Chapter Twenty One
Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
POV Arsen
Ada tiga jalan keluar dari mosi Bram.
Pertama, aku bisa menyerahkan rapat kepada Keanu dan bicara lewat sambungan video dari ruangan tertutup. Aman, efisien, dan sesuai kebiasaan yang membuat Bram berani menganggapku bisa terus disembunyikan.
Kedua, aku bisa meminta pengadilan menunda pemungutan suara. Dasar hukumnya cukup, tetapi Evolte akan terlihat seperti perusahaan yang tak mampu menyelesaikan masalah di dalam rumah sendiri.
Ketiga, aku bisa datang, membuka bukti di depan komisaris, lalu berdiri di hadapan kamera yang sudah menunggu kejatuhanku.
Aku memilih yang ketiga.
“Saya suka perkembangan karakter,” kata Keanu. “Saya kurang suka bagian saat kamu mengumumkannya empat belas jam sebelum rapat.”
Kami berada di War Room bersama Maya, Celine, tim komunikasi, dan auditor independen dari Arunika Forensics. Layar utama menampilkan agenda rapat. Layar kedua berisi daftar pertanyaan media yang mungkin keluar setelahnya.
“Kalau aku cuma menang di ruang rapat, Bram masih bisa menang lewat narasi,” kataku.
Direktur komunikasi menggeser kacamatanya. “Konferensi pers langsung akan berisiko. Media pasti bertanya soal riwayat kesehatan, video lama, dan hubungan Anda dengan Mbak Celine.”
“Mereka boleh bertanya. Bukan berarti semua pertanyaan harus dijawab.”
“Kita bisa membangun konteks yang lebih simpatik,” katanya hati-hati. “Misalnya, sosok pemimpin yang kembali berani tampil berkat dukungan orang terdekat.”
“Tidak.”
Ia berhenti mencatat.
“Celine bukan perisai reputasiku,” lanjutku. “Namanya disebut hanya untuk menjelaskan hasil pemeriksaan kredensial dan kontribusi kerjanya. Tidak ada cerita romantis, tidak ada spekulasi soal siapa menyembuhkan siapa.”
Di sisi meja, Celine mengangkat pandangannya. Wajahnya tetap profesional, tetapi bahunya turun sedikit.
“Baik,” kata direktur komunikasi. “Kita fokus pada tata kelola, temuan audit, dan langkah hukum.”
Maya membagikan batas pengungkapan. Bukti yang belum diverifikasi tidak boleh disebut. Nama kontraktor hanya keluar setelah surat pembekuan diterima. Rekaman lama tidak akan diputar atau dijadikan pembelaan.
“Kalau mereka bilang kondisi psikologis Anda membuat Anda tidak layak memimpin?” tanya salah satu staf komunikasi.
“Aku jawab bahwa kesehatan mental bukan ukuran kompetensi, lalu tunjukkan hasil perusahaan dan struktur pengawasan yang berlaku.”
“Kalau ditanya apakah Anda masih mengalami serangan panik?”
“Aku tidak membahas catatan medis pribadi.”
“Kalau ditanya kenapa baru muncul sekarang?”
“Karena hari ini ada kepentingan perusahaan yang perlu aku wakili langsung.”
Celine menyilangkan tangan. “Terlalu aman.”
Semua orang menoleh kepadanya.
“Wartawan nggak akan berhenti di jawaban itu,” katanya. “Mereka akan bilang kamu bersembunyi bertahun-tahun dan cuma keluar karena terpojok.”
“Lalu jawabanmu?” tanyaku.
“Aku bukan kamu.”
“Anggap kamu aku.”
“Sulit. Aku jauh lebih menyenangkan.”
Keanu menutup mulut untuk menyembunyikan tawa. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, mata Celine punya kilau lamanya. Hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat ruangan terasa lebih mudah dihuni.
Ia berdiri dan pindah ke ujung meja seperti wartawan yang bersiap menyerang.
“Pak Arsen, apa kemunculan Anda hari ini membuktikan bahwa selama ini Evolte dipimpin seseorang yang takut menghadapi publik?”
“Tidak. Itu membuktikan Evolte dipimpin dengan pembagian peran yang sengaja kami pilih.”
“Jawaban brosur. Lagi.”
Aku menahan keinginan untuk menatap naskah.
“Aku memilih bekerja di belakang layar karena itu tempat aku memberi hasil terbaik,” kataku. “Hari ini hasil terbaik menuntutku berdiri di depan. Jadi aku di sini.”
“Lebih bagus.” Celine tidak memberiku waktu bernapas. “Benarkah keputusan Anda dipengaruhi sekretaris yang punya hubungan pribadi dengan Anda?”
“Keputusan bisnis diuji oleh data dan dewan, bukan kedekatan pribadi.”
“Anda menyangkal hubungan itu?”
Pertanyaan yang sama. Ruangan berbeda. Kali ini aku tidak akan mengambil hak Celine lewat satu jawaban yang tampak aman.
“Aku tidak akan membahas kehidupan pribadi seorang karyawan untuk memuaskan rasa ingin tahu publik,” jawabku. “Yang bisa aku pastikan, Celine Maheswari tidak membocorkan dokumen Evolte. Ia membantu menemukan orang yang memakai identitasnya.”
Celine memandangku beberapa detik, lalu mengangguk. “Pakai itu.”
Latihan berlanjut selama satu jam. Ia menyerang semua titik lemah. Nilai akuisisi, konflik kepentingan, kondisiku, bahkan tuduhan bahwa bukti dibuat untuk menyelamatkan jabatan. Aku menjawab sampai kalimatku tidak lagi terdengar seperti sesuatu yang disusun tim hukum.
Setelah latihan, aku mengubah urutan publikasi yang disiapkan tim komunikasi. Hasil audit tidak boleh lebih dulu masuk ke media. Karyawan harus menerimanya lima menit sebelum konferensi, mitra pusat data dua menit setelahnya, dan regulator mendapat paket lengkap begitu rapat komisaris ditutup.
“Kalau kita kalah suara?” tanya direktur komunikasi.
“Urutannya tetap sama. Bedanya, Keanu yang mengumumkan transisi sementara.”
“Kamu sudah menyiapkan pernyataan kalau diberhentikan?” tanya Keanu.
“Sudah.”
Ia mengambil tabletku dan membaca. “Tidak ada serangan ke Bram.”
“Kalau bukti kita belum bisa mengubah suara, berarti prosesnya harus lanjut tanpa aku. Menuduh lebih keras nggak akan membuat buktinya lebih kuat.”
Celine menatapku dari seberang meja. “Kamu benar-benar siap kehilangan jabatan?”
“Aku siap memastikan Evolte tetap jalan kalau itu terjadi.”
Itu bukan sikap pasrah. Aku sudah memisahkan otorisasi produk, keuangan, dan keamanan agar satu mosi tidak bisa membekukan perusahaan. Keanu memegang mandat operasional tiga puluh hari. Maya punya wewenang menjaga bukti tanpa persetujuan komisaris yang sedang diperiksa. Bahkan jika besok aku dikeluarkan pukul sepuluh, gaji dua ribu karyawan tetap dibayar dan sistem klien tetap menyala.
Pemimpin yang cuma bisa menjaga perusahaan selama ia duduk di kursi utama belum membangun perusahaan. Ia cuma membangun ketergantungan.
Di sela latihan, ponsel pribadiku bergetar. Pesan dari dokter yang sudah mendampingiku empat tahun terakhir muncul di layar.
Dr. Anwar: Rencana grounding sudah saya baca. Ingat, keluar ruangan adalah pilihan pengamanan, bukan kegagalan. Hubungi saya setelah konferensi.
Aku membalas bahwa aku mengerti. Di saku dalam jas ada kartu kecil berisi lima hal yang bisa kulihat, empat yang bisa kusentuh, dan satu kalimat yang tidak lagi terasa memalukan: tubuhku sedang mengingat bahaya yang sudah lewat.
Celine bukan obatku. Ia juga bukan alasan satu-satunya aku berani keluar. Aku punya dokter, rencana, dan kemampuan untuk meminta jeda jika perlu.
Yang ingin kulakukan untuknya bukan sembuh seketika.
Aku cuma ingin berhenti memakai luka lama sebagai izin untuk melukainya.
Menjelang tengah malam, auditor mengirim hasil awal. Identitas delegasi Kestrel memang dipulihkan lewat Trivara. Invoice dan jejak aksesnya sah, tetapi hubungan pembayaran ke pihak Bram masih harus dibuktikan di rapat.
Maya menutup laptop. “Cukup. Semua pulang. Besok kita butuh kepala yang masih berfungsi.”
Keanu membawa tim komunikasi keluar. Auditor pindah ke ruang sebelah untuk menyegel salinan bukti. Celine tinggal karena daftar agenda rapat di tangannya belum selesai diperiksa.
“Kamu juga harus pulang,” kataku.
“Dua menit.”
Ia berdiri di depanku, membaca urutan agenda, lalu mendecakkan lidah.
“Dasimu miring.”
Tanganku refleks naik, tetapi Celine lebih dulu meraih simpulnya.
“Diam,” katanya. “Besok kamu mau bikin komisaris takut. Masa kalah sama dasi?”
Jarinya menarik kain itu pelan, meluruskan simpul, lalu merapikan kerahku. Gerakannya singkat dan profesional. Tidak ada parfum yang sengaja didekatkan, tidak ada bibir merah yang dipakai untuk mengacaukan konsentrasiku seperti dulu.
Entah kenapa, justru itu terasa lebih intim.
Sebelum ia menarik tangan, aku menahan ujung jarinya. Tidak kuat. Cukup agar ia tahu aku meminta satu detik, bukan mengambilnya.
Ia tidak menjauh.
“Setelah ini,” kataku, “kalau kamu masih mau, aku mau bicara sebagai Arsen.”
Matanya turun ke tanganku, lalu kembali menatapku.
“Jangan tanya kalau kamu belum siap dengar jawabannya.”
“Kali ini aku siap.”
“Kamu bilang begitu sekarang.”
“Kalau jawabannya bukan yang aku mau, aku tetap siap.”
Senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Bukan jawaban, tapi juga bukan penolakan.
“Menangkan rapatmu dulu, Bos.”
Ia menarik tangannya perlahan dan pergi membawa daftar agenda. Aku tetap berdiri di tempat sampai pintu tertutup.
Keanu kembali lima menit kemudian dengan wajah yang menghapus sisa hangat dari ruangan.
“Dua komisaris independen pindah,” katanya. “Bram menjanjikan transisi cepat ke Northstar kalau mosi lolos.”
Ia meletakkan tabel suara di layar.
Lima mendukung pemberhentianku. Empat menolak.
“Mayoritas sementara sudah dikunci,” kata Keanu.
Aku membaca kelima nama itu, lalu membuka susunan bukti untuk besok.
“Belum dikunci,” kataku. “Mereka baru memilih sebelum melihat harganya.”
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat reading
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima