← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Four

Jangan Duduk di Kursi Saya

POV Arsen

Aku tahu Celine Maheswari akan menjadi masalah jauh sebelum dia duduk di kursiku.

Aku sudah tahu sejak lima bulan lalu, saat dia berdiri di tengah kekacauan peluncuran Evolte dan menolak membiarkan seorang direktur menyalahkan anak magang. Dari ruang kontrol, aku melihatnya mengubah jalur registrasi dalam dua puluh menit, membagi tim tanpa berteriak, lalu menyerahkan makan siangnya kepada staf yang belum sempat makan.

Laporan resmi menyebutnya sulit diatur.

Aku menyebutnya mampu berpikir ketika orang lain sibuk mencari kambing hitam.

Itu alasan namanya berada paling atas ketika posisi sekretarisku kosong lagi.

Bukan karena blazer merah yang dia pakai saat wawancara.

Bukan karena senyumnya terlalu percaya diri.

Dan jelas bukan karena dalam dua minggu, ia sudah berhasil membuat lantai tiga puluh tujuh terasa berbeda.

“Pagi, Pak Arsen.”

Suara Celine terdengar bahkan sebelum pintu luar tertutup. Beberapa detik kemudian, americano diletakkan di sisi kanan mejaku. Suhunya tepat. Tanpa gula. Tutupnya sudah dibuka sedikit karena dia tahu aku benci uap yang terperangkap.

“Kamu terlambat tiga menit,” kataku.

“Aku tadi menyelamatkan divisi legal dari rapat jam tujuh pagi.”

“Mereka perlu rapat itu.”

“Mereka perlu tidur.”

Aku menatapnya. Hari ini dia memakai blus krem dan rok hitam, rambutnya diikat rendah. Penampilannya profesional. Sangat profesional. Aku tidak punya alasan untuk memperhatikan satu helai rambut yang jatuh dekat pipinya.

Jadi aku kembali ke layar.

“Presentasi untuk investor sudah final?”

“Tim finance baru kirim revisi.”

“Taruh di layar kedua.”

“Siap.”

Dia tidak langsung pergi. Dari sudut mata, aku melihatnya menahan senyum.

“Ada apa?”

“Nggak ada.”

“Celine.”

“Aku cuma baru sadar Bapak minum kopi buatanku setiap hari, tapi masih pura-pura terganggu waktu aku bawakan.”

“Aku minum karena kopinya sudah ada.”

“Tentu.”

Nada itu mengandung terlalu banyak arti untuk satu kata.

“Kembali ke mejamu.”

“Galak sekali.”

Dia pergi sambil terkekeh kecil.

Aku menunggu pintu tertutup sebelum menyentuh kopi.

Keanu pernah bilang aku terlalu mudah membaca angka dan terlalu buruk membaca manusia. Dia salah. Aku bisa membaca manusia. Aku hanya tidak selalu melihat manfaat dari merespons mereka.

Celine berbeda.

Ia membuat respons terasa seperti jebakan yang ingin aku masuki.

Pukul sepuluh, aku menerima presentasi investor di layar kedua. Dua puluh delapan halaman. Proyeksi pertumbuhan, biaya ekspansi, performa Nadi, dan model pendapatan tiga tahun. Semua tampak sesuai sampai aku mencapai halaman tujuh belas.

Satu angka diberi lingkaran merah.

Di sampingnya ada komentar dari Celine:

Angka ini kelihatan terlalu cantik. Biasanya yang terlalu cantik perlu dicurigai.

Aku menekan interkom. “Masuk.”

Tak ada jawaban.

Aku menekan lagi. “Celine.”

Masih diam.

Aku berdiri dan membuka pintu penghubung. Mejanya kosong. Namun layar di ruangku berubah. Seseorang menggeser presentasi ke lampiran data.

Aku menoleh.

Celine duduk di kursiku.

Kursi yang bahkan Keanu tidak pernah pakai tanpa izin.

Ia membungkuk ke depan, fokus pada tiga layar, satu tangan memegang mouse, satu lagi mencatat sesuatu di tablet. Jasku tergantung di sandaran kursi, terjepit di belakang tubuhnya.

“Apa yang kamu lakukan?”

Dia menoleh tanpa terlihat bersalah. “Cari sumber angka halaman tujuh belas.”

“Dari kursiku?”

“Monitor Bapak lebih besar.”

“Bangun.”

“Sebentar. Aku hampir ketemu.”

Orang lain akan langsung berdiri. Celine justru memperbesar sebuah tabel dan menggeser dua kolom. Aku mendekat ke meja.

“Celine.”

“Nah.” Ia menunjuk layar. “Ini masalahnya.”

Aku berdiri di belakang kursi. Angka pada halaman tujuh belas menunjukkan efisiensi biaya dua puluh delapan persen. Data sumbernya hanya tujuh persen.

“Mereka memakai angka tahunan,” katanya. “Tapi basis pembandingnya kuartalan. Kalau dipresentasikan begini, seolah penghematannya empat kali lebih besar.”

“Siapa yang mengubah?”

“File terakhir datang dari finance, tapi grafiknya dibuat konsultan eksternal. Bisa jadi salah tarik data, bisa juga sengaja dibikin lebih cantik.”

Dia benar.

Lebih dari itu, ia menemukan kesalahan yang dilewatkan analis, finance, dan tim komunikasi.

“Kirim file sumbernya ke aku.”

“Sudah.”

“Lalu bangun dari kursiku.”

Celine memutar kursi perlahan hingga menghadapku. “Bapak sayang banget sama kursi ini.”

“Aku nggak suka orang menyentuh ruang kerjaku.”

“Aku bukan orang. Aku sekretaris Bapak.”

“Itu bukan pembelaan yang bagus.”

“Tapi benar.”

Ia belum juga bangun.

Aku meletakkan satu tangan di meja sebelah kanan kursi, lalu tangan lain di sisi kiri untuk mengambil mouse. Tubuhku membentuk batas di sekelilingnya. Aku berniat menggeser presentasi. Hanya itu.

Kemudian Celine menoleh pada saat yang salah.

Wajah kami terlalu dekat.

Aku menangkap aroma lembut dari rambutnya—citrus dan sesuatu yang hangat. Matanya yang biasanya penuh godaan melebar sedikit. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, ia tidak punya kalimat siap pakai.

Keheningan itu berlangsung tak lebih dari dua detik.

Tetapi dua detik cukup untuk membuatku sadar pada jarak bibirnya, napasnya yang tertahan, dan tanganku yang masih mengurung kursi.

Aku mengambil mouse, lalu berdiri tegak.

“Geser,” kataku.

Suaranya terdengar lebih rendah dari yang aku mau.

Celine bangkit. Gerakannya tak lagi santai. “Kalau mau kursinya, tinggal bilang.”

“Aku sudah bilang tiga kali.”

“Mungkin aku terganggu.”

“Oleh apa?”

Ia menatapku, lalu senyum nakalnya kembali. “Belum tahu. Nanti kalau ketemu jawabannya, aku kabari.”

Ia berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menunjuk kopiku.

“Minum sebelum dingin. Aku nggak mau usahaku sia-sia.”

Pintu menutup.

Aku duduk, lalu langsung berdiri lagi.

Kursi itu menyimpan sisa aroma parfumnya.

Aku memilih bekerja sambil berdiri selama dua puluh menit berikutnya.

Keanu masuk tanpa mengetuk dan menemukanku di depan layar dengan presentasi yang sudah diperbaiki.

“Kenapa berdiri?” tanyanya.

“Terlalu lama duduk nggak sehat.”

“Kamu bilang itu setelah sembilan tahun kerja sambil duduk?”

“Ada perlu apa?”

Ia menyerahkan berkas investor, lalu melihat lingkaran merah pada halaman tujuh belas. “Siapa yang nemu?”

“Celine.”

Keanu bersiul pelan. “Anak finance kita kelewatan, tapi sekretaris baru kamu dapat?”

“Dia cek catatan kaki.”

“Dan kamu masih mau pura-pura merekrut dia secara kebetulan?”

Aku menatapnya.

Keanu mengangkat kedua tangan. “Tenang. Aku nggak akan bilang kalau kamu yang minta HR memasukkan namanya.”

“Dia kandidat paling bagus.”

“Aku nggak bilang bukan.” Senyumnya berubah mengganggu. “Aku cuma bilang kamu ingat dia lima bulan setelah acara itu. Padahal kamu sering lupa nama komisaris yang rapat sama kita tiap bulan.”

“Aku ingat orang yang kompeten.”

“Tentu.”

Nadanya mirip Celine saat mengatakan kata yang sama. Aku tidak menyukainya.

“Rapat investor dimajuin tiga puluh menit,” kata Keanu. “Mereka minta Celine ikut karena dia yang nemu kesalahan.”

“Dia bukan bagian tim presentasi.”

“Mulai sekarang, mungkin harus.”

Aku melihat pintu tertutup di depan meja Celine. Dua minggu cukup untuk membuktikan bahwa akses standarnya terlalu terbatas. Dia perlu melihat dokumen lintas divisi kalau aku ingin kesalahan seperti ini ditemukan sebelum sampai ke investor.

Keputusan itu logis.

Murni profesional.

Aku membuka panel akses, menambahkan izin eksekutif sementara atas namanya, lalu mengirim undangan rapat.

Belum sempat undangan itu terkirim, Celine mengetuk lalu muncul di ambang pintu dengan tablet di tangan.

“Aku baru dapat notifikasi akses eksekutif.” Kali ini suaranya serius. “Bapak yakin?”

“Kamu butuh datanya buat cek dokumen lintas divisi.”

“Akses ini juga bikin aku bisa lihat agenda yang sifatnya rahasia.”

“Aku tahu.”

“Kalau aku tanpa sengaja buka sesuatu yang seharusnya nggak aku lihat?”

“Tutup, lalu lupakan.”

“Kalau yang aku lihat bisa merugikan Evolte?”

“Bawa ke aku.”

Ia memeluk tablet ke dada. Tak ada senyum nakal, tak ada kalimat tentang kencan atau kopi. “Aku nggak akan pakai akses ini sembarangan.”

“Aku tahu.”

Jawabanku keluar terlalu cepat.

Mata Celine melembut. “Terima kasih udah percaya.”

Ia pergi sebelum aku sempat mengubahnya menjadi jawaban yang lebih dingin.

Aku menatap pintu beberapa saat. Kepercayaan biasanya lahir dari data, riwayat, dan waktu. Namun pada Celine, aku sudah memberikannya bahkan sebelum aku punya cukup alasan untuk mengakuinya.

Beberapa detik kemudian, pesan masuk.

CELINE: Aku ikut mobil Bapak?

ARSEN: Ya. Bawa file sumber.

Tiga titik muncul.

CELINE: Ini termasuk kencan kerja?

Aku menatap layar terlalu lama untuk pertanyaan sesederhana itu.

ARSEN: Ini rapat.

Balasannya langsung datang.

CELINE: Sayang sekali.

Aku seharusnya mengabaikannya.

Sebagai gantinya, aku mengetik:

ARSEN: Duduk di kursi belakang. Jangan sentuh apa pun.

CELINE: Kursi Bapak saja sudah aku sentuh. Terus gimana?

Aku mengunci layar.

Keanu yang masih berdiri di seberang meja tertawa pelan. “Dia menang lagi?”

“Keluar.”

“Itu berarti iya.”

Setelah dia pergi, aku menatap kursi hitam di belakang meja.

Celine benar-benar masalah.

Masalahnya, untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, aku tidak ingin mencari cara untuk menyingkirkannya.