← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Thirteen

Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan

POV Celine

Untuk satu detik, tak ada yang bergerak.

Lalu kilatan kamera meledak dari segala arah.

“Pak Arsen, apakah kondisi mental Anda memengaruhi keputusan di Evolte?”

“Apa benar video itu direkam mantan tunangan Anda?”

“Apakah dewan tahu Anda masih menjalani terapi?”

Pertanyaan datang bertumpuk. Petugas keamanan hotel mencoba menahan barisan media, tetapi pria yang memegang ponsel sudah cukup dekat untuk membuat video lama itu terlihat jelas.

Arsen tidak menunduk. Ia juga tidak membeku seperti orang yang tak mampu berpikir.

Namun aku melihat perubahan yang tidak dilihat kamera.

Jari tangan kirinya menekan ibu jari kanan terlalu kuat. Napasnya berhenti di bagian atas dada. Warna wajahnya turun sedikit, sementara matanya fokus pada layar ponsel seolah lobi hotel telah hilang dan hanya benda itu yang tersisa.

Keanu bergerak ke depan. “Sesi media dijadwalkan besok. Silakan kirim pertanyaan lewat tim komunikasi.”

Arsen mengangkat satu tangan. “Keanu.”

Suaranya tetap rendah dan jelas.

Keanu menoleh.

“Pegang media. Catat identitas orang yang menerobos pembatas. Jangan ambil ponselnya.” Arsen menarik napas pendek. “Minta keamanan simpan rekaman lobi. Maya perlu salinannya.”

“Oke.”

Arsen memandangku. “Ruang privat terdekat.”

Aku sudah memeriksa denah hotel semalam. “Business lounge, belok kiri setelah lift.”

“Jalan.”

Kami tidak lari. Aku berjalan setengah langkah di depannya, membuka jalur, sementara dua petugas keamanan menahan media. Arsen mengikuti dengan bahu tetap tegak. Hanya napasnya yang makin cepat dan langkahnya yang terlalu terukur.

Begitu pintu lounge tertutup, suara kamera hilang.

Ruangan itu kosong. Ada sofa, meja panjang, dan jendela besar yang menghadap laut. Arsen tidak duduk. Ia berdiri dengan satu tangan menekan tepi meja.

Aku mengunci pintu, lalu menjauh satu langkah.

“Apa yang kamu butuh?” tanyaku.

“Jangan sentuh aku.”

“Oke.”

“Tutup tirai. Jangan semua. Sisakan cahaya.”

Aku melakukannya.

Ia mengeluarkan koin logam kecil dari dompet, menggenggamnya, lalu menempelkan kedua telapak kaki ke lantai. Napasnya masih pendek, tetapi ia tidak melawannya dengan panik.

“Air dingin,” katanya.

Aku mengambil botol dari minibar dan menaruhnya di meja dalam jangkauannya tanpa mendekat terlalu jauh.

Arsen membukanya sendiri, minum satu teguk, lalu menempelkan botol ke pergelangan tangan.

“Pintunya,” katanya.

“Aku jaga.”

“Kalau aku nggak bisa jawab dalam lima menit, panggil Keanu. Kontak dokter ada di ponselnya.”

“Oke.”

Ia menutup mata sebentar, lalu membukanya lagi.

“Lima benda,” gumamnya.

Aku tahu teknik itu, tetapi tidak ikut menghitung sebelum ia meminta.

“Meja,” katanya. “Tirai. Lampu. Jam. Sepatumu.”

Tatapannya berhenti di sepatu hakku.

“Warnanya?” tanyaku, tetap pelan.

“Hitam.”

“Salah. Biru sangat gelap.”

Ia mengembuskan napas yang nyaris terdengar kesal. “Itu hitam.”

“Nanti kita debat kalau kamu udah siap.”

Arsen menggeser ibu jarinya di permukaan koin. Ia menyebut empat hal yang bisa disentuh, tiga suara yang terdengar, lalu dua aroma. Ketika sampai pada satu rasa, napasnya mulai turun ke ritme yang lebih dalam.

Aku berdiri di dekat pintu dan menahan diriku untuk tidak mendekat.

Melihat orang yang selalu mengendalikan seluruh ruangan berjuang mengendalikan tubuhnya sendiri terasa menakutkan. Namun Arsen tidak tampak lemah. Ia tampak seperti seseorang yang pernah melewati ini, belajar caranya, dan sekarang melakukan semua langkah yang dibutuhkan meski setiap detik terasa berat.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Keanu: Media sudah diamankan. Meeting bisa ditunda. Saya di luar kalau dibutuhkan.

Aku membacakan pesannya tanpa mengambil ponsel.

Arsen mengangguk. “Balas. Dua puluh menit.”

“Untuk meeting atau Keanu masuk?”

“Meeting.”

“Kita bisa tunda.”

“Aku tahu.”

“Bagus. Aku cuma mau pastikan ini pilihanmu, bukan karena kamu merasa harus buktiin sesuatu.”

Ia menatapku. Fokusnya mulai kembali, meski masih ada keringat tipis di pelipis.

“Aku nggak akan masuk kalau belum siap.”

Aku mengangguk. “Oke.”

Tak ada pidato penyemangat. Tak ada pelukan tanpa izin. Aku hanya menjaga pintu, mengabari tim bahwa briefing mundur dua puluh menit, dan menutup notifikasi media di tablet agar tak ada layar lain yang menampilkan video itu.

Tiga belas menit setelah kami masuk, Arsen duduk di sofa. Lima menit kemudian, ia membuka kembali berkas Pacific Meridian.

“Halaman empat puluh dua,” katanya.

“Serius?”

“Mereka akan menyerang klausul data residency. Kita perlu jawaban yang lebih sederhana.”

Aku membawakan tablet. “Kalau kamu mulai revisi kata sambung, aku panggil Keanu.”

“Ancaman yang buruk.”

“Berarti kamu udah membaik.”

Ia membaca halaman itu, lalu mencoret setengah paragraf. Tangannya sudah kembali stabil.

“Aku siap,” katanya.

“Yakin?”

“Nggak seratus persen. Cukup untuk memilih masuk.”

Itu jawaban yang lebih kuat daripada pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Kami tiba di ruang pertemuan terlambat dua puluh tiga menit. Direktur Pacific Meridian mulai dengan basa-basi tentang kondisi lalu lintas. Arsen memotongnya dengan sopan.

“Terima kasih sudah menunggu. Ada urusan pribadi yang harus saya tangani. Kita bisa mulai.”

Ia tidak minta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahannya. Ia juga tidak memberi ruang untuk pertanyaan lain.

Presentasi berlangsung sembilan puluh menit.

Pada sepuluh menit pertama, aku masih memperhatikan napasnya. Setelah itu, aku lupa merasa khawatir karena Arsen mengambil alih ruangan sepenuhnya.

Pacific Meridian ingin menyimpan semua data pelabuhan di server pusat Singapura. Arsen menolak dan menawarkan arsitektur terpisah: data sensitif tetap di negara asal, sementara model pusat hanya menerima pola anonim. Ketika kepala strategi mereka bilang solusi itu akan menambah biaya dua belas persen, Arsen membuka proyeksi yang sudah ia siapkan.

“Biaya naik empat koma delapan persen pada tahun pertama,” katanya. “Tahun kedua turun karena kita nggak perlu membangun ulang sistem saat aturan tiap negara berubah.”

Mereka mencoba menekan lewat akses pasar. Arsen membalas dengan data pilot Nadi di tiga pelabuhan Indonesia yang menunjukkan waktu tunggu turun delapan belas persen.

Lalu mereka membuka klausul eksklusivitas yang kami temukan semalam.

“Tanpa perlindungan wilayah, investasi kami terlalu berisiko,” kata direktur mereka.

Arsen menyandarkan tubuh ke kursi. “Kalau produk kami harus dikunci supaya investasi Anda untung, berarti Anda tidak sedang membeli pertumbuhan. Anda sedang membeli ketergantungan.”

Ruangan hening.

Aku menggeser tabel alternatif yang sudah kami siapkan. “Kami bisa beri prioritas implementasi selama delapan belas bulan, bukan hak eksklusif. Targetnya terukur per pelabuhan, dan perpanjangan hanya berlaku kalau kedua pihak mencapai standar layanan.”

Arsen melanjutkan tanpa melihat catatan. “Anda dapat kecepatan masuk pasar. Evolte tetap punya kebebasan teknologi. Risiko dibagi lewat hasil, bukan lewat kepemilikan.”

Empat puluh menit kemudian, Pacific Meridian menyetujui pilot enam pelabuhan tanpa akses ke model inti dan tanpa klausul eksklusif.

Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Keanu mengangkat kedua tangan. “Saya ingin mencatat bahwa dua jam lalu media mengira pria ini nggak bisa mengambil keputusan.”

Arsen merapikan berkas. “Jangan kasih mereka kutipan itu.”

“Sayang sekali.” Keanu menoleh kepadaku. “Dia gimana tadi?”

Aku tidak menjawab sebelum Arsen mengangguk kecil.

“Nyebelin,” kataku. “Lima belas menit setelah serangan panik, dia masih sempat coret kalimatku karena katanya terlalu panjang.”

“Memang terlalu panjang,” kata Arsen.

Aku menaruh tangan di dada. “Lihat? Aku tetap lebih takut sama kamu waktu revisi anggaran.”

Suara yang keluar dari Arsen bukan hembusan pendek atau gerak tipis di sudut bibir.

Ia tertawa.

Sungguh-sungguh tertawa.

Keanu menatapku seolah baru saja melihat keajaiban teknologi. “Oke. Saya pergi sebelum momen ini rusak.”

Ia membawa tim keluar dan menutup pintu.

Aku menuangkan air untuk Arsen lalu menaruhnya di depan meja. “Aku nggak akan tanya kalau kamu belum mau cerita.”

“Video itu direkam orang yang aku percaya.”

Nada suaranya datar, tetapi jemarinya berhenti di atas gelas.

“Aku dengar pertanyaan wartawan tadi.”

“Mereka cuma punya separuh cerita.”

“Dan separuh sisanya milikmu.”

Arsen menatapku lama. “Kamu nggak kasihan?”

“Aku marah ada orang yang bikin momen privat jadi tontonan. Itu beda.”

“Kebanyakan orang nggak tahu bedanya.”

“Aku bukan kebanyakan orang.”

“Aku tahu.”

Dua kata itu jatuh pelan, tanpa pertahanan.

Aku duduk di kursi seberangnya. “Tadi aku nggak nyelametin kamu.”

“Aku juga nggak minta.”

“Kamu kasih instruksi. Kamu lakuin semua langkahnya. Kamu yang pilih balik ke ruangan ini.” Aku menunjuk berkas kesepakatan. “Aku cuma jaga pintu dan memastikan nggak ada orang bodoh masuk.”

“Kamu cukup bagus menjaga pintu.”

“Aku sekretaris eksekutif. Skill-ku luas.”

Tatapannya menghangat. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Arsen membiarkanku melihat luka tanpa buru-buru menutupnya dengan dingin.

Malam itu, tim komunikasi merilis pernyataan singkat: Evolte tidak akan membahas rekaman medis atau momen privat, tetapi meminta media menghormati batas dan prosedur keamanan acara. Tidak ada penyangkalan. Tidak ada drama. Arsen menyetujui tiap kalimat sendiri.

Pukul sembilan, ketika aku baru masuk kamar hotel, satu pesan datang darinya.

Rooftop. Lima menit. Kalau kamu belum tidur.

Aku menatap layar cukup lama.

Sepanjang ini, aku selalu memakai godaan untuk bilang sesuatu yang terlalu menakutkan kalau diucap jujur. Namun setelah melihat kepercayaan yang baru ia berikan, lelucon terasa terlalu kecil.

Aku mengganti sepatu hak dengan sandal, mengambil jaket, lalu menuju lift.

Malam ini, aku akan berhenti bersembunyi.

Kalau Arsen bertanya kenapa aku terus mengejarnya, aku akan bilang yang sebenarnya.