Chapter Eleven
Jemari di Tengkukku
POV Celine
“Arsen,” kataku pelan. “Bisa bantu?”
Tatapannya turun ke kalung di telapak tanganku, lalu berpindah ke tengkuk yang baru saja kubuka dengan mengangkat sanggul rendahku sedikit lebih tinggi.
Di ballroom, pembawa acara mulai menutup segmen sebelumnya. Waktuku tinggal kurang dari dua menit. Seharusnya kami bergerak cepat.
Arsen justru bertanya, “Boleh?”
Satu kata itu membuat dadaku lebih sesak daripada kalau dia langsung menyentuhku.
Aku mengangguk. “Boleh.”
Ia mengambil kalung dari tanganku. Ujung jarinya cuma menyentuh kulitku sebentar, tetapi tubuhku langsung sadar pada setiap sentimeter jarak di antara kami.
Kami berdiri di depan cermin panjang di koridor ruang persiapan. Dari sana, aku bisa melihat wajah Arsen di belakang bahuku. Tatapannya fokus pada pengait kecil, rahangnya tegang, napasnya lebih pelan dari biasanya.
“Rambutmu,” katanya.
Aku mengangkat sanggulku lebih tinggi. “Begini?”
“Iya.”
Rantai dingin menyentuh leherku. Jemari Arsen bergerak tenang, seolah memasang kalung perempuan adalah bagian lain dari masalah teknis yang bisa ia selesaikan. Lalu ruas jarinya menyapu tengkukku tanpa sengaja.
Napas kami berubah bersamaan.
Aku biasanya punya selusin kalimat nakal untuk situasi seperti ini. Bisa saja aku bertanya apa tangannya selalu seteliti itu. Bisa juga kubilang dia boleh memasang kalungku tiap pagi kalau mau.
Namun ketegangan di koridor itu terlalu nyata untuk dibungkus lelucon.
Arsen melihat wajahku lewat cermin. “Terlalu kencang?”
“Nggak.”
Suaraku nyaris tak terdengar.
Ia menutup pengaitnya, tetapi tidak langsung mundur. Ujung jarinya masih berada satu helai rambut dari kulitku. Tatapannya turun ke garis leher kebaya, lalu kembali ke mataku.
“Sudah,” katanya.
Aku melepaskan rambutku perlahan. “Makasih.”
“Celine.”
“Hm?”
Ada sesuatu yang ingin ia bilang. Aku melihatnya jelas di cermin, tepat sebelum suara staf panggung memanggil dari ujung koridor.
“Kak Celine, tiga puluh detik!”
Arsen mundur satu langkah. Wajahnya kembali tenang, tetapi napasnya belum sepenuhnya pulih.
“Pergi,” katanya. “Mereka menunggu.”
Aku berbalik menghadapnya. “Kamu juga?”
“Aku bilang akan lihat.”
Jawaban itu cukup membuatku naik panggung dengan jantung yang masih berantakan.
Lampu menyilaukan mataku selama satu detik. Ratusan wajah memenuhi ballroom, tetapi aku langsung menemukan Arsen di sisi kanan panggung. Ia berdiri di belakang baris tamu utama, satu tangan masuk saku, tatapannya tetap padaku.
Aku membacakan pengantar program beasiswa teknologi Evolte tanpa salah satu kata pun. Setelah itu, tiga penerima pertama naik ke panggung. Siska memberi isyarat dari samping, video diputar tepat waktu, dan tepuk tangan memenuhi ruangan.
Saat turun, orang pertama yang kutemui adalah Maya.
“Kalungmu bagus,” katanya sambil menyerahkan tablet.
“Tadi lepas.”
Maya menatap pengait di belakang leherku, lalu Arsen yang masih berdiri tidak jauh dari sana. “Dan tiba-tiba terpasang sendiri?”
“Teknologi Evolte makin maju.”
“Celine.” Nada suaranya berubah serius. “Kamu masih senang main begini?”
Pertanyaan itu membuat senyumku turun sedikit.
“Masih.”
“Atau kamu cuma terlalu dalam buat berhenti?”
Aku melihat Arsen menerima sapaan seorang mitra. Wajahnya tenang, tetapi ketika pandangan kami bertemu, ia memutus percakapan lebih cepat dan berjalan ke arahku.
“Dua-duanya,” jawabku jujur.
Maya mengembuskan napas. “Pastikan kamu tahu bedanya dia menginginkanmu dan dia memilihmu.”
“Kamu selalu merusak momen cantik.”
“Itu fungsi teman yang kerja di Legal.”
Ia pergi saat Arsen tiba.
“Ada masalah?” tanyanya.
“Nggak. Maya cuma memastikan aku nggak kehilangan akal.”
“Hasilnya?”
“Belum selesai diperiksa.”
Sudut bibirnya bergerak. “Presentasimu bagus.”
“Cuma bagus?”
“Sangat bagus.”
Pujian kedua dalam satu malam. Kalau terus begini, aku mungkin harus mencatatnya sebagai anomali sistem.
“Kamu nonton sampai selesai,” kataku.
“Aku menepati janji.”
“Satu jammu juga udah lewat.”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu belum pulang.”
Arsen tidak menjawab. Matanya turun sebentar ke kalung yang baru ia pasang. Gerakan kecil itu cukup untuk membuat kulit di tengkukku kembali terasa panas.
Acara utama selesai pukul sepuluh lewat dua puluh. Tamu mulai pulang, lampu ballroom diredupkan, dan band memainkan satu lagu terakhir untuk staf serta mitra yang masih tinggal. Keanu sibuk mengantar delegasi Singapura. Maya sudah menghilang bersama tim Legal. Arsen berdiri dekat pintu, tampak siap pergi sebelum ada orang lain yang menahannya.
Aku memutuskan menjadi orang itu.
“Satu lagu,” kataku sambil berdiri di depannya.
“Apa?”
Aku mengulurkan tangan. “Dansa sama aku.”
“Tidak.”
“Kamu bahkan belum mikir.”
“Aku sudah.”
“Takut injak kakiku?”
“Celine.”
“Lantai dansanya hampir kosong. Kamera utama juga sudah mati.” Aku mencondongkan tubuh sedikit. “Atau kamu cuma berani pegang tengkukku kalau ada keadaan darurat?”
Tatapannya turun menjadi lebih gelap.
“Kamu sengaja cari masalah.”
“Aku kerja lembur demi menemukannya.”
Arsen melihat tangan yang masih kuulurkan. Beberapa detik lewat. Lalu ia mengambilnya.
“Satu lagu,” katanya.
Aku menariknya ke tengah ballroom sebelum ia berubah pikiran.
Kupikir aku harus mengajari pria yang hidupnya diisi angka dan rapat itu cara bergerak mengikuti musik. Ternyata Arsen menempatkan satu tangan di pinggangku, menggenggam tanganku dengan tangan lain, lalu memimpin langkah pertama tanpa ragu.
Aku hampir menginjak kakinya karena kaget.
“Kamu bisa dansa?”
“Sedikit.”
“Ini bukan sedikit.”
“Ibuku memaksa ikut kelas waktu kuliah.”
“Akhirnya ada informasi pribadi yang nggak perlu kubobol dari sistem.”
“Kamu membobol sistem, besok aksesmu dicabut.”
“Romantis sekali.”
Tangannya di pinggangku terasa hangat menembus kain kebaya. Sentuhannya tetap sopan, tetapi tegas. Setiap kali aku bergerak lebih dekat, jari-jarinya mengencang sedikit seolah mengingatkan kami berdua bahwa ia sadar persis di mana aku berada.
Kami berputar pelan di bawah lampu keemasan yang mulai padam satu per satu.
“Apa lagi yang kamu sembunyikan?” tanyaku.
“Hal yang sebaiknya nggak kamu cari.”
“Jawaban itu malah bikin aku makin penasaran.”
“Aku tahu.”
Aku mendongak. “Kamu tahu banyak hal soal aku, ya?”
“Cukup.”
“Misalnya?”
“Kamu mengetuk pena dua kali sebelum menolak perintah. Kamu minum kopi pakai karamel kalau lembur. Dan kalau gugup, kamu menggoda lebih banyak.”
Langkahku melambat.
“Aku nggak gugup.”
“Barusan kamu hampir menginjak sepatuku.”
“Karena aku kaget kamu ternyata manusia multitalenta.”
“Tentu.”
Aku menahan tatapannya. “Kalau kamu hafal semua itu, berarti kamu sering memperhatikan aku.”
“Itu bagian dari pekerjaanku.”
“Bohong.”
Lagu bergeser ke bagian yang lebih pelan. Jarak di antara kami menyempit tanpa perlu ditarik siapa pun. Dadaku hampir menyentuh jasnya. Napas Arsen jatuh di atas dahiku.
“Aku tahu kamu menginginkan aku,” bisikku.
Tangannya di pinggangku berhenti bergerak.
“Kamu terlalu yakin.”
“Kalau salah, lepas.”
Ia tidak melepasku.
Selama empat hitungan, kami hanya berdiri di tengah lagu dengan tatapan terkunci. Lalu Arsen memimpin langkah berikutnya, lebih lambat dari sebelumnya.
“Menginginkan sesuatu,” katanya, “nggak selalu berarti kita boleh mengambilnya.”
Kalimat itu seharusnya terasa seperti penolakan. Anehnya, tidak. Itu pengakuan yang dibungkus batas.
“Aku nggak pernah bilang kamu boleh mengambil,” kataku. “Kamu bisa minta.”
Tatapannya turun ke bibirku.
Musik berhenti.
Arsen melepaskan tanganku lebih dulu, tetapi jemarinya di pinggangku tertahan satu detik sebelum ikut menjauh.
“Sudah malam,” katanya.
“Pengecut.”
“Aku sedang berusaha tidak jadi orang brengsek.”
Itu jawaban paling jujur yang pernah ia beri.
Arsen baru berjalan dua langkah ketika aku ingat kalimatnya sebelum aku naik panggung.
“Tunggu.”
Ia menoleh.
“Kamu bilang pernah lihat aku menyelamatkan acara yang lebih kacau. Kapan?”
Diamnya berlangsung terlalu lama untuk pertanyaan sederhana.
“Peluncuran Nadi,” jawabnya akhirnya. “Delapan bulan lalu.”
Aku mengernyit. “Kita belum kenal.”
“Aku lihat dari ruang kontrol. Sistem registrasi mati, direktur acara mau memecat anak magang, lalu kamu ambil alih semuanya.”
Potongan malam itu kembali ke kepalaku: ratusan tamu, radio yang tidak berhenti berbunyi, dan seorang pria tinggi yang sempat kulihat berdiri di ujung koridor. Wajahnya tertutup bayangan sehingga aku tidak pernah sadar itu Arsen.
“Jadi waktu aku masuk wawancara...”
“Aku sudah tahu pekerjaanmu.”
“Kenapa nggak pernah bilang?”
“Karena hasil seleksimu tetap harus berdiri sendiri.”
Jawaban itu mengenai bagian diriku yang selalu takut orang hanya melihat wajahku. Arsen melihatku sebelum aku sempat menggoda. Yang ia ingat justru cara kerjaku dan siapa yang kubela.
Aku mencoba tersenyum. “Kamu sadar informasi ini bikin aku makin sulit berhenti mengejarmu?”
“Itu sebabnya aku nggak bilang.”
“Terlambat, Pak Arsen.”
“Aku tahu.”
Aku tidak mengejarnya saat ia berjalan ke pintu. Untuk malam ini, aku sudah mendapat lebih dari yang kuminta: sentuhan yang ia awali dengan izin, satu dansa, dan bukti bahwa jarak Arsen bukan lahir dari tidak adanya rasa.
Saat kembali ke ruang persiapan untuk mengambil clutch, aku melihat asisten Bram berbicara dengan videografer acara. Sebuah kartu memori berpindah tangan.
“Pak Bram mau bahan dokumentasi lengkap,” kata pria itu ketika videografer tampak ragu. “Termasuk kamera koridor.”
Aku berhenti di balik pintu.
Videografer akhirnya mengangguk.
Di ujung ballroom, Arsen menungguku untuk pulang. Wajahnya kembali tenang, seolah kami tidak baru saja berdansa terlalu dekat di ruangan yang hampir kosong.
Aku melangkah ke arahnya sambil menyimpan satu fakta baru di kepala.
Arsen menginginkanku.
Dan Bram mungkin baru saja memperoleh cara untuk membuat keinginan itu terlihat seperti kesalahan.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku reading
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima