← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Fifteen

Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya

POV Celine

Pukul enam lewat dua belas pagi, namaku sudah disebut lebih dari delapan ribu kali di media sosial.

Bukan karena proposal Pacific Meridian. Bukan karena sistem kerja yang kubangun atau caraku menemukan klausul berbahaya di dalam kontrak.

Aku dikenal sebagai sekretaris cantik yang “menjinakkan” bos antisosial.

Judul-judulnya makin buruk setiap kali layar diperbarui.

DARI MEJA SEKRETARIS KE LINGKARAN TERDALAM CEO: ADAKAH KONFLIK KEPENTINGAN?

BONUS, AKSES PRIVAT, DAN DANSA TENGAH MALAM: SIAPA CELINE MAHESWARI?

KOMISARIS EVOLTE MINTA AUDIT HUBUNGAN ATASAN DAN BAWAHAN

Video gala dipotong menjadi dua belas detik. Tidak ada bagian ketika aku menangani staf, memperbaiki daftar tamu, atau membantu program beasiswa. Yang tersisa hanya tangan Arsen di pinggangku dan wajahku yang mendongak terlalu dekat.

Rekaman rooftop lebih buruk. Dari sudut kamera keamanan, kami tampak hampir berciuman.

Tak ada suara yang memperlihatkan bahwa Arsen justru menolak melewati batas.

Ponselku bergetar tanpa berhenti. Nomor asing, akun gosip, wartawan, bahkan mantan rekan kerja yang mendadak ingin “memastikan kabar”. Aku mematikan notifikasi dan menuju suite rapat hotel.

Keanu, Maya, Arsen, dan kepala komunikasi sudah berada di sana. Empat layar menampilkan laporan media, dokumen legal, serta bagan penyebaran video.

Arsen berdiri di ujung meja dengan kemeja putih dan wajah yang kembali sulit dibaca. Pria yang semalam mengaku takut tidak bisa berhenti kini terlihat seperti belum pernah berdiri dekat denganku.

“Jejak awal?” tanyaku.

Maya memutar laptop. “Media pertama menerima file dari agensi yang terafiliasi dengan grup usaha rekan Bram. Belum cukup untuk menuduh langsung.”

“File aslinya dari tim dokumentasi gala,” kataku. “Aku lihat asisten Bram minta kartu memori, termasuk kamera koridor.”

Semua orang menoleh.

“Kenapa baru bilang?” tanya Keanu.

“Karena waktu itu aku cuma punya kecurigaan. Sekarang kita punya jalur.”

Maya mulai mengetik. “Aku minta surat penyerahan bahan dari vendor dan daftar orang yang akses server hotel.”

“Log perubahan gala juga ada di folder Legal,” kataku. “Tiga instruksi terlambat datang dari kantor Bram. Polanya bisa bantu membuktikan dia sengaja bikin kekacauan operasional sebelum narasi ini naik.”

Arsen menatapku. “Bagus.”

Satu kata yang biasanya membuatku hangat. Pagi itu terdengar seperti penilaian kerja.

Kepala komunikasi membuka halaman lain. “Masalah paling berbahaya adalah tuduhan bonus. Ada sumber internal yang bilang Celine menerima bonus tertinggi setelah dekat dengan Pak Arsen.”

“Bonusnya saya yang setujui,” kata Keanu. “Berdasarkan penilaian tiga divisi.”

Aku menoleh kepadanya. “Kamu?”

“Arsen menyerahkan evaluasinya kepada saya beberapa minggu lalu untuk menghindari konflik kepentingan.”

Informasi itu seharusnya membuatku lega. Arsen sudah menjaga agar pekerjaanku dinilai bersih bahkan sebelum skandal muncul.

Namun ia tidak pernah memberitahuku.

“Kita keluarkan dokumen penilaian dan audit independen,” kata Maya. “Jangan lawan gosip pakai emosi. Lawan pakai prosedur.”

Aku menarik kursi di samping Arsen. “Kapan kita bicara ke media?”

“Sembilan,” jawabnya.

Kita.

Aku berpegang pada kata itu.

Selama dua jam berikutnya, aku membantu menyusun kronologi akses, memisahkan data yang boleh dirilis, dan mencocokkan setiap tuduhan dengan bukti. Tidak ada bonus rahasia. Tidak ada promosi. Akses lantai eksekutif adalah bagian pekerjaanku. Semua perubahan jadwal punya jejak persetujuan.

Bram membangun kebohongan dari potongan fakta, tetapi fakta utuh masih ada.

Pukul delapan lewat empat puluh tujuh, kepala komunikasi menerima kabar baru. Dua media nasional akan menyiarkan pernyataan Evolte secara langsung. Dewan juga meminta Arsen bicara sendiri karena narasinya sudah menyerang tata kelola perusahaan.

Maya menarik Arsen ke sudut ruangan. Mereka bicara pelan. Aku hanya menangkap beberapa kata: hubungan pribadi, kewenangan, potensi gugatan, perlindungan karier.

Aku mendekat. “Apa yang akan kita bilang?”

Arsen menatapku. Ada sebelas menit sebelum siaran.

“Bahwa penilaian kerjamu independen dan semua aksesmu sah,” katanya.

“Soal video?”

“Aku tangani.”

“Kita tangani.”

Rahangnya mengeras. “Celine, ikut Maya. Pastikan bukti bonus siap.”

“Arsen.”

“Sekarang.”

Nada itu adalah suara CEO, bukan pria di rooftop.

Aku ingin menahannya dan meminta satu kalimat utuh. Namun Maya sudah mengajakku ke ruang siaran, kepala komunikasi menghitung waktu, dan Keanu menerima tiga panggilan sekaligus.

Aku mengikuti karena saat itu masih percaya Arsen akan berdiri bersamaku.

Ruang konferensi hotel dipenuhi kamera. Arsen duduk di tengah, Keanu di kanan, Maya di kiri. Aku berdiri beberapa meter di belakang bersama tim komunikasi.

Pernyataan dimulai dengan fakta. Evolte menunjuk auditor eksternal. Bonusku disetujui oleh Keanu berdasarkan hasil kerja lintas divisi. Tidak ada akses ilegal atau campur tangan dalam keputusan perusahaan.

Lalu seorang wartawan bertanya, “Apakah Bapak memiliki hubungan romantis dengan sekretaris pribadi Bapak?”

Arsen tidak melihat ke belakang.

“Saya tidak memiliki hubungan pribadi dengan Saudari Celine Maheswari,” katanya. “Seluruh interaksi kami berlangsung dalam kapasitas profesional.”

Kalimat itu meluncur bersih. Tanpa jeda. Tanpa satu tanda bahwa semalam ia nyaris menyentuh pinggangku dan mengaku menginginkanku.

Suara kamera terdengar makin keras.

Wartawan berikutnya bertanya apakah video dansa itu pantas. Arsen menjawab bahwa gala adalah acara resmi, potongan video tidak menunjukkan konteks penuh, dan kebijakan perusahaan sedang ditinjau. Ia membela pekerjaanku. Ia melindungi aksesku. Ia memutus tuduhan bahwa aku mendapat jabatan dari ranjang seorang CEO bahkan sebelum tuduhan itu sempat ditulis lebih kejam.

Secara strategi, jawabannya sempurna.

Secara pribadi, ia menghapusku.

Aku pernah mengenal pria yang menikmati semua perhatian yang kuberi saat kami sendirian, lalu memperkenalkanku sebagai teman biasa di depan orang lain. Waktu itu aku berjanji tidak akan lagi menjadi perempuan yang hanya cukup baik untuk diakui dalam ruang tertutup.

Sekarang aku berdiri di belakang seorang pria yang menatapku seolah aku berarti segalanya saat tak ada kamera, lalu menyatakan kami bukan apa-apa ketika seluruh dunia melihat.

Pernyataan berakhir. Tim komunikasi langsung membawa Arsen ke ruang samping karena Bram mengajukan rapat komisaris darurat. Saat melewatiku, langkahnya melambat.

“Celine.”

“Rapatmu menunggu.”

“Aku akan jelasin.”

“Kapan? Setelah kamu putuskan versi mana yang aman buat aku dengar?”

Maya berada terlalu dekat, kamera belum sepenuhnya mati, dan Keanu memanggil nama Arsen dari pintu. Ia menatapku seolah ingin tinggal.

Tetapi seperti biasa, ia memilih keputusan yang menurutnya paling mendesak.

“Kita bicara di Jakarta,” katanya.

Lalu ia pergi.

Maya tinggal beberapa detik setelah ruangan kosong. Ia berdiri di sampingku tanpa menyentuh, seperti tahu satu bentuk perhatian saja bisa membuat pertahananku runtuh.

“Secara hukum, pernyataannya menutup jalur tuduhan penyalahgunaan wewenang,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

“Dia juga menolak saran buat bilang kamu bertindak di luar batas. Dia pilih ambil semua risiko ke dirinya.”

“Aku tahu itu juga.”

Maya menatapku. “Tapi kamu tetap terluka.”

“Karena masalahnya bukan dia nggak mengumumkan perasaan di depan kamera. Aku nggak minta itu.” Aku meremas ujung map di tangan. “Masalahnya, dia bahkan nggak kasih aku kesempatan buat tahu kalimat apa yang akan menghapus semua yang dia bilang semalam.”

“Kamu mau apa kalau dia sempat tanya?”

“Aku mungkin tetap setuju sama strateginya.”

Jawaban itu membuat tenggorokanku makin sakit.

Aku bukan marah karena Arsen memilih perusahaan atau karierku. Aku marah karena ia tidak pernah membiarkanku ikut memilih harga yang harus kami bayar.

Di pesawat sore itu, kursi di sebelahku kosong. Arsen berada di bagian depan bersama Keanu dan Maya, menangani rapat komisaris melalui sambungan terenkripsi. Aku membuka laptop dan menyusun handover.

Semua yang kulakukan untuknya punya bentuk yang bisa dipindahkan: kalender investor, daftar kontak, aturan prioritas, protokol krisis, kebiasaan makan, hingga kode warna dokumen yang membuat Arsen tidak perlu bertanya dua kali.

Perasaanku satu-satunya hal yang tidak bisa dimasukkan ke folder.

Kami tiba di Jakarta menjelang malam. Rapat komisaris lanjut di kantor sampai lewat tengah malam. Dari meja kerjaku, aku mendengar suara Arsen melalui dinding kaca. Tenang, tajam, tidak pernah meninggi. Dalam empat belas menit, ia membongkar ketidaksesuaian data Bram dan menunda mosi audit khusus sampai bukti independen masuk.

Pukul satu lewat empat puluh, ponselku bergetar.

Arsen: Tunggu aku. Setelah rapat kita bicara.

Aku membaca pesan itu tanpa membalas.

Di balik kaca, Bram menaruh satu dokumen baru di meja. Rapat yang katanya tinggal sepuluh menit berubah menjadi setengah jam lagi. Mungkin Arsen benar-benar berniat keluar dan menjelaskan semuanya. Mungkin ia bahkan sudah menyusun kata yang akhirnya ingin kudengar.

Namun sekali lagi, hidupku diminta menunggu sampai semua urusan dalam kendalinya selesai.

Ia tetap pria paling hebat di ruangan mana pun.

Dan aku tetap tidak bisa hidup dari kehebatan yang hanya menyisakan diam ketika menyangkut diriku.

Pukul dua lewat tujuh belas, aku membuka dokumen baru.

Aku menulis alasan formal: pengembangan karier dan pertimbangan pribadi. Aku menulis masa notice tiga puluh hari. Aku membuat daftar serah terima, menyiapkan akses, dan memindahkan semua file penting ke folder yang bisa dibaca Keanu.

Lalu aku mencetak tiga lembar surat pengunduran diri.

Printer mengeluarkan halaman terakhir saat langit mulai memucat.

Aku membeli satu kopi sebelum naik ke lantai tiga puluh tujuh.

Hanya satu.

Pukul tujuh lewat tiga menit, aku mendorong pintu ruang Arsen dengan surat itu di tangan.