Chapter Twenty Seven
Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
POV Celine
Aku pernah menghadapi komisaris, wartawan, dan Arsen dalam suasana hati paling buruk.
Tidak ada yang membuatku segugup berdiri di depan pintu rumah Bu Ratih sambil membawa kue lapis legit.
“Kalau ibumu nggak suka aku, bilang dari sekarang,” kataku.
Arsen menekan bel. “Dia mengundangmu kurang dari satu menit setelah dengar suaramu.”
“Bisa jadi mau menilai ancaman.”
“Kamu memang ancaman.”
Aku mencubit lengannya sebelum pintu terbuka.
Bu Ratih menyambut kami dengan senyum hangat. Wajahnya punya ketenangan yang mirip Arsen, tetapi matanya jauh lebih mudah dibaca. Ia memeluk anaknya dulu, lalu memegang kedua tanganku.
“Akhirnya ketemu juga sama sekretaris berisik.”
Aku menoleh tajam kepada Arsen. “Itu cara kamu cerita soal aku?”
“Itu kutipan Keanu.”
“Bukan cuma Keanu,” kata Bu Ratih. “Arsen pernah bilang lantai kantornya nggak pernah tenang sejak kamu datang.”
“Bu.”
“Apa? Ibu nggak bilang dia mengeluh.”
Selesai sudah usahaku tampil kalem. Aku masuk rumah sambil menahan senyum.
Rumah Bu Ratih tidak besar, tapi hangat. Ada foto keluarga di dinding, tanaman hidup di dekat jendela, dan taplak meja dengan motif bunga kecil. Arsen langsung membawa lauk ke ruang makan tanpa ditanya. Ia tahu tempat piring, tahu mangkuk mana yang biasa dipakai ibunya, dan memindahkan kursi agar Bu Ratih tidak duduk tepat di bawah pendingin udara.
Pria yang di kantor bisa memindahkan miliaran rupiah dalam satu keputusan kini memeriksa apakah sup ibunya terlalu panas.
“Jangan lihat aku begitu,” katanya.
“Aku lagi mengumpulkan bahan buat menggoda.”
“Simpan buat di mobil.”
Bel berbunyi lagi. Keanu masuk membawa dua kotak dessert dan ekspresi terlalu senang melihatku.
“Wah, saya telat ke acara pengenalan calon—”
“Selesaikan kalimat itu dan kamu makan di teras,” potong Arsen.
Bu Ratih memukul pelan lengan Keanu. “Jangan bikin Celine nggak nyaman.”
“Saya cuma senang Arsen akhirnya bawa seseorang ke sini.”
“Keanu,” kata Arsen lagi.
Nada suaranya tetap tenang, tetapi cukup jelas. Ia tidak ingin malam pertamaku bersama ibunya berubah jadi lelucon tentang masa depan yang belum kami putuskan.
Aku menyentuh punggung tangannya di bawah meja. Sebentar saja. Terima kasih tanpa membuatnya jadi pertunjukan.
Makan malam berlangsung jauh lebih ringan setelah itu. Bu Ratih bertanya soal ibuku, pekerjaan lama, dan apakah aku benar-benar berani menutup laptop Arsen dengan kotak nasi.
“Bu tahu dari mana?” tanyaku.
“Keanu.”
“Saya menjaga arsip keluarga,” kata Keanu.
“Kamu menyebarkan fitnah,” balas Arsen.
“Tapi kejadiannya benar?” tanya Bu Ratih.
“Benar.”
Bu Ratih tertawa sampai matanya berair. “Bagus. Dulu kalau kerja, dia bisa lupa waktu dan lupa makan. Ibu telepon tiga kali juga belum tentu dibalas.”
“Sekarang masih begitu,” kataku. “Cuma aku lebih menyebalkan.”
“Bukan cuma itu.” Bu Ratih melihat anaknya. “Beberapa bulan terakhir dia mulai pulang sebelum tengah malam. Kadang mengirim foto makan malam supaya Ibu berhenti khawatir. Minggu lalu dia bahkan menelepon tanpa Ibu yang mulai.”
Arsen mengambil air minum. “Aku memang seharusnya begitu.”
“Iya. Tapi kamu baru melakukannya lagi setelah lama berhenti.” Bu Ratih lalu menatapku. “Ibu nggak mau bilang kamu bertanggung jawab atas bahagianya. Itu tugas Arsen sendiri. Ibu cuma mau berterima kasih karena kehadiranmu mengingatkan dia kalau hidup bukan cuma sesuatu yang harus dikendalikan.”
Kalimat itu membuatku diam.
Aku tidak menyembuhkan Arsen. Aku juga tidak mau menjadi alasan tunggal ia pulang, makan, atau tertawa. Namun mengetahui kehadiranku ikut memberi warna pada hidupnya terasa seperti hadiah yang tidak perlu kubayar dengan kehilangan diriku sendiri.
“Dia juga mengingatkan saya buat nggak sembarang bikin keputusan,” kata Arsen.
“Dengan cara baik?” tanya ibunya.
“Nggak selalu.”
“Cara baik terlalu mudah diabaikan,” kataku.
Keanu mengangkat gelas. “Untuk Celine, satu-satunya orang yang bisa membuat Arsen patuh sambil mengira itu idenya sendiri.”
“Aku belum pernah patuh,” kata Arsen.
“Tadi siapa yang ganti kemeja karena Celine bilang warna hitam bikin wajahmu terlalu galak?”
Aku menoleh. “Kamu benar-benar ganti?”
Arsen menatap Keanu dengan niat membunuh yang sangat tenang.
Makan malam berakhir dengan lapis legit yang kubawa dan puding dari Keanu. Saat aku membantu membereskan meja, Bu Ratih menyuruhku duduk. Arsen sudah menggulung lengan kemeja dan berdiri di depan wastafel.
“Dia selalu cuci piring?” tanyaku.
“Kalau di sini, iya,” jawab Bu Ratih. “Ayahnya dulu yang mengajari. Katanya orang yang ikut makan harus tahu kerja setelahnya.”
Arsen mencuci, Keanu mengeringkan, dan keduanya berdebat soal cara menaruh mangkuk. Aku memperhatikan dari meja bersama Bu Ratih. Ada versi Arsen yang hanya hidup di ruangan ini—anak yang memeriksa stok obat ibunya, menurunkan volume televisi tanpa diminta, dan menyimpan wadah makanan di tempat yang tepat.
Bu Ratih membuka album kecil dari laci meja. Di halaman pertama ada foto Arsen umur delapan tahun, duduk di lantai dengan jam dinding terbuka di depannya.
“Dia membongkar jam itu karena bunyinya terlambat dua menit,” katanya.
“Berhasil diperbaiki?”
“Berhasil. Tapi setelahnya bunyi alarmnya jadi tiap setengah jam. Ibu nggak bisa tidur dua malam.”
Aku menahan tawa. “Akhirnya aku menemukan kegagalan pertama Arsen.”
Dari wastafel, ia menoleh. “Aku delapan tahun.”
“Tetap masuk arsip.”
Bu Ratih membalik halaman lain. Kali ini Arsen remaja berdiri di samping Keanu dengan seragam sekolah. “Dia memang dari dulu suka memperbaiki semuanya sendiri. Setelah ayahnya meninggal, kebiasaan itu makin kuat. Butuh waktu lama sampai dia percaya ada hal yang boleh dikerjakan bareng orang lain.”
Ia tidak mengatakannya sebagai permintaan agar aku menjaga Arsen. Hanya sepotong sejarah yang membantu menjelaskan kenapa kata bareng begitu sulit sekaligus penting baginya.
Aku melihat pria di depan wastafel itu. Arsen menangkap tatapanku, lalu mengangkat satu alis.
“Nanti kirim fotonya ke aku,” kataku kepada Bu Ratih.
“Jangan,” jawab Arsen.
“Sudah terlambat,” kata ibunya. “Ibu punya banyak.”
Ketika Bu Ratih batuk dua kali, Arsen langsung menoleh.
“Obat malam udah diminum?”
“Belum waktunya.”
“Sepuluh menit lagi.”
“Iya, Pak Dokter.”
Aku tersenyum. “Ternyata bukan cuma aku yang suka menyuruh.”
“Bedanya, Ibu menurut,” kata Arsen.
“Ibu pura-pura menurut supaya dia tenang,” bisik Bu Ratih.
Sebelum pulang, Bu Ratih memelukku. Tidak ada pesan agar aku menjaga anaknya, seolah Arsen pria rusak yang diserahkan kepadaku. Ia cuma bilang pintu rumahnya terbuka kalau aku ingin datang lagi.
Di mobil, aku masih memikirkan meja makan kecil itu.
“Kamu diam,” kata Arsen.
“Aku lagi membayangkan kamu cuci piring pakai jas.”
“Aku melepas jas kalau cuci piring.”
“Sayang sekali.”
Ia melirikku. “Kamu gugup tadi?”
“Sangat.”
“Nggak kelihatan.”
“Aku berbakat.”
“Ibuku suka kamu.”
“Aku tahu.”
“Percaya diri sekali.”
Aku mencondongkan tubuh dan mencium pipinya. Lipstik merah muda yang kupakai meninggalkan bekas jelas di tulang pipi Arsen.
Tangannya naik, tapi kutahan sebelum menyentuh noda itu.
“Jangan dihapus.”
“Kita masih di jalan.”
“Makanya. Aku mau lihat berapa lama CEO Evolte berani pakai cap kepemilikan.”
“Aku bukan barang.”
“Betul. Kamu pacar yang terlalu tampan dan butuh peringatan.”
Arsen menurunkan tangannya. Bekas itu tetap ada sampai mobil berhenti di depan rumahku.
“Kamu benar-benar nggak hapus,” kataku.
“Ini satu-satunya bukti malam tadi bukan halusinasi.”
Godaan berikutnya hilang dari kepalaku. Ia mengucapkannya dengan nada ringan, tapi aku tahu Arsen jarang punya malam keluarga yang membuatnya setenang ini.
Aku menyentuh noda lipstik itu dengan ibu jari, lalu menciumnya sekali lagi tepat di tempat yang sama.
“Sekarang buktinya dua lapis,” kataku.
Ia tersenyum. Bukan senyum tipis yang harus kucari. Senyum penuh yang tinggal lebih lama dari biasanya.
Ponselku berbunyi ketika aku baru turun dari mobil. Satu surel masuk dari alamat panel independen Evolte.
UNDANGAN SELEKSI — HEAD OF EXECUTIVE OPERATIONS, EVOLTE TECHNOLOGIES
Aku membaca baris pertama dua kali. Lamaran yang kukirim tiga hari lalu lolos pemeriksaan konflik dan masuk tahap akhir.
Arsen turun dari mobil, tapi berhenti pada jarak satu langkah. Ia tidak meminta melihat layar.
“Kabar baik?” tanyanya.
Aku memutar ponsel ke arahnya.
Matanya membaca cepat, lalu kembali kepadaku. “Kamu mau ikut?”
Bukan kamu harus. Bukan ini kesempatan terbaik. Ia bertanya apa yang kumau.
“Iya,” jawabku. “Dan aku mau menang tanpa bantuan pacarku.”
“Baik.”
“Cuma begitu?”
“Aku juga mau kamu menang.” Ia memasukkan tangan ke saku, jelas menahan diri agar tidak langsung menyusun strategi. “Tapi bagian terbaik yang bisa kulakukan adalah keluar dari jalanmu.”
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang reading
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima