Chapter Twenty Five
Pacar Rahasia Sang CEO
POV Arsen
Pukul tujuh lewat dua belas, Celine mengirim foto tiga lipstik di atas meja riasnya.
Celine: Yang merah dilarang. Dua lainnya aman, Pak CEO?
Aku menatap pesan itu lebih lama daripada laporan audit yang terbuka di layar.
Arsen: Nggak ada yang aman kalau kamu yang pakai.
Tanda mengetik muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Celine: Siapa kamu dan kamu apakan pacarku yang kaku?
Aku tidak membalas. Bukan karena kehabisan jawaban. Aku ingin melihat wajahnya saat datang nanti.
Hari ini Celine kembali ke Evolte hanya untuk dua urusan: menyerahkan berkas akhir kepada Keanu dan memberi keterangan tambahan kepada auditor. Ia tidak punya akses eksekutif, tidak berada dalam strukturku, dan tidak menerima satu perintah pun dariku.
Maya sudah menerima deklarasi hubungan kami pagi-pagi sekali.
Balasannya cuma satu baris.
Maya: Akhirnya. Jangan membuat saya perlu menulis kebijakan khusus untuk kalian.
Keanu tahu tanpa diberi tahu. Katanya, tidak ada orang yang datang ke kantor pukul enam pagi dengan wajah setenangku kecuali baru jatuh cinta atau baru mengakuisisi perusahaan. Karena tidak ada transaksi baru di kalender, kesimpulannya mudah.
Pukul sembilan kurang lima, ponselku berdering. Nama baru yang kusimpan pagi tadi muncul di layar.
CELINE — PACAR FAVORIT (WAJIB DIBANTAH)
Tidak ada suara saat kuangkat. Sedetik kemudian, pintu ruanganku terbuka.
Celine masuk membawa dua map, memakai blus putih, celana hitam, dan lipstik merah yang jelas-jelas sama dengan semalam.
“Kamu sengaja,” kataku.
“Aku kira laranganmu cuma berlaku kalau aku masih mau kamu profesional.”
“Kamu sedang berada di kantor.”
“Aku bukan bawahanmu.”
“Itu bukan alasan membuat kekacauan.”
“Aku belum melakukan apa-apa.”
Aku meletakkan ponsel di meja dengan layar menghadap kepadanya. Celine membaca nama kontak itu, lalu menatapku. “Kamu mengganti nama kontakku?”
“Nama lama sudah tidak akurat.”
“Aku tetap sekretaris favoritmu.”
“Kamu satu-satunya sekretaris yang pernah mengganti nama kontak sendiri.”
“Berarti menang mutlak.”
“Sekarang kamu pacarku. Jabatan lama tidak perlu dibawa.”
Ia menahan senyum. “Wajib dibantah?”
“Aku belajar bahwa selalu menurutimu berbahaya.”
“Baru satu hari jadi pacar, kamu udah berani.”
“Aku jatuh cinta lebih lama dari itu.”
Kali ini senyumnya benar-benar gagal ia tahan.
Ia berjalan ke mejaku, menaruh map, lalu duduk di kursiku seolah enam bulan terakhir belum mengajarinya bahwa tindakan itu selalu berbahaya.
“Ini kursiku,” kataku.
“Kemarin kamu bilang nggak ada sistem Evolte yang membuatku wajib dengar.”
“Aku mulai menyesali ketepatan kalimatku.”
“Terlambat.”
Pendingin ruangan membuatnya mengusap lengan. Jas cadanganku tergantung di belakang kursi. Tanpa meminta izin, ia mengambilnya dan menyampirkan ke bahu.
Jas itu terlalu besar. Lengan bajunya menutup sebagian tangan, sementara aroma parfumnya langsung menempel pada kain yang biasa kupakai.
“Aku pinjam,” katanya.
“Ambil.”
“Jangan gampang memberi barang ke pacar. Nanti aku manja.”
Aku berdiri di belakang kursi dan membungkuk, kedua tangan bertumpu di meja. Posisi yang dulu membuatnya kehilangan kalimat saat kami belum boleh melakukan apa pun.
“Kalau kamu mau dimanja,” kataku dekat telinganya, “nggak perlu mencuri jas.”
Celine menoleh. Pipi kami hampir bertemu, tetapi kali ini aku tidak mundur.
Wajahnya memerah tipis. “Aku cuma kedinginan.”
“Tentu.”
Aku mengambil map di depannya dan kembali ke sisi meja. Senyumku muncul sebelum sempat kutahan. Celine melihatnya, lalu menyipitkan mata seolah baru sadar permainan yang ia mulai tidak lagi punya lawan pasif.
“Aku harus ke ruang Maya,” katanya.
“Lima menit lagi.”
“Kenapa?”
“Karena kamu belum menjelaskan map ini.”
“Bisa dibaca.”
“Aku ingin dengar langsung.”
Ia tahu aku sedang memperpanjang waktunya di ruangan, tetapi ia tetap menjelaskan. Tiga menit kemudian, interkom menyala. Keanu mengingatkan rapat privat kami dimulai sebentar lagi.
Celine berdiri, melepas jasku, lalu berjalan ke arah pintu. Di tengah jalan ia berbalik.
“Arsen.”
“Hm?”
“Sini sebentar.”
Aku mendekat. “Apa?”
Ia menunjuk pipiku. “Ada sesuatu.”
“Apa?”
“Aku.”
Sebelum aku sempat bertanya, ia mencium dekat rahangku. Singkat, hangat, dan sengaja meninggalkan satu bekas merah.
Celine mundur dengan senyum puas. “Sekarang ada.”
Pintu rapat di ruang sebelah terbuka. Suara Keanu terdengar memanggil namaku.
Aku mengambil saputangan dari saku, menghapus bekas itu perlahan, lalu menunjukkan noda merahnya kepada Celine.
“Nanti kamu ganti,” kataku.
Senyumnya hilang.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Celine tidak punya jawaban.
Aku melipat saputangan, memasukkannya kembali ke saku, lalu berjalan melewatinya menuju ruang rapat.
Keanu melihat kami bergantian. “Saya datang di waktu yang salah?”
“Selalu,” jawabku.
Rapat berlangsung dua puluh menit. Celine duduk di sisi Maya hanya untuk memastikan satu alur waktu, lalu keluar setelah bagiannya selesai. Ia tidak menatapku sekali pun. Aku tahu itu bukan karena ia tiba-tiba profesional. Ia sedang merencanakan serangan balasan.
Ketika aku kembali ke ruangan, satu catatan kuning menempel di layar.
Agenda tambahan: tagih pengganti saputangan setelah jam kerja. Durasi fleksibel.
Aku mengambil pulpen, mencoret kata fleksibel, lalu menulis tiga puluh menit sebelum mengembalikan catatan itu ke map miliknya.
Celine menemukannya sepuluh menit kemudian. Ia muncul di pintu, mengangkat kertas tersebut, lalu bertanya, “Cuma tiga puluh menit?”
“Itu slot awal.”
“Ada perpanjangan?”
“Tergantung performa.”
Pintu kembali tertutup sebelum aku sempat menikmati perubahan warna di pipinya. Tawa Celine terdengar dari koridor.
Saat makan siang, aku menemukannya di pantry eksekutif. Kedua tangannya penuh dokumen untuk auditor, sementara sebuah puding karamel terbuka di meja.
“Ini makan siangmu?” tanyaku.
“Aku udah makan nasi.”
“Kapan?”
“Itu pertanyaan pacar atau mantan bos?”
“Pacar yang tahu kamu berbohong.”
Ia mendecakkan lidah. “Berkasnya harus masuk jam satu.”
Aku mengambil sendok, menyendok sedikit puding, lalu mengarahkannya ke bibirnya.
Celine menatap sendok itu, lalu aku. “Kamu mau nyuapin aku di kantor?”
“Tanganmu penuh.”
“Bisa aku taruh.”
“Bisa. Tapi aku nggak mau.”
Ia membuka mulut dan menerima satu suapan, matanya tidak lepas dari wajahku. “Kamu belajar cepat.”
“Aku selalu cepat.”
“Sombong.”
“Fakta.”
Aku memberinya suapan kedua. Kali ini ujung bibirnya terkena sedikit karamel. Ibu jariku hampir bergerak untuk membersihkannya, tetapi suara langkah muncul dari koridor. Aku menyerahkan tisu sebagai gantinya.
Celine menangkap gerakanku yang tertahan. “Takut ketahuan?”
“Bukan. Aku nggak mau ruang kerja berubah jadi panggung hubungan kita.”
“Ada bedanya sama menyembunyikan?”
“Ada.” Aku menaruh sendok. “Aku nggak akan bohong kalau ditanya langsung. Keanu, Maya, HR, dan panel tahu. Tapi aku juga nggak mau orang menilai setiap keputusanmu lewat hubungan kita.”
Ia menaruh dokumen di meja. “Berarti kita butuh aturan.”
“Aku sudah punya daftar.”
“Tentu saja.”
“Pertama, tidak ada sentuhan selama rapat.”
“Terlalu umum. Kalau kamu pingsan?”
“Kamu boleh menolong.”
“Kalau dasimu miring?”
“Bukan keadaan darurat.”
“Menurut siapa?”
“Celine.”
Ia tersenyum. “Lanjut.”
“Kedua, kita nggak berbohong kalau ditanya langsung, tapi detail pribadi tetap milik kita. Ketiga, tidak ada keputusan karier yang datang lewat aku. Keempat, satu kencan setiap minggu tanpa laptop, rapat, atau telepon kerja kecuali darurat.”
“Minimal satu,” koreksinya.
“Minimal satu.”
“Kelima, pesan nakal dilarang lewat ponsel kantor.”
“Setuju.”
“Yang berarti ponsel pribadi boleh.”
Aku menatapnya. Ia kembali mengambil dokumen dengan wajah paling polos yang bisa dibuat manusia.
“Kamu menulis aturan itu cuma buat mencari celah,” kataku.
“Aku belajar dari mastermind.”
“Ada satu lagi.”
“Apa?”
“Rahasia ini bukan karena aku malu punya kamu.”
Keceriaan di wajahnya melunak.
“Aku tahu,” katanya. “Dan kalau suatu hari aku mau orang-orang tahu?”
“Kita putuskan bareng.”
Kata bareng terasa lebih penting daripada seluruh daftar.
Celine mengambil pudingnya, lalu menyodorkan satu suapan kepadaku. Aku menerimanya.
“Satu kencan minggu ini,” katanya. “Kamu pilih tempat.”
“Rumahku. Sabtu malam.”
Alisnya terangkat. “Berani juga ngajak pacar ke rumah di minggu pertama.”
“Aku akan masak.”
“Kamu benar-benar bisa?”
“Datang dan nilai sendiri.”
Ia melangkah mendekat, cukup dekat hingga aroma lipstik dan parfumnya bercampur dengan karamel.
“Dress code?” tanyanya.
“Jangan pakai sesuatu yang membuatku lupa menyalakan kompor.”
Senyum Celine kembali penuh bahaya. “Berarti aku udah tahu harus pakai apa.”
Ia pergi sebelum aku bisa mengubah aturan pertama kami.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO reading
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima