Chapter Twenty
Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
POV Celine
Cold storage Legal berada dua lantai di bawah parkiran, di balik pintu baja yang cuma bisa dibuka dengan kartu Maya dan kode sekali pakai.
Aku selalu mengira rahasia terbesar Arsen tinggal di kepalanya. Ternyata sebagian disimpan di ruangan tanpa jendela, di antara lemari tahan api dan udara yang terlalu dingin.
Maya menaruh tiga formulir di meja pemeriksaan. “Sebelum kita mulai, aturan mainnya. Arsip asli tetap di ruangan ini. Semua file yang dibuka masuk log. Salinan cuma dibuat kalau relevan dengan audit.”
Ia lalu melihat Arsen. “Pemilik data personal berhak membatasi akses. Sebutkan sekarang.”
Arsen berdiri di seberang meja dengan jas gelap dan wajah yang jauh lebih tenang daripada tangannya. Ibu jarinya terus mengusap sisi telunjuk, gerakan kecil yang mungkin tidak akan kulihat kalau selama ini aku tidak terbiasa mengawasinya.
“Kronologi perkara, kontrak vendor, daftar akses, dan korespondensi legal boleh dibuka,” katanya. “Rekaman suara, video, serta percakapan pribadi tetap tertutup kecuali ada data teknis yang tidak bisa diverifikasi dari dokumen lain.”
“Kalau sampai perlu?” tanya Maya.
“Kamu minta izin lagi.”
“Dicatat.”
Maya menoleh kepadaku. “Celine hadir sebagai saksi proses dan pemilik kredensial yang disalahgunakan. Bukan sebagai sekretaris Pak Arsen. Kalau kamu merasa ada konflik kepentingan, bilang.”
“Aku ngerti.”
Aku tidak duduk di dekat Arsen. Bukan karena ingin menghukumnya, tetapi karena jarak membuat pikiranku lebih jernih. Selama ini aku melihat traumanya sebagai rasa malu karena pernah tampak lemah. Aku pikir ia bersembunyi supaya tak ada orang yang melihat retak di balik segala kecerdasannya.
Aku ternyata cuma tahu bagian yang paling mudah.
Maya membuka berkas kronologi lebih dulu.
Empat tahun lalu, setelah peluncuran produk yang gagal dan tiga hari tanpa tidur, Arsen mengalami serangan panik di apartemen Nadine. Nadine merekamnya tanpa izin. Dalam kesaksiannya, ia bilang rekaman itu dibuat agar dokter bisa melihat kondisi Arsen kalau kejadian yang sama terulang.
Arsen baru tahu dua minggu kemudian.
Ia meminta video itu dihapus. Nadine bilang sudah. Namun salinannya tetap ada di penyimpanan awan pribadi, bersama tangkapan layar percakapan mereka, catatan terapi, dan rekaman suara lain yang tak pernah diketahui Arsen.
Ketika hubungan mereka berakhir, Nadine mengaku menyimpan semua itu sebagai perlindungan.
Perlindungan kalau Arsen menyakitinya. Perlindungan kalau ia ditinggalkan. Perlindungan kalau suatu hari ia perlu membuktikan bahwa orang paling terkendali di Evolte tidak selalu bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Kata itu terasa kotor setelah kubaca tiga kali.
“Dia yang mengirim videonya ke media?” tanyaku.
“Tidak langsung,” jawab Maya. “Nadine memberi akses ke konsultan reputasi untuk menekan negosiasi perpisahan. Salah satu kontraktor menyalin paket datanya. Video dan percakapan itu lalu ditawarkan ke dua media.”
“Dan dia tahu ada salinan lain?”
Maya membalik halaman. “Tiga hari sebelum tayang.”
Di bawahnya ada potongan pernyataan Nadine dalam mediasi. Ia minta maaf. Ia juga mengaku tidak memberi tahu Arsen karena takut ia akan mengakhiri hubungan tanpa memberinya kesempatan menjelaskan.
Jadi ia mengambil pilihan Arsen untuk menjaga kesempatan miliknya sendiri.
Dadaku terasa sesak oleh kemiripan yang tidak nyaman.
Arsen tidak melihat dokumen itu. Ia menatap rak baja di belakangku seperti sedang menghitung baut agar tetap berada di ruangan ini.
“Kamu menang perkaranya,” kataku.
“Iya.”
“Kenapa semua orang cuma tahu kamu menarik diri?”
“Karena kemenangan hukumnya datang setahun setelah videonya ditonton jutaan orang.” Suaranya datar, tapi bukan dingin. “Putusan pengadilan bisa bilang aku benar. Nggak ada putusan yang bisa membuat orang lupa wajahku saat nggak bisa bernapas.”
Aku menutup halaman sebelum sampai pada lampiran gambar.
“Aku nggak perlu lihat videonya.”
Tatapannya akhirnya berpindah kepadaku.
“Mungkin ada metadata yang kita butuhkan,” katanya.
“Kalau ada, tim forensik bisa ambil tanpa memutarnya di depan kita. Aku perlu tahu jalur aksesnya, bukan melihat kamu di saat paling buruk.”
Maya mencatat keputusan itu. Untuk pertama kalinya sejak masuk, tangan Arsen berhenti bergerak.
Kami lanjut ke kontrak vendor. Konsultan reputasi yang dipakai Nadine ternyata menyewa perusahaan bernama Kestrel Media Risk. Evolte lalu menahan akun delegasi mereka selama perkara berjalan agar bukti bisa dikumpulkan dari beberapa platform sekaligus. Akun itu seharusnya dicabut setelah putusan final.
Seharusnya.
“Penutupan akun ditandai selesai,” kata Maya. “Tapi token induknya cuma dinonaktifkan. Identitas delegasinya tidak dihapus.”
Kepala keamanan siber, yang mengikuti lewat panggilan terenkripsi, memperbesar catatan di layar. “Tiga minggu lalu ada permintaan pemulihan untuk audit warisan sistem. Sistem lama menganggapnya sah karena memakai sertifikat sekretariat komisaris.”
“Siapa yang menyetujui?” tanyaku.
“Di formulir: Raka Santoso. Di log perangkat: terminal bersama di ruang staf komisaris.”
Nama Raka terlalu mudah. Bram tidak akan meninggalkan tanda tangan asistennya kalau tak punya lapisan lain.
“Cari lampiran permintaannya,” kata Arsen.
Kepala keamanan membuka berkas. Surat tugasnya berasal dari Trivara Advisory, firma kecil yang dikontrak untuk merapikan arsip sebelum uji tuntas Northstar. Tanda tangan elektroniknya sah. Nomor pesanannya juga ada.
“Siapa yang menunjuk Trivara?” tanya Maya.
“Komite transaksi,” jawab Arsen. “Atas usulan Bram.”
“Masih belum membuktikan dia tahu akun lama itu dipakai.”
“Belum,” katanya. “Lacak pembayaran dan orang yang mengajukan pemulihan dari sisi vendor. Jangan sentuh perangkat Bram atau Raka tanpa dasar.”
Ia tetap tajam. Tetap melihat celah, batas hukum, dan dua langkah setelah setiap temuan. Ruangan ini mengganggunya, tapi tidak membuatnya kehilangan kendali atas perusahaan. Trauma bukan seluruh dirinya. Aku seharusnya sudah paham itu sejak awal.
Kami menemukan nama teknisi Kestrel di daftar akses lama: Dion Prabawa. Orang yang sama terdaftar sebagai konsultan lepas Trivara pada invoice bulan ini. Dialah yang menerima tautan versi C sebelum dokumen dibuka dari hotel.
Maya mengembuskan napas pelan. “Ini cukup untuk minta audit forensik independen dan pembekuan akses Trivara. Belum cukup untuk menghubungkan Bram secara langsung.”
“Kita nggak butuh lompatan,” kata Arsen. “Kita butuh rantai yang nggak putus.”
Maya keluar sebentar untuk menelepon firma audit. Tinggal aku dan Arsen di ruangan yang menyimpan sisa pengkhianatan orang lain.
Aku menutup map.
“Selama ini aku pikir kamu takut orang lihat kamu lemah.”
“Aku nggak suka dilihat lemah.”
“Itu bukan jawaban.”
Ia menatapku cukup lama sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk.
“Yang paling aku takutkan bukan videonya,” katanya. “Nadine ada di sana saat itu terjadi. Dia pegang tanganku, suruh aku ikuti napasnya, lalu menyimpan rekamannya untuk berjaga-jaga kalau suatu hari aku pergi. Sejak itu, setiap perhatian terasa seperti sesuatu yang mungkin ditagih nanti.”
Tidak ada kemarahan dalam suaranya. Itu lebih buruk. Ia menceritakan luka yang sudah terlalu lama dipelajari sampai bisa diucapkan seperti laporan.
“Makanya waktu aku dekat, kamu terus cari motif.”
“Iya.”
“Dan waktu wartawan nanya soal kita, kamu putuskan menyangkal sebelum tanya apa yang aku mau.”
“Iya.”
“Karena kamu pikir menutup semuanya adalah cara paling aman.”
“Iya.”
Aku menyandarkan punggung. “Trauma kamu menjelaskan kenapa kamu memilih kontrol, Sen. Tapi itu nggak membuat pilihan itu jadi milikmu.”
“Aku tahu.”
“Jangan bilang tahu kalau setelah ini kamu mau kasih alasan lagi.”
“Aku nggak akan kasih alasan.”
Ia menghadapku penuh. Tidak bersembunyi di balik layar, angka, atau keputusan perusahaan.
“Aku minta maaf,” katanya. “Aku mengambil hakmu buat memilih, lalu menyebutnya perlindungan. Itu salah. Aku melukai kamu.”
Aku menunggu kata tapi.
Tidak ada.
Aku menunggu penjelasan tentang kamera, dewan, harga saham, atau karierku.
Tidak ada juga.
Untuk pertama kalinya, permintaan maaf Arsen tidak berusaha membawaku ke kesimpulan yang ia inginkan.
Tangannya terletak di atas meja, telapak menghadap ke bawah. Aku menyentuh punggung tangannya dengan ujung jari.
Tubuhnya menegang sebentar, lalu diam.
“Ini bukan berarti aku udah maafin kamu,” kataku.
“Aku ngerti.”
“Bukan juga berarti aku batal pergi.”
“Itu pilihanmu.”
“Bagus.” Aku membiarkan tanganku di sana beberapa detik lagi. “Tapi pintunya belum aku kunci.”
Tatapan Arsen turun ke jari kami, lalu kembali ke wajahku. Ada sesuatu yang hangat dan rapuh di sana, ekspresi langka yang dulu mungkin akan langsung kugoda sampai ia kehilangan kata-kata.
Kali ini aku tidak melakukannya.
Kami duduk dalam sunyi yang anehnya tidak terasa seperti hukuman. Ia tidak meminta kepastian. Aku tidak menawarkan janji. Untuk sekali ini, tidak ada permainan dan tidak ada satu orang yang berusaha menyelamatkan orang lain.
Pintu terbuka. Maya masuk dengan ponsel di tangan dan ekspresi yang membuatku menarik jariku kembali.
“Firma audit bisa mulai malam ini,” katanya. “Tapi Bram bergerak lebih cepat.”
Ia meletakkan ponsel di antara kami.
MOSI DARURAT KOMISARIS: PEMBERHENTIAN SEMENTARA ARSEN ADIPRANA ATAS DUGAAN KEGAGALAN TATA KELOLA DAN MANIPULASI BUKTI. RAPAT: BESOK, 09.00.
Di bawah judul itu ada lima nama pendukung awal.
Mayoritas.
Bram tidak perlu menunggu kami menemukan rantainya. Ia berniat mengeluarkan Arsen sebelum bukti sempat sampai ke meja komisaris.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen reading
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima