Chapter Sixteen
Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
POV Celine
Pintu lift terbuka ketika aku masih memegang kotak barang pribadi di dada.
Aku baru akan masuk saat satu telapak tangan menahan pintunya.
Arsen berdiri di belakangku.
Ia tidak memakai jas. Lengan kemejanya digulung sampai siku, dasinya masih miring, dan wajahnya terlihat seperti milik seseorang yang belum tidur dua malam. Namun suaranya tetap tenang ketika berkata, “Kita belum selesai.”
Aku memandang tangan yang menahan pintu, lalu wajahnya. “Aku sudah.”
“Lima menit.”
“Kamu selalu minta waktu setelah mutusin semuanya sendiri.”
Rahangnya mengeras. “Tolong.”
Satu kata itu menghentikanku.
Arsen jarang meminta. Lebih jarang lagi berkata tolong.
Aku keluar dari lift, tetapi tidak kembali ke ruangannya. Kami masuk ke ruang rapat kecil yang dinding kacanya bisa dibuat buram. Aku tetap memegang kotak dan berdiri.
“Lima menit,” kataku.
Arsen menutup pintu. “Pernyataan kemarin bagian dari strategi hukum.”
“Aku tahu.”
Ia tampak tidak menyangka. “Kamu tahu?”
“Aku ada di ruangan waktu Maya jelasin soal konflik kepentingan. Aku lihat dokumen audit. Aku ngerti kalimat itu memutus tuduhan bahwa aku dapat bonus karena tidur sama bos.”
“Maka kamu tahu kenapa aku harus bilang—”
“Aku tahu kenapa strateginya masuk akal.” Aku menatapnya. “Aku marah karena kamu nggak bicara sama aku sebelum memilihnya.”
“Waktunya sebelas menit.”
“Kamu punya cukup waktu buat kasih instruksi ke empat tim.”
“Karena aku tahu apa yang harus mereka kerjakan.”
“Tepat.” Aku tertawa tanpa rasa lucu. “Kamu selalu tahu apa yang harus orang lain kerjakan. Kamu nggak pernah berhenti buat tanya apa mereka mau ikut rencanamu.”
Arsen mendekat satu langkah. Aku tetap di tempat, tetapi memeluk kotak lebih erat.
“Kalau aku bicara sama kamu dan video berikutnya keluar, setiap jawabanmu bisa dipakai untuk bilang kita menyusun cerita bersama.”
“Jadi kamu sengaja bikin aku nggak tahu?”
“Aku memisahkan kamu dari strategi supaya kesaksianmu tetap bersih.”
“Secara hukum, hebat.”
“Celine—”
“Tapi aku bukan cuma saksi.”
Aku meletakkan kotak di meja agar kedua tanganku bebas.
“Aku nggak minta kamu mengaku cinta di depan media,” lanjutku. “Aku tahu aku masih bawahanmu. Aku tahu belum ada hubungan resmi. Aku bahkan mungkin akan setuju kamu pakai kalimat yang sama.”
Arsen mengerutkan alis. “Lalu apa yang seharusnya kulakukan?”
“Datang sebelum siaran. Tatap aku. Bilang, ‘Ini strategi yang harus kupakai. Kalimatnya akan sakit, tapi aku nggak sedang menyangkal apa yang kubilang semalam.’ Cuma itu.”
Ia tidak langsung menjawab.
“Kamu nggak butuh izin dariku buat bicara sebagai CEO,” kataku. “Tapi kalau kamu berharap aku tetap percaya sama Arsen, kamu harus berhenti menyembunyikan semua keputusan sampai akibatnya jatuh ke kepalaku.”
“Aku salah karena nggak bicara lebih dulu.”
Pengakuannya datang tanpa alasan tambahan. Dadaku tetap sakit, tetapi setidaknya kali ini ia tidak mencoba menang.
“Iya,” jawabku. “Kamu salah.”
Diam memenuhi ruang rapat.
“Malam sebelumnya, kamu bilang kalau aku bukan bawahanmu, jawabanmu bakal beda. Kamu bilang setelah ekspansi kita akan bicara. Lalu besok paginya kamu berdiri di depan kamera dan bilang nggak ada hubungan pribadi apa pun.”
“Karena memang belum ada hubungan.”
Kalimat itu benar. Tetap saja, rasanya seperti sesuatu yang tajam.
Arsen langsung menyadarinya. “Bukan begitu maksudku.”
“Aku tahu maksudmu.” Suaraku turun. “Itu yang bikin sakit. Secara teknis, kamu nggak bohong. Secara teknis, aku memang bukan siapa-siapa.”
“Kamu bukan bukan siapa-siapa.”
“Lalu siapa?”
Ia membuka mulut.
Tidak ada jawaban yang langsung keluar.
Aku mengangguk. “Nah.”
“Aku sedang mengubah struktur pelaporan.”
Aku menatapnya lagi.
“Proposalnya sudah masuk sebelum kita ke Bali,” lanjut Arsen. “Kalau disetujui, executive operations pindah ke Keanu dan komite. Kamu nggak lagi melapor langsung kepadaku.”
Harapan lama mencoba hidup. Aku mematikannya sebelum tumbuh.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Karena belum final. Dan aku nggak mau kamu mengira posisi itu imbalan karena—”
“Karena aku suka kamu?”
“Iya.”
“Kamu bisa bilang ada proses tanpa menjanjikan hasil.”
Arsen diam.
“Tapi kamu memilih menyimpan semuanya,” lanjutku. “Rencana karierku, strategi media, perasaanmu. Kamu simpan sampai kamu yakin semua variabel aman, lalu berharap aku berdiri di tempat yang sama saat kamu siap bicara.”
“Aku mencoba jaga kamu.”
Kalimat itu akhirnya datang.
Aku menatap pria yang kucintai dan merasa sangat lelah.
“Kamu jaga namaku,” kataku, “tapi bikin aku merasa nggak pernah berarti.”
Wajah Arsen berubah. Sangat kecil, tetapi aku melihat pukulannya mendarat.
“Itu nggak benar.”
“Mungkin buat kamu. Buat aku, itu yang terjadi.”
“Kasih aku kesempatan buat benerin.”
“Dengan tiga puluh hari?”
“Berapa pun yang kamu butuh.”
“Aku nggak mau jadi proyek kamu.”
“Kamu bukan proyek.”
“Lalu berhenti mencoba mengelola perasaanku.”
Ia terdiam.
Aku mengambil napas perlahan. Saat bicara lagi, suaraku kembali stabil.
“Aku akan jalani notice tiga puluh hari. Aku selesaikan handover, bantu transisi, dan pastikan nggak ada satu jadwal pun berantakan.”
“Aku bisa bebaskan notice.”
“Aku nggak mau pergi sambil ninggalin kerjaan setengah.”
“Baik.”
“Mulai hari ini, semua evaluasi dan persetujuanku lewat Pak Keanu.”
Arsen menahan tatapanku selama beberapa detik. “Aku setuju.”
Ia mengambil ponsel, membuka surel, lalu menulis pesan singkat kepada Keanu, Maya, dan HR di depanku. Jalur pelaporan sementara berpindah efektif pagi itu. Persetujuan cuti, evaluasi, serta akses kerjaku tidak lagi melewati Arsen.
Ia memutar layar agar aku bisa membacanya sebelum menekan kirim.
“Ada yang perlu diubah?” tanyanya.
Aku membaca tiap baris. Tidak ada hukuman, penurunan akses, atau kalimat yang meragukan kemampuanku. Hanya struktur kerja yang jelas dan tanggal transisi.
“Tambahkan bahwa keputusan ini dibuat untuk menjaga independensi selama masa handover,” kataku.
Arsen menambahkan kalimat itu tanpa debat, lalu mengirim surelnya.
Untuk pertama kalinya dalam percakapan kami, ia memberiku pilihan sebelum keputusan selesai.
Sayangnya, pelajaran itu datang setelah aku memutuskan pergi.
“Aku juga nggak akan masuk ruangmu tanpa agenda kerja. Nggak ada lagi kopi kedua, catatan tambahan, parfum, taruhan, atau dasi yang kubetulkan.”
Setiap hal yang kusebut membuat ruangan terasa sedikit lebih dingin.
“Mulai besok,” kataku, sengaja memakai jarak yang paling ia pahami, “saya tidak akan menggoda Bapak lagi.”
Arsen tidak bergerak.
Tidak ada perubahan besar di wajahnya. Hanya pandangannya yang turun ke tanganku, seolah baru sadar tangan itu tak akan lagi mencari simpul dasinya.
“Kalau itu batas yang kamu mau,” katanya, “aku akan hormati.”
Jawaban yang dewasa. Jawaban yang tepat.
Aku tetap berharap ia melanggarnya.
Itulah bagian paling memalukan dari patah hati: kita bisa tahu seseorang akhirnya melakukan hal benar dan masih ingin ia memilih kita dengan cara yang salah.
“Terima kasih,” kataku.
Arsen meraih gagang pintu, lalu berhenti. “Celine.”
“Ya, Pak?”
Panggilan itu membuat jarak kami resmi.
“Evaluasi dan bonusmu sudah dipindahkan ke Keanu sebelum semua ini. Aku nggak pernah mau satu orang pun meragukan kerja kerasmu.”
“Aku tahu sekarang.”
“Dan surat rekomendasimu akan berdasarkan pekerjaanmu. Bukan hubungan kita.”
“Hubungan yang menurut pernyataan resmi tidak ada?”
Penyesalan lewat di wajahku begitu kalimat itu keluar. Namun aku tidak menariknya kembali.
Arsen menerima pukulan itu tanpa membela diri. “Iya.”
Ia membuka pintu.
Lima menit kami sudah lewat jauh. Untuk pertama kalinya, Arsen tidak melihat jam.
Aku membawa kotak ke meja kerja sementara yang disiapkan Keanu di sisi lain lantai eksekutif. Posisinya masih dekat untuk serah terima, tetapi tidak lagi tepat di depan pintu Arsen. Maya membantuku memindahkan dua map tanpa banyak bertanya.
“Kamu yakin?” katanya akhirnya.
“Nggak.”
“Jawaban bagus.”
“Kenapa?”
“Karena keputusan penting nggak harus terasa nyaman buat jadi benar.”
Aku menatap ruang Arsen dari balik kaca buram. Bayangannya berdiri sendiri di depan jendela.
“Aku masih cinta,” kataku.
“Aku tahu.”
“Besok juga mungkin masih.”
“Kemungkinan besar.”
“Tapi aku nggak akan mengejar lagi.”
Maya menekan bahuku pelan. “Nah. Itu yang penting.”
Keesokan pagi, aku datang pukul enam lima puluh seperti biasa. Aku memeriksa kalender bersama Keanu, mengirim bahan rapat, dan membuka seluruh akses handover.
Pukul tujuh lewat dua menit, lift privat terbuka.
Arsen berjalan keluar dengan jas gelap dan wajah yang kembali tidak terbaca. Tatapannya bergerak ke meja kecil di samping ruangannya—tempat dua cangkir kopi biasanya menunggu.
Pagi itu hanya ada satu.
Milikku.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi reading
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima