Chapter Five
Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
POV Celine
Ada dua hal yang langsung kusadari saat masuk ke mobil Arsen.
Pertama, pria itu benar-benar bekerja di mana saja. Dua layar tipis sudah menyala di belakang kursi depan, lengkap dengan grafik, laporan, dan notifikasi yang terus muncul.
Kedua, perintahnya untuk duduk di kursi belakang ternyata berarti duduk di sampingnya.
“Aku kira Bapak akan duduk di depan,” kataku sambil memasang sabuk pengaman.
Arsen tidak mengangkat kepala dari tablet. “Kenapa?”
“Supaya aku bisa menjalankan perintah jangan sentuh apa pun dengan tenang.”
“Kamu sudah menyentuh pintu, sabuk, dan layar.”
“Ternyata ancamannya kosong.”
Ia menggeser tablet kedua ke pangkuanku. “Buka data halaman tujuh belas.”
“Romantis sekali.”
“Kita mau rapat.”
“Aku tahu. Itu alasan aku bilang romantis, bukan menyenangkan.”
Mata Arsen akhirnya beralih kepadaku. Hanya sebentar, tetapi cukup untuk memastikan dia mendengar perubahan caraku bicara. Aku sudah berhenti memakai saya saat cuma ada kami berdua sejak kemarin. Bukan keputusan resmi. Aku hanya mencobanya sekali, dan dia tidak mengoreksi.
Kalau Arsen tidak melarang sesuatu, aku menganggapnya izin sementara.
Mobil bergerak meninggalkan gedung Evolte. Pak Darto, sopir Arsen, menyapa kami lewat kaca tengah lalu fokus pada jalan. Hujan pagi membuat lalu lintas Jakarta lebih padat. Klakson bersahutan, motor menyelip dari dua sisi, sedangkan pria di sampingku tetap membaca angka seolah kami berada di ruang rapat kedap suara.
Aku membuka file sumber.
“Investor minta penjelasan soal proyeksi efisiensi,” kata Arsen. “Kamu jelaskan cara kamu menemukan salahnya.”
Aku menoleh. “Aku?”
“Kamu yang menemukan.”
“Kupikir aku ikut buat mencatat.”
“Kalau cuma butuh pencatat, aku nggak akan kasih akses eksekutif.”
Aku menahan senyum. “Aku suka waktu Bapak mengakui aku berguna.”
“Jangan dibesar-besarkan.”
“Terlambat. Aku akan masukin tanggalnya ke kalender.”
Arsen mengabaikanku, tetapi jarinya berhenti satu detik di layar. Aku mulai menjelaskan perbedaan basis tahunan dan kuartalan. Dia memotong dua kali, bukan untuk meremehkan, melainkan menguji apakah aku benar-benar paham atau cuma menemukan kesalahan secara kebetulan.
Aku menjawab semuanya.
“Bagian ini,” katanya sambil menunjuk tabel di tabletnya. “Kamu lihat catatan kaki ketiga?”
Aku mendekat agar bisa membaca. “Yang soal biaya migrasi?”
“Bukan. Di bawahnya.”
Tulisan itu terlalu kecil. Aku memiringkan tabletnya, sementara Arsen ikut membungkuk. Bahu kami menyentuh. Aku berusaha tetap fokus pada layar, meski kehangatan tubuhnya terasa jelas di balik jas.
“Yang ini?” tanyaku.
“Ya. Kalau biaya itu dimasukkan—”
Pak Darto menginjak rem mendadak.
Sebuah motor memotong jalur di depan mobil. Tubuhku terdorong ke samping. Tangan Arsen refleks menahan lenganku, tablet nyaris lepas, dan kami sama-sama menoleh pada saat yang salah.
Pipiku bertemu pipinya.
Bukan sekadar bersentuhan. Wajah kami menempel cukup dekat sampai ujung hidungku menyapu tulang pipinya dan bibirku berhenti hanya beberapa senti dari sudut mulutnya.
Napas Arsen menyentuh kulitku.
Aku membeku.
Dia juga.
Selama satu detik, suara jalanan lenyap. Yang kudengar cuma napasku sendiri dan bunyi sabuk pengaman yang kembali mengencang. Tangan Arsen masih memegang lenganku. Matanya turun—bukan ke tablet, melainkan ke bibirku.
Lalu dia mundur.
Terlambat satu detik.
Cukup terlambat untuk membuat dadaku berdebar seperti orang bodoh.
“Maaf, Pak,” kata Pak Darto dari depan. “Motornya motong tiba-tiba.”
“Nggak apa-apa,” jawab Arsen.
Suaranya tetap tenang. Telinganya tidak.
Ada warna merah tipis di sana.
Aku memegang tablet yang nyaris jatuh dan berusaha menemukan kembali keberanianku. “Kalau mau lihat data lebih dekat, sebenarnya nggak harus pakai cara tadi.”
“Itu kecelakaan.”
“Aku nggak bilang bukan.”
“Baca catatan kakinya.”
“Telinga Bapak merah.”
“AC-nya panas.”
Pak Darto diam-diam menurunkan suhu kabin.
Aku menggigit bagian dalam pipi agar tidak tertawa.
Arsen menatap layar di depannya dengan rahang kaku. “Fokus, Celine.”
“Aku sedang fokus.”
“Pada dokumen.”
“Oh. Harusnya bilang dari awal.”
Ia menoleh. Kali ini tatapannya datar, tetapi aku sudah melihat celah tadi. Pria ini boleh menyembunyikan diri dari kamera, investor, dan seluruh kantor. Tubuhnya tetap memberi jawaban jujur.
Rapat berlangsung di kantor Pradipta Capital, salah satu investor terbesar Evolte. Ruangannya penuh kaca, kayu gelap, dan lukisan mahal yang mungkin sengaja dipasang untuk membuat tamu merasa butuh lebih banyak uang.
Julian Pradipta menyambut Arsen dengan jabat tangan singkat. Usianya sekitar empat puluh lima, jasnya abu-abu muda, senyumnya ramah tanpa kehangatan.
Dia melihatku sekilas. “Asisten baru?”
“Celine Maheswari,” jawabku sambil mengulurkan tangan. “Executive secretary.”
Julian menjabat tanganku, lalu langsung kembali bicara kepada Arsen. “Kita bisa mulai setelah kopi datang. Mbak Celine, saya americano. Tanpa gula.”
Aku belum sempat menjawab ketika Arsen berkata, “Dia bukan datang untuk ambil pesanan kopi.”
Julian mengangkat alis. “Oh?”
“Celine yang menemukan kesalahan di data konsultan Anda.”
Senyum Julian menipis. “Analis saya bilang hanya ada perbedaan cara baca.”
“Analis Anda salah.”
Arsen duduk tanpa menunggu dipersilakan. Aku mengambil tempat di sebelahnya, bukan di kursi belakang dekat pintu yang biasanya disediakan untuk staf pendamping.
Presentasi dimulai. Lima menit pertama berjalan normal sampai kami tiba di halaman tujuh belas. Julian menghentikan layar.
“Sejujurnya, saya lebih nyaman mendengar penjelasan dari tim finance,” katanya. “Ini bukan masalah administrasi.”
Aku tahu kalimat itu ditujukan kepadaku.
Arsen menyandarkan punggung. Wajahnya tenang, tetapi suaranya turun setengah nada. “Kalau Anda menilai analisis dari jabatan orangnya sebelum mendengar datanya, kita bisa berhenti sekarang.”
Ruangan langsung hening.
Julian menatap Arsen, lalu aku. “Silakan.”
Arsen tidak mengambil alih. Dia hanya menggeser remote presentasi ke arahku.
Kesempatan itu milikku.
Aku berdiri, membuka file sumber, lalu menjelaskan masalahnya dengan bahasa sederhana. Angka dua puluh delapan persen diambil dari penghematan tahunan, sementara biaya dasarnya hanya memakai satu kuartal. Jika basisnya disamakan, efisiensinya tujuh koma dua persen. Masih bagus, tetapi tidak ajaib.
Salah satu analis Julian menyela. “Proyeksi tahunan memang biasa dipakai.”
“Boleh,” jawabku. “Kalau pembandingnya juga tahunan. Di file ini nggak begitu.”
“Kamu yakin?”
Aku membuka catatan kaki, lalu memperbesar sumber data. “Kalau saya nggak yakin, saya nggak akan duduk di sini.”
Julian membaca layar cukup lama. Ia lalu bertanya tentang biaya migrasi, risiko kontrak, dan dampak angka baru pada valuasi. Dua pertanyaan terakhir lebih cocok untuk Arsen. Tanpa perlu kode, aku duduk dan menyerahkan remote kepadanya.
Cara Arsen menjawab membuatku lupa pada kejadian di mobil selama beberapa menit.
Dia tidak menjual mimpi. Tidak menaikkan suara. Tidak menutupi angka yang kurang bagus. Ia membedah risiko satu per satu, menunjukkan tiga skenario, lalu menjelaskan kenapa Evolte tetap unggul bahkan dengan data yang sudah diperbaiki. Setiap pertanyaan Julian seperti sudah dia prediksi sebelum rapat dimulai.
Ketika rapat selesai, Pradipta Capital tidak mundur. Mereka malah meminta akses ke model terbaru dan menjadwalkan pembahasan lanjutan.
Julian menutup laptop, lalu memandangku. “Mbak Celine, kirim versi koreksinya langsung ke tim saya. Jangan lewat konsultan yang tadi.”
“Siap.”
Ia terlihat ragu sebentar. “Dan soal kopi tadi—”
“Saya tetap tahu tempat kopi yang enak kalau Bapak butuh rekomendasi,” potongku. “Tapi saya nggak akan mengambil pesanannya.”
Salah satu analis menahan senyum. Julian akhirnya ikut tersenyum tipis. “Poin diterima.”
Saat kami keluar, Arsen menahan pintu untukku. Gerakannya kecil, nyaris biasa. Namun aku menangkap sorot puas singkat di matanya, seakan cara terbaik membalas orang yang meremehkanku memang dengan membiarkanku menang sendiri.
Di lift, aku berdiri di samping Arsen sambil memeluk tablet.
“Terima kasih,” kataku.
“Untuk apa?”
“Nggak mengambil alih waktu Julian meremehkan aku.”
“Kamu punya datanya. Kamu bisa jawab sendiri.”
“Tetap saja, kamu yang bikin dia diam.”
“Aku cuma memastikan rapatnya nggak buang waktu.”
Aku menatap pantulan kami pada dinding lift. “Kamu selalu punya alasan bisnis buat semua hal baik yang kamu lakukan?”
“Lebih efisien begitu.”
Pintu lift terbuka. Dia berjalan keluar lebih dulu, tetapi langkahnya melambat sampai aku sejajar dengannya.
Di lobi, layar besar menampilkan berita bisnis. Keanu sedang diwawancarai tentang ekspansi Evolte. Wajahnya memenuhi layar, santai dan penuh percaya diri.
Arsen tidak melihat ke atas. Orang-orang yang lewat juga tidak sadar bahwa pria di sampingku baru saja menyelamatkan nilai investasinya dengan tiga halaman skenario yang dia susun sendiri.
Aku memandang Arsen dari samping.
Untuk pertama kalinya, rasa penasaranku bukan lagi soal bagaimana membuatnya bereaksi.
Aku ingin tahu kenapa orang sehebat ini memilih berdiri di belakang bayangan sahabatnya.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang reading
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima