← Jangan Goda Bos Antisosial

Chapter Twenty Nine

Kencan yang Tidak Masuk Agenda

POV Arsen

Pukul enam pagi, foto tanganku menggenggam tangan Celine sudah dilihat dua juta orang.

Tim komunikasi menyiapkan tiga pilihan: tidak berkomentar, menyebutnya urusan pribadi, atau mengakui hubungan kami lewat pernyataan singkat. Dulu aku akan memilih opsi pertama sebelum Celine bangun.

Kali ini aku meneleponnya.

“Kamu udah lihat?” tanyaku.

“Foto yang bikin rahangmu terlihat bagus? Udah.”

“Ada wartawan di depan kantor dan rumahmu.”

“Aku juga lihat.”

“Apa yang kamu mau?”

Ia diam sebentar. Aku membiarkan diam itu ada tanpa mengisinya dengan solusi.

“Aku nggak mau menyangkal,” katanya. “Tapi aku juga nggak mau hubungan kita jadi konferensi pers lanjutan.”

“Berarti pernyataan singkat. Kita pastikan struktur kerjamu jelas, lalu tidak jawab hal pribadi.”

“Kita?”

“Kamu baca sebelum dikirim. Kalau nggak setuju, kita ubah.”

“Bagus.” Suaranya terdengar tersenyum. “Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Hari ini tetap kencan. Jangan batal cuma karena internet akhirnya sadar kita punya tangan.”

Aku melihat jadwal yang sudah dibuat: mobil keluar dari basement, makan siang di ruang privat, toko buku yang ditutup satu jam untuk kami, lalu pulang lewat pintu belakang.

Semuanya aman.

Semuanya juga terdengar seperti operasi evakuasi.

“Kamu mau ke mana?” tanyaku.

“Aku yang pilih?”

“Iya.”

“Toko buku biasa. Jajan di pinggir jalan. Photobox kalau ada. Nggak ada ruangan yang dikosongkan.”

Tiga dari empat pilihan itu sulit dikendalikan.

“Baik.”

“Kamu nggak mau debat?”

“Aku sedang berkembang.”

“Aku catat tanggalnya.”

Sebelum menutup telepon, ia bilang akan mengirim pilihan lipstik. Dua menit kemudian, dua foto masuk. Warna pertama merah bata. Warna kedua merah muda mengilap.

Celine: Pilih.

Aku memperbesar kedua foto, tindakan yang tidak punya alasan profesional sama sekali.

Arsen: Yang bisa kuhapus setelah makan malam.

Balasannya baru datang satu menit kemudian.

Celine: Aku benar-benar merusak bos antisosial.

Arsen: Bukan bosmu. Dan kamu mulai ini.

Pernyataan kami naik pukul sembilan. Satu paragraf, tanpa cerita cinta dan tanpa kebohongan.

Kami menjalani hubungan pribadi setelah hubungan pelaporan langsung berakhir. Celine Maheswari menjabat Head of Executive Operations melalui panel independen dan melapor kepada Keanu Adikara serta komite eksekutif. Kami menghargai perhatian publik, tetapi tidak akan membahas detail kehidupan pribadi lebih jauh.

Harga saham internal tidak runtuh. Mitra tidak membatalkan kontrak. Dunia terus berjalan meski aku mengakui perempuan yang kucintai.

Sore itu, Celine keluar lewat pintu samping gedung dengan topi, kacamata, dan lipstik merah bata. Ada bayang lelah di bawah matanya. Sejak pagi ia menjawab pertanyaan tim, menenangkan dua manajer yang takut pekerjaannya akan dinilai lewat gosip, dan tetap menyelesaikan desain operasi regional sebelum tenggat.

Aku tidak langsung mencium bibirnya.

Aku mencium keningnya.

“Kamu capek,” kataku.

“Sedikit.”

“Kita bisa pulang.”

“Aku mau kencan.” Ia menatap mobil di belakangku. “Tapi bukan pakai itu.”

“Kenapa?”

“Ada tiga motor kamera nunggu di ujung jalan. Kalau kita naik mobilmu, mereka ikut sampai mana-mana.”

Ia menunjuk pintu menuju stasiun MRT di seberang gedung.

Aku melihat pengawal yang sudah bersiap di dekat mobil. Rencana awal menyuruh mereka membuka jalan dan mengganti rute dua kali.

“Kita jalan,” kataku.

Kami meninggalkan mobil perusahaan. Pengawal mengikuti dari jauh setelah menerima instruksi untuk tidak mendekat kecuali ada bahaya. Celine menggenggam tanganku saat menyeberang, bukan untuk kamera. Mungkin justru karena ia tahu kamera ada dan aku tidak akan melepaskannya.

Di dalam MRT, dua orang mengenaliku, tapi cuma berbisik. Kami berdiri dekat pintu karena semua kursi terisi. Ketika kereta bergerak, tubuh Celine terdorong dan aku menahan pinggangnya.

“Aturan tidak menyentuh selama rapat,” bisiknya. “Transportasi umum aman.”

“Kamu masih mengumpulkan celah.”

“Itu bagian pekerjaanku.”

Toko buku yang dipilihnya berada di pusat perbelanjaan lama. Tidak ada ruangan privat. Celine langsung menuju rak romance, sementara aku berhenti di bagian strategi bisnis.

“Kita sedang kencan,” katanya dari ujung lorong. “Tinggalkan buku valuasi itu.”

“Aku cuma melihat.”

“Aku tahu tatapanmu. Lima menit lagi kamu beli tiga.”

Ia menyerahkan satu novel dengan sampul pasangan berpelukan di bawah hujan. “Baca ini.”

“Judulnya Bos Dingin Milik Sekretaris Nakal.”

“Terdengar realistis.”

“Nilai perusahaannya berapa?”

“Keluar dari rak ini.”

Aku membeli novel itu tanpa sepengetahuannya, lalu menyelipkannya di antara dua buku operasi yang ia pilih. Celine baru sadar saat kasir memasukkannya ke tas.

“Kamu serius?”

“Riset.”

“Nanti aku uji pemahamanmu.”

“Aku menunggu.”

Ia yang kehilangan jawaban kali ini.

Dari toko buku, kami membeli telur gulung dan es teh di depan pusat perbelanjaan. Saus menetes ke jariku. Celine mengambil tisu, membersihkannya, lalu memakan potongan terakhir dari tusukku tanpa izin.

“Itu milikku.”

“Pacar harus berbagi.”

“Kamu mengambil semuanya.”

“Berbagi sesuai kebutuhan.”

Photobox ada di lantai paling atas. Ruangnya sempit dan tirainya tidak bisa tertutup sempurna. Pada foto pertama, aku melihat kamera. Pada foto kedua, Celine menarik pipiku agar tersenyum. Pada foto ketiga, ia mencium pipiku. Pada foto terakhir, aku menoleh dan mencium bibirnya lebih dulu.

Hasil cetaknya menunjukkan Celine terkejut dengan mata melebar, sementara aku terlihat terlalu puas.

“Curang,” katanya.

“Aku belajar dari kamu.”

Kami dikenali saat keluar. Seorang perempuan muda mendekat dengan ponsel terangkat. Dua orang lain ikut berhenti.

Tubuhku langsung menghitung pintu keluar, posisi pengawal, dan jarak ke lift. Tangan Celine masih berada di tanganku.

Aku tidak melepaskannya.

“Pak Arsen, benar ini Mbak Celine?” tanya perempuan itu.

“Iya,” jawabku.

Celine menoleh kepadaku. Bukan karena ragu. Ia hanya mendengar jawaban yang dulu tidak mampu kuberikan.

“Boleh foto?”

“Maaf, hari ini kami sedang ingin punya waktu sendiri.” Nadaku tetap tenang. “Terima kasih sudah mengerti.”

Perempuan itu menurunkan ponselnya. “Semoga langgeng.”

“Terima kasih,” kata Celine.

Kami berjalan tanpa lari dan tanpa bersembunyi. Napasku sedikit terlalu cepat, tetapi langkahku tetap stabil. Setelah masuk lift, Celine mengusap punggung tanganku dengan ibu jari.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

“Iya. Tubuhku cuma perlu waktu mengejar keputusan.”

“Mau berhenti?”

Aku memikirkan jawabannya. “Mau duduk lima menit. Setelah itu lanjut.”

Kami duduk di bangku dekat jendela sampai napasku kembali normal. Celine tidak memaksa bicara dan tidak memperlakukanku seperti sesuatu yang pecah. Ia membuka hasil photobox lalu tertawa lagi melihat wajahnya di foto terakhir.

Malamnya, kami makan di kedai kecil dekat kantor. Bukan tempat tersembunyi, hanya meja sudut yang cukup tenang. Di balik struk belanja buku, kami menulis aturan yang tidak terdengar romantis, tapi mungkin justru paling penting.

Pertanyaan media dijawab tim komunikasi tanpa memakai kisah pribadi. Jadwal terapi tidak boleh dipindah untuk rapat kecuali keadaan darurat yang nyata. Kencan tidak dibatalkan sepihak. Setelah pukul sembilan malam, telepon kerja hanya diangkat untuk krisis. Satu sore setiap bulan dibiarkan kosong tanpa agenda.

“Ada satu lagi,” kata Celine. “Kalau kamu butuh ruang, bilang. Jangan menghilang lalu menganggap aku pasti ngerti.”

“Aku bilang berapa lama aku butuh dan kapan aku akan menghubungimu lagi.”

“Aku juga begitu. Kalau aku lagi marah, kamu nggak perlu mengejar sampai pintu rumah. Tapi jangan kirim keputusan yang sudah jadi lewat pesan.”

“Setuju.”

Aku menambahkan satu baris lain: kami tetap punya waktu sendiri. Celine boleh pergi bersama teman atau keluarganya tanpa aku mengatur pengamanan berlebihan. Aku boleh menghabiskan malam sendirian tanpa ia menganggap perasaanku berubah.

Hubungan yang sehat ternyata bukan soal selalu berdekatan. Itu soal jarak yang tidak dipakai untuk menghukum atau bersembunyi.

“Tanpa agenda sama sekali?” tanyaku.

“Iya.”

“Kalau kita mau merencanakan mau ke mana?”

“Putuskan hari itu.”

“Tidak efisien.”

“Sangat menyenangkan.”

Aku melihat daftar itu. Dulu ruang kosong berarti sesuatu yang tidak bisa kukendalikan. Sekarang ada Celine di seberang meja, lipstiknya sedikit pudar karena makan malam, menunggu aku memilih bersamanya.

“Baik,” kataku. “Satu sore tanpa agenda.”

Ia menulis tanda centang besar. “Kamu akan selamat.”

“Aku tahu.”

“Percaya diri.”

“Aku punya partner yang sangat berisik kalau ada masalah.”

Celine menendang sepatuku pelan di bawah meja.

Satu tahun kemudian, sore tanpa agenda itu tetap ada di kalender kami.

Namun malam ini, satu agenda besar menunggu.

Gala tahunan Evolte.