Chapter Eighteen
Tersangka Bernama Celine Maheswari
POV Celine
Maya memanggilku ke ruang Legal pukul sebelas lewat empat puluh tujuh.
Di sana sudah ada Arsen, Keanu, kepala keamanan siber, dan perwakilan HR. Tak ada kopi, tak ada basa-basi, dan tak ada kursi kosong di sebelah Arsen yang sengaja disiapkan untukku.
Bagus. Aku tidak datang sebagai sekretarisnya.
Maya memutar layar ke arahku. “Kredensialmu dipakai mengunduh tujuh belas dokumen dari folder akuisisi.”
Aku membaca waktu, lokasi, dan identitas perangkat.
Pukul nol lewat empat puluh satu. Workstation eksekutif. Token milikku. Bahkan sidik perangkatnya cocok dengan laptop kantor yang selama ini kupakai.
“Aku ada di lantai tiga puluh tujuh saat itu,” kataku.
“Kami tahu,” jawab Maya. “Kamu menunggu rapat komisaris selesai.”
Itu membuat bukti tersebut lebih buruk, bukan lebih baik.
Perwakilan HR menyatukan tangan di atas meja. “Dengan mempertimbangkan sifat datanya, langkah awal yang wajar adalah penangguhan sementara.”
“Berdasarkan apa?” tanya Arsen.
“Kredensial, perangkat, akses fisik, dan kemungkinan motif setelah pernyataan publik.”
“Motif dari artikel gosip bukan temuan forensik,” kata Arsen. “Ikuti prosedur. Bekukan akses yang relevan, tawarkan pendampingan, dan beri Celine kesempatan menjawab sebelum rekomendasi sanksi.”
Suaranya tenang. Bukan pembelaan membabi buta, melainkan instruksi yang akan ia beri kepada siapa pun jika proses mulai melompat terlalu jauh.
Perwakilan HR menoleh kepadaku. “Apakah Anda mengakui melakukan unduhan?”
“Nggak.”
“Apakah ada orang lain yang mengetahui kata sandi Anda?”
“Nggak ada.”
“Pernah meninggalkan perangkat tanpa pengawasan?”
Aku menatap waktu akses lagi.
Malam itu, aku duduk di meja lama sambil menyusun handover. Pukul nol lewat tiga puluh, printer di ruang dokumen macet. Aku pergi untuk mengambil hasil cetak dan kembali beberapa menit kemudian. Laptop terkunci otomatis setelah satu menit.
“Aku meninggalkan meja sekitar tujuh menit,” kataku. “Laptop terkunci. Kartu akses tetap kubawa.”
Kepala keamanan menggeleng. “Log menunjukkan autentikasi memakai token sesi yang sudah aktif. Pelaku tidak butuh kata sandi kalau berhasil menyalin token sebelumnya.”
“Dari mana token itu bisa disalin?”
“Integrasi kalender lama, terminal ruang rapat, atau malware. Kami masih periksa.”
Maya menyodorkan dokumen hak pendampingan dan ruang lingkup pemeriksaan. “Kamu boleh minta pengacara di luar perusahaan. Kamu juga boleh menolak wawancara lanjutan sampai pendamping hadir.”
Aku membaca seluruh halaman sebelum menandatanganinya.
“Aku akan jawab sekarang,” kataku. “Tapi aku mau salinan notulen, daftar bukti yang dipakai, dan semua pertanyaan diajukan lewat kamu.”
“Disetujui,” kata Maya.
Arsen tidak menyela. Itu bentuk kepercayaan yang baru: membiarkanku menentukan cara membela diri.
Kepala keamanan membuka rekaman layar. Tepat pukul nol lewat empat puluh satu, akun milikku masuk ke folder akuisisi, memilih tujuh belas berkas, membungkusnya dalam arsip terenkripsi, lalu mengirim tautan ke alamat sementara.
Gerakannya cepat. Terlalu cepat untuk orang yang mencari dokumen secara acak.
“Pelaku tahu persis berkas yang dibutuhkan,” kataku.
“Atau pemilik akun sudah tahu letaknya,” ujar perwakilan HR.
“Kalau aku yang ambil, kenapa memakai workstation kantor dan kredensial sendiri saat tahu seluruh aktivitas dicatat?”
“Kesalahan tetap mungkin.”
“Benar. Tapi orang yang cukup paham memilih tujuh belas dokumen dalam sembilan puluh detik juga cukup paham pakai jalur yang tidak langsung menunjuk dirinya.”
Arsen menatap layar. “Periksa urutan pembukaan file. Bukan cuma daftar akhirnya.”
Kepala keamanan menjalankan ulang log. Pelaku membuka file berdasarkan urutan rapat, bukan urutan nama atau tanggal.
Aku mengenali polanya.
“Dia mengikuti kalender,” kataku.
Maya menoleh. “Jelasin.”
Aku berdiri dan mengambil spidol. Di papan, kutulis lima agenda rapat komisaris dalam dua bulan terakhir. Setiap agenda punya folder bahan sendiri, tetapi nama berkas di server tidak sama dengan judul rapat. Untuk mengambilnya secepat itu, pelaku harus tahu pertemuan mana yang membahas akuisisi, lalu mengikuti nomor agenda.
“Informasi ini ada di kalender eksekutif,” kataku. “Bukan kalender umum. Orangnya memantau jadwal lantai tiga puluh tujuh.”
“Banyak orang punya akses baca,” kata Keanu.
“Tapi malam itu ada anomali.”
Aku membuka salinan kalender yang sudah masuk ke folder handover. Pukul nol lewat tiga puluh empat, muncul agenda singkat bernama Board Overflow di ruang strategi. Dua menit kemudian, agenda itu hilang. Aku ingat karena notifikasinya sempat membuat layar berkedip saat mencetak surat.
“Undangan itu bikin aku pergi ke printer,” kataku. “Lampiran rapat otomatis masuk antrean cetak. Waktu sampai sana, nggak ada dokumen baru. Aku kira sistem salah.”
Kepala keamanan memeriksa riwayat kalender. “Agenda dibuat dari akun resource komisaris, lalu dihapus permanen.”
“Siapa yang punya hak?” tanya Maya.
“Sekretariat dewan, Legal tertentu, dan kantor Pak Bram.”
Perwakilan HR menatap Arsen. “Itu belum membuktikan siapa pun.”
“Dan log unduhan belum membuktikan Celine,” jawabnya.
Mata kami bertemu untuk pertama kali sejak rapat dimulai.
“Saya percaya Celine tidak mengambil dokumen itu,” kata Arsen, cukup jelas untuk didengar semua orang. “Namun kepercayaan saya bukan bukti. Pemeriksaan tetap dipimpin Maya, dan saya tidak akan ikut menentukan hasil.”
Ia mempercayaiku secara terbuka tanpa mencoba menukar kepercayaan itu dengan pengampunan.
Dadaku terasa hangat, lalu segera kuingatkan agar tidak salah membaca satu tindakan benar sebagai penyelesaian seluruh luka.
“Aku mau bantu,” kataku. “Bukan sebagai sekretaris pribadi. Sebagai saksi dan orang yang paham alur eksekutif.”
Maya mengangguk. “Batasnya?”
“Aku lapor ke kamu. Semua permintaan tertulis. Nggak ada akses baru tanpa pendamping, dan pekerjaanku cuma memetakan jadwal serta alur orang.”
“Setuju,” kata Arsen.
Aku menoleh kepadanya. “Aku belum tanya kamu.”
“Benar.” Ia mengalihkan pandangan kepada Maya. “Keputusanmu.”
Maya menahan senyum kecil. “Aku setuju.”
Rapat berhenti sepuluh menit agar Maya menyiapkan mandat tertulis. Saat Keanu dan HR keluar, Arsen tetap berdiri di dekat pintu, sengaja menjaga jarak.
“Aku nggak akan minta kamu menarik pengunduran diri karena kasus ini,” katanya.
“Bagus.”
“Dan aku percaya kamu bukan karena aku...” Ia berhenti sejenak. “Bukan karena perasaanku. Pola aksesnya nggak cocok dengan caramu bekerja.”
“Kamu nggak perlu memisahkan keduanya sampai kalimatmu patah.”
“Aku perlu memastikan kamu tahu.”
Aku menatapnya. Ini bukan Arsen yang mencoba menyelesaikan semuanya dengan satu perintah. Ia memberi informasi, lalu menunggu jawabanku.
“Yang kubutuhkan proses yang nggak mengistimewakan atau mengubur aku,” kataku. “Bukan penyelamatan.”
“Kamu akan dapat itu.”
“Kalau buktinya nanti benar-benar menunjuk aku?”
“Maya yang menentukan langkah. Bukan aku.”
Jawabannya tidak romantis. Justru itu yang membuatnya bisa dipercaya.
Kami bekerja sampai sore. Aku memetakan setiap orang yang tahu jadwal rapat, perubahan ruangan, dan kebiasaan lantai eksekutif. Polanya kembali ke beberapa permintaan terlambat dari kantor Bram. Nama asistennya, Raka Santoso, muncul pada tiga perubahan gala, dua pemesanan ruang, dan akun resource yang membuat agenda palsu.
Kepala keamanan menemukan alamat IP yang dipakai menghapus agenda. Jalurnya melewati VPN komersial, tetapi perangkat mendaftar dengan konfigurasi bahasa dan zona waktu yang sama seperti laptop Raka.
Maya menyandarkan tubuh ke kursi. “Kalau kita susun semua ini, arahnya ke dia.”
Aku melihat buktinya sekali lagi.
Agenda palsu memakai akun yang terhubung kantor Bram. Perangkat menyerupai milik asistennya. Perubahan lama juga membawa namanya.
Semuanya terlalu mudah.
“Nggak,” kataku.
“Kita bekukan akses Raka?” tanya kepala keamanan.
“Jangan,” jawabku. “Perubahan mendadak akan kasih tahu orang di belakangnya bahwa kita sudah lihat jejak ini. Batasi salinan data sensitif lewat kebijakan umum, bukan lewat namanya.”
Maya mencatat usul itu. “Aku buat pembatasan untuk seluruh akun sekretariat dewan. Alasan resminya audit akses pascainsiden.”
Dengan begitu, kami menjaga data tanpa memberi pelaku petunjuk bahwa umpan pertamanya gagal.
Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat pintu mengangkat pandangan.
“Raka mungkin terlibat,” lanjutku. “Tapi orang yang bisa menyalin token dan membuat jejak sebersih ini nggak akan lupa menyamarkan zona waktu. Bukti ini sengaja ditaruh supaya kita berhenti di dia.”
Arsen menatap papan, lalu garis-garis yang kutarik.
“Bram memberi kita tersangka,” katanya. “Bukan bukti.”
Untuk pertama kalinya sejak aku berhenti mengejarnya, pikiran kami bergerak ke arah yang sama.
Kami bukan atasan dan sekretaris. Bukan juga dua orang yang hampir berciuman.
Kami adalah dua orang yang sama-sama tahu sedang diajak bermain.
Dan kali ini, kami berniat mengubah aturannya.
- 1 Surat Pengunduran Diri di Meja Sang Bos
- 2 Sekretaris yang Tidak Takut Dipecat
- 3 Enam Menit untuk Membuat Bos Tersenyum
- 4 Jangan Duduk di Kursi Saya
- 5 Pipi yang Bertemu di Kursi Belakang
- 6 Otak di Balik Dua Puluh Tiga Triliun
- 7 Kalau Aku Tarik Dasinya
- 8 Aroma yang Masih Diingatnya
- 9 Sepuluh Detik dan Satu Kekalahan
- 10 Perempuan Berkebaya Hijau Zamrud
- 11 Jemari di Tengkukku
- 12 Satu Kamar Rapat Setelah Tengah Malam
- 13 Lelaki yang Tidak Perlu Diselamatkan
- 14 Takut Saya Cium?
- 15 Saya Tidak Memiliki Hubungan Pribadi Dengannya
- 16 Mulai Besok Saya Tidak Akan Menggoda Bapak Lagi
- 17 Kantor yang Kembali Sunyi
- 18 Tersangka Bernama Celine Maheswari reading
- 19 Mastermind Melawan Mastermind
- 20 Hal yang Tidak Pernah Diceritakan Arsen
- 21 Hari Ketika Arsen Memilih Terlihat
- 22 Rapat Terakhir Sang Komisaris
- 23 Pria yang Selama Ini Mereka Cari
- 24 Lipstik Merah dan Ciuman Pertama
- 25 Pacar Rahasia Sang CEO
- 26 Minggu Pertama Menjadi Pacar Arsen
- 27 Perempuan yang Membuat Arsen Pulang
- 28 Bukan Lagi Sekretarisnya
- 29 Kencan yang Tidak Masuk Agenda
- 30 Agenda Tambahan Sebelum Pukul Lima