← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Thirteen

BUKAN URUSAN JADWAL

POV: Marina

Jumat pagi, Naya meletakkan selembar formulir di mejaku dengan gaya orang menyerahkan hasil lab.

“Pak Fakhri minta tukar dua jam sore ini. Bantu Aisyah jemput tungku dari tempat servis. Sopir cadangan sudah siap. Pak Darto, yang Mbak kasih nilai bagus bulan lalu.”

“Kenapa harus Jumat?”

“Tempat servisnya tutup cepat kalau akhir pekan. Jadwal Mbak aman.”

“Aku nggak bilang jadwalku nggak aman.”

“Aku juga nggak bilang Mbak nggak suka sopir pengganti.”

Aku menandatangani formulir itu. Pak Darto sopir yang baik; aku sendiri yang menilainya begitu. Masalahnya, kepalaku sudah menyusun daftar pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan Pak Darto. Apakah dia tahu aku lebih suka duduk di depan kalau hujan? Apakah dia akan mengecilkan radio begitu aku selesai rapat? Apakah dia tahu Ibu benci menunggu di pintu depan studio?

“Pakai dia,” kataku.

“Keputusan yang sangat masuk akal, Mbak.”

“Kamu kedengarannya pengin ngomong sesuatu.”

“Aku lagi menjaga karierku.”

Naya keluar. Aku masih memandangi nama Fakhri di kolom jadwal, dengan tanda izin 2 jam di sebelahnya. Aku senang ia bisa membantu adiknya. Sungguh. Yang membuatku terganggu adalah satu fakta kecil: aku sedang menghitung berapa jam lagi ia kembali.


Pukul tiga, Pak Darto menjemputku. Ia membukakan pintu, memanggilku “Bu Marina” dengan sopan, dan menyetir dengan sangat baik. Tidak ada yang salah. Justru itu masalahnya. Aku tidak bisa menulis keluhan layanan dengan isi kursi belakang terlalu sunyi.

Di gedung berikutnya, aku minta diturunkan di pintu tamu. Pak Darto memberitahu pintu itu ditutup karena ada acara, dan menawarkan pintu samping. Aku setuju. Ia teliti dan tidak perlu dibandingkan dengan siapa pun. Setelah turun, aku mengirim pesan ke Naya: Pak Darto bagus. Titik. Tanpa catatan kaki.

Sebelum masuk rapat, jempolku sudah melayang di atas nama Fakhri. Aku baru menyetujui foto produk Sera Veil yang akhirnya kelihatan seperti produk sungguhan, bukan benda yang dipoles sampai tidak berani disentuh. Aku ingin ia melihatnya. Aku ingin tahu komentarnya, yang pasti datar dan pasti tepat.

Lalu aku ingat ia sedang mengangkat tungku.

Kusimpan fotonya. Kalau aku ingin ia tahu hariku, aku bisa cerita Senin. Bukan menariknya dari dua jam yang ia minta untuk keluarganya.

Naya bertanya dua kali apakah aku butuh sesuatu. Dua kali aku jawab tidak. Ketiga kalinya, ia cuma meletakkan kopi di mejaku dan berdiri menunggu.

“Aku nggak marah Fakhri bantu adiknya,” kataku.

“Aku tahu.”

“Aku juga nggak marah sama Pak Darto.”

“Aku tahu.”

“Jadi jangan pasang muka begitu.”

“Mukaku lagi kerja, Mbak.”

Aku tidak punya bantahan. Karena aku memang menunggu Fakhri kembali. Bukan karena ia satu-satunya orang yang bisa membaca peta. Aku ingin melihat wajahnya waktu kuceritakan hari ini. Aku ingin ia ada, dan aku kesal pada diri sendiri karena menginginkan sesuatu yang tidak bisa kumasukkan ke kalender.


Sabtu siang, aku makan di rumah Ibu. Ia menyajikan sup dalam mangkuk biru buatan Aisyah, dan sengaja memutar sisi glasir yang tidak rata ke arahku.

“Lihat. Nggak sama persis kayak foto katalog. Bagus, kan?”

“Ibu sengaja muter mangkuknya.”

“Ibu suka barang yang kelihatan dibikin tangan orang, bukan mesin.”

Biasanya aku membaca email di bawah meja selama makan siang keluarga. Hari ini ponselku kutelungkupkan di samping piring. Ibu tentu saja langsung melihatnya.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Itu jawabanmu kalau ada apa-apa.”

Aku minum air untuk membeli waktu. Tidak berhasil.

“Kalau aku bilang aku suka ditemani seseorang,” kataku pelan, “tapi aku belum tahu harus ngapain sama perasaan itu, Ibu bakal ceramah?”

“Tergantung. Dia tahu kamu suka ditemani?”

“Mungkin. Kami kerja bareng.”

Ibu tidak tersenyum menggoda. Ia meletakkan sendok dan menatapku seperti menatap murid yang lukisannya belum selesai: menunggu, bukan memilihkan warna.

“Kalau begitu, pikirkan juga apa yang bisa dia pilih dengan bebas,” katanya. “Dia kerja buat kamu, Nak.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu. Tapi kamu juga yang dulu bikin jadwal kencan sama Bram kayak jadwal rapat dewan.”

Aku meringis. Bram, pasanganku yang terakhir, pernah memintaku berhenti mengatur setiap pertemuan. Jawabanku waktu itu: mengosongkan satu malam tetap tiap minggu, lalu kesal kalau ia ingin melakukan hal lain di malam itu. Aku merasa sudah memberi waktu. Belakangan aku paham, waktu yang kuberikan tetap harus dipakai sesuai rencanaku.

“Ibu nggak bilang jangan,” lanjut Ibu. “Ibu cuma bilang, jangan bikin dia susah bilang tidak.”

Ibu tidak bertanya nama orangnya. Mungkin ia sudah tahu. Mungkin ia cukup menghormatiku untuk menunggu sampai aku sendiri yang menyebutnya.

Malam itu, di rumah, aku membuka jadwal Senin dan tanpa sadar mengecek jam penjemputan. Dua kali.

Aku berhenti.

Aku suka Fakhri.

Kalimat itu tidak datang seperti ledakan. Ia datang setenang cara Fakhri menunggu sabuk pengamanku berbunyi klik sebelum menjalankan mobil. Dan justru karena tenang, aku tidak bisa mengusirnya.

Aku sempat mengetik undangan makan malam di catatan pribadi. Kuhapus. Kalau masuk kalender kantor, Fakhri harus menjawabnya sebagai karyawan. Aku menggantinya dengan satu pengingat untuk diriku sendiri: Tanya langsung. Jangan bikin dia susah bilang tidak.

Tidak romantis. Tapi kalau aku memang suka padanya, itu pelajaran pertama yang harus kululusi.


Senin pagi, Fakhri sudah menunggu di samping mobil, seperti biasa. Aku duduk di belakang, memasang sabuk, dan menemukan matanya di spion.

“Tungku Aisyah selamat?”

“Selamat, Bu. Lebih berat dari dugaan. Pinggang saya yang belum tentu.”

“Kasihan. Berarti minggu ini kamu nggak akan minta izin dua jam lagi?”

Ia tidak langsung menjawab. Lalu: “Kalau Ibu memang butuh saya kerja, saya cek jadwal. Tapi kalau itu cara Ibu bilang senang saya balik, saya dengar, Bu.”

Aku memalingkan muka ke jendela supaya ia tidak langsung melihat wajahku. Fakhri belum pernah sefrontal itu. Atau mungkin aku yang baru mulai mendengar dengan telinga yang berbeda.

“Kamu cepat sekali ambil kesimpulan.”

“Ibu yang ngajarin saya jangan biarkan informasi penting ketinggalan.”

“Kalau begitu catat satu lagi.”

Ia menunggu. Aku bisa saja bicara soal rute. Aman. Hari ini aku tidak ingin aman.

“Aku lebih suka perjalanan kalau kamu yang nyetir.”

“Terima kasih, Bu.”

“Bukan cuma karena nyetirmu bagus.”

Di spion, tatapannya bertahan sedetik lebih lama dari biasanya. Lalu turun ke jalan, lalu naik lagi.

“Saya perlu jawab itu sebagai sopir, atau sebagai saya sendiri?”

“Kamu yang pilih.”

“Kalau gitu saya jawab setelah jam kerja.”

Aku tidak mendesak. Sepanjang jalan ia tetap memanggilku Bu Marina setiap kali Naya menelepon. Tapi begitu sambungan terputus, kulihat senyum kecil di sudut mulutnya: senyum orang yang tahu ia baru memenangkan satu ronde dan berusaha keras terlihat rendah hati.

Aku tidak menyiapkan kalimat balasan. Untuk pertama kalinya, menunggu sore terasa seperti sesuatu yang menyenangkan.