← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Twenty Six

Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen

POV Celine

Rumah Arsen terlalu rapi untuk ukuran rumah orang yang mengaku bisa memasak.

Tidak ada gelas kotor, bumbu tercecer, atau nota belanja di meja. Sofa abu-abu berdiri lurus menghadap jendela besar. Rak bukunya disusun berdasarkan topik. Bahkan sandal tamu diletakkan sejajar seperti sedang ikut rapat.

“Kamu tinggal di sini atau cuma mengauditnya tiap malam?” tanyaku.

Arsen menerima tas belanja dari tanganku. Malam ini ia tidak memakai jas. Kaus hitam polos dan celana rumah membuatnya terlihat lebih muda, tapi tetap menyebalkan karena bahkan pakaian santainya jatuh dengan terlalu bagus di tubuhnya.

“Aku tinggal di sini.”

“Mana buktinya?”

Ia menunjuk satu mug di dekat mesin kopi. “Itu kupakai pagi tadi.”

“Luar biasa. Rumah ini ternyata punya penghuni.”

Aku datang memakai atasan merah sederhana dan celana hitam. Tidak terlalu berbahaya, menurutku. Namun Arsen sempat diam dua detik saat membuka pintu, jadi aku menganggap pilihan pakaianku berhasil.

Di dapur, semua bahan sudah dipotong dalam mangkuk kecil. Ayam dimarinasi, kentang sudah direbus setengah matang, dan saus tersusun dalam urutan pemakaian. Tablet di atas meja menampilkan jadwal masak per menit.

Aku membaca layar. “Delapan belas lewat sepuluh, panaskan wajan. Delapan belas lewat dua belas, masukkan bawang. Kamu serius?”

“Kalau urutannya benar, semua matang bersamaan.”

“Kita makan malam atau meluncurkan satelit?”

“Kamu meragukan metodeku?”

“Aku takut ayamnya diminta isi laporan setelah matang.”

Arsen mengambil celemek dan mengikatnya di pinggang. “Duduk. Kamu tamu.”

“Aku pacar.”

“Lebih berbahaya.”

Aku duduk di kursi tinggi selama tiga menit. Setelah itu aku mencuri satu potong paprika.

“Itu buat saus,” katanya tanpa menoleh.

“Sekarang buat aku.”

Potongan kedua berhasil kuambil sebelum tangannya menangkap pergelangan tanganku.

“Celine.”

“Hm?”

“Kalau bahannya habis sebelum dimasak, kita makan apa?”

Aku melihat mangkuk kentang. “Masih banyak pilihan.”

Ia melepas tanganku, lalu memindahkan semua bahan ke sisi meja yang sulit kujangkau.

Aku turun dari kursi dan berdiri di belakangnya saat ia mulai menumis bawang. Aroma mentega memenuhi dapur. Arsen mengikuti urutan di tablet dengan fokus yang sama seperti ketika membaca data akuisisi.

“Kamu benar-benar bisa masak,” kataku.

“Kedengarannya kecewa.”

“Aku berharap ada satu hal yang nggak kamu kuasai.”

“Ada.”

“Apa?”

Ia menoleh sebentar. “Mengabaikan kamu.”

Aku lupa balas selama satu detik. Kesalahan besar.

Arsen kembali ke wajan dengan wajah tenang, seolah bukan dia yang baru menyerang lebih dulu.

Aku memeluk pinggangnya dari belakang.

Tubuhnya langsung diam. “Apa yang kamu lakukan?”

“Mengganggu.”

“Aku tahu. Tujuannya?”

“Menguji kemampuan multitasking CEO.”

Aku menyandarkan pipi di punggungnya. Di balik kaus, tubuhnya hangat dan tegang karena berusaha tetap fokus. Arsen mengaduk saus dengan satu tangan. Tangan satunya menutup jemariku yang bertaut di perutnya.

“Kalau makan malam gagal, kamu yang tanggung jawab,” katanya.

“Aku siap menanggung konsekuensinya.”

“Kamu selalu bilang begitu sebelum bikin masalah.”

Aku mempererat pelukan. “Pacarku hafal.”

Saus meletup tepat saat Arsen mematikan api. Setetes merah mengenai bagian depan bajuku.

Aku mundur dan melihat noda itu. “Nah. Sekarang bajuku rusak.”

“Kamu memeluk orang yang sedang memasak.”

“Korban tetap korban.”

Arsen memandangku tanpa simpati, lalu pergi ke kamar. Ia kembali membawa kemeja putih yang biasa dipakai di rumah.

“Pakai ini sebagai luaran. Noda saus dicuci sebelum kering.”

Aku menerima kemejanya. “Kamu yakin?”

“Kenapa?”

“Nanti aku terlihat seperti pacar yang pulang pakai baju kamu.”

“Kamu memang pacarku. Dan kamu belum pulang.”

Kali ini aku benar-benar kehabisan jawaban.

Aku membersihkan noda di kamar mandi lalu mengenakan kemejanya di atas atasan tipis yang kubawa sebagai cadangan. Lengannya terlalu panjang dan aromanya sama dengan Arsen—kayu, sabun, dan sesuatu yang hangat.

Ketika kembali, dapur sudah penuh asap.

“Arsen.”

Ia menatap oven. Roti bawang di dalamnya berubah dari keemasan menjadi hitam di ujung.

Alarm asap berbunyi.

Arsen mematikan oven, membuka jendela, lalu mengambil lap sambil mengucapkan satu kata yang tidak pernah kudengar keluar dari mulutnya di kantor.

Aku tertawa sampai harus memegang meja.

“Ini salahmu,” katanya.

“Aku bahkan nggak ada di sini.”

“Kamu meninggalkan gangguan dalam bentuk kemeja.”

Ayamnya terlalu asin karena saus sempat mengental. Kentangnya dingin saat alarm berhenti. Kami mencoba dua suap, saling menatap, lalu Arsen mengambil dua bungkus mi instan dari lemari.

“Ternyata kamu menyimpan makanan manusia,” kataku.

“Untuk keadaan darurat.”

“Aku keadaan darurat?”

“Sejak hari pertama.”

Kami makan mi langsung dari panci kecil sambil duduk di lantai dapur. Tablet berisi jadwal masak sudah mati. Celemek Arsen tergeletak di kursi, dan rumah yang tadi terlalu rapi akhirnya punya mangkuk kotor, tawa, serta satu loyang gosong.

Aku menyukai rumahnya jauh lebih banyak dalam keadaan berantakan.

Saat mencari tisu di lemari bawah, aku menemukan kotak kayu dengan tutup sedikit terbuka. Di dalamnya ada tumpukan kertas kuning.

Catatan-catatan yang pernah kutinggalkan di meja Arsen.

Agenda senyum sebelum pukul lima. Peringatan makan. Gambar wajah marah. Ancaman membeli tanaman plastik kalau ia terus membuat lantai tiga puluh tujuh terlihat seperti ruang pemakaman.

Semuanya tersimpan.

“Kamu bawa ini ke rumah?” tanyaku.

Arsen menaruh pancinya. “Iya.”

“Kenapa?”

Ia duduk di sampingku dan mengambil satu catatan paling kusut. Catatan itu cuma berisi dua kata: makan. sekarang.

“Karena setelah kamu datang, ruang kerjaku nggak terlalu sunyi,” katanya. “Waktu kamu berhenti bicara sama aku, catatan ini jadi bukti bahwa aku nggak mengarang bagian itu.”

Dadaku menghangat sekaligus sedikit sakit.

“Kamu bisa bilang kangen.”

“Aku kangen.”

Jawabannya datang tanpa pertahanan.

Aku menaruh kotak itu dan mencium bibirnya. Arsen membalas pelan, satu tangan menyentuh sisi wajahku. Ciuman kami terasa berbeda dari malam pertama—tidak diburu penantian, tidak perlu membuktikan apa pun. Hanya hangat dan dekat.

Ketika kami berpisah, aku mendengar musik samar dari apartemen sebelah.

“Ayo dansa,” kataku.

“Nggak ada musik.”

“Ada. Cuma dindingmu terlalu tebal.”

Aku berdiri dan menarik tangannya. Arsen menurut dengan ekspresi orang yang tahu menolak cuma akan membuang waktu. Satu tangannya pindah ke pinggangku, tangan lain menggenggam tanganku.

Kami bergerak pelan di antara meja dapur dan loyang gosong. Aku menginjak kakinya dua kali karena tertawa. Ia mencium keningku, lalu memutar tubuhku sekali sampai ujung kemejanya berkibar.

“Rumahmu ternyata bisa dipakai buat hidup,” kataku.

“Aku sedang mempertimbangkannya.”

“Butuh konsultan?”

“Biayanya mahal?”

“Satu laci.”

Arsen berhenti bergerak. “Ikut aku.”

Ia membawaku ke kamar kerja kecil. Di samping meja ada kabinet dengan satu laci kosong. Tidak ada kunci rumah atau janji besar yang terlalu cepat. Cuma ruang kecil yang memang sengaja disiapkan.

“Kalau kamu mau,” katanya, “tinggalkan charger, alat rias, atau apa pun yang bikin kamu nggak perlu bawa satu tas penuh setiap datang.”

Aku membuka lacinya. “Kapan kamu kosongkan?”

“Pagi tadi.”

“Sebelum tahu aku akan bikin makan malam gagal?”

“Aku menghitung risikonya.”

Aku menaruh lipstik merah dari tasku di dalam laci. “Mulai dari ini.”

Arsen melihat benda kecil itu di tengah laci kosong. “Cuma satu?”

“Kita baru pacaran seminggu. Kalau aku langsung isi satu lemari, kamu bisa panik.”

“Aku nggak akan panik.”

“Kalau begitu besok aku bawa dua koper.”

Ia menutup laci sebelum aku berubah pikiran. “Satu cukup untuk malam ini.”

Aku tersenyum. Laci itu bukan tanda bahwa aku harus selalu ada di rumahnya. Justru karena kecil, rasanya jujur. Arsen tidak sedang melompat ke masa depan untuk mengamankan hasil. Ia cuma memberi ruang yang bisa kuisi sedikit demi sedikit, sesuai kecepatanku sendiri.

“Aku suka ini,” kataku.

“Lacinya?”

“Caramu nggak berlebihan.”

“Kamu baru saja menertawakan jadwal memasakku selama dua jam.”

“Itu beda. Yang itu sangat berlebihan.”

Ponsel Arsen berdering saat kami kembali ke dapur. Nama Bu Ratih muncul. Ia menjawab lewat pengeras suara sambil membereskan panci.

“Kamu di rumah?” tanya suara perempuan dari seberang.

“Iya, Bu.”

Aku menjatuhkan sendok. Bunyi logamnya keras, disusul tawaku yang gagal kutahan.

Hening sebentar.

“Ada perempuan di rumahmu?” tanya Bu Ratih.

Arsen menatapku. Aku menutup mulut, tapi sudah terlambat.

“Ada Celine,” jawabnya.

“Bagus. Besok bawa dia makan malam. Ibu mau kenalan sama perempuan yang akhirnya bikin rumahmu kedengaran seperti rumah.”