← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter One

Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos

POV Celine

Surat pengunduran diriku tergeletak di antara laporan valuasi dua puluh tiga triliun dan secangkir kopi yang sudah dingin.

Di ruangan seorang pria yang terbiasa menentukan masa depan ribuan karyawan hanya dengan satu kalimat, tiga lembar kertas itu seharusnya tidak berarti banyak.

Namun Arsen Adiprana belum menyentuhnya sejak aku meletakkannya di atas meja.

Ia hanya menatapku.

Tatapan yang sama pernah membuat seorang direktur regional mengulang presentasinya dari awal. Tajam, tenang, dan terlalu teliti untuk melewatkan kebohongan sekecil apa pun. Jas hitamnya masih sempurna meski ia belum tidur sejak kemarin. Dasi abu-abu yang biasanya kupastikan lurus kini bergeser sedikit ke kiri.

Dulu, tanganku pasti sudah bergerak untuk membetulkannya.

Pagi ini, aku membiarkannya miring.

“Apa ini?” tanyanya akhirnya.

Aku nyaris tertawa. Seorang jenius yang membangun Evolte Technologies dari ruang sewaan sempit sampai bernilai triliunan rupiah tentu mampu membaca dua kata yang tercetak tebal di halaman pertama.

“Surat resign aku.”

“Aku bisa baca.”

“Bagus. Berarti proses handover-nya bisa lebih cepat.”

Biasanya kalimat semacam itu akan kuberi senyum. Sedikit miring, cukup nakal untuk mengganggunya, tetapi masih aman disebut profesional kalau seseorang memergoki kami.

Kali ini aku tidak tersenyum.

Mata Arsen bergerak ke meja kecil di samping pintu. Hanya ada satu cangkir kopi di sana—milikku. Tidak ada americano tanpa gula untuknya. Tidak ada catatan kecil di bawah cangkir. Tidak ada agenda tambahan yang menyuruhnya tersenyum sebelum pukul lima.

Barangkali saat itulah ia mengerti bahwa ini bukan salah satu permainanku.

“Tarik suratnya,” katanya.

Bukan permintaan. Tentu saja bukan. Arsen bisa membuat empat belas kepala divisi membatalkan perdebatan hanya dengan menurunkan suaranya setengah nada. Ia tidak perlu membentak untuk terdengar berbahaya.

Sayangnya, selama enam bulan terakhir aku sudah terlalu sering berdiri di hadapannya untuk masih takut.

“Nggak.”

Alisnya terangkat tipis.

Aku pernah menghabiskan tiga minggu hanya untuk mendapatkan perubahan ekspresi sekecil itu. Sekarang, rasanya tidak memberikan kemenangan apa pun.

“Kontrak kamu minta notice tiga puluh hari.”

“Aku tahu. Semua file handover udah siap. Akses kalender, daftar kontak, protokol rapat, sampai panduan makanan apa yang harus ditaruh di depan kamu kalau kamu lupa makan lebih dari sepuluh jam.”

“Aku nggak butuh panduan buat makan.”

“Tentu. Kamu cuma butuh orang yang naruh makanan tepat di atas keyboard supaya kamu terpaksa berhenti kerja.”

Sudut bibirnya bergerak, refleks yang terlalu cepat untuk menjadi senyum. Dadaku langsung terasa sesak karena tubuhku masih mengenali kemenangan kecil itu meski aku sudah memutuskan berhenti menginginkannya.

Arsen menurunkan pandangan ke suratku. “Alasan yang kamu tulis terlalu umum.”

“Pengembangan karier dan alasan pribadi itu bahasa sopan buat bilang aku nggak mau ada di sini lagi.”

“Aku mau alasan yang sebenarnya.”

“Kamu nggak bakal suka.”

“Biar aku yang nilai.”

Nah. Itu masalahnya.

Arsen selalu ingin menjadi orang yang menentukan. Waktu rapat, arah perusahaan, risiko yang layak diambil, bahkan bentuk perlindungan yang seharusnya membuat orang lain merasa aman. Seolah dunia adalah satu papan strategi raksasa dan kami semua akan baik-baik saja selama menempati kotak yang sudah dipilihnya.

Aku menarik napas perlahan. Di balik dinding kaca, Jakarta tampak pucat setelah diguyur hujan semalaman. Lampu dari gedung-gedung di seberang masih menyala meski matahari sudah muncul.

“Aku jatuh cinta sama atasan yang nggak tahu cara mencintai siapa pun,” kataku.

Untuk pertama kalinya pagi itu, Arsen benar-benar tidak bergerak.

Suara pendingin ruangan terdengar lebih jelas daripada napas kami. Tanganku dingin, tetapi aku mempertahankan tatapannya. Aku sudah menggoda pria ini dengan dasi, parfum, dua cangkir kopi, dan keberanian yang kadang bahkan tidak sungguh-sungguh kumiliki. Mengatakan kalimat paling jujur seharusnya terasa lebih mudah.

Ternyata tidak.

“Jangan bikin perasaan kamu terdengar kayak alasan administratif,” katanya.

“Kamu minta alasan yang sebenarnya.”

“Dan aku minta kamu tarik surat ini.”

“Karena kerjaanku bagus?”

“Sangat.”

“Hanya itu?”

Rahangnya mengeras.

Di luar ruangan ini, Arsen bisa menjawab pertanyaan investor tentang kerugian ratusan miliar tanpa melihat catatan. Ia bisa menemukan kesalahan dalam model prediksi yang dikerjakan dua puluh insinyur. Kemarin, di hadapan kamera dan puluhan wartawan, ia bahkan mampu membantah semua tuduhan tentang Evolte dengan suara yang tidak pernah goyah.

Namun satu pertanyaanku membuatnya diam.

Aku mengangguk pelan. “Oke. Itu cukup.”

“Celine.”

Namaku terdengar berbeda di mulutnya ketika tidak didahului kata Saudari atau diikuti instruksi. Lebih rendah. Lebih personal. Enam bulan lalu, aku mungkin akan melakukan hal bodoh hanya demi mendengarnya sekali lagi.

“Kemarin aku bilang apa yang memang harus kubilang,” lanjutnya.

Tayangan konferensi pers itu kembali berputar di kepalaku.

Saya tidak memiliki hubungan pribadi dengan Saudari Celine Maheswari. Seluruh interaksi kami berlangsung dalam kapasitas profesional.

Ia mengatakannya dengan wajah tenang. Tidak ada jeda. Tidak ada satu tatapan ke arahku yang berdiri beberapa meter di belakang panggung. Seolah malam ketika ia menggenggam tanganku di lift gelap tidak pernah terjadi. Seolah jemarinya tidak pernah menyentuh tengkukku saat membetulkan kalung. Seolah ia tidak pernah berdiri begitu dekat di rooftop dan mengaku takut tidak bisa berhenti kalau aku menciumnya.

“Pernyataan itu bikin media berhenti menyerang kamu,” katanya.

“Pernyataan itu juga bikin satu kantor mengira aku perempuan bodoh yang ngejar pria yang nggak pernah mau sama aku.”

“Pendapat mereka nggak penting.”

“Buat kamu, mungkin.”

“Fakta lebih penting dari persepsi.”

“Fakta yang mana?” tanyaku. “Kalau kita nggak pernah punya hubungan? Atau tiap nggak ada orang lain, kamu bikin aku percaya kita hampir punya?”

Ia berdiri.

Gerakannya tenang, tetapi ruangan mendadak terasa lebih kecil. Arsen tinggi, terlalu tampan untuk pria yang menganggap kamera sebagai ancaman, dan memiliki jenis kehadiran yang membuat orang lain tanpa sadar memperbaiki posisi duduk. Ia berjalan mengitari meja lalu berhenti dua langkah di depanku.

Jarak yang dahulu akan kupakai untuk menggodanya.

Sekarang aku mundur satu langkah.

Arsen melihat gerakan itu. Sesuatu yang gelap melintas di wajahnya.

“Aku nggak pernah niat main-mainin kamu.”

“Tapi kamu juga nggak pernah tanya apa yang aku rasakan sebelum mutusin cara terbaik buat jaga aku.”

“Situasinya butuh keputusan cepat.”

“Iya. Dan kamu selalu hebat bikin keputusan cepat.” Aku tersenyum, tetapi rasanya pahit. “Masalahnya, aku bukan perusahaan kamu.”

“Aku tahu.”

“Nggak. Kalau kamu tahu, kamu bakal bicara sama aku sebelum berdiri di depan kamera dan menghapus semua yang terjadi di antara kita.”

Arsen menunduk sebentar. Pandangannya jatuh pada dasinya yang miring. Biasanya, itu kode tanpa suara. Ia akan berdiri diam, aku akan mendekat, lalu jemariku akan menyentuh simpul dasi sambil melontarkan sesuatu yang membuat telinganya memerah.

Aku menahan kedua tangan di sisi tubuh.

Ia membetulkan dasinya sendiri.

Aneh sekali bagaimana gerakan sesederhana itu bisa terasa seperti sebuah akhir.

“Kamu mau apa dariku?” tanyanya.

“Kemarin aku mau kamu berdiri di sampingku.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku mau pergi sebelum harga diriku habis.”

“Kamu nggak kehilangan harga diri.”

“Jangan bedah perasaanku kayak laporan kuartal, Pak Arsen.”

Kata Pak itu sengaja kutekankan. Sebuah tembok yang kukembalikan ke tempatnya.

Ponsel di atas mejanya bergetar. Nama Keanu muncul pada layar, diikuti pesan tentang rapat komisaris yang akan dimulai dua puluh menit lagi. Arsen bahkan tidak meliriknya. Untuk seseorang yang selalu mengetahui harga setiap detik, ia membiarkan waktu berjalan tanpa disentuh.

“Kasih aku tiga puluh hari,” katanya.

Aku menatapnya. “Itu masa notice aku.”

“Bukan buat kerjaan.”

Jantungku melakukan hal bodoh: berharap.

Aku membencinya karena masih bisa.

“Buat apa?”

Arsen membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang segera keluar. Tatapannya turun ke bibirku sesaat sebelum kembali ke mata. Begitu cepat sehingga orang lain mungkin mengira aku membayangkannya.

Aku tidak pernah melewatkan perubahan sekecil apa pun darinya.

“Buat benerin semuanya,” katanya.

Harapanku patah secepat kemunculannya.

“Aku bukan sistem yang error.”

“Bukan itu maksudku.”

“Tapi itu bahasa yang kamu ngerti. Ada masalah, kamu cari sumbernya, susun strategi, lalu beresin.” Aku mendorong surat itu lebih dekat kepadanya. “Aku nggak mau jadi proyek tiga puluh hari kamu.”

Tangannya akhirnya bergerak. Bukan mengambil suratku, melainkan menekan ujung kertas itu dengan dua jari, seakan tiga lembar tipis tersebut dapat lari kalau tidak ditahan.

Baru saat itulah aku melihatnya.

Getaran kecil pada tangan kanannya.

Arsen yang mampu berdiri di tengah krisis server nasional tanpa menaikkan suara. Arsen yang tadi malam membalikkan serangan komisaris dalam empat belas menit. Arsen yang selalu memiliki rencana kedua, ketiga, dan keempat.

Tangannya gemetar karena surat pengunduran diriku.

Hatiku melunak. Tubuhku bahkan hampir bergerak mendekat.

Lalu aku teringat wajahnya di depan kamera.

Aku mengambil kartu akses dari saku blazer dan meletakkannya di samping surat. “Akses utama akan saya serahkan setelah transisi. Mulai hari ini, laporan saya lewat Pak Keanu.”

“Aku belum setuju.”

“Bapak nggak perlu setuju sama keputusan pribadi saya.”

“Celine.”

Aku berbalik menuju pintu.

“Kalau aku minta kamu tetap tinggal, bukan sebagai CEO?”

Tanganku berhenti pada gagang pintu.

Selama satu detik, aku ingin menoleh. Ingin melihat apakah akhirnya ada sesuatu di wajahnya yang bisa kupakai sebagai alasan untuk bertahan.

Namun aku sudah terlalu lama hidup dari potongan-potongan kecil: telinga yang memerah, senyum yang nyaris terlihat, kopi yang selalu diminumnya meski tidak pernah diminta, tatapan yang tinggal satu detik lebih lama. Aku pantas mendapatkan kalimat utuh.

“Bapak nggak pernah minta apa pun sebagai Arsen,” kataku tanpa menoleh. “Itu masalahnya.”

Aku keluar sebelum ia menemukan jawaban.

Meja kerjaku berada tepat di depan ruangannya. Bersih, nyaris kosong, kecuali kotak berisi barang pribadi dan satu lembar kertas kuning yang terselip di bawah keyboard. Aku menariknya perlahan.

Tulisanku sendiri menyambutku.

Agenda tambahan: tersenyum satu kali sebelum pukul lima. Durasi: enam menit.

Di bawahnya terdapat tulisan tangan Arsen dengan tinta hitam.

Dua menit cukup. Jangan boros waktu perusahaan.

Catatan pertama kami.

Aku memasukkannya ke kotak, menekan tombol lift, lalu berdiri dengan punggung lurus ketika pintunya terbuka.

Enam bulan sebelumnya, aku datang ke lantai tiga puluh tujuh untuk mengikuti wawancara terakhir. Saat itu aku belum tahu Arsen Adiprana telah memperhatikanku jauh sebelum aku mengenalnya.

Aku juga belum tahu bahwa menggoda bos antisosial adalah bagian yang mudah.

Berhenti mencintainya adalah pekerjaan yang nyaris mustahil.