Chapter One
DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
POV: Marina
“Pak Fakhri, kalau kita masih diam di sini lima menit lagi, saya terlambat.”
Lelaki di balik kemudi itu melihatku dari kaca spion. Tatapannya tenang, seolah aku baru saja mengingatkan bahwa hari ini Rabu, bukan memberi tahu ada dua belas orang yang menungguku di ruang rapat.
“Sabuk pengamannya, Bu.”
“Kita belum keluar parkiran.”
“Makanya saya ingetin sekarang.”
Aku melirik sabuk yang menggantung di samping bahuku, lalu kembali menatapnya. Fakhri Nasoetion baru bekerja untukku selama tujuh menit. Tujuh menit, dan ia sudah menolak perintah pertamanya.
“Di mobil ini saya yang memimpin,” kataku.
“Untuk jadwal Ibu, iya.” Dia tidak menaikkan suara. “Kalau soal nyetir, biar saya.”
Lucunya, pagi tadi aku memilih dia justru karena jawaban semacam itu.
Empat jam sebelumnya, aku masih duduk di ruang wawancara lantai dua puluh tiga, menatap tiga map pelamar yang diletakkan Naya di hadapanku. Ia berdiri di dekat pintu sambil memegang tablet dan segelas kopi yang tidak sempat kusentuh.
“Kamu sudah cek semuanya?” tanyaku.
“SIM, catatan berkendara, referensi, tes kesehatan, pemeriksaan latar belakang. Sudah.” Naya menunjuk map paling atas. “Tiga kandidat terakhir ini juga lulus tes mengemudi.”
“Bagus. Aku butuh orang yang bisa mulai hari ini.”
Naya mengangkat alis. “Mbak Marina, seleksi terakhir biasanya buat memilih orang, bukan mengumumkan keadaan darurat.”
“Dua hal itu bisa terjadi bersamaan.”
Sopirku yang lama pindah ke luar kota untuk mengikuti istrinya. Aku memberinya waktu cukup untuk mencari pengganti, tetapi tiga minggu berlalu dengan sopir sementara yang berbeda-beda. Kemarin satu orang mengiyakan dua titik jemput di sisi kota yang berlawanan dalam selang dua puluh menit. Yang lain memindahkan dokumen rahasia dari kursi belakang ke meja resepsionis karena mengira aku lupa membawanya. Aku ingin satu orang yang bisa dipercaya, bukan tiga orang yang selalu berkata, “Bisa, Bu,” sebelum tahu apa yang kuminta.
Pelamar pertama duduk sangat tegak. Ia memanggilku “Ibu Direktur Utama” empat kali dalam sepuluh menit. Ketika kutunjukkan jadwal contoh—berangkat dari kantor pusat di Kuningan, tiba di Kebayoran Baru, lalu masuk ke gedung di Menteng lima belas menit sesudahnya—ia tersenyum lebar.
“Saya usahakan pasti bisa, Bu.”
“Dengan cara apa?”
“Saya hafal jalan tikus.”
“Jalan tikus yang mana?”
Senyumnya tinggal separuh. Ia menyebut dua jalan yang bahkan tidak tersambung. Naya menulis sesuatu di tabletnya tanpa mengubah ekspresi.
Pelamar kedua lebih meyakinkan. Ia tahu letak gedung yang kutunjuk, punya pengalaman membawa tamu perusahaan, dan menjawab dengan jelas saat ditanya soal privasi. Lalu aku mengubah satu detail: pintu masuk utama gedung ditutup untuk perbaikan.
“Saya ikuti aplikasi, Bu,” katanya.
“Kalau aplikasinya masih mengarah ke pintu yang ditutup?”
Ia tersenyum canggung. “Saya cari di tempat.”
Mungkin ia akan menemukan jalannya. Masalahnya, aku tidak mau membayar orang untuk mulai berpikir setelah kami terlambat.
Fakhri masuk terakhir. Kemeja putihnya bersih, lengan digulung tepat di bawah siku. Posturnya tegap tanpa berusaha terlihat gagah. Ada lingkar gelap di bawah matanya yang justru membuat tatapannya lebih kentara; seperti orang yang kurang tidur tetapi tidak kehilangan satu pun detail di ruangan.
Ia menyapaku, menunggu dipersilakan duduk, lalu meletakkan ponsel dalam posisi layar menghadap meja. Bukan gestur besar. Entah kenapa aku memperhatikannya.
“Pak Fakhri,” kataku, “kalau saya perlu tiba di Menteng pukul tiga lewat lima belas, tapi rapat sebelumnya di Kebayoran Baru selesai pukul tiga, kamu akan ambil rute mana?”
Ia melihat peta di tablet Naya, tidak langsung menjawab.
“Hari kerja biasa, Bu?”
“Anggap saja begitu.”
“Saya nggak bisa janji Ibu sampai jam tiga lewat lima belas.”
Naya melirikku. Biasanya orang meminta kesempatan kerja dengan mengatakan bisa. Fakhri baru saja mengatakan sebaliknya.
“Saya tanya rutenya,” ujarku.
“Dan saya bisa kasih rutenya. Tapi kalau dari awal waktunya nggak cukup, milih jalan yang bagus pun nggak bikin jamnya berubah.” Ia menunjuk layar. “Kalau pertemuan di sini penting, Ibu bisa minta sepuluh menit pertama lewat panggilan video. Atau rapat sebelumnya selesai lebih cepat. Saya perlu tahu mana yang nggak boleh digeser.”
“Kamu sedang menyuruh saya mengatur ulang jadwal?”
“Saya ngasih pilihan, Bu. Yang mutusin tetap Ibu.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, aku tidak langsung punya pertanyaan berikutnya.
Naya menyodorkan halaman kedua berkasnya saat Fakhri diminta menunggu di luar. Pengalaman mengantar keluarga ekspatriat enam bulan, referensi bagus, pelatihan mengemudi defensif. Di bagian atas ada ringkasan verifikasi HR; riwayat pendidikan tertulis singkat karena Naya tahu aku meminta berkas yang relevan dengan posisi sopir. Aku menutupnya sebelum membaca seluruh lampiran.
“Dia berani bilang tidak,” kata Naya.
“Dia berani bilang apa yang bisa dilakukan setelah tidak itu.”
“Mbak suka?”
“Sebagai kandidat, Nay.”
“Aku belum nanya sebagai apa-apa lagi.”
Aku memberinya tatapan yang biasa membuat manajer pemasaran menghentikan presentasi pada slide ketiga. Naya malah tersenyum ke tabletnya.
Ketika Fakhri masuk kembali, aku bertanya satu hal yang belum ada di formulir tes mengemudi.
“Kenapa kamu melamar pekerjaan ini?”
Ia tidak menjawab dengan cerita tentang mimpi masa kecil mengendarai mobil seorang CEO. Ia juga tidak bilang ingin belajar dari pemimpin perempuan seperti jawaban yang sudah kudengar dua kali pagi itu.
“Gajinya menarik, Bu.”
Aku menunggu kelanjutan yang lebih indah. Tidak ada.
“Cuma itu?”
“Saya suka nyetir. Gajinya juga bagus.” Ia menatapku tanpa senyum dibuat-buat. “Menurut saya dua alasan itu cukup jujur.”
Di formulir penawaran, angkanya memang jauh di atas gaji sopir pada umumnya. Jam kerjaku panjang, perubahan jadwal sering mendadak, dan privasi keluarga maupun perusahaan tidak bisa ditawar. Aku lebih nyaman mendengar Fakhri menyebut uang daripada berpura-pura tugas itu panggilan hidupnya.
“Kamu bisa mulai siang ini?”
“Kalau proses administrasinya selesai dan saya sempat cek kendaraannya dulu, bisa, Bu.”
“Kamu selalu pakai syarat untuk menjawab ya?”
“Kalau syaratnya penting, iya.”
Aku menandatangani persetujuan perekrutan sebelum ia keluar dari ruangan.
Sekarang, di kursi belakang mobil, aku menatap sabuk pengaman itu lagi. Fakhri tidak mengulangi permintaannya. Ia hanya menunggu dengan kedua tangan tetap di kemudi. Di ponselku, pesan Naya menyala: Tim sudah berkumpul.
Aku menarik sabuk sampai berbunyi klik.
“Puas?”
“Lebih tenang, Bu.”
Mobil bergerak keluar dari parkiran. Aku sudah menyiapkan kalimat tentang waktu yang terbuang, tetapi Fakhri mengambil jalur kiri sebelum antrean di pintu utama gedung. Ia melewati gerbang servis yang memang boleh dipakai kendaraan kantor. Aku jarang keluar dari sana karena sopir sementara biasanya mengikuti kendaraan di depan mereka.
“Kamu tahu gerbang itu dari mana?”
“Saya cek tadi waktu periksa mobil. Ada di daftar akses kendaraan kantor.”
“Jadi kamu membaca dokumennya.”
“Yang buat pekerjaan saya, iya.”
Aku memandang bagian belakang kepalanya. Jawaban itu terdengar seperti sindiran kepada orang-orang yang suka berkata sudah membaca laporanku padahal masih menanyakan isinya di rapat. Barangkali aku hanya kelelahan.
Kami berhenti di lampu merah. Di trotoar, seorang perempuan berlari sambil menahan kotak kue di atas kepala dari gerimis. Fakhri mematikan pendingin udara satu tingkat ketika melihatku merapatkan blazer.
“Saya nggak minta suhunya diubah.”
“Kalau terlalu panas, bilang aja, Bu.”
Aku bisa saja menyuruhnya mengembalikan pengaturan semula. Tapi dingin yang menusuk lenganku memang berkurang, dan perempuan di trotoar berhasil menyelamatkan kuenya. Entah mengapa dua hal kecil itu cukup membuat pagi yang buruk terasa sedikit lebih ringan.
Naya menelepon. Aku mengangkatnya lewat perangkat mobil.
“Mbak, rapat dimulai enam menit lagi. Mereka bisa tunggu sebentar.”
“Kami sampai empat menit lagi,” kataku.
Fakhri tidak mengoreksi perkiraanku. Baru setelah panggilan terputus ia berkata, “Lima, Bu. Kalau lampu depan gedung merah, enam.”
“Kamu senang sekali membetulkan saya?”
“Saya lebih senang kalau Ibu nggak perlu minta maaf gara-gara perkiraan saya meleset.”
Lampu depan gedung merah. Kami sampai dalam enam menit.
Saat pintu mobil terbuka, aku menahan diri untuk tidak langsung bergegas. “Pak Fakhri.”
“Ya, Bu?”
“Tadi saya bilang di mobil ini saya yang memimpin.”
“Saya dengar.”
“Saya akan pertimbangkan ulang pembagian tugasnya.”
Ia menoleh sedikit. Kali ini aku bisa melihat senyum yang tadi tidak muncul di ruang wawancara.
“Baik, Bu. Saya tunggu keputusan resminya.”
Aku keluar sebelum ia melihatku membalas senyum. Di lift, pesan baru dari Naya masuk berisi jadwal besok: empat rapat di tiga lokasi, dengan waktu perjalanan yang pasti akan membuat Fakhri mengangkat alis.
Untuk pertama kalinya, alih-alih merasa kesal pada jadwal yang kacau, aku penasaran apa yang akan ia katakan saat melihatnya.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN? reading
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?