← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Eighteen

CV YANG TIDAK SAYA BACA

POV: Marina

Di layar ruang audit ada dua tabel. Yang pertama berisi waktu unggahan publik. Yang kedua berisi kode pesanan yang sudah disamarkan. Bimo berdiri di sampingnya seperti satpam yang tidak akan membiarkan satu kesimpulan pun masuk tanpa diperiksa tasnya.

“Kami belum menghubungkan ini ke pihak mana pun,” katanya. “Yang bisa diuji hari ini cuma: apakah unggahan tertentu mengikuti pola pembelian yang tidak biasa.”

Fakhri menambahkan bahwa laporan pelanggan sungguhan tidak otomatis masuk kelompok itu hanya karena diunggah di hari yang sama. Ia menjelaskan metodenya tanpa memamerkan satu istilah pun yang tidak perlu. Waktu analis muda menunjukkan hasil yang tampak mencurigakan, Fakhri justru memintanya mengecek apakah promo ritel di jam itu bisa menjelaskan lonjakan pembelian.

Aku belum pernah melihatnya bekerja di depan layar. Aku kenal caranya membaca persimpangan, memperkirakan waktu, dan menolak jawaban yang terlalu gampang. Di meja audit, kebiasaannya sama persis. Cuma alatnya yang berbeda.

Aku ingin bertanya dari mana ia belajar semua itu. Tapi ada enam orang di ruangan dan data pelanggan di layar. Pertanyaan tentang dirinya bisa menunggu.

Seusai rapat, Bimo menahanku di koridor.

“Dia membantu tim kami melihat kelemahan metode kami sendiri,” katanya. “Tapi penugasan ini jangan jadi jalur khusus ke kantor Ibu. Kalau ada perluasan tugas, saya yang mengajukan kebutuhannya. Bukan Ibu.”

“Setuju.”

Seminggu lalu, pujian seperti itu akan membuatku ingin langsung memberi Fakhri kesempatan sebesar mungkin. Sekarang aku harus memastikan kesempatan apa pun bisa ia tolak tanpa merasa sedang menolak aku.


Sore itu, setelah jam tim audit selesai, kami bertemu di kantin kantor yang hampir kosong. Ia membeli air sebelum pulang. Aku menunggu Naya mengambil berkas dari legal. Kami duduk berselang satu kursi. Tidak ada rapat di kalender, dan tidak ada mobil yang harus ia jalankan untukku.

“Kemarin kamu bilang mau cerita soal kampus,” kataku. “Masih boleh kutanya?”

“Boleh. Saya kira Ibu sudah tahu dari berkas HR.”

“Aku baca ringkasan pengalaman mengemudi dan referensimu. Nggak seluruh CV.”

Ia mengangguk pelan, seperti baru mengerti kenapa aku tidak pernah menyinggung pekerjaan lamanya.

“Saya kuliah Data Science di universitas negeri di Depok. Lulus sebagai yang terbaik di angkatan. Setelah itu kerja lepas beberapa tahun, kebanyakan klien luar negeri.”

Aku menatapnya. “Lulusan terbaik?”

“Iya.”

“Satu angkatan?”

“Satu angkatan, Bu. Bukan satu kelas. Saya juga sempat cek ulang waktu itu.”

Aku tertawa, lebih karena kaget daripada lucu. Ia menceritakan hari wisudanya dengan wajah yang lebih malu daripada waktu membahas tabel. Ayah dan ibunya datang jam lima pagi, membawa nasi dan lauk untuk sepuluh orang, padahal mereka cuma bertiga.

“Kata Ibu, gelar terbaik nggak bikin orang kebal lapar,” katanya. “Ayah lebih fokus nyari tempat parkir yang bisa keluar tanpa mundur.”

“Ayahmu dan mundur.”

“Musuh bebuyutan. Tapi beliau nggak pernah kalah.”

“Ibumu suka kamu jadi sopir?”

“Ibu suka saya pulang di jam yang bisa ditebak. Walaupun belakangan agak gagal.” Ia memutar botol air di meja. “Waktu kerja lepas, klien di zona waktu lain bisa telepon kapan saja. Bayarannya kadang besar, kadang harus ditagih tiga kali. Saya capek hidup dengan kalender yang isinya jam orang lain.”

Aku memandang botol di tangannya. Jadwalku juga sering menganggap jam orang lain lentur. Aku melihatnya setiap hari, dari kursi belakang, tanpa pernah menamai persoalannya.

“Kamu pernah mengerjakan sistem kayak yang dikerjakan tim Bimo?”

“Mengolah data yang lebih besar, bikin perangkat laporan, ikut pengujian keamanan yang memang diminta klien. Yang terakhir selalu pakai izin tertulis. Saya bukan orang yang bisa masuk ke semua sistem cuma karena tahu cara nulis kode.”

“Kenapa nggak bilang waktu wawancara?”

“Ibu tanya kenapa saya mau jadi sopir. Saya jawab: gajinya menarik dan saya suka nyetir. Dua-duanya masih benar.”

“Cukup menarik buat ninggalin proyek luar negeri?”

“Cukup pasti buat bayar cicilan rumah Ibu dan menabung tanpa nebak kapan invoice cair. Ada tunjangan, jam kerja tertulis, dan saya bisa berhenti menatap layar beberapa bulan.” Ia mengangkat bahu. “Saya nggak lagi dihukum sama ijazah saya sendiri, Bu.”

Jawaban itu membuatku teringat hari seleksi. Tiga map. Jadwal yang mustahil. Dan caraku menutup lampiran begitu selesai membaca pengalaman mengemudinya. Aku tidak dibohongi. Aku melewatkan halaman yang ternyata penting buat orang yang sekarang duduk satu kursi dariku.

“Aku kira kamu cuma pernah kerja administrasi data sebentar.”

“Ibu nggak pernah tanya lebih jauh.”

Ia tidak terdengar marah. Itu justru membuat maluku semakin jelas. Aku pernah membelanya di depan Om Jaya, tapi diam-diam masih menyimpan ukuran tentang kemampuan apa yang “pantas” untuk kursi depan mobilku. Aku harus berhenti memperlakukan gelarnya sebagai alasan baru untuk menghormatinya. Hormat itu seharusnya sudah ada dari awal. Sebagian memang sudah ada.

“Boleh aku lihat CV lengkapmu?” tanyaku. “Bukan buat cari kesalahan. Aku mau tahu apa yang dulu kulewatkan.”

“Boleh. HR punya versi yang saya kirim.”

Lalu aku membuat kesalahan, sebelum sempat menahan diri.

“Kalau kamu mau, aku bisa minta Bimo siapkan posisi analis tetap. Gajinya bisa kita bicarakan.”

Fakhri meletakkan botol airnya.

“Aku baru saja jelasin kenapa aku milih pekerjaan ini.”

Aku. Bukan saya. Kami memang sedang berdua, tapi kali ini ia tidak memakai keakraban itu untuk melunakkan keberatannya. Ia memakainya supaya aku tahu yang bicara bukan sopirku.

“Aku tahu kamu nggak minta jabatan,” kataku. “Aku cuma mikir—”

“Kamu mikir kursi di depan komputer lebih cocok buatku. Begitu tahu ijazahku.”

Aku tidak bisa menyangkalnya. Di kepalaku, tawaran itu adalah bentuk pengakuan. Di telinganya, mungkin terdengar seolah pekerjaan yang ia pilih baru bernilai setelah aku menemukan pekerjaan lain yang menurutku lebih pantas.

“Kamu benar. Aku terlalu cepat menawarkan solusi yang nggak kamu minta.”

“Aku ambil penugasan audit karena bisa bantu dan syaratnya jelas. Aku nggak mau setiap kemampuan yang kupunya jadi alasan orang lain memilihkan hidupku.”

“Maaf, Fakhri. Aku bikin pilihanmu kedengaran kayak keadaan darurat yang harus kuselamatkan. Kalau audit selesai dan kamu mau kembali nyetir, aku hormati. Kalau suatu hari kamu mau pindah bidang, kamu yang mulai.”

Ia tidak langsung tersenyum. “Ingat kalimat itu waktu kita beda pendapat lagi. Bukan cuma malam ini.”

“Kamu boleh mengingatkanku.”

“Pasti.”

Baru setelah itu bahunya turun sedikit. Ada kehangatan di antara kami, tapi aku tidak mendapat pengampunan penuh hanya karena pintar menyusun permintaan maaf. Anehnya, aku menyukai itu.

“Kamu masih senang nyetir buat aku?” tanyaku.

“Hampir setiap hari.”

“Hampir?”

“Kecuali waktu kamu minta aku menembus macet, seolah jalanan bisa dibujuk.”

Aku tertawa. Ia akhirnya ikut tersenyum. Lelucon itu tidak menghapus keberatannya. Tapi setidaknya kami pulang dalam keadaan masih saling bicara.


Setelah Fakhri pulang, aku minta HR mengirim berkas lengkap yang memang bagian dari proses rekrutmenku, sesuai izin yang baru ia berikan. Riwayat proyek internasional. Sertifikat pengujian keamanan berizin. Pengalaman mengemudi yang sudah diverifikasi. Catatan pelatihan defensive driving. Tidak ada identitas ganda. Tidak ada kehidupan rahasia. Semuanya tertulis di sana sejak hari pertama, dan ia melamar posisi yang memang ia pilih.

Naya masuk saat aku menutup berkas. “Mbak kelihatan kayak baru nemu salah ketik di laporan tahunan.”

“Salahnya di cara aku membaca.”

“Pak Fakhri marah?”

“Dia bilang aku mendengarkan. Belum tentu mengerti.”

Naya tidak buru-buru membelaku. Ia mengingatkan bahwa penugasan Fakhri selesai besok malam, dan tim Bimo mungkin masih butuh bantuan. Kalau berlanjut, tawarkan lewat jalur resmi. Biarkan Fakhri yang memutuskan.

“Dan jangan Mbak sendiri yang tanda tangan penilaian kinerjanya untuk audit,” tambahnya.

“Bimo dan HR.”

“Bagus. Boleh aku ngomong terus terang?”

“Sejak kapan kamu nunggu izin?”

“Sejak Mbak natap CV itu kayak mau minta maaf ke kertasnya.” Ia bersandar di pintu. “Yang Mbak suka dari dia sudah ada sebelum Mbak tahu gelarnya. Jangan sampai dia merasa harus terus membuktikan diri dengan cara yang menurut Mbak keren.”

Aku menutup map. Naya pernah memergokiku senyum sendiri setelah Fakhri membantah rute yang kususun. Ia tidak perlu pengakuan panjang untuk membaca sisanya.

Ponselku bergetar. Ringkasan dari Bimo: beberapa pola unggahan layak ditelusuri lebih jauh, tapi laporan pelanggan dengan batch SV-26-041 juga bertambah. Tidak ada satu cerita sederhana yang bisa menutupi cerita lainnya.

Aku meneruskannya ke QA dan legal, lalu mengembalikan CV Fakhri ke berkas HR.

Aku tertarik pada laki-laki yang berani bilang jadwalku mustahil. Mengetahui gelarnya tidak menciptakan perasaan itu. Gelarnya cuma membuatku sadar betapa sedikit yang pernah kutanyakan tentang hidup yang ia bangun di luar mobilku.

Besok aku akan mulai dengan pertanyaan. Tanpa tawaran kerja di belakangnya.