← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Seventeen

Kantor yang Kembali Sunyi

POV Arsen

Selama bertahun-tahun, aku menganggap sunyi sebagai bentuk keamanan.

Pagi setelah Celine berhenti menggodaku, lantai tiga puluh tujuh kembali sunyi.

Aku membencinya.

Hanya ada satu kopi di meja kecil dekat ruanganku. Milik Celine. Americano tanpa gula yang biasanya menunggu di sebelahnya tidak ada. Tidak ada catatan soal sarapan, tidak ada komentar tentang dasi, dan tidak ada suara hak sepatu yang berhenti tepat di depan pintuku sebelum pemiliknya masuk tanpa takut.

Celine duduk di meja sementara dekat ruang Keanu. Ia sedang menjelaskan alur kalender kepada staf pengganti. Wajahnya ramah, suaranya profesional, dan ia tidak melihat ke arahku lebih dari yang dibutuhkan.

Aku masuk ke ruang kerja sendiri.

Pukul tujuh lewat enam, pembaruan jadwal masuk ke ponsel kantor.

Celine: Rapat risiko maju ke 08.30. Bahan sudah tersedia di folder eksekutif. Konfirmasi kehadiran lewat Pak Keanu.

Tidak ada Pak Arsen yang dipakai untuk menggangguku. Tidak ada ancaman terselubung agar aku makan. Bahkan titik di akhir kalimat terasa seperti pintu yang ditutup.

Aku mengetik baik, lalu menghapusnya. Mengetik terima kasih, lalu menghapusnya juga.

Balasan yang akhirnya kukirim cuma satu kata.

Diterima.

Beberapa menit kemudian, staf pengganti masuk membawa map yang salah warna. Celine menghentikannya sebelum pintuku terbuka, menukar map itu dengan versi risiko yang benar, lalu menjelaskan alasan urutannya tanpa membuat staf tersebut merasa bodoh.

“Kalau Pak Arsen minta sesuatu yang bertentangan sama notulen terakhir, jangan langsung kerjakan,” katanya. “Tanya ulang dan kasih datanya. Dia lebih suka dibantah pakai bukti daripada diiyakan lalu bikin masalah.”

“Beliau nggak marah?”

“Kalau datanya benar, nggak.”

Celine mengenalku dengan tepat bahkan saat memilih pergi. Ia menyiapkan orang lain untuk bekerja baik denganku, bukan sekadar menyalin kebiasaannya sendiri. Tidak ada dendam yang diselipkan ke dalam handover. Tidak ada celah yang sengaja ia tinggalkan agar perusahaan merasakan kehilangannya.

Ia tidak perlu merusak apa pun. Ketidakhadirannya nanti sudah cukup.

Rapat risiko berjalan empat puluh menit. Celine duduk di sisi Keanu, bukan di kursi sebelah kananku. Ia menyajikan kronologi perubahan akses dengan jelas dan menolak dua asumsi kepala keamanan yang tidak didukung data. Tidak sekali pun ia meminta persetujuanku lewat tatapan seperti dulu.

Ia tidak berubah menjadi buruk dalam bekerja hanya karena terluka.

Justru itu membuat kehilangannya terasa lebih telak.

Setelah rapat, aku kembali ke meja dan membuka laci untuk mencari adaptor. Sebuah tumpukan kertas kuning terselip di bawah kabel.

Catatan-catatan Celine.

Yang pertama menyuruhku tersenyum sebelum pukul lima. Yang kedua berbunyi, jangan masuk rapat investor dalam keadaan lapar kalau tidak mau mengakuisisi perusahaan katering. Ada satu gambar wajah marah di samping jadwal pemeriksaan kesehatan, dan satu catatan kecil yang cuma berisi dua kata: makan. sekarang.

Aku menyimpan semuanya.

Tindakan itu tidak masuk akal. Informasinya sudah tidak berguna. Jadwal selesai, rapat berlalu, dan makanan sudah lama dimakan. Namun membuangnya terasa seperti menghapus bukti bahwa ruangan ini pernah punya warna.

Ponsel kerjaku menyala saat kucolokkan ke pengisi daya. Nama Celine muncul di daftar kontak.

Sekretaris Favorit (Jangan Dibantah).

Ia mengganti namanya sendiri pada minggu kedua bekerja ketika memperbarui buku kontak eksekutif. Aku melihatnya malam itu. Aku bisa mengubahnya dalam tiga detik.

Enam bulan kemudian, nama itu masih ada.

Aku membuka kalender pribadi. Pengingat ulang tahun ibunya masih tersimpan, lengkap dengan catatan sop buntut dan foto kue yang pernah ia kirim. Di bawahnya ada pengingat lain yang kubuat sendiri: cek penerbangan Celine, jangan jadwalkan rapat setelah pukul lima pada Jumat, pesan kopi karamel kalau lembur.

Kesunyian ini bukan hidupku yang kembali normal.

Ini hidupku setelah seseorang mengambil semua bagian hangat yang sempat kubiarkan masuk.

Keanu datang tanpa mengetuk. Ia menaruh map pengunduran diri Celine di meja, lalu melihat tumpukan catatan kuning di samping tanganku.

“Akhirnya dibaca juga?” tanyanya.

“Aku baca semuanya.”

“Dan tetap memilih diam.”

“Kalau kamu datang buat ceramah, jadwalku penuh.”

“Jadwalmu disusun Celine. Saya yakin dia sisakan waktu khusus untuk dikritik sahabat.”

Aku menutup laci. “Dia minta batas. Aku akan hormati.”

“Bagus. Itu langkah pertama.”

“Ada langkah lain?”

Keanu menarik kursi. “Berhenti mengira niat baik otomatis membatalkan luka yang kamu buat.”

“Aku tahu aku salah.”

“Kamu tahu secara logika. Belum tentu kamu ngerti rasanya.”

Aku menatap map di meja. “Aku menyangkal sesuatu yang belum resmi ada.”

“Dan malam sebelumnya kamu bilang menginginkannya.”

“Dia cerita?”

“Nggak. Wajah kalian di Bali cukup jelas.” Keanu bersandar. “Sen, Celine nggak marah karena kamu gagal ngumumin hubungan. Dia marah karena kamu terus bikin keputusan buat dia. Kamu jaga kariernya, tapi nggak memberi dia hak memilih cara menjaganya.”

Kalimat itu sama dengan yang ia katakan sendiri. Mendengarnya dari Keanu tidak membuatnya lebih mudah.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku.

“Untuk pertama kalinya, jangan mulai dari apa yang kamu mau.”

Aku membuka map pengunduran diri.

Celine memilih notice tiga puluh hari karena tidak mau meninggalkan pekerjaan setengah. Kontrak memberiku hak menahan sebagian insentif bila ia keluar lebih cepat, tetapi hak itu tidak pernah ingin kupakai.

“Aku akan setujui pengunduran dirinya tanpa penalti,” kataku. “Notice tetap pilihannya. Kalau dia mau berhenti besok, perusahaan bayar seluruh haknya.”

“Lalu?”

“Aku tulis rekomendasi.”

“Lalu?”

“Setelah dia bukan bawahanku, aku minta waktu sebagai Arsen.”

Keanu mengangkat alis. “Bukan menuntut?”

“Minta.”

“Kalau dia bilang nggak?”

Pertanyaan itu menusuk bagian yang selama ini selalu kututup dengan rencana cadangan.

“Aku terima.”

Keanu mengangguk pelan. “Sekarang kamu mulai terdengar seperti manusia.”

“Keluar.”

“Nah, yang ini lebih familiar.”

Setelah ia pergi, aku menyetujui surat Celine. Aku menghapus klausul penalti, mempertahankan akses kesehatannya selama masa transisi, dan menulis bahwa ia bebas menentukan hari terakhir setelah handover minimum selesai.

Lalu aku membuka dokumen rekomendasi.

Aku tidak menulis bahwa Celine membuat ruang kerjaku terasa hidup. Tidak menulis bahwa ia satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa setelah serangan panik. Hal-hal itu milikku, bukan dasar kariernya.

Aku menulis fakta.

Ia memangkas bentrok kalender eksekutif empat puluh persen. Ia menemukan anomali konfigurasi saat krisis Nadi, membangun decision log yang sekarang menjadi standar perusahaan, mencegah klausul eksklusif masuk ke kerja sama Pacific Meridian, dan melindungi staf junior tanpa mengorbankan disiplin kerja.

Rekomendasi itu menjadi dua halaman.

Untuk pertama kalinya, aku memberi Celine sesuatu tanpa menyisipkan keinginanku sendiri di dalamnya.

Aku mengirim persetujuan resmi pengunduran diri melalui Keanu dan HR. Di dalamnya tertulis bahwa Celine boleh menyelesaikan notice penuh, memperpendeknya setelah handover minimum, atau mengambil sisa cuti tanpa kehilangan hak apa pun.

Balasannya masuk tujuh menit kemudian.

Celine: Dokumen diterima. Aku memilih menyelesaikan handover sesuai jadwal sementara. Terima kasih atas fleksibilitasnya.

Aku mengetik, aku tidak ingin kamu pergi.

Kuhapus.

Ketikanku berikutnya berbunyi, aku akan menunggu sampai kamu siap bicara.

Itu juga kuhapus. Menunggu tetap bisa menjadi bentuk tekanan kalau orang lain tidak pernah memintanya.

Baik. Keanu akan mengatur kebutuhan transisi.

Setelah pesan terkirim, aku melihat Celine membaca dari meja seberang. Wajahnya tidak berubah. Ia menaruh ponsel, lalu kembali melatih staf pengganti.

Aku kehilangan hak atas waktunya sedikit demi sedikit, lewat keputusan yang memang seharusnya menjadi miliknya.

Pukul sebelas lewat dua puluh, Maya masuk bersama kepala keamanan siber. Tidak ada ketukan, tidak ada basa-basi.

Ia menaruh tablet di depanku.

“Audit akses menemukan unduhan ilegal dari folder akuisisi,” katanya. “Tujuh belas dokumen disalin, termasuk draf Northstar dan notulen rapat komisaris.”

“Kapan?”

“Pukul nol lewat empat puluh satu, malam setelah konferensi Bali. Sumbernya workstation lantai tiga puluh tujuh.”

Kepala keamanan membuka detail log. Identitas pengguna muncul di baris pertama.

CM-EX-07 — CELINE MAHESWARI.

“Token, perangkat, dan kredensialnya cocok,” katanya. “Kalau log ini dibaca tanpa konteks, pelakunya Celine.”

Aku menutup dokumen rekomendasi dan menarik tablet lebih dekat.

“Jangan sentuh akun sumber. Bekukan salinan log dan buat image forensik perangkat,” kataku. “Tidak ada penangguhan sebelum pemeriksaan resmi.”

Maya menatapku. “Kamu yakin bisa objektif?”

“Tidak. Itu sebabnya kamu yang pimpin.”

Di luar dinding kaca, Celine sedang melatih sekretaris pengganti mengatur kalenderku.

Seseorang baru saja memakai namanya untuk mencuri dari Evolte.

Dan kali ini, melindunginya berarti menahan diri agar tidak mengambil alih pilihan yang menjadi miliknya.