← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Twenty Four

Lipstik Merah dan Ciuman Pertama

POV Celine

Arsen tidak langsung bicara.

Pria yang tadi menghadapi empat puluh dua wartawan tanpa kehilangan satu angka kini berdiri dua langkah dariku seolah satu kalimat yang salah bisa mengubah seluruh hidupnya.

Aku menunggu.

Biasanya akulah yang mengisi sunyi, melempar godaan, lalu menikmati perubahan kecil di wajahnya. Hari ini aku sudah mengejarnya cukup jauh. Kalau Arsen menginginkan kesempatan, ia harus berjalan sendiri.

“Aku jatuh lebih dulu,” katanya.

Kalimat itu sederhana. Dampaknya sama sekali nggak sederhana.

“Seberapa dulu?” tanyaku.

“Lima bulan sebelum kamu masuk ke ruanganku dan mengancam mau membuatku tersenyum.”

“Aku nggak mengancam.”

“Kamu memasukkannya ke agenda kerja.”

“Itu target performa.”

Sudut bibirnya bergerak. “Aku melihatmu saat peluncuran Nadi. Sistem registrasi rusak, direktur acara mau menyalahkan anak magang, dan kamu mengambil radionya.”

Aku ingat hari itu. Empat ratus tamu, dua vendor panik, dan seorang anak magang yang hampir menangis karena kesalahan server yang bahkan tidak bisa ia akses.

“Kamu ada di sana?”

“Di ruang kontrol. Kamu mengubah alur registrasi dalam dua puluh menit, membagi tiga antrean, lalu menyerahkan makan siangmu ke staf yang belum sempat makan.”

“Kamu ingat semua itu?”

“Aku ingat kemeja merahmu. Aku ingat kamu menolak nama staf junior dimasukkan ke laporan kesalahan. Aku ingat parfum bergamot dan teh putih yang tertinggal di koridor setelah kamu pergi.”

Aku menatapnya, mendadak curiga. “Jadi waktu wawancara, kamu udah tahu aku?”

“Iya.”

“Dan kamu tetap bikin tes jadwal yang nyebelin?”

“Aku tertarik. Bukan berarti aku mau merekrut orang yang nggak kompeten.”

“Romantis sekali.”

“Aku belum sampai bagian romantis.”

Cara ia mengatakannya membuat detak jantungku naik satu tingkat.

Arsen mengambil satu langkah mendekat, tapi tetap menyisakan ruang untukku mundur.

“Aku menyimpan semua catatan kuningmu,” katanya. “Aku nggak pernah mengubah nama kontak yang kamu ganti sendiri. Aku tahu kopi yang kamu pesan saat lelah berbeda dari kopi saat kamu marah. Aku mengatur ulang rapat Jumat bukan cuma karena ulang tahun ibumu penting. Aku melakukannya karena aku ingin ada bagian hidupmu yang nggak terus dikorbankan buat pekerjaanku.”

Tenggorokanku mengencang.

“Sejak kapan kamu menyebutnya cinta?”

“Jauh sebelum kamu bilang mencintaiku di ruang kerja.”

“Tapi kamu diam.”

“Iya.”

“Lalu saat aku berhenti mengejar, baru kamu bergerak.”

“Iya.” Tidak ada pembelaan di wajahnya. “Aku mencintai kamu lebih dulu, tapi kamu yang berani lebih dulu. Itu bukan sesuatu yang bisa kubanggakan.”

Aku mengembuskan napas pelan. Pengakuannya memberi jawaban untuk banyak hal, tapi tidak otomatis menghapus hari ketika ia menyangkal kami di depan kamera.

“Aku percaya kamu sayang sama aku,” kataku. “Yang belum aku tahu, apa kamu bisa tetap hadir waktu rasa takutmu bilang lari.”

“Aku nggak bisa janji nggak akan takut.”

“Bagus. Kalau kamu bilang bisa, aku pulang sekarang.”

“Aku bisa janji satu hal.” Tatapannya tidak bergeser. “Aku akan bicara sebelum membuat keputusan yang menyangkut kita. Kalau aku gagal, kamu berhak marah, pergi, atau menolak. Aku nggak akan menyebut pilihanmu sebagai sesuatu yang perlu aku perbaiki.”

“Dan terapi?”

“Tetap jalan. Kamu bukan pengganti dokter.”

“Pekerjaan?”

“Kalau kamu ikut panel, aku keluar dari seluruh proses.”

“Kalau aku nggak kembali ke Evolte?”

Ada jeda kecil. Bukan karena ia sedang mencari jawaban yang benar, melainkan menerima jawaban yang mungkin tidak ia suka.

“Aku tetap meminta kesempatan yang sama.”

Itu yang perlu kudengar.

Aku menatap kartu akses yang tergeletak di meja. “Waktu aku berhenti mengejar, bukan berarti aku langsung berhenti sayang.”

Arsen tidak bergerak, tapi seluruh perhatiannya terasa mengarah kepadaku.

“Aku berhenti karena capek berdiri di depan pintu yang cuma dibuka saat kamu butuh aku, lalu ditutup begitu dunia melihat,” lanjutku. “Aku nggak mau cinta sama kamu bikin aku terus membuktikan bahwa aku layak dipilih.”

“Kamu nggak perlu membuktikan itu lagi.”

“Bukan cuma kalimat, Sen.”

“Aku tahu.” Ia menarik napas. “Biar aku yang datang. Bukan untuk membalas semua godaanmu seolah hubungan ini utang. Aku mau mengenal kamu di luar jadwal, menemui ibumu kalau kamu mengizinkan, dan ada di hari burukmu tanpa langsung mencoba mengatur hasilnya.”

“Kedengarannya seperti rencana.”

“Permohonan.”

Satu kata itu jauh lebih meyakinkan daripada janji besar.

“Kesempatan,” ulangku. “Bukan pengampunan?”

“Bukan. Kamu boleh memberi keduanya di waktu yang berbeda. Atau cuma salah satunya.”

Aku membuka pintu ruang persiapan. “Kalau begitu, mulai dari kopi.”

Arsen berkedip. “Sekarang?”

“Kamu punya rencana lima tahun?”

“Untuk kopi?”

“Nah, itu. Jangan bikin.”

Kami pergi ke kedai kecil dua blok dari Evolte. Tidak ada ruangan privat, tidak ada staf yang menutup area, dan tidak ada mobil yang menunggu tepat di depan pintu. Arsen berjalan di sampingku dengan kacamata tipis serta masker yang akhirnya ia lepas setelah kami duduk di sudut.

Pelayan datang membawa menu. Arsen bahkan belum membukanya ketika ia berkata, “Es kopi susu karamel, gulanya setengah. Tambah satu gelas air putih.”

Aku menahan senyum. “Kamu hafal?”

“Kamu memesannya kalau habis marah besar.”

“Sekarang aku nggak marah besar.”

“Makanya gulanya setengah.”

Aku tertawa. Bukan karena kalimatnya sangat lucu, melainkan karena Arsen akhirnya membiarkan perhatiannya terlihat tanpa menyamarkannya sebagai efisiensi.

Kencan pertama kami tidak mewah. Kami berbagi roti panggang yang terlalu manis, berdebat soal apakah kalender digital bisa dianggap kejam, dan membicarakan hal yang sama sekali tidak menyangkut akuisisi. Arsen bilang ia memasak saat pikirannya terlalu penuh. Aku mengaku pernah mematikan alarm ibuku supaya bisa bolos les sehari dan dihukum mencuci gorden satu rumah.

Di tengah percakapan, dua pelanggan mengenali Arsen dari siaran langsung. Mereka melirik beberapa kali, lalu salah satunya mengangkat ponsel seolah ingin mengambil foto.

Tubuh Arsen menegang. Tangannya berhenti di dekat cangkir.

“Mau pergi?” tanyaku.

Ia melihat pintu, lalu aku. “Aku mau tetap di sini. Tapi kalau fotonya diambil, kamu mungkin ikut masuk.”

“Tanya aku.”

Ia mengangguk kecil. “Kamu keberatan?”

Aku memikirkan jawabannya, bukan sekadar memberi jawaban yang akan membuatnya nyaman. “Kalau cuma foto kita ngopi, nggak. Kalau mereka mendekat dan mulai tanya hal pribadi, aku mau pergi.”

“Baik.”

Ia tidak memanggil keamanan. Tidak memindahkanku ke tempat tersembunyi. Kami tetap duduk, dan orang itu akhirnya cuma tersenyum dari jauh. Kejadian kecil itu tidak terasa seperti ujian sampai kusadari Arsen baru saja memberi ruang untuk pilihanku sebelum rasa takutnya membuat keputusan.

“Kamu ternyata pernah nakal,” katanya.

“Pernah?” Aku menyandarkan dagu di tangan. “Kamu pikir semua godaanku selama ini kegiatan sosial?”

“Aku pikir itu serangan terencana.”

“Dan kamu tetap jatuh cinta.”

“Itu bukti serangannya berhasil.”

Aku nyaris menjatuhkan sedotan.

Arsen menyesap kopinya seolah baru saja menyebut cuaca. Pria itu benar-benar berbahaya kalau sudah berhenti menahan diri.

Menjelang malam, ia mengantarku pulang. Kami berdiri di depan pagar rumah, di bawah lampu teras yang membuat bayangan kami jatuh berdekatan. Tidak ada kamera. Tidak ada jabatan. Tidak ada kartu akses di dalam tasku.

Aku mengambil lipstik merah dari pouch dan mengoleskannya pelan. Dari sudut mata, aku melihat fokus Arsen berpindah ke bibirku.

“Produk baru,” kataku. “Katanya transferproof.”

“Lalu?”

Aku menutup lipstik dan maju setengah langkah. “Mau bantu aku tes?”

Tatapannya turun lagi. Tidak pura-pura menghindar. Tidak kabur ke topik lain.

“Kamu serius?” suaranya lebih rendah.

“Iya.”

“Celine.”

“Hm?”

“Aku boleh cium kamu?”

Pertanyaan itu menghapus sisa jarak yang pernah ia putuskan sendirian.

“Boleh,” jawabku. “Tapi jangan setengah-setengah. Aku udah nunggu terlalu lama.”

Tangannya naik ke sisi wajahku dengan gerakan pelan, memberi waktu kalau aku mau berubah pikiran. Aku tidak berubah pikiran.

Bibirnya menyentuh bibirku lembut pada detik pertama, seolah ia masih memastikan jawabanku. Lalu aku menarik bagian depan jasnya dan Arsen berhenti ragu.

Ciumannya menjadi lebih dalam, hangat, dan jauh lebih jujur daripada semua kalimat yang pernah kami tahan. Satu tangannya tetap di rahangku, satunya menahan pinggangku tanpa menarik lebih dekat dari yang kuberikan. Aku bisa merasakan detak jantungnya, cepat dan nyata, berlawanan dengan wajah tenang yang selama ini membuatku gila.

Saat kami berpisah untuk bernapas, dahinya menyentuh dahiku.

“Gimana?” bisikku.

“Produknya bohong.”

Aku melihat noda merah tipis di bibirnya dan tertawa. “Butuh tes kedua?”

“Aku sedang berusaha menunjukkan kontrol diri.”

“Sayang sekali. Aku justru tertarik sama versi yang nggak terlalu terkontrol.”

Kali ini Arsen yang menarikku mendekat. Ciuman kedua lebih singkat, tapi cukup membuat lututku lupa cara berdiri dengan anggun.

Ia mundur sebelum aku kehilangan seluruh niat untuk masuk rumah.

“Satu kesempatan,” katanya. “Itu masih berlaku?”

Aku mengusap bekas lipstik di sudut bibirnya dengan ibu jari. “Kamu boleh jadi pacarku.”

Ekspresi Arsen berubah begitu jelas sampai aku ingin menyimpannya. Lega, hangat, dan nyaris tak percaya.

“Dengan satu syarat,” lanjutku.

“Sebutkan.”

“Jangan pernah bikin keputusan atas namaku lagi. Kamu boleh khawatir, boleh kasih pendapat, boleh berantem sama aku. Tapi pilihanku tetap punyaku.”

“Setuju.”

“Cepat sekali.”

“Aku sudah membuat keputusan buruk karena terlambat memahami itu. Nggak perlu diulang.”

Aku menyentuh dasinya, menahan keinginan untuk menariknya lagi. “Pulang sana, Pacar.”

Arsen menatap jariku di dasinya. “Kamu sengaja menguji kontrol diri orang yang baru kamu cium?”

“Iya.”

“Berbahaya.”

“Katanya kamu jenius.”

“Justru karena itu aku tahu kapan harus pergi.”

Ia benar-benar mundur, meski matanya tetap di bibirku sampai aku masuk pagar.

Ponselku bergetar sebelum pintu rumah sempat kubuka.

Arsen: Besok jangan pakai lipstik itu ke kantor kalau kamu masih mau aku bersikap profesional.

Aku mengetik balasan sambil tersenyum lebar.

Celine: Siapa bilang aku mau?