Chapter Twenty Three
Pria yang Selama Ini Mereka Cari
POV Arsen
Cahaya dari empat puluh dua kamera terasa lebih panas daripada lampu aula.
Aku berdiri di belakang tirai selama tiga detik, menyebut lima benda yang bisa kulihat, lalu menyentuh kartu di saku jas. Tubuhku mengingat satu konferensi yang berakhir dengan wajahku tersebar ke seluruh internet. Aku mengingat hal lain: hari ini aku memilih berada di sini.
“Kalau kamu mau berhenti, angkat tangan kiri,” kata Keanu di sampingku. “Saya ambil alih tanpa drama.”
“Kalau tangan kanan?”
“Berarti kamu minta saya menyingkir dari jalan.”
“Yang itu.”
Keanu tersenyum, lalu melangkah lebih dulu ke panggung.
Suara wartawan langsung memenuhi aula. Namaku dipanggil dari beberapa arah ketika aku muncul. Aku tidak mempercepat langkah. Di sisi panggung, Maya berdiri bersama auditor Arunika. Celine berada di belakang garis media, memakai setelan krem dan kartu akses sementara milik Legal.
Ia tidak memberiku senyum penyemangat.
Bagus. Aku tidak butuh ia menjadi penyangga keberanianku. Aku cuma perlu tahu bahwa setelah semua ini selesai, ia bebas menentukan apakah masih ingin tinggal.
Keanu membuka konferensi dengan hasil rapat komisaris. Mosi pemberhentianku ditolak. Kewenangan Bram dibekukan. Audit eksternal dan pemeriksaan regulator dimulai hari ini. Tidak ada nama yang dinyatakan bersalah sebelum proses selesai.
Maya mengambil mikrofon berikutnya. Ia menjelaskan pemulihan akun delegasi, vendor yang punya konflik kepentingan, dan kesimpulan forensik bahwa kredensial Celine dikloning. Tidak ada detail pribadi dari perkara lama yang ia buka.
Lalu giliranku.
Aku melihat lampu merah siaran langsung menyala.
“Selama beberapa hari terakhir, nama Celine Maheswari dipakai untuk mengakses dokumen Evolte tanpa izin,” kataku. “Pemeriksaan independen memastikan ia bukan pelaku. Justru analisis jadwal dan jalur akses yang ia susun membantu kami menemukan sumber kebocoran.”
Suara rana kamera tidak berhenti.
“Celine bekerja untuk Evolte karena kompetensinya. Ia menjaga kepentingan perusahaan saat reputasinya sendiri diserang. Setiap tuduhan bahwa ia memperoleh akses atau perlindungan karena kedekatan pribadi tidak didukung bukti.”
Seorang wartawan langsung mengangkat tangan. Keanu menunjuknya.
“Pak Arsen, Anda menyebut kedekatan pribadi. Apakah Anda mengakui punya hubungan khusus dengan Celine?”
Pertanyaan yang sama datang lagi. Kali ini aku tidak akan memakai Celine sebagai jawaban mudah.
“Saya mengakui bahwa pernyataan saya di Bali dibuat tanpa bicara lebih dulu dengannya,” jawabku. “Keputusan itu milik saya. Konsekuensinya juga tanggung jawab saya. Kehidupan pribadi Celine bukan bahan yang berhak saya buka dari panggung ini.”
“Jadi Anda berbohong saat bilang tidak ada hubungan?”
“Saat itu tidak ada hubungan romantis yang resmi. Ada perasaan yang tidak saya tangani dengan jujur. Itu kesalahan pribadi, bukan pelanggaran Celine.”
Ruangan meledak oleh pertanyaan lanjutan. Keanu tidak mematikan mikrofon, tetapi ia mengatur giliran dengan satu tatapan yang biasa membuat moderator acara menyerah.
Wartawan kedua berdiri. “Kenapa publik harus percaya pemimpin yang menghilang bertahun-tahun karena masalah kesehatan mental?”
Napas pertamaku terasa terlalu pendek. Aku menempelkan ibu jari ke sisi podium dan merasakan permukaan kayunya. Dingin. Padat. Ada di sini.
“Karena kesehatan mental bukan lawan dari kompetensi,” kataku. “Saya mendapat perawatan, menjalankan tanggung jawab, dan membangun sistem pengawasan bersama tim. Evolte tumbuh bukan karena saya berpura-pura tidak punya batas. Evolte tumbuh karena kami tahu cara mengelola risiko, termasuk risiko yang ada pada diri pemimpinnya.”
“Apakah Anda masih mengalami serangan panik?”
“Catatan medis saya tetap pribadi. Yang bisa diuji publik adalah keputusan dan hasil kerja saya.”
“Kalau begitu, bagaimana publik tahu rekaman lama itu tidak relevan dengan kelayakan Anda memimpin?”
“Karena transparansi bukan hak untuk masuk ke seluruh bagian hidup seseorang.” Aku menahan tatapan wartawan itu. “Kelayakan saya dinilai dari kinerja, keputusan, audit, serta mekanisme pengawasan. Rekaman seseorang yang sedang kesulitan bernapas tidak membuktikan apa pun soal kemampuannya memimpin. Menayangkannya lagi juga tidak menambah satu fakta pada kasus kebocoran.”
Beberapa tangan yang tadi terangkat mulai turun. Bukan berarti semua orang setuju. Mereka cuma tidak mendapat tontonan yang diharapkan.
Wartawan di baris depan mengalihkan pertanyaan. “Apakah pengunduran diri Celine terjadi karena tekanan Anda atau perusahaan?”
“Tidak. Ia mengajukannya karena keputusan yang saya buat. Evolte menerima pilihannya tanpa penalti. Kalau kelak ia memilih posisi lain di perusahaan, prosesnya lewat panel yang tidak berada di bawah saya.”
“Anda ingin dia kembali?”
Aku bisa memberi jawaban perusahaan. Kali ini aku memilih jawaban yang tidak berbohong dan tidak mengambil keputusan untuknya.
“Secara profesional, Evolte akan beruntung memilikinya. Secara pribadi, keinginan saya bukan sesuatu yang wajib ia ikuti.”
“Apa Keanu selama ini cuma wajah untuk menutupi kondisi Anda?”
Aku menoleh ke sahabatku. Ia mengangkat alis, jelas menunggu apakah aku akan menyebut wajahnya memang lebih cocok dijual.
“Keanu memimpin komunikasi, kemitraan, dan budaya perusahaan karena dia sangat bagus dalam pekerjaannya,” kataku. “Saya memimpin produk, teknologi, dan strategi karena itu keahlian saya. Evolte tidak punya satu otak dan satu wajah. Evolte punya dua pemimpin yang memilih pembagian tugas berbeda.”
Keanu mendekat ke mikrofonnya. “Tapi soal wajah, saya tidak keberatan kalau itu masuk berita.”
Tawa kecil memecah tekanan aula. Bahkan aku hampir tersenyum.
Pertanyaan berikutnya kembali ke akuisisi. Aku menjelaskan bahwa tawaran Northstar akan ditinjau ulang oleh komite baru tanpa konflik kepentingan. Evolte tidak menolak kerja sama hanya karena satu pihak mencoba memaksanya. Perusahaan juga tidak akan dijual karena orang tertentu ingin dibayar lebih cepat.
Di sisi ruangan, ponsel Maya menyala. Ia membaca pesan, bicara singkat dengan ketua komisaris, lalu menyerahkan tablet kepada Keanu.
Keanu membacanya sebelum menghadap media.
“Kami baru menerima keputusan tertulis,” katanya. “Bram Wiranata dicopot dari seluruh komite dan kewenangan komisaris efektif hari ini. Pemeriksaan eksternal akan berjalan bersama regulator. Seluruh perangkat serta dokumen terkait sudah masuk perintah preservasi.”
Tidak ada tepuk tangan. Seharusnya memang tidak ada. Ini bukan kemenangan yang perlu dirayakan, melainkan kerusakan yang akhirnya dihentikan.
Konferensi berjalan tiga puluh satu menit. Tidak ada video lama yang diputar. Tidak ada cerita tentang Nadine. Aku tidak menjual luka untuk membeli simpati.
Saat pertanyaan terakhir selesai, aku berdiri dari kursi tanpa perlu dibantu. Lampu kamera masih terang, tapi tidak lagi terasa seperti pintu yang mengunci dari luar.
Keanu menepuk bahuku setelah kami kembali ke belakang panggung. “Tangan kirimu nggak naik.”
“Saya lupa kamu ada.”
“Kejam. Padahal saya barusan menyelamatkan suasana dengan wajah.”
Maya datang membawa dua dokumen. Yang pertama adalah hasil resmi penghentian pemeriksaan atas Celine. Yang kedua adalah surat bahwa pengunduran dirinya sebagai sekretaris eksekutif berlaku efektif pukul dua belas siang ini, lengkap dengan pelepasan seluruh kewajiban pelaporan langsung kepadaku.
“Panel posisi Head of Executive Operations dibentuk minggu depan,” katanya. “Kalau Celine memilih melamar, kamu tidak ikut seleksi, tidak menerima laporan panel, dan tidak punya hak veto.”
“Sesuai usulku.”
“Saya tahu. Saya mengulangnya supaya nanti tidak ada bos jatuh cinta yang mendadak lupa tata kelola.”
Keanu tertawa terlalu keras.
Aku menandatangani pengakuan konflik kepentingan. Bukan janji bahwa Celine akan kembali ke Evolte. Hanya bukti bahwa jika ia memilih kesempatan itu, kariernya tidak akan ditentukan oleh perasaanku.
Celine menunggu di ruang persiapan yang sudah kosong. Kartu aksesnya terletak di meja bersama ponsel kantor dan kunci laci lantai tiga puluh tujuh.
“Pemeriksaanmu resmi ditutup,” kataku. “Surat koreksi untuk semua pihak yang menerima pemberitahuan awal sudah dikirim. Kalau ada tawaran posisi baru, prosesnya lewat panel independen di bawah Keanu dan komite. Kamu bebas menolak tanpa kehilangan hak apa pun.”
“Aku udah baca dokumennya.”
“Ada bagian yang ingin kamu ubah?”
“Nggak.”
Ia melepas kartu akses sementara dari lehernya dan menaruhnya di meja. Untuk pertama kali sejak masuk ke hidupku, tidak ada satu sistem Evolte pun yang membuatnya wajib mendengarkanku.
“Mulai sekarang kamu nggak bekerja untukku,” kataku.
“Kedengarannya kamu sedih.”
“Aku sangat sedih.”
Jawabanku membuatnya diam. Biasanya aku akan menutup kejujuran itu dengan kalimat lain. Kali ini kubiarkan tetap terbuka.
“Aku nggak akan minta jawaban hari ini kalau kamu belum siap,” lanjutku. “Aku juga nggak akan menjadikan apa yang terjadi di depan kamera sebagai bukti bahwa kamu harus memaafkan aku.”
Celine mengambil tasnya, lalu berjalan mendekat. Jarak di antara kami tinggal satu langkah.
“Tadi kamu menang di depan semua orang,” katanya.
“Itu lebih mudah.”
“Daripada?”
“Berdiri di depanmu tanpa tahu apa yang akan kamu pilih.”
Matanya melembut, tetapi ia tidak menyelamatkanku dari ketidakpastian itu.
“Bagus,” katanya. “Berarti sekarang kita setara.”
Ia melewatiku menuju pintu, lalu berhenti dengan tangan di gagang.
“Arsen.”
Aku menoleh.
Tak ada Pak. Tak ada Bos. Cuma namaku, diucapkan oleh perempuan yang kini bebas pergi.
“Sekarang bicaralah sebagai Arsen.”
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari reading
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima