Chapter Three
Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
POV Celine
Hari pertamaku sebagai sekretaris Arsen dimulai dengan dua kabar buruk.
Kabar pertama, dia sudah berada di kantor sejak pukul enam lewat dua belas pagi.
Kabar kedua, dia tahu aku tiba pukul tujuh lewat dua puluh delapan.
“Dua menit lebih awal bukan berarti rajin,” katanya saat aku masuk membawa tablet dan kopi.
Aku meletakkan americano tanpa gula di sisi kanan mejanya. “Delapan belas menit lebih awal juga bukan berarti sehat.”
Tatapannya turun ke kopi. “Saya nggak minta.”
“Saya tahu.”
“Dari mana kamu tahu pesanan saya?”
“Saya tanya barista.”
“Kamu membocorkan identitas atasan demi kopi?”
“Pak Arsen, seluruh gedung tahu Bapak minum americano tanpa gula. Itu bukan rahasia negara.”
Ia mengambil cangkirnya, mencicipi sekali, lalu kembali ke layar tanpa bilang terima kasih.
Namun dia tidak mengembalikannya.
Aku memasukkan itu sebagai kemenangan pertama.
Pukul tujuh tiga puluh lima, dia memberiku akses kalender. Pukul tujuh empat puluh, aku sadar tiga sekretaris sebelumnya mungkin bukan resign. Mereka mungkin menghilang ke hutan untuk hidup tanpa notifikasi.
Dalam satu hari, Arsen punya rapat produk, audit keamanan, ulasan kontrak, evaluasi kepala divisi, dan sesi dengan tim riset yang tersebar di tiga negara. Semua orang ingin waktunya. Semua merasa urusan mereka paling mendesak. Setengah dari pekerjaanku ternyata bukan mengatur jadwal, tetapi mengecewakan orang dengan sopan.
“Jam sepuluh dengan tim Seoul maju dua puluh menit,” kata Arsen.
“Nggak bisa. Kepala riset mereka baru selesai demo jam sembilan lima puluh waktu sana.”
“Mereka bisa potong demonya.”
“Atau Pak Arsen bisa berhenti bikin semua orang menekuk hari mereka buat menyesuaikan jadwal Bapak.”
Jarinya berhenti di atas keyboard.
Aku tersenyum manis. “Saya akan cari jalan tengah.”
“Saya mulai paham kenapa mantan atasan kamu bilang kamu sulit diatur.”
“Tapi Bapak tetap pilih saya.”
“Kesalahan masih bisa diperbaiki.”
“Terlambat. Kontrak saya udah ditandatangani.”
Sudut bibirnya tidak bergerak, tetapi ada kilatan tipis di matanya. Nyaris seperti hiburan.
Aku baru ingin menikmati temuan itu ketika tiga notifikasi muncul sekaligus.
Tim Seoul meminta rapat mundur satu jam. Investor London memajukan panggilan karena jadwal penerbangan berubah. Keanu mengirim pesan bahwa wawancara televisinya diperpanjang dan Arsen harus menggantikan presentasi internal pukul sebelas.
KEANU: Tolong bilang ke manusia kesayangan kita bahwa dia harus turun ke auditorium jam 11.
Aku membaca pesannya dua kali, terutama bagian manusia kesayangan kita.
CELINE: Saya baru kerja tiga jam. Kenapa rasanya saya sudah jadi negosiator sandera?
Balasan datang dalam hitungan detik.
KEANU: Karena Arsen menganggap waktu sebagai sandera dan dia menolak bayar tebusan. Good luck.
“Ada masalah?” tanya Arsen tanpa menoleh.
“Belum. Tapi saya mulai curiga Pak Keanu sengaja merekrut saya supaya ada orang lain yang ikut menderita.”
“Keanu nggak merekrut kamu.”
“Oh?”
“Atur jadwalnya.”
Jawabannya terlalu cepat. Aku menyimpan rasa penasaran itu untuk nanti.
Krisis kecil berubah jadi besar saat asisten investor London bilang mereka hanya punya waktu pukul sepuluh empat puluh lima. Pada saat yang sama, audit keamanan nggak bisa digeser karena menyangkut pembaruan sistem malam ini. Auditorium sudah penuh tiga ratus karyawan, menunggu salah satu Co-CEO menjelaskan arah produk baru.
Aku berdiri di depan tiga layar kalender dan mulai memindahkan balok warna seperti menyusun puzzle.
Rapat Seoul tidak butuh Arsen selama tiga puluh menit pertama; tim data bisa mulai tanpa dia. Audit keamanan bisa dibagi dua sesi. Investor London hanya butuh keputusan pada tiga poin, bukan presentasi satu jam penuh. Aku minta mereka kirim pertanyaan lebih dulu, lalu mengubah panggilan menjadi dua puluh menit yang padat. Untuk auditorium, aku meminta Keanu membuka acara lewat video dari studio televisi dan Arsen masuk pada bagian tanya jawab.
Satu masalah tersisa: jarak dari lantai tiga puluh tujuh ke auditorium butuh empat menit kalau lift kosong, delapan menit kalau tidak.
Aku menelepon petugas gedung dan meminta satu lift ditahan pada pukul sebelas lewat tujuh.
“Kamu nggak punya wewenang menahan lift eksekutif,” kata Arsen dari belakangku.
Aku menoleh. “Sekarang punya. Kepala operasional gedung bilang iya.”
“Karena kamu bilang apa?”
“Saya bilang kalau Pak Arsen terlambat, tiga ratus orang harus lembur.”
“Itu ancaman.”
“Motivasi berbasis data.”
Ia menatap susunan jadwal yang baru. “Panggilan London terlalu pendek.”
“Pertanyaan mereka cuma tiga.”
“Mereka suka menambah pertanyaan.”
“Saya minta semua tambahan dikirim lewat email. Kalau mereka nekat menambah saat panggilan, saya masuk dan bilang waktunya habis.”
“Kamu akan memotong investor?”
“Dengan sopan.”
“Definisi sopan kamu meragukan.”
“Tapi efektif.”
Pukul sebelas lewat dua puluh sembilan, Arsen kembali dari auditorium. Rapat Seoul selesai tepat waktu. Audit keamanan mendapat semua keputusan. Investor London bahkan mengirim email bahwa mereka menyukai pembahasan yang singkat dan jelas.
Aku duduk di meja sambil menikmati kopi yang sudah dingin ketika Arsen keluar dari ruangannya.
“Besok, siapkan jeda lima belas menit di antara rapat lintas zona waktu.”
“Itu pujian?”
“Itu instruksi.”
“Sayang sekali. Saya hampir senang.”
Ia berjalan melewatiku, lalu berhenti. “Penataan ulangnya bagus.”
Aku menoleh begitu cepat sampai leherku nyaris sakit. “Bisa diulang? Saya mau rekam.”
“Jangan serakah.”
Dia masuk lift sebelum aku sempat membalas.
Pukul empat lewat lima puluh, aku membuka kalendernya lagi. Setelah semua kekacauan pagi tadi, ruang kosong enam menit itu masih ada. Mungkin sistem sengaja membiarkannya. Mungkin Arsen belum sadar. Mungkin alam semesta sedang mendukung ide burukku.
Aku membuat agenda baru.
16.54–17.00 — Belajar tersenyum. Target: satu kali.
Aku menekan save.
Tiga detik kemudian, status agenda berubah.
DIREVISI OLEH ARSEN ADIPRANA.
Waktunya dipotong menjadi dua menit.
Di kolom catatan, ia menulis:
Dua menit cukup. Jangan boros waktu perusahaan.
Aku menahan tawa, lalu mengetik balasan.
Dua menit terlalu pendek. Otot wajah Bapak mungkin sudah kaku karena jarang dipakai.
Kursor kecil muncul. Hilang. Muncul lagi.
Saya bisa membatalkan seluruh agenda.
Tapi Bapak nggak membatalkannya.
Tidak ada balasan.
Pukul empat lewat lima puluh empat, aku mengetuk pintu lalu masuk sambil membawa dua permen rasa lemon.
Arsen menatapku dari balik layar. “Apa itu?”
“Materi pelatihan.”
“Keluar.”
“Agenda ini disetujui pemilik kalender.”
“Direvisi, bukan disetujui.”
Aku duduk di kursi depan mejanya dan menyodorkan satu permen. “Kita mulai dari hal sederhana. Bapak makan ini, lalu pikirkan sesuatu yang menyenangkan.”
“Saya punya rapat dua menit lagi.”
“Berarti kita harus cepat.”
Dia menatap permen itu seperti aku sedang menawarkan kontrak ilegal. “Apa hubungan lemon dengan tersenyum?”
“Nggak ada. Saya cuma pengin lihat apakah muka Bapak berubah kalau rasanya terlalu asam.”
Arsen menghela napas pelan. Namun, di luar dugaanku, ia mengambil permen itu.
Aku membuka bungkus milikku. “Nah. Sekarang senyum.”
“Nggak.”
“Sedikit.”
“Tidak.”
“Tuh, kata bakunya keluar. Berarti Bapak mulai tertekan.”
Ketukan terdengar. Keanu masuk tanpa menunggu jawaban, membawa sebuah map.
“Sen, kita perlu—” Dia berhenti saat melihat kami. “Kalian lagi apa?”
“Pelatihan,” jawabku.
“Gangguan operasional,” jawab Arsen pada saat yang sama.
Keanu melihat agenda pada layar, lalu menatap permen lemon di tangan sahabatnya. Wajahnya berubah cerah. “Saya mendukung program ini.”
“Keluar,” kata Arsen.
“Saya atau Celine?”
“Kalian berdua.”
Aku bangkit sambil menahan senyum. “Besok kita lanjut empat menit. Ada utang dua menit hari ini.”
“Nggak ada utang.”
Aku baru sampai pintu ketika Keanu berkata, “Terlambat, Sen. Barusan kamu senyum.”
Aku langsung berbalik.
Arsen sudah kembali memasang wajah datar. “Nggak.”
“Saya lihat,” kata Keanu.
“Saya nggak lihat,” protesku.
“Itu masalah kamu.”
Arsen membuka map seolah pembicaraan selesai. Namun telinganya berubah merah tipis.
Aku keluar dari ruangan dengan satu kesimpulan penting.
Arsen Adiprana ternyata bisa tersenyum.
Aku hanya perlu mencari cara supaya lain kali dia melakukannya saat sedang menatapku.
Dan mungkin, pikirku saat melihat kursi hitam besar di balik mejanya, aku harus mulai dengan menguji seberapa jauh batas kesabarannya.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum reading
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima