← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Seven

Kalau Aku Tarik Dasinya

POV Celine

Arsen hanya tidur satu jam empat puluh menit.

Aku tahu karena pukul lima lewat sepuluh dia masih mengirim revisi laporan, lalu pukul enam lima puluh sudah meminta data konferensi pers. Orang normal akan terlihat hancur. Arsen cuma terlihat lebih dingin.

Pukul delapan lewat tiga puluh, ruang persiapan penuh staf PR, legal, dan dua penata kamera yang mondar-mandir sambil membawa kabel. Keanu sudah siap dengan jas navy dan senyum yang bisa dijual sebagai layanan publik.

Arsen berdiri di depan cermin, membaca poin bicara di tablet.

Dasi abu-abunya miring.

Aku mencoba mengabaikannya selama empat puluh detik.

Gagal.

“Semua keluar sebentar,” kataku.

Kepala PR menoleh. “Kita tinggal dua belas menit.”

“Aku butuh satu menit.”

Keanu melihat dasi Arsen, lalu wajahku. Senyumnya muncul. “Ayo, semuanya. Kasih mereka ruang.”

“Nggak perlu,” kata Arsen.

“Perlu,” jawabku.

Keanu mendorong kepala PR keluar sebelum ada yang sempat protes. Pintu menutup. Tinggal aku dan Arsen di depan cermin.

Ia masih membaca tablet. “Apa?”

“Dasimu.”

“Kenapa?”

“Miring.”

“Nggak penting.”

“Tiga puluh kamera akan menyorotmu. Penting.”

Aku berdiri di depannya. Arsen menurunkan tablet, tetapi tidak mundur. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat bayangan lelah di bawah matanya. Wajahnya tetap tenang, hanya garis di antara alisnya lebih dalam.

“Diam,” kataku.

“Aku nggak bergerak.”

“Bagus. Kemajuan besar.”

Jemariku menyentuh simpul dasinya. Kainnya hangat. Aku melonggarkan sedikit, meluruskan bagian belakang, lalu menarik simpulnya naik.

Arsen menatapku lewat cermin.

Aku pura-pura fokus, meski napasnya terasa di atas rambutku. Setelah kejadian di mobil, tubuhku terlalu peka pada jarak di antara kami. Seharusnya ini cuma bagian dari pekerjaanku. Merapikan penampilan atasan sebelum konferensi bukan hal aneh.

Yang aneh adalah tanganku ingin tinggal lebih lama.

“Sudah,” kataku.

Namun aku belum melepaskan dasinya.

Arsen melihat tanganku, lalu mataku. “Celine.”

Nada rendah itu terdengar seperti peringatan.

Aku tahu seharusnya berhenti.

Sebagai gantinya, sisi nakalku bangun setelah semalaman tertahan di War Room.

Aku menarik dasinya sedikit. Tubuh Arsen maju setengah langkah.

“Kalau aku tarik sedikit lagi,” bisikku, “kamu bakal mendekat atau memecat aku?”

Tatapannya berubah.

Bukan kaget. Bukan malu. Sesuatu yang lebih gelap dan jauh lebih sadar.

Tangannya terangkat. Jemarinya melingkar pelan di pergelangan tanganku yang masih memegang dasi. Ia tidak mendorongku pergi.

Arsen justru maju satu langkah lagi.

Jarak kami habis.

Punggung tanganku menyentuh dadanya. Wajahnya menunduk, cukup dekat sampai aku bisa menghitung napasnya. Semua kalimat nakal yang biasanya muncul begitu saja mendadak hilang.

“Jangan tanya,” katanya pelan, “kalau kamu belum siap dengar jawabannya.”

Jantungku seperti menabrak tulang rusuk.

Aku membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar.

Arsen melepas pergelangan tanganku perlahan. Ia mengambil tablet dari meja, lalu mundur seolah barusan tidak melakukan apa-apa.

“Pilih dasi lain,” katanya.

Aku berkedip. “Apa?”

“Yang ini kusut karena kamu tarik.”

Aku melihat kain di tanganku. Benar, ada garis kecil pada simpulnya.

“Oh.” Hanya itu jawaban cerdas yang tersisa di kepalaku.

Aku membuka kotak aksesori di meja. Ada tiga pilihan: hitam, biru tua, dan marun. Aku mengambil biru tua karena warnanya membuat mata Arsen terlihat lebih tajam.

“Yang ini.”

“Kenapa?”

“Cocok.”

“Alasan yang lemah.”

Keberanianku mulai kembali. “Kalau aku kasih alasan jujur, kita bisa terlambat ke konferensi.”

Sudut bibirnya bergerak tipis.

Aku memasangkan dasi baru tanpa menariknya macam-macam. Kali ini Arsen tetap diam, tetapi tatapannya tidak pernah lepas dari wajahku.

Pintu diketuk. Keanu menyembulkan kepala. “Sudah aman, atau saya perlu kasih lima menit lagi?”

“Masuk,” kata Arsen.

“Sayang sekali,” gumamku.

Keanu melihat dasi baru, lalu dasi kusut di tanganku. Ia cukup pintar untuk tidak bertanya. Senyumnya saja sudah sangat mengganggu.

Kepala PR masuk lagi dengan wajah tegang. “Jumlah media dua kali lipat dari perkiraan. Livestream sudah aktif. Begitu pintu dibuka, kamera langsung mengarah ke panggung.”

Arsen mengangguk. “Saya tahu.”

Namun jarinya mencengkeram sisi tablet lebih kuat.

Perubahannya kecil. Orang lain mungkin nggak sadar. Aku baru saja menghabiskan semalam memperhatikan setiap geraknya, jadi aku melihatnya.

Dari balik pintu, kilatan kamera muncul lewat celah kaca. Rahang Arsen menegang. Bukan takut. Lebih seperti seseorang yang harus melewati tempat yang pernah melukainya dan menolak memberi tempat itu kemenangan kedua.

Aku berdiri di sisi kirinya, cukup dekat tanpa menyentuh.

“Hei,” kataku pelan.

Ia menoleh.

“Kalau ada pertanyaan menyebalkan, lihat dasinya. Ingat aku yang pilih. Berarti setidaknya ada satu orang di ruangan itu yang berharap kamu kelihatan bagus.”

“Itu cara kamu memberi semangat?”

“Aku bisa bilang kamu hebat, tapi nanti kepalamu besar.”

Genggaman Arsen pada tablet melonggar. “Aku baik-baik saja.”

“Aku nggak tanya.”

Mata kami bertemu. Sesuatu di wajahnya turun—bukan pertahanan penuh, cuma satu lapis tipis.

“Tetap di sisi panggung,” katanya.

“Itu memang tempatku.”

Arsen membuka pintu sendiri dan berjalan menuju sorotan tanpa menunggu siapa pun menyelamatkannya.

Konferensi pers dimulai tepat pukul sembilan.

Arsen duduk di tengah, Keanu di sebelah kanan, kepala teknologi di kiri. Aku berdiri di sisi panggung bersama tim PR. Puluhan kamera mengarah kepada pria yang selama bertahun-tahun nyaris tak pernah muncul.

Pertanyaan pertama masih aman. Penyebab gangguan, jumlah klien terdampak, waktu pemulihan. Arsen menjawab singkat dan jelas.

Pertanyaan keempat datang dari jurnalis bisnis senior.

“Apakah insiden ini membuktikan Evolte tumbuh terlalu cepat dan sistemnya tidak lagi stabil?”

“Tidak,” jawab Arsen. “Insiden ini membuktikan satu proses review kami gagal. Sistem inti tetap stabil. Kami sudah temukan dua celah, memperbaikinya, dan mengubah prosedur agar hal yang sama nggak terulang.”

“Ada karyawan yang akan diberhentikan?”

“Tidak karena satu kesalahan yang lolos dari proses berlapis. Tanggung jawabnya ada pada sistem kerja, dan saya yang memimpin sistem itu.”

Ruangan hening sebentar.

Ia tidak melempar siapa pun ke bawah bus. Sama seperti semalam.

Pertanyaan berikutnya lebih tajam. Kenapa Arsen jarang muncul? Apakah Keanu masih punya kendali? Siapa sebenarnya yang membuat keputusan teknis di Evolte?

Keanu meraih mikrofon, tetapi Arsen lebih dulu bicara.

“Kami membagi peran berdasarkan kemampuan, bukan jumlah kamera. Keanu memimpin hubungan eksternal dan ekspansi. Saya memimpin produk, teknologi, dan strategi. Nggak ada keputusan besar yang cuma dipegang satu orang.”

Ia menjawab tanpa defensif. Tanpa berusaha mengambil sorotan. Justru itu yang membuat semua orang mendengarkan.

Di baris belakang, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri dengan tangan masuk ke saku celana. Rambutnya mulai memutih, jasnya sangat rapi, dan matanya tidak melihat layar.

Ia melihat Arsen.

Lalu melihatku.

Aku mengenalnya dari profil komisaris: Bram Wiranata, investor awal Evolte.

Setelah konferensi selesai, Bram menghampiri kami di koridor.

“Penampilan yang bagus,” katanya kepada Arsen. “Saya hampir lupa kamu masih bisa bicara di depan kamera.”

Arsen tidak tersenyum. “Ada yang perlu dibahas?”

“Nanti saat rapat komisaris.” Tatapan Bram turun ke dasi biru tua Arsen. “Pilihan baru?”

“Sekretaris saya yang pilih,” jawab Arsen.

Aku tidak menyangka dia akan mengatakannya sejelas itu.

Bram menatapku lagi. Kali ini lebih lama. “Sekretaris baru rupanya punya pengaruh.”

“Dia punya penilaian yang bagus,” kata Arsen. “Beda hal.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi percakapan itu mendadak terasa seperti permainan yang aturannya belum kupahami.

Bram tersenyum tipis. “Tentu.”

Ia pergi bersama asistennya.

Aku menunggu sampai pria itu tak terdengar lagi. “Dia nggak suka aku.”

“Bram nggak suka variabel yang belum dia hitung.”

“Kedengarannya mirip seseorang yang aku kenal.”

Arsen menoleh kepadaku. “Bedanya, aku nggak meremehkan variabel.”

Kalimat itu membuat dadaku kembali berdebar.

Aku menunjuk dasinya. “Kamu masih pakai yang kupilih.”

“Konferensinya sudah selesai.”

“Itu bukan jawaban.”

“Kamu terlalu banyak mencari jawaban hari ini.”

Ia berjalan menuju lift. Aku menyusul sambil tersenyum, tetapi tanganku masih mengingat hangat dadanya dan cara suaranya turun ketika memperingatkanku.

Selama ini aku mengira sedang bermain dengan pria yang tidak tahu cara membalas godaan.

Ternyata Arsen tahu.

Ia hanya memilih menahan diri.

Dan setelah melihat tatapan Bram tadi, aku mulai sadar bahwa membuat Arsen kehilangan kendali bukan satu-satunya bahaya dalam permainan ini.