Chapter Ten
Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
POV Arsen
Aku datang ke gala dengan satu rencana sederhana: enam puluh menit, satu sesi investor, lalu pulang.
Rencana itu gagal pada menit kedelapan.
Ballroom hotel dipenuhi cahaya keemasan, percakapan, dan musik yang sengaja dibuat cukup pelan agar para investor bisa membicarakan angka tanpa harus berteriak. Logo Evolte memenuhi layar utama. Hampir enam ratus tamu hadir—mitra, klien, media, dan orang-orang yang menganggap berdiri dekat pendiri perusahaan sama dengan punya hubungan penting.
Aku masuk lewat pintu samping bersama Keanu. Dalam dua menit, tiga orang meminta foto dan satu komisaris mencoba membahas akuisisi sebelum aku sempat mengambil air.
“Lima puluh delapan menit lagi,” kataku.
Keanu melirik jam tangannya. “Kamu benar-benar menghitung?”
“Aku punya kesepakatan.”
“Dengan Celine.”
“Tetap kesepakatan.”
“Kamu sadar ini pesta perusahaanmu sendiri?”
“Itu tidak mengubah durasinya.”
Keanu menyerahkan segelas air kepadaku. “Tunggu sampai dia datang.”
Aku tidak menjawab.
Sejak sore, Celine hanya mengirim pembaruan kerja. Delegasi Singapura mendarat tepat waktu. Meja tamu sudah diperbaiki. Urutan acara mundur empat menit karena video pembuka harus diekspor ulang. Tidak ada foto, tidak ada godaan, bahkan tidak ada komentar tentang parfum yang kupilih.
Ketiadaan itu justru membuatku mencarinya di antara tamu.
Pukul tujuh lewat delapan, percakapan di dekat pintu utama turun beberapa tingkat.
Aku menoleh.
Celine berdiri di ambang ballroom.
Kebaya kutubaru hijau zamrud membingkai tubuhnya dengan potongan anggun, dipadukan kain batik sogan yang membuat warnanya terlihat lebih dalam. Rambut hitamnya disanggul rendah. Anting yang kupilih bergerak kecil saat ia menyapa kepala acara. Tak ada aksesori berlebihan. Ia tidak membutuhkannya.
Seluruh ruangan seperti menerima perintah diam yang tidak pernah diucapkan.
Seorang direktur di dekatku berhenti di tengah kalimat. Dua staf acara menoleh bersamaan. Bahkan Keanu, yang biasanya selalu punya komentar, cuma mengembuskan napas pelan.
Aku lupa melihat jam.
Celine menangkap tatapanku dari seberang ruangan. Senyumnya muncul—bukan senyum profesional yang ia pakai untuk tamu, melainkan senyum kecil yang jelas ditujukan kepadaku.
Ia berjalan mendekat.
Aroma bergamot dan teh putih tiba lebih dulu, persis seperti yang kuingat dari lorong peluncuran Nadi delapan bulan lalu. Bedanya, kali ini aku tahu namanya. Aku tahu cara ia tertawa ketika berhasil menang debat, cara alisnya naik saat menangkap kebohongan, dan cara kehadirannya mengubah lantai tiga puluh tujuh dari ruang kerja menjadi tempat yang ingin kudatangi.
“Malam, Pak Arsen,” katanya. “Masih bisa ngomong?”
Biasanya aku punya jawaban.
Kali ini, napasku tertahan satu detik terlalu lama.
Matanya melembut saat menyadarinya. Ia bisa saja memakai momen itu untuk menggoda. Bisa saja bertanya berapa banyak poin yang ia dapat atau apakah aku menyesali taruhan kami.
Namun Celine hanya berdiri di depanku dan menunggu.
“Kamu...” Suaraku keluar lebih pelan dari yang kuinginkan. Aku berhenti mencari kalimat aman. “Kamu cantik sekali.”
Tidak ada kata cocok. Tidak ada komentar tentang protokol atau pilihan warna. Hanya kebenaran yang sudah membuat pertahananku gagal sejak ia muncul di pintu.
Celine berkedip.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya lelucon.
“Makasih,” katanya pelan.
Dua kata itu terasa jauh lebih dekat daripada semua godaannya.
Keanu berdeham di sampingku. “Saya akan pura-pura tidak menyaksikan sejarah.”
Celine pulih lebih dulu. “Catat tanggalnya. Bisa jadi nggak terulang.”
“Akan saya masukkan ke laporan tahunan.”
Aku menatap Keanu. “Delegasi Singapura sudah datang.”
“Nah, dia kembali.” Keanu mengangkat tangan menyerah. “Selamat bekerja.”
Sesi investor dimulai pukul tujuh lewat dua puluh. Bram tiba bersama tiga perwakilan Northstar Dynamics, perusahaan yang sudah dua kali mencoba masuk lewat skema akuisisi. Ia tampak tidak senang ketika menemukan aku duduk di kepala meja.
“Saya kira sesi ini masuk jadwal saya,” katanya.
“Produk dan arsitektur data masuk tanggung jawab saya,” jawabku.
“Tentu. Senang melihatmu makin sering keluar.”
“Kita bahas proposalnya.”
Celine duduk di sisi kanan, mencatat pertanyaan dan mengatur dokumen tanpa sekali pun mengganggu alur. Saat salah satu perwakilan Northstar mengutip proyeksi pertumbuhan lama, ia menggeser tablet ke arahku dengan angka terbaru sudah terbuka. Saat mereka mencoba memasukkan klausul eksklusivitas sebagai “dukungan pasar”, ia menandai halaman dan mengirimkannya kepada Maya.
Aku menolak klausul itu dalam dua kalimat.
“Nadi tumbuh karena dapat bekerja dengan banyak jaringan,” kataku. “Kami nggak akan menukar kendali jangka panjang dengan valuasi yang terlihat bagus selama satu kuartal.”
Bram menyatukan jemari. “Kadang pendiri perlu tahu kapan harus melepas sebagian kendali.”
“Kadang investor perlu ingat perusahaan ini bukan barang titipan.”
Ruangan hening.
Celine tidak melihatku, tetapi ujung penanya berhenti. Aku tahu ia sedang menahan senyum.
Pertemuan selesai tanpa kesepakatan baru. Northstar tetap tertarik, tetapi kini mereka tahu jalur cepat lewat Bram tidak akan cukup.
Begitu keluar dari ruang privat, Celine berjalan di sampingku.
“Barusan sangat seksi,” bisiknya.
“Yang mana?”
“Bagian kamu menolak beberapa triliun tanpa kedip.”
“Angkanya buruk.”
“Tetap saja. Aku hampir tepuk tangan.”
“Kamu janji tidak menggangguku selama sesi investor.”
“Sesinya sudah selesai.”
Aku menoleh kepadanya. “Kamu selalu punya celah.”
“Makanya kamu butuh aku.”
Sebelum aku bisa menjawab, suara benda jatuh terdengar dari meja registrasi. Seorang staf acara muda bernama Siska berdiri pucat di depan tumpukan kartu meja yang berantakan. Di hadapannya, Bram menahan satu kartu dengan ekspresi dingin.
“Kenapa perwakilan Northstar ditempatkan di meja sembilan?” tanyanya. “Saya sudah kirim perubahan kemarin.”
“Maaf, Pak. File final kami—”
“Kalau staf acara tidak bisa membaca surel, mungkin Evolte perlu cari orang lain.”
Celine langsung bergerak.
“Perubahannya masuk setelah daftar tamu dikunci, Pak,” katanya sambil berdiri di sisi Siska, bukan di depannya. “Aku yang tahan karena memindahkan Northstar ke meja utama akan menggeser dua mitra pemerintah tanpa persetujuan protokol.”
Bram menatapnya. “Jadi kamu mengabaikan instruksi komisaris?”
“Aku minta konfirmasi, tapi belum ada balasan. Supaya acara tetap jalan, kami pakai susunan terakhir yang sudah disetujui semua pihak.”
Ia menyerahkan tablet. Waktu surel, permintaan konfirmasi, dan susunan final tampil rapi.
Celine tidak menaikkan suara. Ia juga tidak meminta aku menyelamatkannya. Ia datang membawa fakta dan berdiri di dekat staf junior agar kesalahan itu tidak dilempar kepada orang yang paling mudah ditekan.
Pemandangan itu mengembalikanku pada lorong delapan bulan lalu.
Aku jatuh pada pola yang sama dua kali: seorang perempuan yang memilih melindungi orang lain tanpa kehilangan ketajamannya.
“Susunan meja tetap,” kataku. “Kalau ada perubahan setelah batas waktu, harus lewat protokol. Termasuk permintaan komisaris.”
Bram mengalihkan pandangan kepadaku. “Hal kecil seperti ini biasanya tidak butuh campur tangan Co-CEO.”
“Benar. Itu sebabnya keputusan Celine cukup.”
Ada kamera dokumentasi beberapa meter dari kami. Bram melihatnya, lalu tersenyum tipis seolah percakapan tadi tidak berarti apa-apa.
“Tentu,” katanya. “Saya hanya memastikan standarnya.”
Ia pergi.
Celine membungkuk untuk membantu Siska menyusun kartu yang jatuh. “Tarik napas. Kamu nggak salah.”
“Makasih, Kak. Aku kira—”
“Jangan kira-kira dulu. Cek meja sembilan, pastikan name tag Northstar benar, lalu balik ke sini.”
Siska mengangguk dan bergegas pergi.
Celine berdiri lagi. “Kamu nggak perlu ikut campur.”
“Aku nggak membela kamu.”
“Oh?”
“Aku menguatkan keputusan operasional yang benar.”
Senyumnya muncul. “Kedengarannya seperti pembelaan pakai jas.”
“Kedengarannya seperti kamu harus kembali kerja.”
“Siap, Pak Arsen.”
Ia pergi membawa kartu meja, meninggalkan aroma yang kupilih dan alasan lain untuk tetap berada di ruangan itu.
Pukul delapan lewat delapan, satu jamku habis.
Keanu muncul di sampingku sambil melihat jam. “Mobilmu siap.”
Aku sedang melihat Celine di dekat panggung. Ia membantu seorang penerima beasiswa yang gugup mengulang urutan naik, lalu melepas pin kecil dari clutch-nya untuk memperbaiki ujung selempang gadis itu.
“Tunda mobilnya,” kataku.
Keanu mengikuti arah pandangku. “Berapa lama?”
“Sampai acara selesai.”
Ia tidak mengejek. Hanya menepuk bahuku sekali sebelum pergi.
Celine menghampiriku beberapa menit kemudian dengan rundown di tangan. “Waktumu habis delapan menit lalu.”
“Aku tahu.”
“Kamu bebas pulang.”
“Aku nggak bilang mau pulang.”
Tatapannya berubah hati-hati, seolah takut salah membaca jawaban yang terlalu ia inginkan.
“Kenapa tinggal?” tanyanya.
Aku bisa memberi alasan tentang investor, protokol, atau keamanan acara. Semuanya masuk akal. Semuanya juga bukan alasan utama.
“Aku mau lihat kamu naik panggung.”
Celine akan memperkenalkan program beasiswa teknologi yang ia susun bersama tim budaya perusahaan. Itu hanya tiga menit. Tak ada alasan seorang Co-CEO harus menunggu khusus untuknya.
Kali ini, ia tahu aku tidak sedang bicara sebagai atasan.
“Kalau aku salah baca naskah?” tanyanya.
“Kamu nggak akan salah.”
“Yakin banget.”
“Aku sudah lihat kamu menyelamatkan acara yang lebih kacau.”
Alisnya berkerut. “Kapan?”
Seorang staf panggung memanggil namanya sebelum aku menjawab.
“Dua menit lagi, Kak Celine.”
“Aku ke ruang persiapan dulu.” Ia mundur selangkah, tetapi matanya masih menyimpan pertanyaan. “Jangan hilang.”
“Aku di sini.”
Ia berbalik menuju koridor samping. Setelah tiga langkah, tangannya naik ke belakang leher. Ada bunyi kecil, lalu rantai tipis jatuh ke telapak tangannya.
Celine berhenti.
Staf panggung sudah pergi. Maya masih di sisi lain ballroom. Ia menatap kalung yang pengaitnya lepas, lalu melihatku.
Aku mendekat sampai berhenti satu langkah di depannya.
“Rusak?” tanyaku.
“Nggak. Cuma lepas.” Ia melirik jam, lalu membuka telapak tangan. “Aku nggak bisa pasang sendiri.”
Di ujung koridor, pembawa acara mulai mengantar segmen berikutnya. Waktu Celine kurang dari dua menit.
Ia mengangkat rambut dari tengkuknya, lalu menatapku lewat cermin di dinding.
Semua suara dari ballroom terasa menjauh.
“Arsen,” katanya pelan. “Bisa bantu?”
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud reading
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima