Chapter Two
Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
POV Celine
Enam bulan sebelumnya, aku datang ke lantai tiga puluh tujuh Evolte Technologies dengan blazer merah, sepatu hak tujuh sentimeter, dan keyakinan yang mulai goyah setelah resepsionis bilang tiga sekretaris terakhir Arsen Adiprana resign dalam waktu empat bulan.
“Yang paling lama tahan berapa minggu?” tanyaku.
Resepsionis itu melirik ke kanan dan kiri sebelum berbisik, “Tujuh.”
“Yang paling cepat?”
“Tiga hari.”
Aku menatap pintu kayu gelap di ujung koridor. Tak ada papan nama besar. Cuma pelat kecil bertulis ARSEN ADIPRANA — CO-CEO, PRODUCT & STRATEGY. Sangat sederhana untuk pintu menuju orang yang konon bisa menemukan kesalahan proyeksi keuangan hanya dengan melihat satu grafik.
Nama Keanu Wicaksana jauh lebih dikenal publik. Wajahnya muncul di panggung konferensi, sampul majalah bisnis, bahkan podcast yang ditonton jutaan orang. Sementara Arsen lebih mirip legenda kantor. Semua orang tahu dia ada, tapi foto terbarunya saja nyaris tak pernah beredar.
Aku merapikan rambut, lalu tersenyum kepada resepsionis. “Kalau nanti saya keluar sebelum lima menit, tolong bilang saya tadi kelihatan berani.”
“Saya bisa dengar,” kata suara laki-laki dari arah pintu.
Aku menoleh.
Arsen berdiri di sana.
Kesan pertamaku: tinggi. Kesan kedua: sial, terlalu tampan untuk pria yang kabarnya membuat tiga sekretaris kabur. Kesan ketiga datang saat mata gelapnya menyapu map di tanganku, jam di pergelangan, lalu kembali ke wajahku dalam waktu kurang dari dua detik.
Dia nggak sedang melihat penampilanku. Dia sedang mengumpulkan data.
“Celine Maheswari?”
“Kalau jawabannya salah, saya masih bisa pulang?”
Resepsionis menahan napas. Arsen tidak berubah ekspresi.
“Masuk.”
Aku mengikuti langkahnya. Ruangannya luas, tetapi hampir terlalu rapi untuk terasa nyaman. Meja hitam, tiga layar besar, rak berisi buku teknologi dan ekonomi, satu sofa abu-abu yang kelihatan jarang disentuh. Nggak ada foto keluarga. Nggak ada pajangan penghargaan. Nggak ada benda yang memberi petunjuk bahwa pemilik ruangan ini punya kehidupan selain Evolte.
Seorang pria lain duduk santai di sofa sambil memegang kopi.
Aku langsung mengenalinya. Keanu Wicaksana memakai kemeja biru muda dengan lengan tergulung dan senyum yang biasa dia pasang di depan kamera.
“Nah, kandidat terakhir.” Keanu berdiri dan menjabat tanganku. “Saya Keanu. Yang lebih ramah dari dua Co-CEO di ruangan ini.”
Aku melirik sekeliling. “Memangnya ada Co-CEO ketiga?”
Keanu tertawa. Arsen menutup pintu.
“Duduk,” katanya.
Aku duduk di kursi depan meja. Arsen mengambil tempat di seberang, sementara Keanu kembali ke sofa seperti penonton yang sudah membeli tiket baris depan.
“Kamu tahu tiga orang sebelum kamu resign?” tanya Arsen.
“Baru tahu dua menit lalu.”
“Masih mau lanjut?”
“Tergantung. Mereka resign karena beban kerja atau karena bosnya menyebalkan?”
Keanu batuk untuk menutup tawa. Arsen menatapku beberapa detik lebih lama.
“Keduanya,” jawabnya.
Aku mengangguk. “Setidaknya jujur.”
Dia mendorong sebuah tablet ke arahku. Di layar ada kalender satu minggu, daftar kontak, catatan rapat, dan puluhan perubahan jadwal. Kelihatannya seperti kekacauan yang sengaja diberi warna.
“Simulasi,” katanya. “Senin, pukul sepuluh. Investor terbesar kita mendadak cuma punya waktu tiga puluh menit. Jadwal saya penuh. Atur ulang.”
Aku membuka setiap agenda. Ada rapat produk, evaluasi keamanan, makan siang dengan komisaris, sesi bersama tim legal, lalu satu blok bertanda A-17 tanpa nama peserta. Aku menekan detailnya. Akses terbatas. Catatan kecil di bawahnya berbunyi: protected disclosure meeting.
“Siapa A-17?” tanyaku.
“Nggak relevan.”
“Kalau nggak relevan, Bapak nggak akan taruh di simulasi.”
“Anggap saja staf internal.”
“Topiknya?”
“Keluhan tentang salah satu direktur.”
Arsen menyandarkan punggung. “Pindahkan A-17. Masukkan investor ke slot itu.”
Aku melihat lagi seluruh kalender. Slot A-17 berlangsung empat puluh lima menit. Pas. Tinggal geser, beres. Mungkin kandidat lain akan melakukan itu supaya terlihat cepat.
Aku membuka dokumen panduan di samping kalender. Ada tanda kecil berbentuk perisai pada agenda A-17. Prosedur whistleblower. Pertemuan itu harus berlangsung maksimal dua puluh empat jam setelah permintaan diterima, dan hanya empat orang yang tahu identitas pelapor.
“Nggak bisa.”
Keanu berhenti minum.
Arsen tak berkedip. “Alasannya?”
“A-17 itu whistleblower. Kalau saya geser demi investor, Evolte melanggar prosedur internal. Lebih parah lagi, orang itu bakal merasa laporan dia nggak penting.”
“Investor ini bisa menentukan putaran pendanaan berikutnya.”
“Berarti cari slot lain.”
“Saya bilang kalender penuh.”
“Kalendernya penuh, tapi bukan berarti semua agenda nilainya sama.” Aku memindai lagi. “Makan siang komisaris bisa diwakili Pak Keanu. Review produk bisa dimajuin empat puluh menit karena timnya kosong sejak jam sembilan. Investor masuk pukul sebelas lewat sepuluh. Bapak tetap bisa ketemu A-17.”
Keanu menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa saya yang dikorbankan?”
“Karena Bapak bilang Bapak yang lebih ramah. Komisaris pasti lebih senang makan siang sama Bapak.”
Kali ini dia benar-benar tertawa.
Arsen belum selesai. “Review produk nggak bisa dimajuin. Lead engineer ada di Bandung dan penerbangannya baru mendarat pukul sembilan empat puluh.”
“Dia ikut lewat video call dari mobil.”
“Koneksi jalan tol nggak stabil.”
“Berarti dia presentasi bagian utama dari lounge bandara selama dua puluh menit. Setelah itu wakilnya lanjut. Bapak nggak butuh semua orang berada di satu ruangan buat mengambil keputusan.”
“Kamu sering membantah atasan?”
“Kalau atasannya kasih perintah buruk, iya.”
Tatapan Keanu berpindah dari aku ke Arsen seperti sedang menyaksikan pertandingan tenis.
Arsen menyatukan kedua tangan di atas meja. “Kalau saya tetap menyuruh kamu memindahkan A-17?”
“Saya minta instruksinya lewat email.”
“Untuk apa?”
“Bukti kalau nanti tim legal tanya siapa yang melanggar prosedur.”
Hening.
Aku tahu jawabanku bisa mengakhiri wawancara. Namun kalau pekerjaan ini hanya mencari orang yang selalu bilang iya, mereka nggak butuh sekretaris. Mereka butuh tombol confirm dengan kaki.
Arsen menarik kembali tablet itu. “Kamu lolos tes pertama.”
“Ada berapa?”
“Saya belum putuskan.”
“Wah, menyenangkan.”
“Ini bukan pekerjaan yang menyenangkan.”
“Pantas tiga orang resign.”
Keanu menutup wajah dengan satu tangan. “Saya suka dia.”
“Pendapat kamu nggak diminta,” kata Arsen.
“Justru itu alasan saya kasih.”
Arsen mengabaikannya lalu membuka CV-ku. Dia berhenti pada bagian pekerjaan terakhir: koordinator operasional acara untuk peluncuran produk Evolte lima bulan lalu.
“Kenapa keluar dari agensi?”
“Saya suka pekerjaannya, tapi nggak suka harus menjual keputusan buruk sebagai kreativitas.”
“Contoh?”
“Klien minta staf magang dipecat karena sistem registrasi kacau. Padahal sistemnya jatuh karena kapasitas server dipotong buat hemat biaya.”
Ada sesuatu yang berubah di mata Arsen. Kecil sekali, tetapi ada.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Saya ambil alih alur registrasi, pisahkan tamu undangan dan media, lalu pakai empat tablet offline. Acara mulai telat sebelas menit. Nggak ideal, tapi nggak ada anak magang yang kehilangan kerja karena kesalahan atasannya.”
“Direktur event bilang kamu sulit diatur.”
Aku mengangkat alis. “Bapak sudah bicara sama dia?”
“Saya baca laporannya.”
“Kalau cuma baca laporan dia, saya pasti kelihatan menyebalkan.”
“Kamu memang menyebalkan.”
“Kita baru kenal dua puluh menit.”
“Cukup.”
Aneh, tapi aku tidak merasa dihina. Nada suaranya datar, sementara matanya seperti menyimpan sesuatu yang belum bisa kubaca.
Aku menyilangkan kaki. “Kalau saya diterima, apa Bapak selalu menatap kandidat begini?”
“Cuma kandidat yang salah baca saya.”
“Berarti saya harus kerja lebih keras buat baca yang benar.”
Untuk pertama kalinya, Arsen memutus kontak mata lebih dulu. Bukan lama. Cuma satu detik saat dia menutup CV-ku.
Tetap saja, satu detik itu terasa seperti kemenangan.
“Mulai Senin,” katanya.
Aku sempat berpikir aku salah dengar. “Saya diterima?”
“Kamu mau saya ulang?”
“Boleh. Sekalian tambah ucapan selamat datang yang hangat.”
“Mulai Senin, pukul tujuh tiga puluh. Jangan terlambat.”
“Itu tetap nggak hangat.”
Keanu berdiri dan mengulurkan tangan lagi. “Selamat datang di Evolte, Celine. Saran saya cuma satu: jangan takut sama dia.”
Aku menerima jabatannya. “Saya nggak takut.”
“Saya tahu.” Keanu melirik sahabatnya. “Itu yang bikin menarik.”
Arsen membuka layar laptop, tanda wawancara selesai. Namun saat aku berdiri, pandanganku jatuh pada kalender digital di layar sampingnya. Jadwal hari Senin terbuka dari pukul tujuh pagi sampai hampir tengah malam.
Di antara rapat strategi dan evaluasi produk, ada ruang kosong enam menit pada pukul empat lewat lima puluh empat sore.
Enam menit di hari seorang pria yang menghitung waktu seperti uang.
Aku berjalan keluar sambil tersenyum.
Aku sudah tahu apa yang akan kulakukan dengan enam menit itu.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat reading
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima