Chapter Twenty Five
DI LUAR JAM KERJA
POV: Fakhri
Hari kedua tanpa jadwal armada, jempolku masih bergerak ke tempat ikon aplikasi rute biasa berada begitu aku bangun. Dua detik kemudian aku ingat akunnya sudah mati sejak Senin sore.
Aku membuat kopi, membuka kalender milikku sendiri, dan menulis dua pekerjaan. Pertama: kirim draf ruang lingkup ke calon klien yang menghubungiku lewat rekomendasi rekan lama. Kedua: perbaiki printer Aisyah, kalau aku jadi menyewa sudut studionya.
Draf pertama makan waktu lebih lama dari dugaanku. Klien ini ingin memeriksa data penjualan miliknya sendiri, bukan milik orang lain, dan bersedia memberi akses lewat akun terbatas setelah perjanjian ditandatangani. Aku mengirim daftar pertanyaan: sumber data, jam komunikasi, apa yang masuk dan tidak masuk laporan. Tidak ada nama Asterra di dalamnya.
Langkah pertama usahaku cukup membosankan untuk bisa dipercaya. Aku senang.
Di studio, Aisyah menggeser setumpuk tanah liat dari meja kecil dekat jendela.
“Ini kantormu, kalau kita sepakat. Sewa bulanan. Printer bukan pengganti uang sewa.”
“Bagus. Aku sempat takut kamu bikin kontrak yang mewajibkan aku benerin semua kabel di kota ini.”
“Kabel di sini kamu benerin gratis. Sebagai kakak. Sewa mejanya tetap bayar.”
Kami menyusun aturan: tidak ada layar berisi data terbuka saat pengunjung lewat; percakapan klien di ruang belakang atau dari rumah. Aisyah menulis semuanya dengan spidol di kertas, di bawah aturannya sendiri yang sudah lebih dulu ada: JANGAN PINDAHKAN MANGKUK YANG LAGI DIKERINGKAN.
“Itu aturan buat semua penyewa?”
“Khusus kamu. Terakhir kali kamu nyusun mangkukku berdasarkan ukuran. Urutanku hilang.”
“Urutanmu nggak ada logikanya.”
“Urutanku ada perasaannya.”
Aku baru akan membantah ketika ponselku bergetar. Pesan dari Marina, ke nomor pribadiku.
Aku mau ngajak kamu makan malam besok. Kencan, Fakhri. Bukan rapat, bukan ucapan terima kasih untuk audit. Kalau kamu mau, pilih jam yang nyaman buatmu.
Aku membacanya dua kali. Aisyah melihat wajahku, lalu dengan sangat sengaja berbalik menghadap rak.
“Aku nggak akan nanya,” katanya.
“Kamu barusan mengumumkan bahwa kamu pengin nanya.”
“Betul. Tapi aku lagi latihan.”
Kubalas: Mau. Jam tujuh? Kali ini aku datang sendiri, bukan nunggu alamat buat jemput.
Balasannya cepat sekali. Jam tujuh. Tempatnya aku yang pilih dulu, tapi kalau kamu nggak suka, bilang. Aku masih belajar bedain kencan sama agenda berlampiran.
Aku mengirim emoji roti. Ia membalas dengan tanda tanya, lalu mengirim foto bungkus roti dari Naya setelah konferensi pers, masih utuh. Aku tertawa keras, dan Aisyah menyerah berpura-pura.
“Dia?”
“Iya.”
“Bos yang dulu bayar penuh mangkuk itu.”
“Sudah bukan bosku.”
“Bagus. Berarti mulai sekarang kamu nggak perlu nyebut jabatannya sebelum namanya.”
Restoran pilihan Marina punya pintu kaca setinggi dua lantai, daftar reservasi digital, dan meja serapi meja operasi. Aku sampai ragu apakah garpu boleh digeser.
Marina datang sendiri lima menit sebelum jam tujuh. Blus biru gelap, sama seperti malam pameran Bu Tari, celana panjang, rambut tergerai. Tidak ada map. Wajahnya masih menyisakan lelah konferensi pers, tapi matanya tidak.
“Kamu nunggu lama?”
“Lima menit.”
“Aku datang lima menit lebih awal.”
“Berarti kita sama-sama bisa menghitung.”
Petugas menyambut kami: reservasi untuk dua orang, meja tersedia sembilan puluh menit, setelah itu ada pemesanan lain. Marina melirik jam kecil di sudut meja.
“Kamu bikin jadwal kencan?” tanyaku.
“Mereka yang punya batas meja. Aku cuma bikin tiga alternatif, kalau makanannya kurang enak.”
“Tiga.”
Ia mengeluarkan ponsel. Lalu berhenti sendiri, menatap layarnya, dan meletakkannya terbalik di meja.
“Aku tahu. Aku memesan kencan kayak menyusun rapat luar kantor.” Ia menghela napas. “Aku pikir kalau tempatnya bagus, kamu nggak akan merasa aku ngajak cuma karena obrolan kita belum selesai.”
Pelayan datang dengan menu. Marina memilih minuman lebih dulu, lalu hidangan, dengan kecepatan orang yang takut terlihat tidak siap. Aku menutup menuku.
“Kita boleh tetap makan di sini,” kataku. “Tapi kamu nggak harus ngisi sembilan puluh menit pakai tiga rencana cadangan.”
“Aku juga nggak tahu cara duduk di depanmu tanpa kaca spion.”
Pengakuan itu membuatku berhenti bercanda. Selama ini aku melihatnya lewat pantulan, lalu buru-buru memalingkan mata setiap kali tertangkap basah. Sekarang ia cuma sejauh lebar meja kecil, dan tidak ada rute yang bisa kubahas untuk menyembunyikan gugup.
“Aku sama gugupnya,” kataku.
“Kamu kelihatan tenang.”
“Serbetku sudah salah taruh dua kali.”
Ia melihat serbet yang sekarang tergeletak di bawah gelasku, lalu tertawa sampai harus menunduk. Pelayan datang lagi, menawarkan bantuan dengan sopan. Kami minta waktu sebentar.
“Sejujurnya,” kata Marina pelan, “aku pengin makanan yang bisa dimakan tanpa mikir fungsi garpu ketiga.”
“Kita bisa pindah.”
“Minumannya sudah kupesan.”
“Kita bayar minumannya. Itu bukan kegagalan proyek.”
Ia menatapku, memastikan aku tidak sekadar menyelamatkannya dari malu. Lalu ia memanggil pelayan, menjelaskan kami akan membayar minuman dan membatalkan pesanan yang belum dibuat. Tidak ada drama. Kami keluar setelah berterima kasih. Seluruh krisis logistik kencan pertama selesai dalam tiga menit.
Di tepi jalan, Marina menatap sepatunya yang terlalu bagus untuk trotoar. “Aku masih punya daftar tempat lain.”
“Boleh aku yang pilih?”
“Boleh.”
Kedai itu tiga blok dari sana. Terang, meja cukup lebar untuk dua piring, pemiliknya tidak pernah mendengar konsep batas waktu meja. Kami memesan nasi, lauk, dan dua es teh. Marina melepas jam tangannya dan memasukkannya ke tas. Aku tidak memintanya. Ia sendiri yang bilang setiap kali melirik jam, ia teringat sesi berikutnya dalam rencana yang sudah kami tinggalkan.
“Gimana hari pertamamu?” tanyanya.
“Kirim proposal yang mungkin dibalas minta revisi. Terus nego sewa meja sama Aisyah. Dia lebih galak dari dewanmu.”
“Aku percaya. Waktu pesan wadah pensil, dia kasih aku tanggal pengerjaan dan menolak kupercepat.”
“Contoh glasir buat Bu Tari sudah dia selesaikan?”
“Ibu suka warna kedua. Aisyah mengubah ukuran wadahnya setelah anak-anak coba masukin pensil beneran.”
Aku tersenyum. Marina tidak masuk ke studio adikku sebagai penyokong besar yang akan memperbaiki segalanya. Ia mengingat obrolan kecil soal ukuran pensil dan tangan anak-anak.
Makanan datang. Beberapa menit kami sungguh-sungguh makan. Marina tidak memeriksa ponsel. Aku tidak menghitung waktu tempuh pulang. Ketika ia meraih wadah sambal di dekat tanganku, jari kami bersentuhan. Kami sama-sama berhenti sedetik. Ia tidak menarik tangannya seperti tersengat.
“Bisa kuambilin,” kataku.
“Aku tahu.” Ia memiringkan kepala. “Aku cuma suka punya alasan buat dekat.”
Aku menggeser sambal ke sisinya. “Kamu sudah duduk di depanku.”
“Jarak meja ini masih keterlaluan.”
“Kalau gitu besok pilih kursi sebelahan.”
Ia berhenti mengunyah. “Kamu barusan ngajak kencan kedua?”
Aku membuka mulut, menutupnya lagi, lalu mengangguk. “Iya. Tapi selesaikan yang pertama dulu.”
Ia tersenyum dengan cara yang membuatku lupa sedang makan apa.
Setelah makan, kami berjalan ke taman kecil di seberang jalan sambil menunggu kendaraan pesanan masing-masing. Kami tidak bicara soal audit atau penarikan. Kami bicara soal lagu yang ternyata sama-sama kami lewati setiap pagi di radio tanpa tahu judulnya.
Di bawah lampu taman, Marina mengulurkan tangan, telapaknya terbuka.
“Boleh?”
Aku menyambutnya. Jari-jarinya hangat. Tidak ada surat kerja, kunci mobil, atau kamera di antara kami. Ia menggeser ibu jarinya sekali di punggung tanganku, pelan, seperti memastikan aku tidak akan melepas.
“Aku mau panggil kamu Fakh,” katanya. “Kalau kamu suka.”
“Dari kamu, aku suka.” Aku mencoba panggilan yang selama ini kutahan. “Rina?”
“Asal jangan diucapkan di depan dewan.”
“Aku sudah nggak punya akses ke rapat mereka.”
Kami tertawa. Kendaraannya datang lebih dulu. Aku membuka genggamanku supaya ia bisa pergi. Ia melepas perlahan, tanpa mengubah momen itu jadi janji besar.
“Kukabari kalau sudah sampai,” katanya.
“Aku juga. Dan kencan kedua, tempatnya kita pilih bareng.”
“Setuju.” Ia membuka pintu mobil, lalu menoleh. “Tapi aku tetap mau duduk lebih dekat dari malam ini.”
Ia masuk sambil tersenyum, membuat jawabanku terlambat beberapa detik. Aku berdiri di trotoar dengan tangan yang masih hangat.
Kencan kami tidak berjalan sesuai rencana Marina. Dan untuk pertama kalinya, justru itu yang kami pilih bersama.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA reading
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?