Chapter Three
BERHENTI DI TOKO ROTI
POV: Marina
Ketika aku keluar dari gudang sampel, jam di ponsel menunjukkan pukul delapan lewat sembilan belas malam. Aku sudah mengoreksi ukuran tutup botol, menjawab pertanyaan pemasok, dan mendengar tiga orang menjelaskan mengapa kata “segera” dalam surel mereka punya arti yang berbeda-beda.
Fakhri berdiri di samping mobil dengan payung terbuka. Hujan sudah berhenti, tetapi air masih menetes dari atap gudang.
“Pulang, Bu?”
“Langsung.”
Ia membukakan pintu, lalu menunggu sampai aku duduk. Tak lama setelah mobil keluar dari gerbang, kami berbelok ke jalan yang tidak biasa.
“Rumahku bukan lewat sini.”
“Saya tahu. Ada toko roti di depan. Saya mau ambil jeda sebentar.”
Aku melihat jam lagi. “Kamu sudah istirahat sore tadi.”
“Sudah. Tapi tadi sore belum tahu kita pulang malam. Saya perlu berhenti, makan, dan jalan kaki sebentar sebelum lanjut nyetir.”
Ia tidak meminta izin dengan suara memelas. Ia memberitahuku apa yang ia butuhkan. Dari semua orang yang bekerja di sekelilingku, mungkin hanya Fakhri yang menganggap kalimat semacam itu wajar.
“Berapa lama?”
“Lima belas menit.”
“Sepuluh.”
“Lima belas, Bu.”
“Kamu tawar-menawar dengan atasanmu?”
“Saya ngasih angka yang benar.”
Aku kembali menatap ponsel. Ada dua surel menunggu jawaban sebelum pagi. Tidak ada yang menuntut kubalas dalam lima belas menit. “Baik. Lima belas.”
Toko itu berada di ujung deretan ruko kecil, diapit apotek dan tempat fotokopi. Dari kaca depan terlihat rak roti yang tinggal separuh terisi serta dua meja bundar. Fakhri memarkir mobil di tempat yang terlihat dari jendela, mematikan mesin, dan bertanya apakah aku ingin menunggu di dalam mobil atau ikut turun.
“Aku turun.”
Ia tidak menyembunyikan keterkejutannya dengan cukup cepat. “Baik, Bu.”
Di dalam, aroma mentega hangat menyambut kami. Perempuan di balik kasir mengangkat tangan ketika melihat Fakhri.
“Mas, yang roti kayu manis tinggal satu. Untung datang sekarang.”
“Saya ambil satu, Mbak. Sama air mineral.”
“Dua,” kataku.
Fakhri menoleh. “Ibu mau juga?”
“Aku baru saja bilang dua.”
Kasir menunjuk rak. “Tinggal satu, Bu. Yang lainnya ada roti keju, cokelat, sama abon.”
“Kalau begitu satu roti kayu manis dan satu roti keju.” Aku mengeluarkan dompet. “Pisah, ya.”
“Nggak perlu, Bu. Saya pesan duluan.”
“Kamu beli punyamu. Aku beli punyaku.”
“Saya nggak sedang menawari traktiran.”
“Aku juga nggak sedang minta.”
Kasir memandangi kami bergantian, lalu menggeser dua nampan kecil ke depan. “Saya bikin dua struk aja, ya.”
Aku mengangguk. Fakhri berkata, “Iya, Mbak,” dengan nada yang terdengar seperti orang lega karena ada penengah.
Kami memilih meja dekat jendela. Fakhri duduk setelah aku duduk, bukan karena aku menunggu dilayani, melainkan karena ia lebih dulu menyeka air dari kursi yang terkena tetesan hujan. Ia tidak mengambil ponselnya. Aku meletakkan ponselku di meja dengan layar menghadap atas. Kebiasaan buruk, menurut Naya. Menurutku, sekadar cara memastikan tidak ada yang membutuhkan keputusan darurat.
Fakhri membuka bungkus roti kayu manis. Roti itu hangat; lapisan gula tipisnya tampak berkilau di bawah lampu. Milikku berisi keju yang sudah mulai dingin. Aku menggigitnya sekali dan mencoba tidak melihat ke meja sebelah.
“Punya kamu enak?” tanyaku.
“Enak.”
“Jawabanmu singkat sekali.”
“Rasa rotinya nggak jadi berubah kalau saya jelasin panjang, Bu.”
Aku mengambil minum. Fakhri memotong roti itu menjadi dua dengan pisau plastik yang diberikan kasir, lalu menggeser separuhnya ke tepi nampan.
“Saya nggak minta,” kataku.
“Saya juga belum nawarin.”
“Terus buat apa kamu potong?”
“Biar dingin lebih cepat.” Ia menatapku tanpa berusaha menyembunyikan senyum. “Kalau Ibu mau, bilang aja.”
Sejak pagi aku membuat keputusan untuk rapat, pemasok, gerai, dan orang lain. Rasanya aneh harus mengucapkan keinginan sesederhana meminta setengah roti. Lebih aneh lagi karena ia pasti sudah tahu.
“Aku mau coba.”
Fakhri menggeser nampan itu sampai ke tengah meja. “Silakan.”
Aku menukar setengah roti kejuku dengannya. Ia menggigit bagiannya dan mengangguk pelan.
“Yang keju lumayan.”
“Kamu nggak perlu bilang begitu untuk menghiburku.”
“Saya memang suka keju.”
“Tapi lebih suka yang kayu manis.”
“Iya, Bu.”
Kami makan beberapa saat tanpa bicara. Dari luar, lampu kendaraan melintas di genangan. Aku sudah sering makan malam bersama direksi di restoran yang begitu sunyi sampai bunyi sendok terdengar seperti kesalahan. Di sini kasir menyetel lagu pelan dan seseorang di meja lain membuka kantong kertas dengan suara berisik. Aku lebih mudah bernapas.
Sebuah pesan dari Ibu masuk. Ia sedang menyiapkan pameran murid-murid studionya dan ingin meminjam mobil untuk membawa panel lukisan besok sore. Ibu tidak pernah meminta sopirku. Ia selalu bertanya apakah aku bisa datang, seolah perjalanan yang ditempuh bersama lebih penting daripada kendaraan yang dipakai.
Aku hampir membalas, Tanya Naya saja, lalu memandang Fakhri yang sedang melipat bungkus rotinya. Naya akan mengatur jadwal, tetapi aku yang harus memutuskan apakah mau hadir. Aku mengetik bahwa aku akan mencoba datang sendiri, lalu bertanya ukuran panelnya supaya kami bisa memastikan muat di mobil. Ibu mengirim balasan berupa foto cat berantakan di lantai studio dan tulisan: Besok Ibu ukur lagi. Yang penting kamu datang.
“Ada kabar bagus?” tanya Fakhri saat melihatku tersenyum.
“Ibu minta bantuan angkut lukisan besok. Bisa jadi perjalanannya agak berubah.”
“Kalau sudah tahu jamnya, kirim ke Naya. Saya cek ruang mobilnya.”
“Kamu nggak perlu mengiyakan sebelum tahu seberapa besar lukisannya.”
“Saya belum mengiyakan, Bu. Saya baru mau cek.”
Aku kembali melihat foto dari Ibu. Bahkan untuk permintaan kecil keluargaku, Fakhri tetap punya cara mengatakan iya yang tidak sembarangan. Aneh sekali bahwa hal itu membuatku tenang.
Ponselku bergetar. Kepala pemasaran meminta persetujuan untuk menjanjikan revisi seluruh materi peluncuran besok pagi. Mereka baru menerima catatan dari pemasok sore tadi. Biasanya aku akan mengetik “usahakan” lalu membiarkan orang lain menebak berapa jam tidur yang boleh mereka ambil.
Fakhri tidak melihat layar. Ia berdiri untuk membuang bungkus rotinya dan mengambil air minum tambahan. Saat ia kembali, aku masih menatap pesan itu.
“Ada masalah?” tanyanya.
“Mereka ingin semuanya siap besok pagi.”
“Bisa?”
“Kalau tiga orang bekerja sampai subuh.”
“Berarti pertanyaannya bukan bisa atau nggak.”
“Kamu sedang mengajari saya jadi CEO?”
“Saya cuma nanya.”
Ia benar-benar hanya bertanya. Jawabannya tetap harus kubuat sendiri. Aku mengetik balasan: revisi informasi yang akan dilihat pelanggan lebih dulu; materi tambahan menyusul setelah diperiksa. Tidak ada janji pukul delapan pagi. Kepala pemasaran membalas dengan tiga kata yang membuatku tertawa kecil: Terima kasih, Mbak.
“Kenapa?” tanya Fakhri.
“Ternyata seseorang bisa berterima kasih setelah kubilang tidak.”
“Naya pasti kaget kalau dengar itu.”
“Naya sudah biasa mendengarnya.”
“Dari Ibu?”
Aku mengarahkan bungkus kosong ke arahnya. Ia mengangkat kedua tangan, tertawa tanpa suara. Wajahnya berubah ketika ia tertawa sungguhan. Garis di sekitar matanya tidak lagi terlihat seperti tanda lelah; lebih mirip sesuatu yang ingin kuingat.
Fakhri memeriksa jam. “Jeda saya selesai. Kita bisa jalan.”
“Tiga belas menit,” kataku.
“Saya hitung dari waktu kita parkir, Bu. Sudah lima belas.”
“Kamu selalu menang kalau soal angka?”
“Nggak selalu. Tadi saya kehilangan setengah roti.”
“Kamu dapat setengah roti keju.”
“Berarti impas.”
Di mobil aku memasang sabuk sebelum ia duduk. Ia melihatnya lewat spion tetapi tidak berkomentar. Saat kami melewati ruko yang mulai tutup, aku bertanya apakah toko roti itu buka setiap malam.
“Sampai jam sembilan, biasanya. Kenapa, Bu?”
“Nggak apa-apa.” Aku memandang lampu jalan, lalu menambahkan, “Roti kejunya ternyata enak.”
“Besok mungkin tinggal dua.”
“Aku nggak bilang mau ke sana lagi.”
“Saya juga nggak bilang mau belok, Bu.”
Di lampu merah berikutnya, aku mengirim Naya pesan agar studio Ibu masuk jadwal besok sore. Kutambahkan catatan: ukuran lukisan perlu dicek sebelum kami berangkat. Fakhri tidak melirik ponselku; ia hanya menunggu lampu berubah.
Aku menahan senyum dan mengunci layar ponsel. Lima belas menit itu tidak membuat pekerjaanku selesai lebih cepat. Namun ketika mobil kembali melaju, aku tidak lagi ingin menyelesaikan malam dengan membalas surel sampai tertidur.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI reading
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?