← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Twenty Nine

RUTE PALING PANJANG

POV: Marina

Sabtu siang, aku tiba di rumah Ibu tanpa minta Naya mengingatkan jamnya. Di tasku ada buah, sebotol teh kesukaan Ibu, dan satu pesan dari Fakhri yang sudah kubaca tiga kali:

Aku jemput Aisyah sama Ibu dulu, terus angkut wadah pensilnya. Jangan bilang ke Bu Tari kami sampai tepat jam satu. Jalannya penuh.

Kutunjukkan ke Ibu, yang sedang menyusun piring.

“Dia belajar nulis janji yang masuk akal,” kata Ibu.

“Dari dulu dia begitu. Aku yang suka minta jalan lebih cepat dari jam.”

Ibu menaruh satu piring tambahan. Tidak ada jamuan untuk menguji calon pasangan putrinya. Aisyah mengantar wadah pensil pesanan Ibu, Fakhri membantu mengangkut, dan ibu Fakhri ikut karena penasaran ingin melihat rumah si pemesan. Empat orang dengan urusan nyata yang kebetulan bertemu di jam makan siang.

Aku lebih gugup daripada saat dewan meminta proyeksi biaya tiga bulan.


Bel berbunyi pukul satu lewat dua belas. Fakhri berdiri di depan pintu dengan dua kotak di tangan. Di belakangnya, Aisyah membawa tas berisi contoh glasir, dan seorang perempuan berkacamata dengan kardigan krem memegang satu wadah pensil dengan dua tangan, hati-hati seperti memegang kue ulang tahun.

“Bu Laila,” katanya sambil tersenyum padaku. “Ibunya yang ini.”

“Marina, Bu.”

Tidak ada yang menyebut kata CEO. Ibu langsung menggiring Bu Laila ke meja tempat karya anak-anak biasa dipajang. Aisyah membuka kotak pertama dan dalam lima detik menemukan masalah: wadahnya pas untuk pensil panjang, tapi terlalu dalam untuk penghapus kecil.

“Bisa kubikinin sekat,” katanya.

“Tambah biaya berapa?” tanya Ibu.

“Satu kali perbaikan ukuran sudah termasuk, Bu. Ada di formulir.”

Fakhri menoleh padaku dengan alis terangkat. “Dia bawa kontrak ke acara makan siang.”

“Kamu kira keluarga kita nggak cocok?” bisikku.

Ia menaruh kotak dan menyentuh punggung tanganku sekilas. “Aku justru takut kalian bikin badan standardisasi sendiri.”

Bu Laila mendengar. “Kalau ada aturan baru, jangan suruh saya tanda tangan sebelum makan.”

Kami tertawa, dan ketegangan di pundakku turun beberapa senti. Lima menit kemudian, Ibu sudah mengajak Bu Laila ke halaman belakang. Dari jendela dapur aku bisa mendengar mereka membandingkan cara mengusir ulat dari daun cabai. Pot cabai yang kubeli minggu lalu ternyata sudah pindah ke barisan depan.

Fakhri dan aku bertukar pandang. Rupanya kami bukan peserta paling penting di pertemuan yang membuat kami gelisah sejak pagi.


Di meja makan, tidak ada yang bertanya kapan kami menikah, atau berapa lama kami akan bertahan.

Bu Laila bertanya apakah meja sewaan di studio nyaman untuk Fakhri bekerja. Aisyah menjawab lebih dulu: kakaknya mematuhi aturan mangkuk dan membayar sewa tepat waktu. Ibu bertanya apakah kami punya rencana akhir pekan depan. Aku bilang mungkin ke pasar tanaman, kalau jadwal Fakhri memungkinkan. Fakhri meralat: Sabtu ia harus mengirim laporan awal ke klien barunya, jadi berangkat sore saja.

Aku mengangguk. Rencana kami berubah, dan tidak ada yang menganggapnya penolakan. Dua bulan lalu, aku akan menganggap itu kekalahan kecil.

Bu Laila membantuku membawa gelas ke dapur ketika yang lain sedang memperdebatkan sekat wadah pensil.

“Dulu Fakhri pulang dari proyek luar negeri sambil masih ngomong ke layar sampai larut,” katanya pelan. “Waktu jadi sopir, saya lebih sering lihat dia tidur cukup. Sekarang dia balik ngerjain data. Tapi dia sendiri yang pasang jam tutup kerjanya.”

“Dia bilang gaji tetap itu bikin dia bisa bantu Ibu.”

“Betul. Dia juga belajar minta bayaran sesuai kerjanya, bukan nebak orang bakal bayar tepat waktu atau nggak.” Ia menaruh gelas di rak. “Saya senang dia nggak malu pernah nyetir.”

“Aku sempat nawarin dia pekerjaan lain. Seolah itu cara menyelesaikan semuanya.”

“Dia cerita.” Bu Laila tidak buru-buru menghiburku. “Dia juga cerita kamu minta maaf, terus membiarkan dia keluar. Saya tahu itu nggak gampang buat kalian berdua.”

“Masih nggak gampang, Bu.”

“Ya sudah. Berarti kalian bikin cara ketemu yang baru.”

Kami kembali ke meja membawa buah potong. Ia tidak memberiku instruksi cara mencintai anaknya. Ia cuma menyebut apa yang ia lihat, lalu membiarkan kami mengerjakan sisanya.

Setelah makan, Ibu mengeluarkan foto mangkuk biru yang dulu kubeli di studio Aisyah. Mangkuk itu sudah dipakai untuk buah, sup, dan sekali, tempat benang jahit sementara. Aisyah mengeluh mangkuknya bakal terkenal karena alasan yang salah.

“Barang yang benar-benar dipakai memang suka dapat kerjaan yang nggak terduga,” kata Fakhri.

Ia mengucapkannya sambil menatapku. Aku tahu ia tidak sedang bicara soal keramik. Kuinjak sepatunya pelan di bawah meja, supaya ia berhenti membuatku tersenyum di depan semua orang.

Bu Laila melihatku. “Dia ganggu?”

“Sedikit, Bu.”

“Dari kecil begitu. Kalau kamu bilang cukup, biasanya dia berhenti.”

“Sudah saya coba,” jawabku, lalu sadar aku memakai nada rapat untuk bercanda. “Mungkin saya belum bilang cukup.”

Fakhri mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. Aisyah menatap kami seperti penonton yang tidak pernah beli tiket. Kami buru-buru pindah topik ke warna glasir, sebelum aku benar-benar berani membalas godaannya di depan dua ibu sekaligus.


Sore itu, Fakhri mengantar Bu Laila dan Aisyah ke studio dengan mobil tuanya, yang selama ini cuma keluar di akhir pekan. Aku membantu Ibu mencuci piring. Ibu tidak bertanya apakah aku bahagia. Ia melihatku menyimpan dua potong kue ke dalam wadah.

“Buat siapa?”

“Fakhri belum sempat makan pencuci mulut.”

“Satu lagi?”

“Aku juga suka kue itu.”

Ibu tersenyum. “Bagus. Kamu nggak harus kasih semua yang kamu punya supaya orang mau tinggal.”

Aku menutup wadah itu. Ibu pernah melihatku berusaha menahan orang dengan waktu, hadiah, atau pekerjaan. Hari ini aku membawa kue karena ingin memakannya bersama. Kalau ia harus pergi lebih dulu, bagianku tetap bisa kumakan sendiri.

Fakhri kembali sebelum matahari turun. Ia membukakan pintu penumpang, lalu menunggu. Tidak ada gerakan sopir profesional yang mengejar agenda. Aku memasang sabuk sebelum ia sempat mengingatkan. Ia cuma tersenyum.

Ia mengecek apakah kursiku cukup nyaman dan wadah kue aman di lantai belakang. Aku hampir bilang ia boleh berhenti mengurus hal-hal kecil itu. Lalu sadar aku sendiri baru saja membungkus kue untuknya tanpa diminta. Kami boleh saling merawat tanpa menjadikannya daftar kewajiban.

“Mau ke mana?” tanyanya.

“Jalan memutar.”

“Itu cara, bukan tujuan.”

“Taman dekat sungai. Kita parkir terus jalan kaki. Kalau penuh, kita cari tempat lain bareng.”

“Instruksinya makin bagus.”

“Kamu sudah nggak digaji buat menilainya.”

“Makanya sekarang pendapatku gratis. Dan lebih nyebelin.”

Ia mengambil rute yang sedikit lebih panjang, tapi teduh. Aku tidak membuka ponsel kerja. Kami membicarakan Bu Laila yang menolak tanda tangan sebelum makan, tanaman Ibu yang sebentar lagi akan memenuhi jok belakang setiap minggu, dan Aisyah yang ternyata diam-diam memotret kami waktu kami berebut potongan kue terakhir.


Di taman, kami berjalan sampai menemukan bangku kayu di bawah pohon besar. Beberapa keluarga lewat di jalur utama, cukup jauh untuk terdengar seperti bagian dari sore, bukan penonton. Fakhri membuka wadah kue dan menyerahkan potongan pertama padaku.

“Kamu lihat aku nyimpan dua?”

“Aku lihat kamu nunggu semua orang ambil dulu, baru nyimpan bagianmu. Dulu kamu bakal biarin dua-duanya habis, terus bilang nggak lapar.”

“Kamu merhatiin terlalu banyak.”

“Lagi kutimbang batas yang wajar.”

“Jangan terlalu wajar hari ini.”

Ia meletakkan garpu plastiknya.

Aku duduk menghadapnya. Lutut kami bersentuhan. Sejak ciuman pertama di depan toko roti, ia tidak pernah menganggap kedekatan sebagai sesuatu yang otomatis ia dapat. Dan aku tidak mau lagi menyamarkan keinginanku dengan pertanyaan soal rute.

“Fakh,” kataku. “Aku pengin cium kamu lebih lama dari kemarin.”

Ia menahan tatapanku. “Aku juga pengin.”

Ia mendekat setelah aku mengangguk. Ciumannya mulai pelan, memberi kami waktu menyamakan napas. Ketika aku menariknya lebih dekat lewat kerah jaketnya, ia membalas dengan tangan di sisi wajahku. Aku merasakan senyumnya sebelum ciuman itu menjadi lebih dalam: hangat, dan cukup lama sampai aku lupa kalimat yang tadi sudah kususun untuk menggodanya.

Tidak ada yang terburu-buru meminta lebih. Aku yang berhenti lebih dulu, tetap dekat, dan ia membiarkan jarak itu kembali tanpa bertanya kenapa.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa.” Aku mengusap sudut bibirku, lalu menatapnya. “Aku kehilangan tiga kalimat. Itu kerugian operasional.”

“Bisa kubantu cari. Tapi mungkin butuh pemeriksaan ulang.”

Aku tertawa dan menempelkan dahiku ke dahinya. “Kamu makin berani.”

“Aku belajar dari orang yang nyuruh aku berhenti pura-pura.”

Kami duduk lagi, bahu bersentuhan, dan menghabiskan kue yang hampir terlupakan. Keinginan untuk menciumnya sekali lagi masih ada. Aku menyukainya tanpa harus menuruti setiap dorongannya. Sore ini sudah cukup.

Ponselku bergetar sekali. Naya: foto lokasi acara kantor hari Senin, dan pertanyaan apakah jam sembilan masih berlaku. Kubalas singkat: masih, dokumennya kita bahas Senin. Lalu ponsel kembali ke tas.

“Dulu kamu bakal buka semua berkas begitu foto itu masuk,” kata Fakhri.

“Mungkin. Sekarang aku tahu urusan yang benar-benar darurat punya nomor telepon sendiri.”

“Dan yang tadi?”

“Cuma orang yang mastiin aku datang tepat waktu. Mirip kerjaanmu dulu. Bedanya, dia nggak bisa protes soal musikku.”

Ia tertawa. Aku bersandar padanya sementara cahaya bergeser di atas jalan setapak.

“Sabtu depan sore, pasar tanaman?” tanyaku.

“Setelah laporan klien terkirim. Kamu jangan nunggu sambil skip makan siang.”

“Aku makan sama Ibu dulu. Kamu jemput kalau sudah selesai.”

“Atau kita ketemu di sana. Aku nggak harus selalu jadi yang bawa mobil.”

“Benar.” Aku menggenggam tangannya. “Kita pilih yang paling enak buat dua-duanya.”

Kami berjalan kembali sebelum taman tutup. Di persimpangan menuju parkiran, Fakhri berhenti dan menungguku memilih. Aku menunjuk jalan yang memutar lewat deretan pohon, sedikit lebih jauh, dengan cahaya sore yang jatuh di sela daunnya.

Ia tidak menanyakan efisiensinya. Ia cuma ikut, sambil membawakan wadah kue kosong yang nanti akan kami kembalikan ke Ibu.