Chapter Nineteen
Mastermind Melawan Mastermind
POV Arsen
Bram datang ke rapat komisaris keesokan paginya dengan jas abu-abu, senyum tenang, dan keyakinan bahwa ia sudah berhasil memisahkan aku dari Celine.
Aku membiarkannya mempertahankan keyakinan itu.
“Saya dengar sekretaris Anda sedang diperiksa,” katanya setelah rapat dibuka.
“Semua temuan ditangani sesuai prosedur,” jawabku.
“Keputusan yang bijak. Kedekatan pribadi sering membuat penilaian jadi kabur.”
Keanu duduk di sisi lain meja dan tidak bereaksi. Maya membalik halaman seolah komentar itu tak layak dicatat.
Bram mencari kemarahan. Aku memberinya rutinitas.
Setelah rapat, kami bertiga pindah ke War Room. Celine sudah menunggu bersama kepala keamanan siber. Ia duduk di ujung meja, jauh dari kursiku, dengan map bukti milik Maya di depannya.
“Kita nggak mengejar Raka,” kataku. “Kalau jejaknya sengaja ditaruh, menyentuh dia sekarang cuma memberi Bram waktu mengganti jalur.”
Maya mengangguk. “Kita butuh dia bergerak lagi.”
Kepala keamanan mengusulkan memakai token Celine yang sudah dibekukan sebagai umpan. Kalau pelaku mencoba mengaktifkannya lagi, kami bisa mengikuti sesi dari awal.
Semua mata mengarah kepadaku, menunggu keputusan.
Dulu, aku akan memilih opsi dengan peluang tertinggi lalu menjelaskan sesudahnya.
Kali ini aku melihat Celine. “Kredensial dan namamu. Kamu yang putuskan.”
Ia membaca analisis risikonya. “Nggak. Kalau token itu muncul lagi, dewan bisa bilang kami memanipulasi bukti dalam pemeriksaanku sendiri.”
“Baik. Kita nggak pakai.”
Kepala keamanan tampak ingin berdebat, tetapi Maya menutup opsi itu dari daftar.
Celine tidak berterima kasih. Ia juga tidak perlu. Meminta pilihannya bukan hadiah yang pantas dipuji, melainkan standar yang seharusnya kupakai sejak awal.
Aku membuka tiga dokumen di layar.
Semuanya berisi rancangan tanggapan terhadap proposal Northstar. Struktur, panjang, dan rekomendasi utamanya sama. Perbedaannya hanya tiga detail yang tidak mengubah keputusan perusahaan.
Versi A menyebut valuasi indikatif dua puluh enam koma empat triliun.
Versi B memuat masa lockup pendiri selama delapan belas bulan.
Versi C menyebut pusat data regional akan dipindahkan ke Singapura.
Ketiganya salah. Ketiganya juga cukup menarik untuk masuk berita.
Maya sudah menyiapkan koreksi cepat bila salah satu bocor. Keanu memegang pernyataan untuk mitra, sementara tim investor relations tahu ketiga detail itu bukan keputusan resmi. Jebakan ini harus menangkap jalur kebocoran tanpa membuat pasar atau karyawan menanggung akibatnya.
“Setiap versi masuk jalur berbeda,” kataku. “A ke portal dewan. B ke ruang data konsultan. C ke folder legal review. Tautannya unik, watermark-nya tidak terlihat, dan semua akses dicatat.”
Kepala keamanan menunjuk layar. “Kalau salah satu diunduh lalu dibuka di luar jaringan, honeytoken akan memberi waktu dan perangkat. Tidak mengambil data apa pun selain identitas sesi.”
“Legal?” tanya Keanu.
“Sudah ditinjau,” jawab Maya. “Dokumennya milik internal, tidak berisi data pribadi, dan pemantauannya terbatas pada akses tidak sah.”
Celine membaca ketiga versi. “Bram nggak akan menyentuh file langsung.”
“Aku tahu.”
“Raka juga sudah terlalu jelas. Mereka akan pakai orang ketiga.”
“Itu yang kita cari. Jalurnya, bukan tangannya.”
Ia mengambil spidol dan berdiri di depan papan kalender. Tidak ada senyum, tidak ada godaan, tetapi cara matanya bergerak dari dokumen ke jadwal terasa sama akrabnya dengan ritme kerja kami dulu.
“File saja nggak cukup,” katanya. “Mereka perlu alasan buat percaya salah satu versi sedang dibahas serius.”
Celine membuat tiga agenda palsu.
Versi A terhubung ke rapat komisaris hari Selasa. Versi B seolah akan dibahas dengan konsultan Northstar pada Rabu sore. Versi C muncul sebagai sesi legal tertutup Kamis malam, tepat setelah Keanu dijadwalkan terbang ke Surabaya.
“Yang mana paling menarik?” tanya Maya.
“C,” jawab Celine. “Bram tahu Arsen nggak akan pindahkan data regional tanpa melawan. Kalau ada rapat legal saat Keanu pergi, dia akan mengira ada perpecahan internal.”
“Kamu yakin?” tanyaku.
“Nggak.” Ia menatapku datar. “Makanya kita pasang tiga.”
Hampir muncul senyum di wajahku. Hampir.
Kami membagi akses kalender agar tiap jalur hanya melihat agenda yang sesuai dengan dokumennya. Celine menyusun alurnya, Maya memeriksa legalitas, dan kepala keamanan memasang pemantauan. Aku sengaja mengirim satu koreksi biasa kepada Bram agar hari kerja terlihat normal.
Keanu mengambil bagian paling sulit: tampil seolah tidak ada perang di dalam Evolte.
Sore itu, ia menghadiri forum logistik di Surabaya, memuji progres Pacific Meridian, dan menegaskan perusahaan tetap independen. Ia tidak berbohong, tidak menyebut audit, serta tidak memberi media alasan menduga kami sedang memasang jebakan.
Pesan darinya masuk saat kami masih di War Room.
Keanu: Bram menelepon dua kali untuk memastikan saya benar-benar di Surabaya. Umpan C mulai terlihat cantik.
Celine membaca pesan di layar bersama kami. “Dia curiga, tapi tertarik.”
“Bram selalu merasa informasi yang dia temukan sendiri lebih berharga,” kataku.
“Padahal kita taruh tepat di jalurnya.”
“Kesombongan membuat orang pintar terlihat mudah ditebak.”
“Catat kalimat itu. Bisa berguna buat kamu.”
Untuk sesaat, Celine terdengar seperti dulu. Lalu ia menyadarinya, menutup ekspresi, dan kembali ke laptop.
Aku tidak mengejar celah itu.
Pukul sembilan malam, versi A belum disentuh. Versi B dibuka konsultan resmi melalui perangkat terdaftar. Versi C diunduh dari akun legal review milik sekretariat komisaris, lalu diteruskan ke alamat luar lewat sesi yang belum kami kenal.
Satu jam sebelumnya, Raka mengirim permintaan memindahkan sesi legal Kamis ke Jumat pagi. Alasannya bentrok agenda Bram.
“Dia sedang mengetes apakah rapatnya nyata,” kata Celine.
“Kalau kita menolak terlalu cepat, dia tahu ada yang salah,” jawabku.
“Balas sebelas menit lagi. Bilang ruang strategi cuma tersedia Kamis, tapi peserta boleh ikut lewat video.”
“Kenapa sebelas?”
“Rata-rata waktu kamu membalas perubahan komisaris saat lagi rapat.”
Ia masih mengingat ritmeku. Aku masih ingin menanyakan terlalu banyak hal yang tidak punya tempat dalam operasi ini.
Sebelas menit kemudian, kukirim jawaban persis seperti sarannya.
Tiga menit setelah itu, versi C diunduh.
Pukul sepuluh lewat tujuh, honeytoken aktif.
Kepala keamanan memperbesar laporan. “Dokumen dibuka dari perangkat baru. Jaringan hotel bisnis di Jakarta Selatan.”
“Siapa yang terdaftar di sana?” tanya Maya.
“Besok ada konferensi investasi. Tiga perusahaan konsultan, dua media, dan...” Ia berhenti membaca. “Agensi yang pertama menyebarkan video gala.”
Tak ada yang bicara selama beberapa detik.
Versi C muncul di situs gosip bisnis sebelas menit kemudian.
EVOLTE DIKABARKAN SIAP PINDAHKAN PUSAT DATA KE SINGAPURA DI TENGAH KRISIS INTERNAL
Detail palsu itu muncul persis seperti yang kami tanam.
“Jalurnya dari sekretariat komisaris ke agensi media,” kata Maya. “Ini cukup untuk mempersempit, belum cukup untuk menuduh Bram.”
“Sesi luar memakai kredensial delegasi lama,” kata kepala keamanan. “Dibuat tiga tahun lalu untuk sengketa media Evolte. Akunnya seharusnya sudah ditutup.”
“Siapa yang buat?” tanya Celine.
Ia membuka detail pemilik awal. Nama vendor hukum lama muncul, bersama nomor arsip perkara.
Aku mengenali nomor itu.
Perkara Nadine.
Semua percakapan di ruangan terasa menjauh selama satu detik. Bukan serangan panik. Hanya pintu lama yang tiba-tiba terbuka di tempat yang tidak kuinginkan.
“Arsipnya masih ada?” tanyaku.
Maya mengangguk. “Cold storage Legal. Di dalamnya ada daftar akses vendor, rantai penyimpanan video, dan seluruh bukti perkara.”
Celine melihat perubahan di wajahku. “Berkas videonya juga?”
“Iya.”
Untuk membuktikan siapa yang menghidupkan kembali akun delegasi itu, kami harus membuka arsip yang selama empat tahun kujaga tetap tertutup.
“Aku bisa cari jalur lain,” kata Celine. Tidak ada nada kasihan. Hanya pilihan yang sengaja ia letakkan di depanku.
Dulu, aku akan memutuskan sendiri apa yang aman bagi kami semua.
Kali ini aku melihat Maya, lalu Celine.
“Kita buka,” kataku. “Besok. Bersama-sama. Dan tidak ada satu file personal pun yang dibaca tanpa izinku.”
“Setuju,” kata Maya.
Celine menutup mapnya. “Aku juga setuju.”
Kami mendapatkan jalur pertama menuju Bram, tetapi harganya adalah membuka bagian hidupku yang selama ini kupakai sebagai alasan untuk menutup semua pintu.
Besok, Celine akan tahu apa yang sebenarnya dilakukan Nadine.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind reading
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima