Chapter Nine
MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
POV: Marina
Tujuh menit.
Itu jatah makan siang yang diberikan jadwalku untuk hari Kamis, dua minggu setelah pameran Ibu. Naya menyebutnya “celah”. Aku menyebutnya cukup untuk satu roti dan dua panggilan kerja.
Fakhri membaca jadwal yang sama di tabletnya, lalu menatapku di depan lift.
“Ibu makannya kapan?”
“Ada di situ.”
“Di sini tertulis tujuh menit.”
“Aku bisa makan cepat.”
“Saya nggak bisa, Bu.”
Ia mengatakannya datar, tanpa nada protes. Dan baru saat itu aku sadar: jadwalku bukan cuma milikku. Kalau aku makan tujuh menit, ia menyetir dari satu titik ke titik lain tanpa jeda sama sekali.
“Kamu sudah istirahat tadi pagi,” kataku, terdengar lebih defensif daripada yang kumaksud.
“Sudah, Bu. Tapi saya tetap perlu makan siang dan berhenti nyetir sebentar. Jamnya sudah saya laporkan ke Bu Naya dari minggu lalu.”
Aku membuka kalender. Setelah makan siang ada pemeriksaan materi kampanye oleh tim desain sendiri. Bukan klien dari luar kota. Bukan investor. Rapat yang bisa digeser kalau aku mau.
“Aku telepon mereka.”
“Ibu nggak perlu ubah jadwal karena saya. Saya bisa minta sopir pengganti buat perjalanan berikutnya.”
“Aku ubah jadwal karena jadwalku jelek. Itu beda.”
Kepala tim desain malah terdengar lega waktu kuminta mundur setengah jam; katanya mereka butuh waktu tambahan untuk cek hasil cetak. Lalu aku mengirim pesan ke Naya: tandai jam makan sebagai agenda sungguhan, bukan ruang kosong yang boleh diisi tanpa tanya. Naya membalas dengan tiga emotikon tepuk tangan dan satu emotikon menangis terharu.
Aku memperlihatkannya ke Fakhri. “Kamu sama Naya punya grup khusus buat ngomongin kebiasaan burukku?”
“Kalaupun ada, saya nggak akan ngaku, Bu.”
Kami berhenti di warung makan kecil dekat kantor cabang. Fakhri memilih meja yang teduh tapi tidak di pojok. Aku pesan nasi ayam dan membawa nampan sendiri. Lauk pesanannya masih harus menunggu.
“Aku mulai duluan?” tanyaku.
“Iya, Bu. Kalau nunggu saya, nasinya keburu dingin.”
“Biasanya orang cukup bilang ‘silakan’. Nggak pakai laporan suhu nasi.”
“Saya mau Ibu beneran makan, Bu. Bukan cuma sopan.”
Aku sudah menelan suapan pertama ketika ia kembali dengan nasi, sayur, dan segelas kopi hitam. Tanpa gula; aku melihatnya menolak sachet yang disodorkan ibu warung.
“Kopi? Katanya kamu harus makan siang.”
Ia menunjuk piringnya. “Ini makan siang, Bu. Kopinya bonus.”
“Aku mau foto sebagai bukti.”
“Ibu bisa lihat langsung. Lebih valid.”
Aku tertawa. Di meja sebelah, dua pegawai Asterra yang wajahnya kukenal dari lantai lima sedang membahas rancangan poster sambil menyendok soto. Salah satunya menyebut “konversi” untuk sesuatu yang jelas-jelas maksudnya “jangkauan”. Kepalaku menoleh sendiri.
Fakhri melihatnya. “Kalau Ibu mau gabung rapat meja sebelah, saya bisa makan sendiri.”
“Aku nggak diundang.”
“Nah.”
“Kamu sekarang berani melarang aku kerja waktu makan?”
“Saya cuma kasih informasi, Bu. Nasinya masih di depan Ibu.”
Ada beda antara diurus dan diingatkan. Aku belum selalu tahu di mana garisnya, tapi Fakhri jarang melangkahinya tanpa alasan. Aku kembali ke piringku.
Lalu salah satu pegawai itu mengenaliku. Wajahnya pucat sebentar, lalu bersemangat. Ia berdiri dengan ponsel di tangan, siap menunjukkan poster. Aku sudah setengah membuka mulut untuk bilang duduk, coba jelaskan.
Fakhri berhenti mengunyah. Tidak menyela. Hanya menunggu, seperti ia menunggu lampu berganti hijau.
“Kirim ke Naya, ya,” kataku akhirnya. “Aku lihat habis makan. Kalau ada yang harus diputuskan sebelum rapat, Naya yang telepon.”
“Siap, Mbak!” Pegawai itu kembali ke mejanya, sama sekali tidak tersinggung. Malah kelihatan lega.
Aku menatap Fakhri. “Kamu sengaja diam?”
“Itu kerjaan Ibu. Saya nggak tahu posternya semendesak apa.”
“Aku juga nggak tahu. Makanya kulempar ke Naya.”
Ia mengangguk dan kembali makan. Ia tidak memujiku karena berhasil menjaga jam makan sendiri, dan anehnya, diamnya terasa lebih enak daripada pujian.
“Oven studio adikmu jadi diperbaiki?” tanyaku.
Fakhri meletakkan sendok. “Ibu ingat?”
“Pesannya muncul di layar waktu kamu nyetir mobil logistik. Susah dilupakan. Oven drama, katamu.”
“Sabtu kemarin saya ke sana. Ternyata cuma pengatur suhunya longgar. Teknisi juga sudah cek listriknya. Aman.”
“Dia bikin apa saja?”
“Gelas, mangkuk. Kadang vas yang bentuknya bikin saya bingung mau diisi apa. Tapi pembelinya suka.”
“Kamu bantu apa di sana?”
“Kalau di studio, saya punya dua jabatan, Bu. Kuli angkut sama juri warna. Juri yang pendapatnya jarang dipakai.”
“Dua jabatan.”
“Tiga.”
“Yang ketiga?”
“Sopir yang lagi disuruh makan siang sama bosnya.”
Ia mengucapkannya datar, tapi waktu menunduk ke piring, aku menangkap senyum tipis di ujung bibirnya. Dan entah kenapa, aku ingin mengingat cara ia menyusun kalimat itu. Untuk kuceritakan ke Ibu nanti malam. Mungkin.
Di kantor, tim desain sudah mengirim materi ke tabletku. Setengah jam tambahan tadi ternyata cukup bagi mereka untuk menemukan satu harga promo yang belum diperbarui. Kalau rapat dimulai sesuai jadwal lama, kemungkinan besar aku sudah menyetujuinya.
Tujuh menit makan siang itu ternyata jauh lebih mahal dari kelihatannya.
Naya menunggu di depan ruang rapat dengan senyum yang terlalu lebar. “Gimana makan siang tiga puluh menitnya, Mbak?”
“Empat puluh. Kalau dihitung perjalanan.”
“Kucatat sebagai rekor perusahaan.”
“Jangan disebar.”
“Mbak CEO takut reputasinya rusak karena makan sampai habis?”
“Aku takut kamu jadikan ini kebijakan wajib.”
Naya mengangkat tablet. “Terlambat. Draftnya sudah jadi.”
Aku hampir protes, lalu teringat dua pegawai di warung tadi, rapat sambil menyendok soto. Jadwal yang kupaksakan ke diriku sendiri ternyata diam-diam jadi standar tak tertulis untuk orang lain.
“Pastikan rapat internal berikutnya nggak makan jam istirahat tim desain,” kataku. “Dan bilang ke mereka, pilihan foto bisa diputuskan besok. Hari ini aku cuma perlu harga dan info produk.”
“Mereka bakal senang. Tadi ada yang takut semua harus final hari ini.”
“Siapa yang bilang begitu?”
“Nggak ada yang bilang langsung, Mbak. Mereka baca dari tenggat di kalender Mbak.”
Kalimat itu lebih menusuk daripada kritik mana pun.
Di dalam ruang rapat, seseorang bertanya kenapa jadwal digeser. Aku tidak bilang sopirku minta istirahat. Aku bilang, “Aku numpuk terlalu banyak hal di jam yang sama. Salahku.” Ternyata mengakuinya tidak membuat gedung ini runtuh.
Sore harinya, Naya datang lagi membawa dua berkas. Satu materi cetak. Satu formulir izin tukar jam kerja Fakhri untuk Sabtu ini.
“Mau bantu Aisyah antar pesanan keramik, ya?” tanyaku sambil menandatangani.
Naya diam.
Aku mendongak. “Apa?”
“Mbak tahu nama adiknya.”
“Ada di formulir.”
“Nggak ada.” Naya menunjuk kolom alasan. “Di sini cuma tertulis ‘keperluan keluarga’.”
Aku mengambil berkas materi cetak dengan gerakan yang semoga terlihat profesional. “Kamu terlalu banyak memperhatikan.”
“Belajar dari atasan, Mbak.”
Ia pergi, meninggalkanku dengan senyum yang susah kuhapus dan rasa tidak nyaman karena orang kantor mulai menebak sesuatu yang bahkan belum kupahami sendiri.
Saat Fakhri menjemputku petang itu, aku bertanya apakah studio Aisyah menerima pembeli yang datang langsung. Ibu sedang mencari mangkuk yang tidak cuma cantik di rak, kataku. Dan itu benar. Setidaknya sebagian.
Fakhri menjelaskan jam buka studio hari Sabtu dan mengirim alamatnya setelah mobil berhenti di depan rumahku. Lalu satu pesan lagi menyusul:
Aisyah paling senang kalau pembelinya jujur bilang barang mana yang disuka, Bu.
Aku tersenyum membacanya di teras, cukup lama sampai lupa bahwa aku seharusnya masuk rumah.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT reading
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?