Chapter Six
Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
POV Celine
Jawaban atas pertanyaanku datang dua minggu kemudian, pada pukul sembilan lewat empat puluh tujuh malam, saat aku sudah melepas sepatu dan siap pulang.
Semua layar di lantai tiga puluh tujuh berubah merah.
Notifikasi pertama datang dari tim infrastruktur. Notifikasi kedua dari divisi data. Yang ketiga membuatku kembali memakai sepatu.
PRIORITAS SATU — REKOMENDASI RUTE NADI TIDAK AKURAT. 18 HUB TERDAMPAK.
Nadi adalah produk utama Evolte. Sistem itu membaca cuaca, kondisi jalan, kapasitas gudang, dan ribuan pergerakan barang untuk menentukan rute distribusi. Kalau Nadi salah, truk bisa dikirim ke jalan tertutup, stok pangan tertahan, dan kontrak miliaran rupiah lenyap sebelum pagi.
Pintu lift terbuka. Lima orang berlari keluar tanpa sempat menyapa. Di belakang mereka, Arsen berjalan cepat sambil menelepon.
“Jangan matikan seluruh sistem,” katanya. “Bekukan rekomendasi baru. Rute yang sudah dikonfirmasi tetap jalan. Saya masuk War Room dua menit lagi.”
Dia memutus panggilan dan melihatku.
“Kamu belum pulang?”
“Baru mau.”
“Pulang sekarang.”
“Nggak.”
“Celine.”
“Kalender, catatan keputusan, komunikasi klien, dan konsumsi tim bakal kacau kalau nggak ada yang pegang. Aku bisa bantu.”
“War Room bukan tempat belajar.”
“Bagus. Aku nggak datang buat belajar.”
Rahangnya mengeras. Aku mengira dia akan memaksaku pergi, tetapi ponselnya kembali berdering.
“Ikut. Jangan bicara kalau nggak perlu.”
“Perintah yang sangat berat.”
Dia menatapku.
“Baik. Aku akan coba.”
War Room berada di ujung lantai, di balik dua lapis pintu dengan akses khusus. Ruangannya lebih dingin dari kantor biasa dan dipenuhi layar besar. Peta Indonesia terbentang di dinding utama. Titik-titik merah muncul dari Jawa Timur sampai Sulawesi Selatan.
Lima tim sudah tersambung lewat video: infrastruktur, machine learning, data, client operations, dan legal. Semua bicara hampir bersamaan.
“Stop,” kata Arsen.
Satu kata. Ruangan langsung diam.
Ia berdiri di depan peta digital. “Mulai dari dampak. Bukan asumsi penyebab.”
Kepala client operations melapor bahwa Nadi mengarahkan seratus dua puluh enam armada ke jalur yang kapasitasnya sudah penuh. Tiga puluh delapan rute lain melewati jembatan yang ditutup sejak sore. Klien terbesar kami, LintasNusa, memberi waktu dua jam sebelum memindahkan sistem ke penyedia cadangan.
“Rute lama masih aman?” tanya Arsen.
“Aman, tapi rekomendasi baru terus masuk.”
“Bekukan output. Jangan matikan mesin prediksi.”
Seorang engineer senior menggeleng. “Kalau sumbernya model utama, pembekuan output nggak cukup. Kita harus shutdown.”
“Shutdown menghentikan delapan belas hub dan menghapus jejak perubahan terakhir.” Arsen menunjuk layar. “Buat salinan lingkungan sekarang. Jalankan model bayangan pakai data dua jam lalu.”
“Butuh tiga puluh menit.”
“Kamu punya dua belas.”
Tak ada yang membantah lagi.
Aku duduk di ujung meja dan mulai membuat decision log. Waktu, instruksi, penanggung jawab, hasil. Ketika dua orang memberi laporan bersamaan, aku pisahkan. Saat legal bertanya keputusan mana yang boleh dikirim ke klien, aku menandai jawaban Arsen dan meneruskannya tanpa menunggu diminta.
Pukul sepuluh lewat lima, Keanu masuk sambil masih memakai jas acara.
“Saya pegang komunikasi eksternal,” katanya. “Apa yang boleh saya bilang?”
“Ada anomali rekomendasi, sistem inti tetap berjalan, dan rute aman tidak terdampak,” jawab Arsen. “Jangan bilang serangan siber sebelum ada bukti.”
“Media sudah mencium.”
“Beri mereka fakta, bukan rasa takut.”
Keanu mengangguk lalu melihatku. “Kamu belum pulang?”
“Pertanyaan itu sudah basi.”
“Bagus. Pesankan makanan. Kalau Arsen bilang nggak lapar, abaikan.”
“Saya ada di sini,” kata Arsen.
“Itu sebabnya saya bilang langsung.”
Aku memesan makanan untuk dua puluh tujuh orang, kopi untuk empat belas, teh manis untuk tim infrastruktur, dan air mineral untuk Arsen karena kopi keempat akan membuatnya melihat masa depan.
Sementara itu, ia berpindah dari satu layar ke layar lain. Ia tidak melihat data seperti aku melihatnya. Bagiku, layar itu berisi angka dan garis. Bagi Arsen, semuanya seperti bahasa yang sudah dia kuasai sejak lahir.
“Tampilkan waktu tiap rekomendasi salah,” katanya.
Data muncul.
“Urutkan dari yang pertama.”
Satu engineer melakukannya. Rekomendasi yang salah muncul pukul sembilan lewat dua, sembilan lewat sembilan belas, sembilan lewat tiga puluh enam.
Arsen menatap tiga waktu itu. “Selisih tujuh belas menit.”
“Cache refresh,” gumam kepala infrastruktur.
“Bukan model utama,” kata Arsen. “Adapter data eksternal.”
Tim data membuka riwayat pembaruan. Sore tadi mereka memasang konektor baru untuk data kondisi jalan. Sistem itu mengambil informasi yang benar, tetapi menempelkan cap waktu lama. Nadi membaca jalan yang sudah ditutup sebagai jalur aktif.
Seorang engineer muda di layar mendadak pucat. “Saya yang merge konektornya.”
Semua mata mengarah kepadanya.
Arsen tidak marah. “Siapa yang menyetujui deploy?”
“Pak Rendra. Tapi saya yang—”
“Berarti proses review kita yang gagal. Bukan satu orang.” Ia menoleh kepada kepala tim. “Rollback adapter. Jangan sentuh model. Setelah sistem stabil, baru kita audit alurnya.”
Engineer itu mengangguk cepat.
Aku berhenti mengetik selama beberapa detik.
Seorang bos yang ingin terlihat hebat akan mencari orang untuk disalahkan. Arsen justru menjaga tim tetap fokus pada masalah.
“Celine.”
Aku tersadar. “Ya?”
“Kenapa diam?”
“Aku lagi kagum. Jangan dibiasain.”
Beberapa orang di meja menahan senyum. Arsen menatapku, seolah tidak yakin harus kesal atau membiarkannya.
“Decision log,” katanya akhirnya.
“Tetap jalan.” Aku memutar layar ke arahnya. “Tapi ada satu hal. Tadi tim data bilang konektor dipasang pukul delapan empat puluh. Log pertama menunjukkan perubahan konfigurasi pukul delapan lewat empat belas.”
Arsen langsung mendekat. “Tunjukkan.”
Aku membuka baris yang sudah kutandai. Ia membaca cepat, lalu meminta tim infrastruktur memeriksa deployment otomatis. Ternyata ada konfigurasi lama yang aktif kembali saat server cadangan menyala. Konektor baru hanya memicu masalah yang sudah tertanam sebelumnya.
Kalau kami berhenti pada kesalahan engineer muda tadi, gangguan yang sama akan muncul lagi.
Arsen memandangku sebentar. “Bagus.”
Satu kata itu terasa lebih hangat daripada seharusnya.
Pukul sebelas lewat tiga puluh dua, output Nadi kembali normal. Pukul dua belas kurang sepuluh, LintasNusa membatalkan rencana pindah sistem. Namun Arsen belum membiarkan siapa pun pulang. Ia meminta simulasi ulang untuk semua jalur, verifikasi manual pada rute berisiko, dan laporan awal sebelum pukul dua.
Makanan datang. Semua orang mengambil kotaknya kecuali dia.
Aku meletakkan nasi di samping laptopnya.
“Makan.”
“Nanti.”
“Sekarang.”
“Aku lagi—”
Aku menutup separuh layar laptopnya dengan kotak makanan.
Ruangan hening lagi, kali ini karena dua puluh enam orang ingin tahu apakah sekretaris baru akan dipecat sebelum pencuci mulut.
Arsen menatap kotak itu, lalu aku.
“Lima menit,” katanya.
“Tujuh.”
“Enam.”
“Deal.”
Keanu tertawa dari seberang meja. “Akhirnya ada yang bisa negosiasi sama dia.”
Menjelang pukul tiga, War Room mulai kosong. Aku duduk dengan kepala bersandar ke kursi dan kaki yang nyaris mati rasa. Arsen masih berdiri di depan layar, membaca laporan terakhir.
Keanu menghampiriku dan memberikan secangkir teh hangat.
“Sekarang kamu tahu?” tanyanya.
“Tahu apa?”
Ia mengangguk ke arah Arsen. “Siapa yang membangun kerajaan ini.”
Aku mengikuti tatapannya.
Keanu adalah wajah Evolte. Dia punya karisma, jaringan, dan kemampuan membuat orang percaya pada masa depan. Namun malam ini, aku melihat mesin yang membuat masa depan itu mungkin.
Arsen.
Dia bukan pria antisosial yang kebetulan jago teknologi. Dia adalah alasan perusahaan ini bernilai dua puluh tiga triliun. Semua keputusan penting melewati pikirannya, lalu keluar dalam bentuk yang begitu tenang sampai orang lupa betapa luar biasanya hal itu.
“Kenapa dia membiarkan semua orang mengira kamu yang menjalankan Evolte?” tanyaku.
Senyum Keanu hilang sedikit. “Itu cerita yang harus dia kasih sendiri.”
Sebelum aku bisa bertanya lagi, Arsen menoleh.
“Celine, jadwal pagi.”
Aku membuka tablet. “Konferensi pers jam sembilan. Tim PR bilang kamu harus muncul karena ini isu teknis.”
“Batalkan.”
Keanu menggeleng. “Nggak bisa. Kalau saya yang jelasin bagian teknis, media akan tahu kamu menghindar.”
Arsen diam cukup lama.
“Lima belas menit,” katanya.
Keanu mengangguk. “Cukup.”
Aku melihat jam. Kurang dari enam jam lagi.
Saat Arsen mengambil jasnya, dasi gelap yang masih terpasang di kerah terlihat miring karena malam yang terlalu panjang.
Entah kenapa, mataku langsung tertuju ke sana.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun reading
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima