Chapter Twelve
Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
POV Celine
Empat hari setelah gala, Jakarta tenggelam dalam hujan dan aku terjebak di lift bersama Arsen.
Kalau bukan karena lampunya mendadak mati, situasi itu sebenarnya masuk daftar keinginanku.
Lift berhenti dengan hentakan kecil di antara lantai tiga puluh satu dan tiga puluh dua. Lampu utama padam. Lampu darurat baru menyala tiga detik kemudian, redup dan kemerahan.
Tanganku langsung meraih dinding.
Arsen sudah menekan tombol interkom. “Kami terhenti di jalur privat. Dua orang. Konfirmasi status.”
Suara petugas gedung menjawab putus-putus. Gangguan listrik karena petir. Generator sedang memindahkan beban. Perkiraan lima sampai sepuluh menit.
“Ventilasi masih jalan,” kata Arsen setelah panggilan berakhir. “Kita aman.”
“Aku tahu.”
“Tanganmu mencengkeram dinding.”
“Aku cuma memastikan gedungnya masih ada.”
Ia menatapku dalam cahaya merah. “Kamu takut?”
Aku tidak takut gelap. Aku juga tidak suka ruang logam sempit yang mendadak berhenti tiga puluh lantai di atas tanah. Keduanya bisa benar pada saat yang sama.
Aku mengulurkan tangan kepadanya. “Pura-pura selamatin aku, boleh?”
“Kamu nggak butuh diselamatkan.”
“Aku tahu. Tapi tanganmu nganggur.”
Arsen melihat telapak tanganku. “Setengah bohong.”
“Setengah takut juga tetap takut.”
Ia menggenggam tanganku.
Tidak ragu, tidak setengah-setengah. Jemarinya menutup tanganku dengan hangat dan mantap. Aku berdiri lebih dekat, cukup untuk merasakan bahunya tanpa benar-benar bersandar.
“Lebih baik?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Pembohong.”
“Aku nggak bilang bagian mana yang jadi lebih baik.”
Dalam cahaya darurat, aku melihatnya memutar mata. Namun ia tidak melepas tanganku.
Lift bergerak lagi enam menit kemudian. Saat pintu terbuka di lantai tiga puluh tujuh, kami masih bergandengan. Siska dan dua teknisi gedung berdiri di depan pintu. Mata Siska turun ke tangan kami.
Aku cepat-cepat melepaskan genggaman.
Arsen justru memberi instruksi seolah tidak terjadi apa-apa. “Tutup lift privat sampai pemeriksaan selesai. Minta fasilitas kirim laporan gangguan sebelum pagi.”
“Baik, Pak.”
Begitu teknisi pergi, Siska mendekat dan berbisik, “Aku nggak lihat apa-apa, Kak.”
“Bagus. Pertahankan prestasimu.”
Ia kabur sambil menahan senyum.
Hujan membuat hampir semua staf pulang lebih awal, tetapi aku dan Arsen masih harus menyelesaikan proposal kemitraan Pacific Meridian sebelum berangkat ke Bali lusa. Konsorsium itu ingin memakai Nadi untuk jaringan pelabuhan Asia-Pasifik. Kalau kesepakatan berhasil, Evolte masuk tujuh negara tanpa melepas kendali teknologi.
Kalau gagal, Bram akan punya alasan baru untuk mendorong tawaran Northstar.
Kami pindah ke ruang rapat kecil karena separuh lampu kantor mati. Hanya satu jalur listrik cadangan yang hidup. Layar dinding menyala, pendingin ruangan bekerja terlalu keras, dan suara hujan memukul kaca seperti ribuan jari.
Pukul sebelas, aku menemukan dua paragraf dalam rancangan kerja sama yang memakai susunan kata hampir sama dengan proposal Northstar.
“Lihat ini.” Aku memutar laptop ke arah Arsen. “Hak audit tanpa batas, akses ke model turunan, dan penalti kalau kita kerja sama dengan jaringan lain. Nama perusahaannya beda, jebakannya sama.”
Arsen membaca dua halaman dalam waktu kurang dari satu menit. “Versi ini masuk kapan?”
“Sore tadi. Dikirim konsultan lokal mereka, ditembuskan ke kantor Bram.”
Ia tidak terlihat kaget. Itu justru membuatku waspada.
“Kamu sudah curiga?”
“Aku curiga semua dokumen yang menawarkan uang besar sambil bilang kendali kita tetap utuh.”
“Kamu benar-benar nggak romantis.”
“Aku sedang membaca kontrak.”
“Tetap bisa romantis. Misalnya bilang, ‘Celine, terima kasih sudah menyelamatkan dua puluh tiga triliun rupiah.’”
“Valuasi terbaru dua puluh empat koma satu.”
“Itu bagian yang kamu koreksi?”
“Dan kamu belum menyelamatkannya. Baru menemukan risiko.”
Aku menunjuk wajahnya. “Ini kenapa banyak orang takut kerja sama kamu.”
“Tapi kamu masih di sini.”
“Aku punya selera yang meragukan.”
Kami menyusun ulang respons. Arsen memecah permintaan mereka menjadi empat bagian, menghapus hak eksklusif, lalu menawarkan ruang uji coba yang cukup menarik tanpa memberi akses ke model inti. Aku membuat tabel keputusan, mencocokkan setiap klausul dengan pemilik proses, dan menandai pertanyaan yang harus dijawab tim hukum sebelum penerbangan.
“Kita perlu jejak versi yang lebih rapi,” kataku. “Mulai sekarang, tiap revisi eksternal masuk lewat satu ruang data. Nama file, waktu, dan orang yang buka harus tercatat. Kalau kalimat ini muncul lagi di tempat lain, kita tahu jalurnya.”
Arsen menatap tabel buatanku. “Tambahkan watermark berbeda untuk salinan internal dan eksternal.”
“Aku kirim prosedurnya ke Maya besok pagi.”
“Kirim malam ini. Dia masih bangun.”
“Kamu punya radar khusus buat orang yang belum tidur?”
“Maya baru komentar di dokumen dua menit lalu.”
“Jawabanmu selalu merusak teori yang menarik.”
“Tapi idemu bagus. Jalankan.”
Dua kata terakhir itu lebih berarti daripada pujian panjang. Arsen tidak memberiku tugas kecil untuk membuatku merasa berguna. Ia mengambil usulku dan langsung menjadikannya bagian dari sistem perusahaan.
Pukul dua belas lewat dua puluh, perutku berbunyi.
Arsen menatapku dari balik laptop. “Kamu belum makan?”
“Tadi makan dua canapé.”
“Itu bukan makan malam.”
“Kamu juga cuma minum kopi.”
Ia berdiri dan pergi ke pantry. Lima menit kemudian, ia kembali membawa dua mi instan, sebungkus biskuit, dan teh hangat.
“Jamuan eksekutif,” kataku.
“Pilihan lain cuma oatmeal.”
“Aku lebih baik makan kontraknya.”
Kami makan di ujung meja rapat sambil menonton hujan. Jas Arsen tersampir di kursi sebelah. Setelah pendingin ruangan membuatku menggigil untuk ketiga kali, aku mengambilnya dan memakainya tanpa izin.
Jas itu terlalu besar. Lengannya menutup setengah tanganku dan aromanya bersih, sedikit seperti kayu cedar.
Arsen berhenti mengaduk mi. “Itu jasku.”
“Sekarang fasilitas kantor.”
“Kamu punya blazer.”
“Tipis.”
“Minta izin.”
Aku merapatkan jasnya ke tubuhku. “Boleh?”
Ia menatapku cukup lama hingga aku mulai curiga wajahku terkena kuah.
“Sudah dipakai,” katanya.
“Berarti boleh.”
“Logikamu berbahaya.”
“Tapi hangat.”
Sudut bibirnya naik sedikit. Ia kembali makan, membiarkan jasnya tetap di tubuhku.
Setelah tengah malam, kantor terasa berbeda. Tidak ada suara telepon, tidak ada langkah staf, dan tak ada orang yang memanggilnya Pak Arsen setiap lima menit. Kami membahas model ekspansi sambil makan mi murah. Sesekali lutut kami bersentuhan di bawah meja. Tak satu pun dari kami buru-buru menjauh.
Rasanya terlalu dekat dengan kehidupan biasa. Justru itu yang paling berbahaya.
Pukul satu kurang sepuluh, proposal selesai. Arsen mengirim revisi ke Maya dan Keanu, lalu menutup laptop.
“Mobil sudah bisa masuk basement,” katanya. “Aku antar pulang.”
“Nggak perlu. Sopir kantor—”
“Jalan depan rumahmu banjir sebagian. Aku mau pastikan kamu sampai.”
Nada itu bukan ajakan untuk debat.
Saat aku membuka kalender untuk memindahkan agenda pagi, satu notifikasi baru muncul.
JADWAL DIPERBARUI — BRIEFING PACIFIC MERIDIAN DIPINDAHKAN KE 14.00.
Aku membuka detailnya. Briefing yang semula dijadwalkan Rabu pukul enam tiga puluh sore kini maju empat setengah jam. Panggilan investor Arsen dipindahkan kepada Keanu. Sesi latihan presentasi juga diubah agar selesai sebelum pukul lima.
“Kamu yang ubah?” tanyaku.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Besok ulang tahun ibumu.”
Tanganku berhenti di atas layar.
Aku cuma pernah menyebutnya sekali, dua minggu lalu, saat menolak pilihan makan malam karena ibuku paling suka sop buntut buatan sendiri. Bahkan Maya sering lupa tanggalnya.
“Kamu ingat?”
“Aku dengar waktu orang bicara.”
“Kamu mindahin panggilan investor.”
“Keanu bisa pegang. Dokumen kita selesai malam ini, jadi briefing nggak perlu menunggu sore.”
Ia menjelaskannya seperti keputusan itu murni soal efisiensi. Namun aku tahu berapa banyak bagian jadwalnya yang harus digeser agar aku bisa pulang tepat waktu.
“Arsen.”
“Apa?”
Aku ingin memeluknya. Keinginan itu datang begitu cepat sampai aku harus mencengkeram tablet.
Sebagai gantinya, aku berkata, “Kalau terus begini, aku bisa salah paham.”
“Kamu sudah salah paham sejak hari pertama.”
“Berarti jelasin yang benar.”
Tatapan kami bertemu di atas meja yang penuh gelas mi kosong dan dokumen miliaran rupiah.
Arsen tidak menjawab. Ia mengambil laptopku, memasukkannya ke tas, lalu berdiri.
“Ayo pulang.”
Aku mengikuti sambil masih memakai jasnya.
Keesokan malam, aku sempat meniup lilin bersama ibu. Aku mengirim foto kue yang miring karena dibuat sendiri ke Arsen.
Makasih udah bikin aku bisa pulang tepat waktu. Ibu bilang bosku boleh datang kalau mau sop buntut.
Balasannya datang saat aku sedang mencuci piring.
Sampaikan selamat ulang tahun. Tawaran sop buntutnya aku simpan.
Aku membaca kalimat terakhir tiga kali sebelum memasukkan ponsel ke saku.
Dua hari kemudian, jas Arsen sudah kembali bersih di ruangannya, proposal Pacific Meridian siap, dan kami terbang ke Bali bersama tim kecil.
Semuanya berjalan normal sampai pintu hotel di Nusa Dua terbuka.
Belasan jurnalis menunggu di lobi.
Satu pria menerobos pembatas sambil mengangkat ponsel. Di layarnya, ada gambar buram Arsen yang duduk di lantai dengan napas tersengal—video lama yang belum pernah kulihat.
“Pak Arsen!” teriaknya. “Apa serangan panik Anda masih sering terjadi?”
Langkah Arsen berhenti.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam reading
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima