Chapter Thirty
MAU KE MANA?
POV: Fakhri
Tiga minggu setelah penarikan SV-26-041 diumumkan, aku menandatangani kontrak klien pertamaku sebagai analis independen.
Klienku sebuah usaha logistik yang diperkenalkan rekan proyek lamaku. Bukan Asterra. Bukan teman Marina. Kami sudah menyelesaikan uji coba kecil memakai data milik mereka sendiri. Kontraknya memuat ruang lingkup, jam komunikasi, cara mencabut akses setelah pekerjaan selesai, dan tanggal pembayaran. Tidak ada angka yang membuatku mendadak kaya. Yang ada adalah uang muka cukup untuk sewa meja Aisyah beberapa bulan, dan keyakinan bahwa aku bisa membangun pekerjaan tanpa kembali hidup di dua zona waktu yang tidak pernah tidur.
Sehari sebelum tanda tangan, klien sempat minta satu dasbor tambahan yang tidak ada di uji coba. Dulu aku akan langsung menyanggupi, supaya kerja sama pertama terasa aman. Kali ini aku menulis dua pilihan: tambah biaya dan waktu, atau simpan dasbor itu untuk tahap kedua.
Mereka memilih tahap kedua. Kami tetap berjabat tangan lewat layar, dan aku menutup laptop tepat di jam yang kusebut di proposal.
Batas yang kutulis ternyata tidak membuat pekerjaanku kurang berharga.
Aisyah membaca halaman depan kontrak setelah aku menutup bagian yang tidak perlu ia lihat. Ia menunjuk satu klausul.
“Kalau mereka nelepon tengah malam karena lupa password?”
“Bukan jam dukunganku. Mereka punya tim sendiri.”
“Akhirnya kamu nulis batas yang sanggup kamu jalani.”
Ia menyodorkan kuitansi sewa bulan depan. Perayaan dari adikku memang selalu disertai administrasi. Kubayar saat itu juga, lalu membantunya mengangkat dua kotak keramik ke van kurir.
Dulu aku melamar jadi sopir karena ingin penghasilan pasti dan waktu yang bisa ditebak. Keputusan itu memberiku tabungan, dan ruang untuk memulai lagi. Aku tidak perlu menjelek-jelekkan pekerjaan lama untuk merasa pantas menikmati pekerjaan yang sekarang.
Ponselku bergetar. Ibu: Minggu depan makan malam di rumah? Ibu mau ketemu Marina lagi. Katanya dia mau ngajarin cara bikin teh yang Ibu suka.
Kubalas bahwa kami akan cek jadwal bersama dulu. Tidak ada satu pun dari keluarga kami yang perlu menjadikan satu undangan makan sebagai keputusan seumur hidup.
Siang itu, Marina menemuiku di depan studio. Ia mengambil cuti setengah hari, tercatat jauh sebelum kami membuat rencana. Wahyu mengantarnya untuk urusan dinas pagi tadi, lalu kembali ke garasi. Setelah ini ia ikut mobilku, sebagai penumpang, karena kami memang mau pergi bersama.
Di tangannya ada dua bungkus makan siang.
“Aku tahu kamu bakal lupa makan kalau kontraknya datang,” katanya.
“Aku belum lupa. Cuma belum mulai.”
“Definisi yang mencurigakan.”
Kami duduk di bangku depan studio. Satu bungkus berisi makanan yang biasa kupesan. Satu lagi pilihannya sendiri. Ia tidak lagi membagi makananku karena jadwal terlalu sempit. Ia membawa porsi untuk masing-masing.
Aisyah keluar, melihat kami sudah makan, dan memutuskan tidak perlu mengawasi lebih jauh.
“Kalau kalian pakai bangku ini tiap minggu, kutagih sewa.”
“Tulis tarifnya,” kata Marina.
“Jangan mulai,” kataku pada keduanya.
Setelah makan, Marina membuka laman pembaruan Asterra yang sudah diumumkan ke publik, dan menyerahkan ponselnya padaku. SV-26-041 tetap ditarik. Sebagian besar stok gerai sudah kembali; unit di tangan pembeli masih dilacak. Beberapa laporan pelanggan belum selesai, termasuk yang butuh tindak lanjut panjang. Dana pengembalian dan layanan belum ditutup. Jalur eskalasi uji kemasan diubah, dan setiap rilis bersyarat sekarang wajib diperiksa pihak luar. Sinta menerima sanksi disiplin sesuai hasil audit, tidak lagi memegang wewenang tunggal untuk rilis batch, dan membantu menyerahkan catatan ke tim baru.
Aku membacanya sebagai pembaca biasa. Bukan orang yang pernah punya akses audit.
“Lilis masih minta tambahan dua petugas,” kata Marina. “Panggilan turun, tapi kasus yang tersisa justru lebih lama ditangani. Dewan setuju sampai evaluasi berikutnya.”
“Bagus dia minta berdasarkan kerja yang masih ada.”
“Dulu aku mungkin baca grafik turun, terus ngira semuanya sudah beres.”
Ia tidak memintaku bilang bahwa ia sudah jadi CEO yang sempurna. Aku tahu ia baru menolak memangkas tim layanan justru ketika laporannya terlihat lebih baik. Tindakan itu lebih berarti daripada penilaian apa pun dariku.
“Kursimu sudah aman?”
“Selama target perbaikan tercapai dan dewan menilai hasilnya. Nggak ada jaminan seumur hidup.”
“Kalau suatu hari mereka milih orang lain?”
Ia tidak menjawab cepat. “Aku bakal sedih. Mungkin marah. Tapi aku nggak mau ukuran diriku habis di papan nama kantor.”
“Kalau hari itu datang,” kataku, “aku dengerin kamu marah. Aku nggak akan langsung datang bawa daftar jabatan yang menurutku cocok buat kamu.”
Ia menyipitkan mata. “Kamu barusan pakai kesalahanku sendiri buat menggoda aku?”
“Sedikit.”
“Bagus. Berarti aku pernah ngajarin kamu sesuatu yang menyebalkan.”
Soal distributor, pemberitahuan publik menyebut kerja sama dengan Lintas Rupa diakhiri setelah masa tanggapan, pemeriksaan dokumen tambahan, dan tinjauan kontrak. Agensinya diminta bertanggung jawab atas konten yang dibuat tanpa verifikasi pengalaman. Jalur sengketa komersial masih bisa berjalan. Beberapa gerai pindah ke distributor pengganti, artinya ada stok produk lain yang terlambat dan biaya logistik baru. Pembeli batch yang cacat tetap dibantu, meski kampanye ulasannya terbukti terkoordinasi.
“Ada orang kantor yang nanya, aku dapat hasil audit darimu sebelum rapat dewan atau nggak,” kata Marina.
“Kamu jawab apa?”
“Kubilang kamu sudah nggak punya akses sejak hari terakhir kerja. Bimo dan auditor yang memeriksa dokumen. Aku bisa cerita soal pacarku tanpa meminjam otoritasnya buat meyakinkan dewan.”
Aku tertawa pelan. “Kamu nyebut aku pacar di kantor?”
“Kalau ditanya langsung sama orang yang perlu tahu soal benturan kepentingan, iya. Nggak ada pengumuman di grup besar.” Ia menatapku. “Keberatan?”
“Nggak. Aku juga nyebut kamu pacarku tiap kali Aisyah nanya kenapa aku senyum waktu ponsel bunyi. Itu sudah menghabiskan kesabarannya.”
“Satu lagi,” katanya. “Aku mau satu malam tiap minggu yang kita usahakan bareng. Bukan kewajiban. Kalau aku harus menggesernya, aku yang bilang langsung. Bukan Naya.”
“Aku juga. Kalau tenggat klien geser, aku yang bilang. Bukan menghilang sampai selesai.”
Kami membuka kalender masing-masing. Selasa tidak bisa untuknya. Kamis sering habis untuk laporan pengembalian. Kami memilih Minggu sore, dan sepakat tidak memperlakukannya sebagai hukuman bagi siapa pun yang butuh istirahat. Rencana sekecil itu ternyata jauh lebih sulit daripada bilang kapan saja. Dan justru karena itu, lebih mungkin kami jalani.
Di pintu studio, seorang kurir yang dulu beberapa kali melihatku menjemput Marina berhenti dan memandang kami bergantian.
“Lho, Bu Marina.” Ia menunjukku. “Ini Pak Fakhri yang dulu sopirnya Ibu, kan?”
Kalimat itu dulu punya satu jawaban baku di kepalaku. Saya cuma sopirnya. Kupakai untuk orang-orang seperti Om Jaya. Kupakai juga sebagai pagar, waktu aku takut perasaanku terlihat.
Tapi Marina menjawab lebih dulu.
“Iya. Dulu dia sopir saya, dan sopir yang sangat baik. Sekarang dia punya usaha sendiri.” Ia menggenggam tanganku. “Dan sekarang dia pacar saya. Kami lagi makan siang.”
Kurir itu mengangguk, menanyakan alamat pengambilan kotak, lalu masuk ke studio. Hal paling besar di hidupku minggu ini, baginya, cuma satu informasi tambahan sebelum mengangkat kardus.
“Kamu nggak harus selalu membelaku,” kataku setelah ia pergi.
“Aku nggak membela. Aku cuma jawab dengan benar.”
“Aku sempat takut kamu bakal merasa perlu menjelaskan gelarku setiap ada yang nyebut pekerjaan lamaku.”
“Dulu hampir.” Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. “Sekarang aku tahu itu bisa kedengaran seolah sopir yang baik baru layak dihormati kalau punya ijazah tertentu. Kamu kerja dengan baik waktu itu. Kamu kerja dengan cara lain sekarang. Aku jatuh cinta sama orangnya, bukan sama salah satu jabatannya.”
Dulu, setiap kali orang bilang aku cuma sopirnya, rasanya aku harus memilih: membela martabat pekerjaan itu, atau membuktikan aku lebih dari itu. Ternyata aku tidak perlu memilih. Aku boleh membawa seluruh riwayatku ke hidup berikutnya tanpa menyamar, dan tanpa minta maaf.
Kami masuk ke mobil tuaku.
Marina memasang sabuk sebelum aku sempat meraih kunci. Aku mengecek spion dan menemukan ia sedang menatapku, tanpa niat menyembunyikannya.
“Apa?”
“Aku suka lihat kamu nyetir waktu kamu memang pengin. Bukan karena aku yang nyuruh.”
“Aku suka kamu ikut tanpa ngatur setiap belokan.”
“Aku masih punya pendapat soal musik.”
“Itu hak penumpang. Aturan mobil nomor satu: penumpang boleh minta lagu. Sopir boleh nolak kalau lagunya diputar lima kali berturut-turut.”
“Kamu baru bikin aturan itu.”
“Aku pemilik mobilnya.”
Marina memilih lagu yang pernah kami dengar dari jendela kedai, lalu menelungkupkan ponselnya. Ia tidak membuka laporan kerja. Cutinya punya batas di sore hari, dan kami tidak perlu meminjam hari esok untuk menikmati beberapa jam ini.
Aku memasang sabukku. Klik. Dua bunyi, berurutan.
“Mau ke mana?” tanyaku.
“Toko roti yang dulu kamu paksa berhenti karena jam istirahatmu. Aku mau beli dua roti. Satu buat masing-masing.” Ia melirikku. “Habis itu kita coba jalan yang belum pernah kita lewati. Kamu punya usul?”
Aku membuka peta. Ada jalur yang lebih panjang menuju taman kecil di pinggir kota, dengan tempat parkir dan perkiraan jam pulang yang masuk akal. Kutunjukkan padanya, termasuk satu ruas yang biasanya padat.
“Boleh,” katanya. “Kalau tempatnya nggak menarik, kita pulang. Cari tujuan lain minggu depan.”
“Minggu depan kamu makan malam sama Ibu.”
“Oh iya. Minggu depannya lagi.”
“Aku ada tenggat klien hari Sabtu. Minggu sore bisa.”
“Kusimpan Minggu sore. Kamu boleh geser kalau tenggatmu geser.”
Aku menyalakan mesin. Rencana kami cukup kecil untuk dijalani, dan cukup longgar untuk diubah bersama. Dua roti menunggu di ujung jalan pertama. Setelah itu, jalan yang belum pernah kami lewati.
Aku mengambil belokan yang kami pilih berdua. Marina menaikkan volume lagu sedikit, lalu langsung menurunkannya lagi begitu aku mulai ikut bernyanyi, dengan suara yang menurutnya perlu diaudit secara independen.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA? reading