← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Fourteen

Takut Saya Cium?

POV Arsen

Celine datang ke rooftop memakai sandal hotel dan jaket tipis di atas kaus putih.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, ia tidak berusaha terlihat mematikan.

Tetap saja, pikiranku langsung menghitung jarak dari pintu lift ke tempatku berdiri. Dua belas langkah. Terlalu banyak waktu untuk menyusun kalimat, terlalu sedikit untuk membuatnya aman.

Angin malam dari laut menggerakkan beberapa helai rambut di dekat wajahnya. Di bawah kami, lampu Nusa Dua membentuk garis panjang di sepanjang pantai. Rooftop itu sepi. Hanya ada kursi-kursi kosong, suara ombak yang samar, dan kami berdua setelah hari yang seharusnya tidak perlu ia saksikan.

“Lima menit,” katanya sambil melihat ponsel. “Aku pasang timer?”

“Nggak perlu.”

“Bagus. Aku juga nggak suka percakapan penting yang pakai alarm.”

Ia berhenti satu langkah di sampingku, menyisakan jarak yang sopan. Biasanya Celine akan sengaja berdiri terlalu dekat hanya untuk melihat reaksiku. Malam ini, justru ia memberiku ruang.

Perubahan kecil itu terasa lebih intim daripada sentuhan.

“Aku mau bilang terima kasih,” kataku.

“Karena aku jaga pintu?”

“Karena kamu dengar waktu aku bilang jangan sentuh.”

“Itu bukan hal yang perlu dikasih penghargaan, Arsen.”

“Buatku perlu.”

Celine tidak bertanya kenapa. Ia hanya mengangguk, lalu menyandarkan siku pada pagar kaca.

“Kamu baik-baik aja sekarang?”

“Iya.”

“Jawaban jujur atau jawaban CEO?”

“Aku capek. Masih kesal. Tapi aku baik-baik aja.”

“Nah. Itu baru jawaban manusia.”

Aku menatapnya. “Jangan mulai.”

“Aku belum mulai apa-apa.”

Itulah masalahnya. Ketika Celine berhenti bermain, aku tidak punya godaan untuk kutangkis. Hanya ada perempuan yang berdiri di sampingku, tahu satu bagian hidupku yang paling kujaga, dan memilih tidak memakainya untuk masuk lebih jauh.

“Video itu direkam empat tahun lalu,” kataku. “Setelah peluncuran produk. Aku belum tidur hampir tiga hari.”

“Kamu nggak perlu cerita malam ini.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu mau?”

Aku menggenggam pagar. “Belum semua.”

“Oke.”

Sekali lagi, tidak ada paksaan.

“Aku masih terapi,” lanjutku. “Lebih jarang dari dulu. Keanu tahu protokolnya, Maya pegang semua dokumen hukum. Aku nggak berhenti muncul di publik karena aku nggak mampu. Aku berhenti karena waktu itu setiap kamera terasa seperti cara lain orang masuk ke hidupku.”

“Hari ini kamu tetap masuk meeting.”

“Karena aku memilihnya.”

“Aku tahu.”

Nada Celine tidak berisi kekaguman berlebihan atau kasihan. Hanya kepastian. Ia melihatku dalam keadaan paling buruk hari ini dan tetap menganggapku orang yang bisa memilih.

Itu membuat batas yang perlu kubangun terasa makin sulit.

“Besok kita kembali ke Jakarta,” kataku. “Setelah itu, semuanya harus normal.”

“Normal yang mana?”

“Kamu tetap sekretarisku. Aku tetap menilai pekerjaanmu.”

Ia menoleh. “Dan semua yang terjadi di antara kita?”

“Nggak boleh mengganggu itu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban yang bisa kuberi.”

Celine mendorong tubuh dari pagar dan menghadapku penuh. “Aku datang ke sini karena mau berhenti bercanda.”

Aku sudah tahu percakapan ini akan sampai ke titik itu. Aku mengundangnya ke rooftop agar bisa mengembalikan batas sebelum kedekatan hari ini membuat kami lupa alasan batas tersebut ada.

Rupanya mengetahui risiko tidak membuatku lebih siap.

“Waktu pertama masuk kantor kamu, aku memang cuma penasaran,” katanya. “Kamu satu-satunya pria yang lihat aku kayak lagi audit pajak. Menyebalkan, jadi aku mau bikin kamu bereaksi.”

“Kamu berhasil.”

“Aku tahu.” Senyum kecil muncul, lalu hilang lagi. “Tapi sekarang bukan soal menang. Aku suka kamu. Bukan karena kamu bos misterius, bukan karena valuasi Evolte, dan bukan cuma karena wajahmu terlalu bagus buat orang yang jarang senyum.”

Ia menarik napas.

“Aku suka cara kamu jaga tim waktu semua orang cari kambing hitam. Aku suka kamu ingat ulang tahun ibuku. Aku suka kamu dengar ideku dan pakai kalau memang bagus. Bahkan setelah tahu kamu nyebelin waktu revisi, aku masih suka.”

Aku pernah duduk di depan komisaris yang siap menyingkirkanku. Pernah menolak akuisisi yang bisa membuatku kaya tanpa perlu bekerja lagi. Pernah masuk konferensi pers sambil mendengar suara rekamanku sendiri diputar di luar gedung.

Tak satu pun membuatku kehilangan kata seperti pengakuan Celine.

“Bilang sesuatu,” katanya.

“Kamu bekerja langsung untukku.”

Wajahnya turun sedikit. “Aku baru bilang suka, kamu balas pakai struktur organisasi?”

“Karena itu masalahnya.” Aku berbalik menghadapnya. “Aku menyetujui cutimu. Aku punya akses ke evaluasi kerja, bonus, dan kontrakmu. Selama itu belum berubah, aku nggak akan minta jawaban yang mungkin terasa nggak bebas.”

“Aku jelas-jelas mengejar kamu. Bagian mana yang terasa terpaksa?”

“Bukan soal niatmu sekarang. Kalau nanti ada masalah, kamu harus bisa bilang tidak tanpa takut pekerjaanmu ikut berubah.”

“Aku nggak takut sama kamu.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku takut menggunakan posisi yang seharusnya kujaga.”

Tiga hari lalu, aku sudah meminta Maya menyusun pilihan struktur baru setelah pilot Pacific Meridian masuk tahap final. Executive operations akan dipindah ke bawah Keanu dan komite, memberi Celine ruang tumbuh tanpa melapor langsung kepadaku. Namun rencana itu belum mendapat persetujuan. Memberitahunya sekarang bisa terdengar seperti janji jabatan sebagai imbalan atas perasaannya.

Aku tidak akan merusak kariernya dengan cara itu.

Sayangnya, diam juga punya harga.

“Jadi kamu nggak mau aku?” tanyanya.

“Aku nggak bilang begitu.”

“Kamu juga nggak bilang sebaliknya.”

Celine melangkah mendekat.

Satu langkah. Lalu satu lagi.

Tak ada kebaya, parfum, atau musik malam ini. Hanya kaus putih, sandal hotel, dan mata yang tidak memberi tempat untuk bersembunyi.

Ia berhenti begitu dekat sampai ujung jaketnya menyentuh kemejaku.

“Kamu takut saya cium, Pak Arsen?” tanyanya pelan.

Panggilan formal itu jelas godaan, tetapi suaranya tidak main-main.

Tatapanku jatuh ke bibirnya.

Kalau Celine maju beberapa sentimeter, aku masih bisa mundur. Kalau ia menyentuhku, aku masih bisa menghentikannya. Aku sudah membangun hidup dari kemampuan menahan sesuatu sebelum berubah menjadi risiko.

Masalahnya, untuk pertama kali, aku tidak ingin mundur.

“Nggak,” jawabku.

“Terus?”

Aku menatap matanya. “Aku takut nggak bisa berhenti.”

Napas Celine tertahan.

Jemariku bergerak sebelum sempat kupikirkan, berhenti beberapa sentimeter dari pinggangnya. Aku mengepalkan tangan dan menurunkannya lagi.

“Kalau kamu bukan bawahanku,” kataku, “jawabanku malam ini akan beda.”

“Seberapa beda?”

“Jangan paksa aku jelasin.”

Celine tidak mundur. “Satu pertanyaan. Jawab tanpa jadi CEO.”

Aku tahu apa yang akan ia tanyakan. “Celine.”

“Kamu mau aku?”

Angin menekan kain jaketnya ke tubuh. Matanya tetap padaku, tidak memberi jalan menuju jawaban aman seperti tertarik atau peduli. Ia meminta kata yang selama ini kuhindari.

Aku bisa menolak menjawab. Itu akan menjaga batas, tetapi juga membuatnya menanggung ketidakpastian yang seluruhnya kuciptakan.

“Iya,” kataku.

Celine menelan napas.

“Aku mau kamu. Itu alasan aku harus hati-hati, bukan alasan buat berhenti.”

Tangannya naik, lalu berhenti sebelum menyentuh dadaku. “Boleh?”

Aku mengangguk.

Telapak tangannya menempel di atas kemejaku, tepat di tempat detak jantungku pasti membongkar seluruh kendali yang tidak terlihat di wajah.

“Ternyata hidup,” bisiknya.

“Sayangnya.”

Senyumnya pecah sebentar. Lalu ia menarik tangan dan memberiku kembali ruang yang nyaris tidak ingin kuterima.

Nada suaranya melunak. “Aku bisa tunggu.”

“Jangan menunggu janji yang belum kuberi.”

“Kamu baru bilang jawabannya bisa beda.”

“Setelah ekspansi selesai, kita bicara lagi.”

Kalimat itu satu-satunya bagian rencana yang berani kuberikan. Aku bermaksud datang dengan struktur yang sudah sah, evaluasi yang sepenuhnya lepas dariku, dan pilihan yang benar-benar miliknya.

Celine mendengarnya sebagai harapan.

Aku membiarkannya.

Itu kesalahan pertamaku malam itu.

“Oke,” katanya. “Aku pegang kalimatmu.”

“Celine—”

“Tenang. Aku nggak akan cium kamu.” Ia mundur satu langkah. “Belum.”

Aku mengembuskan napas yang tidak kusadari kutahan.

“Tapi satu hal,” lanjutnya. “Kalau nanti kamu berubah pikiran, bilang. Jangan bikin aku nebak dari telinga merah dan dasi miring.”

“Aku akan bilang.”

“Dan jangan bikin aku merasa bodoh karena percaya kamu.”

Kalimat itu terasa lebih berat daripada permintaan mana pun.

“Aku nggak akan bikin kamu terlihat bodoh,” jawabku.

Janji kedua. Lebih berbahaya dari yang pertama.

Pukul enam pagi, alarm ponsel membangunkanku setelah tidur kurang dari empat jam. Ada tujuh belas panggilan tak terjawab, tiga pesan dari Maya, dan satu tautan dari Keanu.

Judulnya muncul sebelum halaman selesai terbuka.

SEKRETARIS CANTIK DI BALIK KEMBALINYA CEO MISTERIUS EVOLTE

Video pertama memperlihatkan tanganku di pinggang Celine saat kami berdansa. Video kedua diambil dari kamera rooftop hotel. Tanpa suara, jarak di antara kami terlihat seperti detik sebelum ciuman.

Di bawahnya, artikel menuduh Celine mendapat akses istimewa, bonus khusus, dan pengaruh atas keputusan perusahaan.

Semua fakta dipotong sampai membentuk kebohongan yang rapi.

Pesan terakhir dari Maya masuk.

Jejak distribusi mengarah ke perusahaan media milik rekan Bram. Jangan respons sebelum kita bicara.

Aku menelepon Keanu sambil membuka seluruh dokumen penilaian Celine.

“Kumpulkan Legal,” kataku. “Dan jangan biarkan satu pun nama Celine keluar tanpa persetujuan Maya.”

“Kita harus gerak cepat.”

“Aku tahu.”

Di layar, gambar Celine terus diputar tanpa suara.

Semalam aku berjanji akan bicara sebelum membuatnya menebak.

Pagi itu, aku mulai menyusun keputusan yang kukira akan melindunginya.

Itu kesalahan keduaku.