← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Five

SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN

POV: Marina

Ibu mengirim lima pesan pada Jumat pagi. Tiga tentang pameran, satu foto lukisan anak-anak yang dipasang terlalu tinggi, dan satu pertanyaan apakah Pak Fakhri jadi datang.

Ia tidak bertanya apakah aku jadi datang. Sejak awal aku yang mengurus izin penggunaan gedung, jadi ia menganggapku tidak punya alasan untuk kabur. Fakhri, sebaliknya, masih punya pilihan.

Aku mengetik bahwa kami akan tiba setelah jam enam. Ibu membalas dengan emotikon jempol dan foto satu kotak kue yang sudah diberi label untuk sopir Marina yang berani. Aku menyimpan ponsel sebelum Naya sempat melihat layar.

“Sore ini jadwal Mbak selesai jam lima,” katanya, sambil menyerahkan map. “Kalau mau ke pameran, ada waktu ganti baju.”

“Aku pulang sebentar.”

“Pak Fakhri sudah diberi tahu acara itu bukan agenda kerja wajib. Dia bilang tetap bisa antar, lalu mampir sebagai tamu setelah selesai bertugas.”

Aku berhenti membolak-balik map. “Kamu bertanya sedetail itu?”

“Aku belajar dari aturan mobil.”

Naya pergi sebelum aku bisa membalas. Sekarang semua orang rupanya menganggap kertas yang kutulis karena kesal sebagai piagam baru kebebasan berpendapat. Bagian yang menjengkelkan: kertas itu memang bekerja.

Di rumah, aku mengganti setelan kantor dengan blus biru gelap dan celana panjang yang nyaman. Fakhri menunggu di luar pagar sesuai kebiasaan. Ketika aku masuk mobil, ia melihatku sekali lewat spion, lalu terlalu cepat kembali memandang jalan.

“Ada apa?”

“Nggak ada, Bu.”

“Kamu biasanya punya komentar.”

“Tadi saya mau bilang warna bajunya bagus.”

“Kenapa nggak jadi?”

“Saya pikir Ibu bakal bikin aturan nomor enam.”

Aku menatap belakang kepalanya beberapa detik. “Komentar yang sopan masih diperbolehkan.”

“Kalau begitu, warnanya bagus, Bu.”

“Terima kasih.”

Sesederhana itu. Anehnya aku memeriksa pantulan diriku di jendela setelah mengucapkannya.

Pameran diadakan di gedung serbaguna dekat studio. Anak-anak dan remaja yang belajar bersama Ibu membuat lukisan tentang tempat mereka merasa aman. Sebagian menggambar rumah. Satu anak menggambar halte dengan kursi panjang karena di sana ia menunggu ayahnya pulang kerja. Ibu menunjukkannya kepadaku dengan mata berbinar, seolah lukisan itu baru memenangkan penghargaan dunia.

“Pak Fakhri!” serunya ketika melihat kami. “Kuenya sudah Ibu amankan sebelum diambil panitia.”

“Terima kasih, Bu Tari. Tapi kalau panitia perlu, buat mereka saja.”

“Sudah Ibu sisihkan. Kamu makan setelah lihat-lihat.”

Ia mengangguk dan melepas jaket luarnya sebelum masuk. Tidak ada seragam khusus malam itu, hanya kemeja gelap yang biasa ia pakai bekerja. Naya sudah mengatur jam kerjanya selesai ketika kami tiba. Aku sengaja tidak bertanya kepadanya apakah ia mau mendampingiku, sebab ia telah menerima undangan Ibu sebagai dirinya sendiri.

Kami sempat terpisah. Aku berbicara dengan seorang pengajar soal kebutuhan bingkai untuk pameran berikutnya, sementara Fakhri membaca catatan di bawah lukisan halte. Seorang anak menjelaskan kepadanya mengapa gambar orang di halte itu punya enam kaki: ia mengulang gambar ayahnya tiga kali supaya terlihat sedang berjalan. Fakhri mendengarkan sampai selesai, lalu bertanya apakah ayahnya sudah melihat lukisan itu. Anak tersebut mengangguk dengan bangga.

Aku sedang melihat mereka ketika Om Jaya datang membawa dua gelas minuman. Ia sepupu Ibu yang selalu muncul di acara keluarga dengan komentar tentang siapa yang tampak lebih sukses dari tahun sebelumnya.

“Marina, kau bawa staf kantor ke acara begini?” tanyanya. “Sekarang sopir juga diajak lihat pameran?”

“Dia diundang Ibu.”

“Baik sekali kamu. Tapi jangan terlalu akrab. Nanti orang suka salah paham.”

Aku mengambil gelas yang disodorkannya hanya agar tanganku punya kegiatan selain menunjuk pintu keluar. “Salah paham tentang apa?”

“Ya, kamu tahu sendiri. Orang kerja kalau dikasih perhatian berlebihan bisa merasa punya tempat lain.”

Fakhri berdiri tidak jauh dari kami. Ia mungkin mendengar; ia sedang menutup buku tamu ketika Om Jaya meninggikan suara. Aku ingin menjawab cepat, tajam, dan cukup keras agar satu ruangan tahu pendapatku tentang kalimat itu.

“Tempatnya di sini memang sebagai tamu,” kataku. “Ibu mengundang dia. Kalau Om mau tahu kenapa, tanya Ibu. Jangan menilai orang dari pekerjaan yang dia tulis di formulir.”

Om Jaya tersenyum tipis. “Kau selalu serius sekali.”

“Om yang mulai bicara serius.”

Aku meletakkan gelas yang belum kuminum di meja. Dari sudut mata, kulihat Fakhri menghampiri kami. Ia tidak memasang wajah orang yang perlu dibela, juga tidak berpura-pura tidak mendengar.

“Malam, Pak,” sapanya kepada Om Jaya. “Bu Tari tadi minta saya lihat lukisan panel yang kemarin kami bawa. Ternyata sudah dipasang. Kalau Bapak mau, anak-anaknya juga senang cerita soal gambarnya.”

Om Jaya tampak kehilangan arah percakapan. Ia mengangguk, berkata harus menemui seseorang, lalu pergi. Fakhri tidak mengejarnya dengan tatapan kemenangan. Ia hanya menoleh kepadaku.

“Ibu baik-baik saja?”

“Seharusnya itu aku yang tanya.”

“Saya sudah pernah dengar komentar begitu. Bukan berarti saya suka, tapi saya tahu harus jawab apa.”

“Aku nggak akan diam kalau ada orang bicara begitu di depanku.”

“Saya nggak minta Ibu diam.” Ia melihat ke arah Om Jaya yang sudah berbicara dengan tamu lain. “Cuma jangan jadikan saya alasan buat berantem sama keluarga. Saya bisa bicara untuk diri saya sendiri.”

Kalimat itu tidak disampaikan untuk membuatku merasa bersalah. Justru karena ia mengatakannya pelan, aku mendengarnya dengan jelas. Aku teringat cara kuambil alih begitu banyak percakapan di kantor sebelum tahu siapa yang sebenarnya perlu bicara.

“Kamu benar,” kataku. “Aku kesal mendengar dia, tapi tadi aku hampir menjadikan perasaanku lebih penting daripada perasaanmu.”

“Ibu boleh kesal. Saya juga kesal.”

“Kamu nggak kelihatan.”

“Saya sedang mikir kalimat yang nggak bikin Bu Tari harus minta maaf ke semua tamunya.”

Aku tertawa kecil. Fakhri ikut tersenyum, dan untuk beberapa detik percakapan itu menjadi milik kami, bukan milik Om Jaya.

Ibu datang sambil membawa kotak kue. “Kalian mau berdiri di sini sampai lukisannya diturunkan? Fakhri, ini bagianmu.”

“Bu, dia boleh ambil sendiri,” kataku.

“Ibu tahu. Ibu cuma suka menyerahkan sesuatu sambil menyebut nama orangnya.”

Fakhri menerima kotak itu. “Terima kasih, Bu Tari.”

Ia membuka tutupnya dan menawarkan satu kue kepadaku lebih dulu. Aku mengambil yang paling kecil; ia melihat pilihanku tetapi tidak berkomentar. Bagus. Aturan nomor empat bertahan.

Menjelang tutup, kami membantu membereskan meja pendaftaran. Fakhri bertanya kepada Ibu apakah lukisan halte itu akan dibawa pulang anaknya atau disimpan untuk pameran berikutnya. Ibu memanggil si anak untuk memutuskan sendiri. Aku memperhatikan Fakhri mendengarkan jawabannya dengan keseriusan yang sama seperti saat mendengarkan jadwal perjalananku.

Ketika kami bersiap pulang, Fakhri bertanya apakah aku ingin menunggu sampai Ibu selesai mengunci gedung. Aku menawarkan diri ikut mengantar Ibu, tetapi ia sudah ada tumpangan bersama pengajar lain. Naya mengonfirmasi bahwa perjalanan pulang dicatat sebagai jam kerja baru setelah Fakhri menghadiri acara sebagai tamu. Ia sendiri yang meminta pengaturan itu. Aku menyadari betapa mudahnya bagiku menganggap orang selalu tersedia kalau aku tidak bertanya.

Di mobil, ia kembali ke kursi pengemudi setelah memastikan jam kerja tambahannya dicatat. Aku duduk di belakang, memegang katalog kecil pameran. Kami melewati satu lampu merah dalam diam yang tidak canggung.

“Om Jaya memang suka bicara tanpa pikir,” kataku akhirnya.

“Saya sudah lihat.”

“Aku nggak mengundang dia.”

“Ibu nggak perlu jelasin itu ke saya.”

Aku memandang kaca spion. “Tadi waktu kamu bilang bisa bicara untuk diri sendiri, aku dengar. Kalau lain kali ada yang seperti itu, aku akan kasih kamu ruang dulu.”

“Kalau saya perlu bantuan, saya bilang.”

“Janji?”

“Janji, Bu.”

Kami sampai di depan rumah. Saat Fakhri membukakan pintu, ia menahan katalog yang hampir terjatuh dari pangkuanku. Jari kami tidak bersentuhan; ia hanya menyerahkannya kembali dengan hati-hati.

“Saya senang datang malam ini,” katanya. “Lukisan haltenya bagus.”

“Aku juga senang kamu datang.”

Ia menatapku sesaat, lalu mengangguk. Tidak ada godaan setelahnya. Aku masuk rumah dengan katalog di tangan dan pikiran yang lebih ramai daripada aula pameran tadi.

Di balik pintu, ponselku bergetar. Pesan dari Ibu hanya satu kalimat: Makasih sudah datang. Tadi Ibu lihat kamu senang. Aku membalas bahwa aku memang senang, lalu mengajaknya makan siang akhir pekan. Untuk pertama kalinya aku tidak menganggap ajakan keluarga sebagai celah kosong yang harus diisi pekerjaan.