← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Fifteen

GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU

POV: Marina

Selama dua hari aku tidak mencari alasan untuk mengajak Fakhri makan. Tidak juga mencari alasan untuk tidak mengajaknya. Aku menanyakan rute kalau perlu, menjawab teleponnya kalau mobil sudah siap, dan berhenti menganggap setiap percakapan sebagai tanda kami sudah “normal lagi”.

Tidak ada yang benar-benar normal setelah seseorang tahu kamu ingin makan malam dengannya.

Kamis sore, Ibu mengirim pesan: contoh glasir wadah pensil dari Aisyah sudah datang di studio, dan Ibu sedang di sana. Datang lihat, kalau bisa. Anak-anak juga mau milih.

Aku minta Naya memasukkan kunjungan itu sebagai keperluan pribadi dan mencatat jam kerja Fakhri dengan benar. Lalu satu hal lagi: kalau kunjungannya molor, jeda istirahat Fakhri jangan dipotong. Naya menandai jadwal itu secepat kilat, sebelum aku sempat berubah pikiran.

“Ke studio Aisyah dulu, lalu pulang,” kataku waktu masuk mobil.

“Sudah ada di jadwal, Bu.”

Aku duduk di depan. Ia tidak menoleh, tapi waktu memasang sabuk, ada senyum kecil di wajahnya.

“Kamu senyum kenapa?”

“Saya senang Ibu kasih tahu rutenya tanpa saya harus nebak.”

“Kamu masih belum maafin soal makan malam?”

“Sudah, Bu. Cuma belum lupa.”

“Sama aja.”

“Beda, Bu. Kalau belum maafin, saya minta Naya yang nyetir.”

“Naya nggak bisa nyetir.”

“Persis.”

Aku tertawa. Lalu sunyi datang, bukan karena kami kehabisan bahan, tapi karena aku sadar ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan dan tidak ada di jadwal mana pun.

“Senin kemarin kamu bilang mau jawab sebagai dirimu sendiri,” kataku. “Jawabannya apa?”

“Untuk kalimat Ibu di mobil hari itu?”

“Iya.”

Ia menyalakan sein, berbelok, dan baru menjawab setelah mobil lurus lagi.

“Saya juga lebih suka perjalanan kalau Ibu duduk di sini dan ngobrol sama saya.”

Aku menatap sisi wajahnya. Pandangannya tetap di jalan. Ia tidak menarik kalimat itu, tidak menambahkan maksud saya, Bu.

“Itu jawaban sopir?”

“Bukan.”

Ada dua pilihan di depanku: berhenti di situ dengan sopan, atau tidak. Selama empat tahun jadi CEO, aku hampir selalu memilih yang pertama untuk urusan hidupku sendiri.

“Bagus,” kataku. “Karena aku duduk di depan bukan karena joknya lebih empuk. Aku suka dekat sama kamu. Dan kalau kamu terus jawab kayak tadi, aku bakal makin susah pura-pura sibuk lihat jalan.”

Ia menarik napas pendek. Reaksi kecil yang tidak akan pernah kulihat kalau aku duduk di belakang. Telinganya memerah. Aku mencatatnya dengan kepuasan yang sangat tidak profesional.

“Ibu lagi menggoda saya?”

“Kedengarannya begitu?”

“Kedengarannya Ibu kasih saya pekerjaan baru tanpa deskripsi tugas.”

“Kerjakan saja. Nanti kita nego gajinya.”

“Gaji saya nggak termasuk menebak pikiran Ibu.”

“Sayang sekali. Padahal kamu berbakat.”

“Dan saya nggak mau nebak soal yang ini.”

Lampu merah. Fakhri menoleh setelah mobil berhenti penuh, cukup lama untuk memastikan aku benar-benar mendengar.

“Ibu cuma lagi iseng karena saya selalu ada di mobil? Atau Ibu memang mau kenal saya di luar pekerjaan?”

Pertanyaan itu pantas mendapat jawaban yang tidak bersembunyi di balik godaan berikutnya. Godaan tadi memang menyenangkan. Tapi Fakhri tidak sedang bermain. Kalau aku membalas dengan kalimat lucu lagi, aku cuma membuatnya menebak apakah bagian yang penting sampai.

“Aku nggak iseng,” kataku. “Aku mau kenal kamu. Tapi aku belum tahu caranya yang adil, selama kamu masih kerja buat aku.”

Ia mengangguk pelan. Lampu berganti hijau; mobil bergerak.

“Itu jawaban yang bisa saya terima,” katanya. “Saya juga belum tahu caranya.”

“Kamu bilang kalau aku kelewatan.”

“Pasti, Bu. Ibu juga.”

“Aku nggak pernah kelewatan.”

“Ibu pernah bikin aturan mobil pakai dua tanda seru.”

“Itu dokumen yang sah.”

Aku tidak mendapat kencan. Bahkan tidak dapat janji bahwa suatu hari kami akan berkencan. Yang kudapat adalah kejelasan: ia mendengar niatku, dan ia tidak perlu menyembunyikan keraguannya. Lucu, sesuatu yang belum pasti ternyata bisa membuatku setenang ini.


Di studio, Ibu dan Aisyah berdiri di depan empat contoh glasir. Aisyah memberi nama warnanya dengan cara yang tidak akan pernah lolos rapat pemasaran: biru habis hujan, tanah basah, krim kepanasan, dan hijau daun jambu. Dua anak dari pameran datang bersama pengajarnya. Salah satunya, si pelukis halte, memilih biru dan krim, lalu mengusulkan titik kuning kecil di dasar wadah.

“Kenapa kuning?” tanya Aisyah.

“Biar kayak lampu halte,” kata anak itu, seolah jawabannya sudah jelas.

Aisyah mencatatnya tanpa debat. Ibu memandangku dengan wajah puas. Entah ia bangga pada pilihan warnanya, atau pada cara Aisyah membiarkan anak itu yang memutuskan. Mungkin dua-duanya.

Fakhri menunggu di luar setelah membantu mengangkat satu kotak dari mobil. Lewat kaca, kulihat ia mengobrol dengan tukang parkir, tidak menyelinap ke urusan keluarga hanya karena aku kenal adiknya.

“Kamu kelihatan lebih ringan,” kata Ibu.

“Aku lagi belajar nggak menjawab semua hal hari ini.”

“Pasti berat.”

“Banget.”

Ibu tertawa, dan tidak bertanya siapa gurunya.


Aku turun di kantor untuk satu rapat terakhir dengan Lilis dari layanan pelanggan. Dan suasana hatiku yang ringan berhenti di situ.

Laporan yang dibawa Lilis jauh lebih tebal daripada dua tiket yang kami bahas waktu itu. Sembilan keluhan pompa susah ditekan dari beberapa gerai. Dua laporan pelanggan yang merasa tidak nyaman setelah pemakaian. Belasan tiket lain yang masih menunggu nomor batch.

Ia menunjukkan satu catatan pelanggan yang identitasnya sudah disamarkan.

Pompanya susah ditekan. Setelah dipakai, kulitku terasa perih. Aku sudah berhenti pakai, tapi bingung harus lapor ke mana.

Aku membacanya dua kali. Kalimat terakhir jauh lebih buruk daripada tabel mana pun. Seseorang sudah berusaha mencari tempat untuk didengar, dan saluran kami membuatnya berputar-putar dulu sebelum sampai ke orang yang bisa bertindak.

“Kenapa sebagian tiket baru sampai ke mejaku sekarang?”

“Kami harus cocokkan pembelian dan batch dulu, Mbak. Sebagian laporan masuk lewat mitra ritel, bukan kanal langsung. Aku nggak mau gabungin sebelum yakin bukan duplikat.”

“Kamu benar memisahkan yang belum pasti. Tapi kalau ada yang bilang kulitnya perih, aku harus tahu hari itu juga. Bukan nunggu tabelnya rapi.”

Lilis mengangguk dan menunjukkan tanggal ia meminta data tambahan ke QA. Sinta sudah menerima dua kemasan untuk diperiksa; hasil lengkapnya belum keluar.

“Pelanggan itu,” kataku. “Jangan suruh dia nunggu hasil lab kita. Telepon hari ini. Tanya apa yang dia butuhkan sekarang.”

Lilis mencatat, lalu mengingatkan dengan hati-hati bahwa dua laporan itu belum tentu berasal dari batch yang sama, atau bahkan dari masalah yang sama. Aku setuju. Bergerak cepat untuk orang yang kesakitan bukan berarti kami boleh melompat ke kesimpulan.

Naya masuk membawa telepon: Sinta minta bertemu besok pagi.

Aku menatap daftar keluhan itu sekali lagi. Siang tadi, aku butuh keberanian untuk menyebut apa yang kuinginkan kepada Fakhri. Malam ini aku butuh keberanian jenis lain: mendengar kabar buruk sebelum aku punya jawaban apa pun untuknya.

“Undang Sinta dan Lilis ke rapat yang sama,” kataku. “Aku nggak mau dengar dua versi masalah ini di dua ruangan berbeda.”