← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Eight

Aroma yang Masih Diingatnya

POV Arsen

Ada dua hal yang membuat ruang kerjaku sulit dipakai sejak konferensi pers.

Yang pertama, permintaan wawancara masuk tiap enam menit.

Yang kedua, Celine kini tahu aku bisa membalas godaannya.

Masalah pertama bisa ditangani tim komunikasi. Masalah kedua berdiri di depan mejaku pada Senin sore sambil membawa dua botol parfum kecil.

“Pilih satu,” katanya.

Aku tetap membaca laporan audit Nadi. “Buat apa?”

“Gala Evolte hari Jumat. Aku butuh pendapat objektif.”

“Tanya Maya.”

“Maya bilang dua-duanya enak.”

“Berarti masalahnya selesai.”

“Belum. Aku mau tahu yang mana yang bikin kamu susah fokus.”

Kursor di layar berhenti tepat di tengah kalimat.

Sudah tiga hari sejak ia menarik dasiku dan bertanya apakah aku akan mendekat atau memecatnya. Sejak itu, Celine bekerja seperti biasa. Jadwalku tetap rapi, semua catatan rapat masuk tepat waktu, dan tak ada satu pun tugas yang ia biarkan terlambat.

Hanya saja, setiap kali masuk ke ruanganku, sorot matanya seperti orang yang baru menemukan tombol berbahaya dan ingin menekannya lagi.

“Kalau tujuannya mengganggu kerja, dua-duanya cocok,” kataku.

“Itu pujian?”

“Evaluasi risiko.”

Celine tersenyum. “Makanya aku suka kerja sama orang pintar.”

Ia menyemprot parfum pertama ke pergelangan tangan kiri, lalu yang kedua ke kanan. Setelah menunggu beberapa detik, ia berjalan mengitari meja dan berdiri di samping kursiku.

“Yang kiri dulu.”

Ia mengulurkan tangan.

Aku bisa saja menolak. Itu pilihan paling aman, paling profesional, dan paling sesuai dengan seluruh aturan yang kubuat sendiri.

Namun Celine tidak sedang meminta disentuh. Ia hanya menawarkan pergelangan tangannya dengan ekspresi terlalu tenang untuk seseorang yang jelas sedang memasang jebakan.

Aku berdiri.

Senyumnya menipis saat jarak kami berubah. Rupanya ia mengira aku akan mencium aroma itu dari balik meja.

Aku membungkuk sedikit tanpa menyentuh kulitnya. Parfum pertama terasa manis, hangat, lalu meninggalkan aroma bunga yang terlalu berat.

“Terlalu ramai,” kataku.

“Parfumnya atau aku?”

“Kamu nggak butuh parfum untuk jadi ramai.”

Ia tertawa kecil. “Oke. Yang kanan.”

Pergelangan tangan satunya naik di antara kami.

Aromanya sampai bahkan sebelum aku mendekat penuh. Bergamot, teh putih, dan sesuatu yang lembut seperti kayu setelah hujan.

Aku langsung mengenalinya.

Delapan bulan lalu, ruang kontrol peluncuran Nadi dipenuhi suara panik. Sistem registrasi tamu berhenti saat empat ratus undangan mulai datang. Direktur acara menyalahkan staf magang. Dua vendor saling lempar tanggung jawab. Di layar kamera, seorang perempuan berkemeja merah mengambil radio dari tangan koordinator, memindahkan meja registrasi, membagi antrean menjadi tiga, lalu mengubah ruang tunggu jadi jalur verifikasi manual.

Semua itu ia lakukan dalam dua puluh menit.

Aku turun dari ruang kontrol setelah situasi stabil. Di dekat pintu servis, kudengar direktur acara menuntut seorang anak magang dipecat malam itu juga.

Celine berdiri di depan anak itu.

“Kalau Bapak mau cari orang buat disalahin, mulai dari orang yang tanda tangan alur kerja,” katanya. “Anak magang itu cuma jalanin instruksi.”

Nada suaranya tetap sopan. Tatapannya tidak.

Saat melewatiku beberapa menit kemudian, aroma ini tertinggal di udara. Aku bahkan belum tahu namanya. Aku hanya tahu ia berani, cepat berpikir, dan tidak memakai orang yang lebih lemah sebagai tameng.

Dua bulan kemudian, nama Celine Maheswari muncul dalam daftar final calon sekretarisku.

Keanu mengira aku memilihnya setelah sesi wawancara.

Sebenarnya, aku sudah membaca berkasnya dua kali sebelum ia masuk ruangan.

“Yang ini,” kataku.

Celine belum menurunkan tangannya. “Cepat banget. Yakin?”

“Yakin.”

“Kenapa?”

Karena aku mengingat aroma yang ia pakai ketika pertama kali membuatku berhenti di tengah koridor.

“Lebih bersih,” jawabku.

Alisnya terangkat. “Cuma itu?”

“Kamu minta pilihan, bukan esai.”

Ia memiringkan kepala, mencoba membaca sesuatu yang tidak akan kuberikan. “Aneh.”

“Apa?”

“Kamu milihnya seolah udah pernah cium aroma ini.”

Aku kembali duduk dan membuka laporan. “Banyak parfum punya komposisi mirip.”

“Tapi hidungmu kelihatan sangat setia.”

“Celine.”

“Iya, Pak Arsen?”

Ia tahu panggilan itu terdengar seperti godaan ketika hanya ada kami berdua.

Aku menatapnya. “Rapat vendor gala mulai tujuh menit lagi.”

“Masih ada tujuh menit.”

“Keluar.”

“Baik.” Ia melangkah pergi, lalu berhenti di pintu. “Aku pakai yang kanan hari Jumat.”

Pintu tertutup sebelum aku sempat menjawab.

Aku menatap baris laporan yang sama selama beberapa detik. Ini sudah melewati tahap tertarik. Ketertarikan masih bisa dikelola dengan jarak. Yang kurasakan sekarang punya sejarah, kebiasaan, dan terlalu banyak detail kecil.

Ia suka kopi tanpa sirup pada pagi hari, tetapi menambah karamel ketika harus lembur. Ia mengetuk ujung pena dua kali sebelum menolak permintaanku. Ia selalu mengingat nama staf junior yang cuma sekali bertemu dengannya. Dan setiap kali takut dianggap tidak cukup pintar, ia bicara lebih cepat serta menggoda lebih berani.

Aku mengetahui semuanya tanpa pernah berniat mengumpulkannya.

Panggilan dari Maya masuk ke layar.

“Ada permintaan dari kantor Pak Bram,” katanya setelah kusambungkan. “Mereka minta riwayat akses lantai eksekutif tiga bulan terakhir. Alasannya evaluasi keamanan pascainsiden Nadi.”

“Permintaan resmi?”

“Belum. Baru lewat asistennya.”

“Jangan beri apa pun sebelum ada surat dan ruang lingkup yang jelas. Kalau resmi, proses sesuai kebijakan. Jangan hapus nama Celine atau kasih perlakuan khusus.”

Maya terdiam sebentar. “Kamu pikir dia sedang cari sesuatu?”

“Bram nggak pernah minta data tanpa tahu narasi apa yang ingin dia buat.”

“Aku pasang legal hold untuk log terkait konferensi dan Nadi.”

“Lakukan. Jangan sampai timnya tahu kita curiga.”

Setelah panggilan berakhir, Keanu masuk tanpa mengetuk dan menjatuhkan satu map ke mejaku.

“Rekomendasi bonus kuartal,” katanya. “Celine dapat nilai tertinggi dari tiga kepala divisi yang kerja sama dengannya.”

Aku sudah membaca datanya pagi tadi. Sistem jadwal baru buatan Celine memangkas bentrok rapat eksekutif hampir empat puluh persen. Decision log saat krisis Nadi juga menjadi dasar audit perbaikan proses.

“Kamu yang setujui bonusnya,” kataku.

Keanu tidak langsung mengambil map itu. “Kenapa?”

“Dia melapor langsung kepadaku. Kamu bisa cek hasilnya tanpa bias.”

“Bias karena dia cantik?”

“Bias karena aku punya kepentingan pribadi.”

Candaan di wajah Keanu hilang.

Ia duduk di depan meja. “Akhirnya kamu mengaku.”

“Aku mengakui risiko. Beda hal.”

“Buat orang lain mungkin. Buat kamu, itu nyaris surat cinta.”

Aku mendorong map itu ke arahnya. “Nilai berdasarkan hasil kerja. Jangan dinaikkan untuk menyenangkan aku. Jangan diturunkan untuk membuktikan kamu objektif.”

Keanu mengambilnya. “Celine tahu?”

“Nggak perlu.”

“Hati-hati, Sen. Kamu sering merasa diam itu sama dengan menjaga.”

“Dalam hal ini, diam menjaga penilaiannya tetap bersih.”

“Dalam hal ini, iya.” Ia berdiri. “Tapi nggak semua hal bisa kamu taruh di lemari risiko.”

Setelah Keanu keluar, tabletku berbunyi. Pesan dari Celine muncul di layar.

Sebelum membukanya, aku melihat lagi hasil kerja yang tersisa di layar. Penilaian tertinggi bukan hadiah dariku. Celine mendapatkannya dari orang-orang yang bahkan tidak tahu aku mengingat aroma parfumnya. Memindahkan keputusan bonus berarti menjaga satu hal yang paling penting baginya: tak ada siapa pun yang bisa bilang ia maju karena dekat denganku.

Itu keputusan yang benar.

Masalahnya, keputusan yang benar tidak membuat jarak ini terasa lebih mudah.

Keanu benar soal satu hal: ada risiko yang tidak bisa kuatur hanya dengan berdiri jauh darinya.

Aku baru tahu kamu bisa menatap orang sampai lupa ngomong. Besok kita tes sepuluh detik. Berani?

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Ia mengira aku menahan diri karena takut kalah.

Aku mengetik balasan singkat.

Tentukan hadiahnya dulu.

Tiga titik muncul hampir seketika.

Kalau aku menang, kamu makan siang di luar kantor sama aku.

Kalau kamu kalah?

Balasannya datang setelah jeda yang lebih lama.

Nggak mungkin.

Aku menyandarkan tubuh ke kursi.

Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke hidupku, aku membiarkan senyum muncul tanpa buru-buru menyembunyikannya.

Celine belum tahu bahwa aku sudah kalah jauh sebelum taruhan itu dibuat.

Namun besok, setidaknya untuk sepuluh detik, aku berniat menang.