Chapter Twelve
JALAN MEMUTAR
POV: Fakhri
Sore setelah prapeluncuran, langit memutuskan bahwa marka jalan adalah konsep yang terlalu optimistis.
Hujannya turun seperti ditumpahkan dari ember. Aku menurunkan kecepatan, menyalakan lampu, dan memberi jarak dua kali lipat dari mobil di depan. Di kursi belakang, Bu Marina sedang menelepon Sinta lewat earphone. Yang sampai ke telingaku cuma potongan.
“Bawa hasilnya kalau sudah siap. Jangan pilih-pilih data yang kelihatan bagus saja.”
Aku tidak tahu hasil apa, dan memang tidak perlu tahu. Yang kutahu: sejak obrolan di depan terasnya semalam, ada yang berubah. Pagi tadi ia memberitahuku sendiri siapa yang akan menelepon soal perubahan jadwal, padahal biasanya aku tahu dari Naya tiga menit sebelum belok. Hal kecil. Tapi hal kecil adalah satu-satunya ukuran yang bisa dipercaya dari kursi pengemudi.
Di mulut terowongan, deretan lampu rem menyala serempak. Petugas berjas hujan oranye melambai-lambaikan tongkat. Air sudah naik.
“Bu, maaf, bisa tutup teleponnya sebentar?”
Ia menyelesaikan kalimat dengan Sinta, menyepakati jam tindak lanjut, lalu melepas earphone. “Kenapa?”
“Terowongannya ditutup. Kita bisa tunggu airnya surut, atau memutar lewat jalan atas. Tambah sekitar enam kilometer.”
“Kalau nunggu, berapa lama?”
“Nggak ada yang tahu, Bu. Termasuk petugasnya, kelihatannya.”
“Putar. Aku nggak ada rapat malam ini.”
Di jalan atas, hujan menghajar atap mobil dengan bunyi yang membuat radio tidak berguna. Marina menutup tabletnya. Dari spion, kulihat ia memperhatikanku, bukan jalan.
“Kamu capek?”
“Belum, Bu. Kalau pandangan makin parah, saya berhenti di tempat aman.”
“Aku tanya capek. Bukan tanya kamu masih bisa nyetir atau nggak.”
Aku diam beberapa detik. Pertanyaan yang bagus, dan aku tidak suka pertanyaan bagus kalau jawabannya merepotkan.
“Sedikit. Kemarin pulang malam, tadi berangkat pagi.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi?”
“Tadi Ibu masih rapat. Sekarang Ibu lagi saya antar pulang, dan saya masih sanggup.”
“Kamu tetap boleh bilang.”
“Ini saya lagi bilang, Bu.”
Ia mendengus, tapi tidak membalas dengan jadwal baru atau tawaran sopir cadangan. Kami cuma mendengarkan hujan. Ternyata itu lebih melegakan daripada solusi apa pun.
Beberapa menit kemudian, ia membuka peta di ponselnya. Aku sudah siap mendengar coba lewat gang sebelah kiri itu. Yang keluar malah: “Ada tempat istirahat satu setengah kilo di depan. Atapnya lebar. Kita berhenti?”
Lokasinya sama persis dengan yang sedang kulihat di layar navigasi.
“Saya juga lagi lihat itu, Bu.”
“Jadi kita sepakat.”
“Kayaknya ini pertama kali kita sepakat soal rute tanpa debat dulu.”
“Jangan dibiasakan. Nanti nggak seru.”
Tempat istirahat itu penuh orang yang punya ide sama. Aku memarkir, mengirim lokasi ke Naya, dan memperbarui perkiraan tiba. Marina turun membeli teh hangat untuk dirinya. Waktu kembali, ia menyodorkan satu gelas lagi kepadaku. Air putih.
“Aku tahu kamu sukanya kopi hitam tanpa gula,” katanya. “Tapi sudah sore. Nanti malam kamu nggak tidur, besok lingkar matamu makin hitam, terus Naya nyalahin aku.”
“Lingkar mata saya memang begini dari lahir, Bu.”
“Oh.” Ia menatap wajahku sedikit terlalu lama untuk ukuran percakapan soal air mineral. “Ya sudah. Tetap minum.”
“Siap.”
Kami berdiri di bawah atap, agak berjauhan karena orang lalu-lalang. Seorang anak SD berlari lewat dan payungnya menyiram sepatu Marina. Anak itu langsung pucat dan minta maaf berkali-kali. Marina malah menyuruhnya cepat ke ibunya sebelum seragamnya basah. Baru setelah anak itu pergi, ia menunduk melihat sepatunya.
“Rusak?” tanyaku.
“Bisa dibersihkan.” Ia menggoyangkan kakinya; air menetes. “Kalaupun rusak, sepatu ini sudah lima tahun nemenin aku rapat dewan. Mungkin dia memang pengin pensiun.”
Ketika jalan mulai bergerak, Marina berhenti di depan pintu belakang mobil. Lalu ia membuka pintu depan.
“Ganggu nggak kalau aku di sini?”
“Nggak, Bu. Selama Ibu nggak coba pegang setir.”
“Aku belum pernah melakukan itu.”
“Saya mencegahnya sebelum masuk aturan nomor enam.”
Ia tertawa, lalu menatap garis-garis air di kaca. “Ayahmu masih ngajarin orang parkir?”
Ia ingat cerita lapangan kosong. Aku menyimpan fakta itu di tempat yang tidak akan kuakui ke siapa pun.
“Sekarang muridnya cucu tetangga. Ayah ngeluh mereka lebih percaya kamera mundur daripada dia.”
“Ibumu?”
“Punya toko alat tulis kecil di depan rumah. Katanya sudah pensiun, tapi kalau ada anak sekolah ketuk pintu jam sembilan malam cari kertas karton, tetap dibukain.”
“Pantas kamu selalu punya rencana cadangan.”
“Di rumah saya selalu ada pensil lebih, Bu. Tapi nggak pernah ada alasan buat telat.”
Giliran Marina bercerita. Waktu kecil, Bu Tari sering mengajaknya membantu kelas seni di hari libur. Tugasnya menghitung kuas dan merapikan cat. Ia malah membuat daftar siapa memakai warna apa, lengkap dengan jamnya.
“Ibu langsung merebut daftarnya,” katanya. “Disuruh berhenti nyatat, mulai gambar.”
“Ibu gambar apa?”
“Pintu. Yang bisa dikunci dari dalam.”
“Menarik.”
“Kamu mau bilang anak itu sudah cocok jadi CEO?”
“Saya mau tanya, siapa yang boleh masuk lewat pintu itu.”
Ia menoleh padaku. “Ibu, tentu saja.”
“Orang lain?”
“Belum kepikiran. Aku masih delapan tahun.”
Aku tidak melanjutkan. Jalan di depan sudah lancar. Marina kembali menatap keluar jendela, dan dari sudut mata aku tidak bisa membaca wajahnya. Tapi aku tahu percakapan itu baru menyentuh sesuatu yang jauh lebih pribadi daripada cerita liburan sekolah.
“Saya dulu kerja proyek sampai jam tidur saya ikut zona waktu klien,” kataku, entah kenapa. “Kadang semalaman di depan layar. Pagi-pagi rasanya satu hari sudah lewat, padahal belum mulai.”
“Yang paling nggak kamu suka apa?”
“Waktu orang anggap saya harus bisa dihubungi tiap jam, cuma karena kerjanya lewat internet.”
Pernah sekali aku menolak proyek bayaran besar karena kliennya minta setiap revisi dijawab dalam lima belas menit, termasuk jam dua pagi. Waktu itu aku merasa bodoh sekali. Aisyah menaruh ponselku di atas lemari dan bilang aku masih punya kaki untuk keluar rumah. Kami jalan cari nasi goreng, dan ajaibnya, tidak ada satu perusahaan pun yang bangkrut malam itu karena aku tidak membalas email.
Cerita itu sudah di ujung lidah, lengkap dengan bagian yang lebih panjang: proyek-proyek data, laporan janggal yang pernah kutemukan di catatan pengiriman klien dari Eropa—
Ponsel Marina berdering. Naya: laporan tindak lanjut dari Sinta datang besok pagi, minta ditentukan jam rapatnya.
Marina mengangkatnya karena memang perlu. Aku kembali memperhatikan jalan dan membiarkan sisa ceritaku tinggal di tempatnya.
Setelah telepon selesai, ia tidak mendesak, “Tadi kamu mau bilang apa?” Ia hanya bertanya apakah aku perlu berhenti sekali lagi. Aku bilang tidak; jaraknya tinggal dekat.
Di depan rumahnya, aku mematikan mesin. Hujan tinggal gerimis. Marina membuka pintu, lalu menahan gerakannya.
“Kalau besok kamu perlu mulai lebih siang, bilang ke Naya. Rapat pertama bisa kuikuti dari rumah.”
“Saya hitung jam kerja hari ini dulu, Bu. Kalau perlu, saya bilang.”
“Aku percaya.”
Ia turun tanpa menunggu janji lain. Aku menunggu sampai lampu terasnya menyala.
Perjalanan memutar tadi tidak membawa kami ke tempat baru. Tapi untuk pertama kalinya, aku ingin menceritakan bagian hidupku yang tidak tercantum di deskripsi tugas sopir. Besok, kalau kesempatan itu datang lagi, mungkin aku tidak akan berhenti di tengah kalimat.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR reading
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?