikirim ke kandidat.”

Ia menaruh amplop di meja, tapi tetap berdiri di depannya.

“Kamu sudah tahu?” tanyaku.

“Saya ketua panel.”

“Dan kamu menikmati ini.”

“Sedikit.”

Ponselku bergetar sebelum aku sempat membuka amplop.

Celine: Pak CEO, sepertinya besok kita satu kantor lagi.

Aku membaca pesannya dua kali.

Keanu tersenyum lebar. “Sekarang saya boleh bilang selamat.”

Aku membuka dokumen keputusan. Celine mendapat nilai tertinggi pada desain sistem, manajemen krisis, dan integrasi lintas fungsi. Panel memilih rencana sembilan puluh harinya sebagai satu-satunya proposal yang tidak menambah lapisan persetujuan baru. Ia justru menghapus dua alur yang selama ini membuat keputusan eksekutif terlambat.

Tidak ada catatan soal kedekatannya denganku kecuali deklarasi konflik yang sudah ditangani. Tidak ada skor belas kasihan. Tidak ada hadiah cinta.

“Empat dari empat suara,” kata Keanu. “Kalau kamu ikut panel, orang akan terus bilang dia menang karena kamu. Karena kamu keluar, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa pacarmu memang lebih pintar dari banyak kandidat.”

“Aku sudah tahu.”

“Tentu. Kamu jatuh cinta lebih dulu, kan?”

“Keluar.”

“Nanti. Struktur laporannya perlu kamu baca.” Keanu menunjuk halaman kedua. “Celine melapor ke saya untuk operasi harian dan ke komite eksekutif untuk evaluasi kuartal. Kamu tidak menilai kinerjanya, tidak menyetujui gaji, dan tidak memegang promosi.”

“Sesuai rancangan.”

“Satu lagi. Tim komunikasi menyarankan hubungan kalian tidak lagi diperlakukan sebagai informasi terbatas setelah pengumuman jabatan. Bukan diumumkan dengan konferensi pers, cuma tidak disangkal kalau ditanya.”

“Keputusan itu harus dibicarakan dengan Celine.”

Keanu mengangguk. “Jawaban yang benar. Perkembanganmu membuat saya terharu.”

Hari pertama Celine sebagai Head of Executive Operations berlangsung tanpa ia masuk ke ruanganku. Ia rapat bersama tim baru, memindahkan dua alur persetujuan, dan menolak usulan ruang kerja di lantai tiga puluh tujuh karena timnya berada di lantai tiga puluh empat.

Aku tidak tersinggung.

Aku hanya melihat lift terbuka tiga kali lebih sering dari biasanya.

Sore hari, pengumuman jabatan Celine masuk ke kanal internal. Dokumennya memuat proses panel, struktur laporan, dan deklarasi konflik tanpa menyebut detail hubungan kami. Tidak ada ruang untuk rumor bahwa ia menerima promosi diam-diam dariku.

Tiga puluh menit kemudian, aku turun ke lantai tiga puluh empat untuk rapat keamanan. Dari koridor kaca, aku melihat Celine berdiri di depan dua belas anggota tim barunya. Ia tidak memakai kursi kepala meja. Ia memindahkan layar ke samping agar semua orang bisa melihat, lalu meminta mereka menunjukkan satu proses yang paling sering menghambat pekerjaan.

Seorang manajer senior menguji keputusannya. “Kalau semua tim boleh menantang alur yang ada, kita akan habiskan waktu untuk debat.”

“Makanya bukan semua keluhan langsung jadi proyek,” jawab Celine. “Bawa datanya, tunjukkan waktu yang hilang, lalu kita uji dua minggu. Kalau nggak lebih baik, kita kembalikan. Kalau berhasil, nggak peduli idenya datang dari intern atau direktur.”

Nada suaranya santai, tapi ruangan langsung fokus. Ia tidak butuh namaku untuk mendapat perhatian mereka.

Celine melihatku di balik kaca. Tatapan kami bertemu sebentar. Aku tidak masuk dan tidak memberi tanda setuju seperti bos yang sedang menilai. Aku hanya mengangkat cangkir kopi sedikit.

Ia membalas dengan senyum kecil, lalu kembali ke timnya.

Rasanya aneh menahan diri dari ruangan tempat aku ingin berdiri paling dekat dengannya. Namun melihat Celine membangun ruangnya sendiri jauh lebih memuaskan daripada menaruhnya kembali di sisiku.

Pukul tujuh malam, lantai eksekutif kosong. Aku baru selesai menandatangani dokumen kerja sama ketika pintu terbuka tanpa ketukan.

Celine masuk memakai setelan merah gelap dan kartu akses baru. Tulisannya bukan lagi Executive Secretary.

HEAD OF EXECUTIVE OPERATIONS.

“Kamu melewati prosedur keamanan,” kataku.

“Kartu ini punya akses lantai eksekutif.”

“Aku yang membuat kebijakannya.”

“Dan aku yang akan merapikannya Senin.”

Ia berhenti di depan meja. “Nggak mau bilang selamat?”

Aku berdiri. “Selamat. Kamu pantas mendapatkannya.”

“Itu jawaban CEO.”

“Pacarmu sudah menyiapkan makan malam.”

“Lebih bagus.”

Celine berjalan mengitari meja dan mengambil satu cufflink-ku.

“Kenapa dilepas?” tanyanya.

“Longgar.”

“Duduk.”

Aku duduk di tepi meja. Ia berdiri di antara kedua lututku, memasang cufflink dengan gerakan pelan. Jarak kami cukup dekat hingga parfumnya menghapus seluruh angka dari pikiranku.

“Kita masih di kantor,” kataku.

“Jam kerja selesai.”

“Aturan pertama.”

“Tidak ada sentuhan selama rapat. Ini bukan rapat.”

“Kamu memang menulis aturan untuk mencari celah.”

“Aku udah bilang.”

Cufflink terpasang. Namun ia tidak mundur. Tangannya berpindah ke dasiku, meluruskan simpul yang sebenarnya tidak miring.

“Dulu aku pernah tanya sesuatu,” katanya.

“Aku ingat.”

Ia menarik dasiku sedikit. Tubuhku maju sampai wajah kami hanya berjarak beberapa senti.

“Kalau aku tarik sedikit lagi,” bisiknya, “kamu bakal mendekat atau memecat aku?”

Kali ini tidak ada ketimpangan jabatan yang menahanku. Tidak ada kamera, kontrak bawahan, atau keputusan karier di tanganku.

Tanganku menahan pinggangnya.

“Sekarang aku siap kasih jawabannya.”

Aku menariknya mendekat dan mencium bibirnya.

Celine sempat tersenyum dalam ciuman itu, seolah akhirnya mendapat hadiah dari permainan yang dimulai berbulan-bulan lalu. Lalu jarinya mengencang pada dasiku dan ciuman kami jadi lebih dalam.

Aku membiarkan seluruh kontrol yang dulu kupakai untuk menjauh berubah fungsi: menjaga tubuhnya tetap aman di dekatku, membaca napasnya, dan berhenti setengah detik saat ia butuh ruang. Celine justru menarikku kembali.

“Aku belum bilang kamu boleh berhenti,” bisiknya.

“Kamu baru jadi kepala divisi dan sudah menyalahgunakan wewenang.”

“Kamu bukan bawahanku.”

“Benar.”

Aku menciumnya lagi sampai kami sama-sama lupa pada cufflink yang menjadi alasan awal. Saat Celine mundur, pipinya merah dan dasiku sudah jauh lebih miring daripada sebelumnya.

Ia duduk sesaat di pangkuanku, kedua lengannya melingkar di leherku. Tidak ada permainan baru. Kami cuma tertawa pelan seperti dua orang yang akhirnya tidak perlu terus menghitung jarak.

“Tadi aku lihat kamu di lantai tiga puluh empat,” katanya.

“Aku ada rapat keamanan.”

“Dan berdiri di luar ruanganku selama hampir satu menit.”

“Empat puluh tiga detik.”

“Kenapa nggak masuk?”

“Karena itu timmu.” Aku merapikan satu helai rambut di dekat pipinya. “Kamu nggak butuh pendiri perusahaan berdiri di belakangmu pada hari pertama. Mereka perlu melihat kamu, bukan hubungan kita.”

Celine menyentuh rahangku. “Terima kasih udah nggak membantu.”

“Kalimat yang aneh.”

“Buat kita, itu perkembangan besar.”

“Aku mau kita berhenti menyembunyikan hubungan ini,” katanya setelah napasnya tenang. “Bukan bikin pengumuman. Tapi kalau ada yang tanya, aku nggak mau merasa seperti rahasia.”

“Aku juga.”

“Dan di kantor?”

“Kamu melapor ke Keanu. Keputusan kerjamu diuji komite. Kalau kita beda pendapat di rapat, aku akan memperlakukan argumenmu seperti argumen kepala divisi lain.”

“Kalau aku benar?”

“Aku mengaku kamu benar.”

“Kalau aku salah?”

“Aku bawa data.”

“Kalau malamnya aku marah?”

“Aku tetap datang untuk kencan.”

Ia menatapku lama, lalu mencium ujung hidungku. “Bagus.”

Aku memeluknya. Di meja, kartu jabatan barunya terletak di samping surat keputusan panel. Dua bukti bahwa Celine berada di ruangan ini karena kemampuannya sendiri dan tinggal dekat denganku karena pilihannya sendiri.

Ponselnya berbunyi. Satu pesan dari Keanu masuk bersama tautan artikel hiburan.

Keanu: Selamat untuk jabatan barunya. Kabar buruk: seseorang memotret kencan kalian Sabtu lalu. Besok pagi kalian resmi jadi konsumsi internet.

Celine membaca judul artikelnya, lalu menyandarkan kepala ke bahuku.

“Kayaknya aturan tidak menyentuh selama rapat akan diuji lebih cepat,” katanya.

Aku melihat foto buram kami keluar dari kedai kopi sambil berpegangan tangan.

Kali ini, keinginan pertamaku bukan menyangkal.

“Kita hadapi bareng,” kataku.