← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Six

KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI

POV: Fakhri

Senin pagi, mobil Bu Marina memutuskan mogok kerja lebih dulu daripada siapa pun di kantornya.

Lampu tekanan oli menyala merah begitu mobil kukeluarkan dari garasi. Aku langsung mematikan mesin, memotret panel, dan mengirimnya ke bagian armada. Mobil yang lampu olinya menyala itu seperti orang yang bilang “aku nggak apa-apa” sambil pucat. Lebih aman percaya pada pucatnya.

Lima menit kemudian Marina keluar rumah dengan tas kerja di bahu dan ponsel menempel di telinga. Ia menurunkannya begitu melihat mobil masih diam di halaman.

“Kita belum jalan?”

“Belum, Bu. Lampu olinya nyala. Unit cadangan sudah saya minta.”

“Parah?”

“Belum tahu. Dan saya nggak mau tahunya di tengah tol.”

Ia melirik jam tangan. Aku menunggu kalimat yang biasanya keluar dari orang dengan rapat jam sembilan: coba nyalakan lagi, paling sensornya doang. Kalimat itu tidak datang. Marina malah menelepon Naya dan minta rapat pertamanya disiapkan versi panggilan video, untuk jaga-jaga.

“Kamu baru beberapa hari pegang mobil ini,” katanya setelah menutup telepon.

“Iya, Bu. Nanti bengkel yang bisa bilang rusaknya mulai kapan.”

“Aku nggak lagi nyalahin kamu.”

“Saya tahu. Saya juga nggak mau buru-buru nyalahin sopir sebelumnya.”

Sudut bibirnya bergerak sedikit. “Kamu selalu seadil ini jam tujuh pagi?”

“Kalau jam tujuh malam, saya biasanya lebih pemaaf, Bu.”

Mobil cadangan datang dua belas menit kemudian: hatchback kecil milik tim logistik, yang biasa dipakai mengangkut contoh produk. Jok belakangnya dilipat, dan dua peti kemasan kosong diikat di sana dengan tali pengunci. Petugas armada minta maaf berkali-kali. Petinya baru bisa diturunkan setelah ia kembali ke gudang.

“Kita tunggu petinya diturunkan saja, Bu,” kataku. “Paling setengah jam.”

“Aku duduk di depan.”

Petugas armada menatapku seperti aku baru disuruh menyetir dengan mata tertutup. Marina sudah membuka pintu depan sendiri, memasang sabuk, dan menaruh tas di pangkuan.

“AC depan nyala, kan?”

“Nyala, Bu.”

“Ya sudah. Berangkat.”

Masalahnya, di kursi depan tidak ada spion yang menengahi kami. Saat aku menyetel kaca dan posisi jok, Marina memperhatikan tanganku dari jarak yang biasanya diisi konsol tengah dan satu kursi kosong.

“Ternyata kamu banyak gerak sebelum jalan,” katanya.

“Biasanya Ibu lihatnya dari belakang.”

“Biasanya aku bisa pura-pura nggak lihat.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu. Untung lampu gerbang kompleks berubah hijau.

Laptopnya bertahan tiga menit. Kursi depan hatchback memang tidak dirancang untuk CEO yang mengetik sambil memangku tas. Ia menutupnya dengan helaan napas, lalu, untuk pertama kalinya sejak aku bekerja untuknya, menonton jalan alih-alih layar.

“Kamu belajar nyetir dari siapa?”

“Ayah saya. Di lapangan kosong dekat rumah. Minggu pertama saya cuma disuruh mundur lurus. Bolak-balik sampai bosan.”

“Kenapa mundur?”

“Katanya, orang yang cuma bisa maju gampang kebanyakan percaya diri.”

Marina tertawa kecil. “Itu nasihat hidup yang menyamar jadi pelajaran parkir.”

“Ayah saya memang begitu, Bu. Sampai sekarang. Bedanya, sekarang lewat telepon, kalau saya telat ngabarin.”

Ia mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh. Aku lega; keluargaku bukan bagian dari kontrak kerja. Tapi anehnya, ada bagian kecil dari diriku yang kecewa karena ia berhenti bertanya.

Kami tertahan di perlintasan kereta. Marina memiringkan kepala ke arahku.

“Waktu wawancara, kamu bilang melamar karena gajinya menarik. Jujur, aku kira itu jawaban buat ngetes reaksiku.”

“Itu jawaban jujur, Bu.”

“Kerjaanmu dulu nggak menghasilkan?”

“Menghasilkan. Cuma tanggalnya nggak bisa ditebak.”

Ia menunggu. Keretanya panjang, dan aku memutuskan memberinya versi pendek.

“Dulu saya freelance. Bikin sistem laporan penjualan buat klien, kebanyakan dari luar negeri. Ada bulan yang bagus. Ada juga bulan saya selesaikan proyek tiga minggu, terus dua bulan nagih invoice.” Aku mengangkat bahu. “Klien di sana masih siang, kirim revisi pas di sini jam satu pagi. Lama-lama saya lupa rasanya tidur nyenyak.”

Versi panjangnya, saldo rekening yang naik-turun seperti grafik saham gorengan, tidak perlu didengar atasan yang baru mengenalku kurang dari seminggu.

“Itu jauh banget dari nyetir,” kata Marina.

“Jauh di caranya, Bu. Nggak terlalu jauh di intinya. Dua-duanya soal ngantar sesuatu sampai tujuan tepat waktu. Bedanya, di jalan saya langsung tahu kalau saya salah belok.”

“Dan kamu bisa balik ke kerjaan itu kapan saja?”

“Mungkin. Tapi sekarang saya nggak mau.”

Ia diam sebentar, menatap palang perlintasan yang mulai terangkat.

“Orang pasti sering bilang kamu menyia-nyiakan kemampuan.”

Aku meliriknya sekilas. “Ibu mau bilang begitu juga?”

“Lagi kutahan.”

Aku tertawa. “Terima kasih sudah menahan.”

“Belum tentu berhasil.”

“Kalau gagal, saya boleh ingatkan aturan nomor lima.”

“Kertas aturan itu harusnya ketinggalan di mobil yang mogok.”

“Fotonya sudah saya simpan, Bu.”

Marina menoleh cepat. “Kamu memotret daftar aturan itu?”

“Pegangan kerja.”

“Oh. Tentu. Sangat profesional.”

Ia mengucapkannya dengan wajah lurus, tapi matanya tidak ikut lurus. Aku harus menatap bemper mobil di depan dengan sangat serius supaya tidak ikut tersenyum.


Seusai rapat pertama, bengkel mengabari bahwa mobil utama harus menginap setidaknya dua hari. Naya menyiapkan sedan pengganti untuk besok. Hari ini, kami masih bersama hatchback logistik.

Untuk perjalanan kedua, peti-peti di belakang sudah diturunkan. Jok belakang kosong dan bersih.

Marina tetap membuka pintu depan.

Aku tidak bertanya. Ia tidak menjelaskan. Kami berdua sepertinya sepakat bahwa sebagian hal lebih aman dibiarkan tanpa judul.

Begitu mesin menyala, radio meledak dengan volume yang pasti disetel orang gudang yang biasa menyetir sambil mengangkut kardus. Aku buru-buru mengecilkannya. Penyiarnya sedang membacakan ramalan cuaca dengan semangat berlebihan untuk langit yang jelas-jelas mendung.

Marina tertawa pendek. “Biarin aja. Rapat yang butuh otakku sudah lewat.”

“Kalau lagu berikutnya jelek, saya ganti, Bu.”

“Sekarang kamu juga yang atur musik?”

“Kalau Ibu keberatan, kita kembali ke aturan nomor tiga.”

Ia menunjuk panel suhu. “Nomor tiga itu soal AC.”

“Berarti kita butuh aturan baru.”

“Jangan sampai nomor sepuluh. Nanti aku harus cetak jadi buku saku.”

Lagu berikutnya lagu lama, jenis lagu yang dulu diputar sopir angkot tanpa minta izin siapa pun. Marina hafal. Ia tidak bernyanyi keras, hanya ikut bagian reff dengan suara rendah sambil menatap keluar jendela. Aku pura-pura tidak dengar. Ada sesuatu yang menyenangkan dari melihat orang yang biasanya berjalan secepat jadwalnya duduk diam selama tiga menit, tanpa harus membuktikan apa-apa ke siapa-siapa.

Di lampu merah, ponselku bergetar di dudukan. Nama Aisyah muncul besar-besar. Kak, Sabtu bisa ke studio? Ovenku bunyi aneh lagi.

“Aisyah?” tanya Marina. Tentu saja ia membacanya. Layarnya tepat di antara kami.

“Adik saya, Bu. Punya studio keramik kecil.”

“Ovennya rusak?”

“Ovennya drama. Hampir tiap bulan.”

“Kamu mau ke sana?”

“Sabtu. Saya balas nanti setelah parkir.”

Ia tidak menawarkan teknisi kantor atau oven baru, seperti yang mungkin dilakukan orang kaya yang ingin kelihatan baik. Ia cuma bilang, “Kalau perlu tukar jam, kabari Naya dari awal.”

“Baik, Bu.”

Lampu hijau. Di tengah jalan yang mulai padat, aku baru sadar kami sudah bicara lebih banyak hari ini daripada lima perjalanan sebelumnya digabung. Separuhnya salah kursi depan. Separuhnya lagi, aku belum tahu salah siapa.

Di depan lobi kantor, Marina mengambil tas dan berhenti dengan satu tangan di gagang pintu.

“Pak Fakhri.”

“Ya, Bu?”

“Aku nggak akan nyuruh kamu balik kerja di depan komputer. Aku cuma penasaran.”

“Soal kerjaan lama saya?”

“Soal orang yang bisa milih ini, dan kelihatan senang ngejalaninnya.”

Aku menatap pintu kaca gedung, menimbang jawaban. “Saya memang senang, Bu. Kalau nanti berubah, saya yang bilang duluan.”

“Bagus.” Ia membuka pintu, lalu menambahkan tanpa menoleh, “Berarti aku boleh terus penasaran.”

Pintu tertutup. Aku menunggu sampai ia masuk lift. Di jok depan yang baru kosong, ada bekas lipatan kecil dari tas kerjanya. Aku merapikannya dengan telapak tangan sebelum menyalakan mesin.

Hal sepele. Tapi entah kenapa, hatchback logistik itu tiba-tiba terasa terlalu sepi.