← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Twenty One

SURAT PENGUNDURAN DIRI

POV: Fakhri

Pukul enam pagi, aku menelepon Ibu dari meja makan apartemen. Ia sedang menyiram tanaman, dan kalimat pertamanya adalah pertanyaan apakah aku akhirnya tidur.

“Cukup,” jawabku.

“Cukup itu berapa jam?”

“Cukup buat nyetir dengan aman, Bu.”

“Itu jawaban sopir. Ibu tanya anak Ibu.”

Aku tidak menjawab. Semalam pikiranku penuh: laporan QA, rapat dewan Marina pagi ini, dan satu kalimat di sofa lobi yang nyaris membuat kami berciuman.

Di depanku ada draf surat pengunduran diri. Kutulis tiga minggu lalu, sebelum audit dimulai, dan tanggal di pojok kanan atasnya sudah kuganti dua kali. Rencananya sudah lama: praktik analitik kecil, klien yang paham batas jam kerja, dan menyetir karena aku senang, bukan karena menunggu invoice dari zona waktu lain. Gaji sopir membantuku menabung modal dan membayar cicilan rumah Ibu dengan teratur. Audit di Asterra cuma mengingatkanku bahwa aku masih suka pekerjaan data, asal ruang lingkup dan izinnya jelas.

“Kalau kamu pindah kerja, bilang karena apa,” kata Ibu setelah mendengar rencanaku. “Jangan jadikan orang lain alasan yang lebih gampang diceritakan.”

“Aku bakal bilang semuanya.”

“Semua yang perlu dia tahu,” koreksi Ibu. “Jangan sekalian bacakan tabel keuanganmu.”

Aku tertawa. Ibu memang paling cepat memotong kebiasaanku menjelaskan sesuatu sepanjang laporan tahunan.

Marina bukan alasan rencana ini ada. Tapi kehadirannya membuatku sadar satu hal: selama aku bekerja langsung untuknya, setiap pilihan pribadi kami akan selalu tercampur dengan jadwal, penilaian kinerja, dan slip gaji. Itu alasan tambahan untuk jujur. Bukan alasan untuk pura-pura pergi demi sebuah ciuman.


Di kantor, aku menemui HR lebih dulu. Masa pemberitahuan sesuai kontrak, plus serah terima. Petugas HR mengecek jadwal armada dan mengusulkan Senin sebagai hari terakhir, kalau semua beres. Tiga hari kerja termasuk hari ini. Lebih pendek dari bayanganku, tapi Pak Darto memang sudah memegang sebagian besar perjalanan Marina selama audit.

“Alasan resminya mau ditulis apa?”

“Perubahan arah kerja.”

Ia mengetik, lalu melirikku. “Ada masalah dengan atasan?”

“Tidak.”

Aku menjawab tanpa jeda, dan itu benar. Apa pun yang terjadi antara aku dan Marina nanti, kontrak dan upahku selama ini selalu jelas. Aku tidak mau ada yang mengarang cerita hanya karena suratku masuk tepat ketika perusahaan sedang disorot.

Bimo menemukanku di ruang audit sedang menyusun daftar serah terima.

“Kamu mau keluar di tengah pekerjaan yang belum selesai?”

“Tim Bapak bisa mengulang perhitungan saya. Asumsi, versi data, sama hal-hal yang belum terbukti sudah saya tulis semua. Tiga hari ini saya bantu handover.”

“Kamu yakin waktunya tepat?”

“Buat audit, mungkin nggak nyaman. Buat saya, iya.”

“Kalau ada temuan baru setelah kamu keluar, orang mungkin tetap nyebut namamu.”

“Silakan jelaskan kerja saya yang terdokumentasi, Pak. Tapi jangan sebut kesimpulan yang belum saya tanda tangani seolah itu temuan saya.”

Bimo menatapku agak lama. “Saya berharap semua orang yang keluar dari sini ninggalin catatan sebersih ini.”

“Belum tentu bersih, Pak. Belum diuji orang lain.”

Ia mendengus, hampir seperti tertawa, lalu mencoret satu baris dari daftarku: akses data retur. Analis tetap akan mengambil alih mulai besok. “Dan jangan bawa salinan buat portofolio.”

“Nggak akan. Yang ini punya Asterra dan pelanggannya.”


Naya mengirim jadwal: dewan mulai pukul sepuluh, Marina meninjau berkas sebelumnya. Aku minta waktu lima belas menit lewat HR, tanpa menyebut alasan di pesan pribadi.

Waktu dipersilakan masuk, Marina sedang berdiri di depan layar besar yang menampilkan peta stok SV-26-041. Tiga gerai kecil belum mengonfirmasi penghentian penjualan. Ia menandai nama penanggung jawabnya dulu, baru menghadapku.

“Kalau soal analisis, Bimo bisa ikut.”

“Ini soal pekerjaan saya, Bu.”

Ia duduk. Aku menyerahkan surat dan menjelaskan masa transisi yang sudah kubicarakan dengan HR. Matanya bergerak dari tanggal ke tanda tanganku. Aku tahu ia pembaca dokumen yang cepat. Kali ini ia berhenti jauh lebih lama dari yang diperlukan.

“Kamu resign?”

“Iya. Senin hari terakhir, kalau serah terimanya selesai.”

“Karena tawaranku waktu itu?”

“Bukan. Drafnya sudah ada sebelum audit dimulai.” Aku berhenti, lalu memakai sapaan yang kami simpan untuk saat berdua. “Aku sudah lama mau coba kerja analitik sendiri, dengan cara yang lebih sehat. Aku juga masih suka nyetir. Dua hal itu bisa sama-sama benar.”

“Kamu nggak pernah bilang.”

“Aku belum mutusin tanggalnya. Dan aku nggak wajib mengumumkan rencana sebelum siap.”

Ia meletakkan surat itu dengan hati-hati, seperti benda yang bisa pecah. Aku menunggu ia bertanya soal calon klien atau modal. Ia malah meraih telepon meja dan hampir menekan nomor HR.

“Tunggu. Kalau masalahnya fleksibilitas, aku bisa minta Bimo bikin posisi yang lebih tinggi. Kamu pilih proyek dan jamnya sendiri. Soal gaji—”

“Marina.”

Ia berhenti. Namanya terdengar asing di ruang CEO, di tengah jam kerja. Aku melirik pintu yang tertutup.

“Beberapa hari lalu kamu sudah minta maaf karena nawarin kursi lain sebelum dengar pilihanku.”

“Aku ingat. Tapi kamu pergi waktu semuanya lagi berantakan. Aku cuma mau mastiin kamu nggak merasa harus keluar supaya—”

“Supaya kita bisa ciuman?”

Ia menarik napas. “Aku nggak bilang begitu.”

“Aku juga nggak pura-pura itu nggak ada di kepalaku. Tapi surat ini bukan tiket buat mendekati kamu. Aku pergi buat pekerjaan yang mau kubangun. Kalau setelah ini kamu nggak mau ketemu aku, keputusanku tetap sama.”

Wajahnya berubah. Kalimat terakhir itu rupanya lebih tajam dari yang kumaksud.

“Jadi kamu sudah menyusun hidupmu sampai bagian di mana aku boleh hilang?”

“Aku menyusun bagian yang memang hakku. Bagianmu nggak bisa kususun.”

Ia berdiri, berjalan ke layar, memunggungiku. Tangannya menyentuh label tiga gerai yang belum menjawab. Ia bisa menelepon kepala penjualan dan menuntut kepastian soal gerai-gerai itu dalam sepuluh menit. Untuk kami berdua, tidak ada nomor yang bisa ia telepon.

“Aku takut kamu pergi, Fakhri,” katanya akhirnya, masih menghadap layar. “Dan yang keluar dari mulutku malah tawaran jabatan. Aku tahu itu kedengarannya jelek.”

Aku bangkit, tapi tidak mendekat. “Aku nggak minta kamu senang hari ini. Aku cuma minta, jangan jadikan surat ini bukti aku ninggalin kamu pas kamu lagi susah.”

“Tapi Senin kamu memang pergi.”

“Dari pekerjaan. Kalau mau bicara soal yang lain, kita bicara setelah itu. Sampai hari terakhir, tugasku tetap kuselesaikan.”

Ia menoleh. Kalimatku jelas belum cukup. Mungkin memang tidak akan cukup hari ini. Aku ingin bilang aku akan datang kalau ia menghubungiku, ingin membuat minggu depannya sedikit kurang menakutkan. Tapi janji dari pegawai yang baru menyerahkan surat resign di depan atasannya bisa terdengar seperti syarat yang tak sengaja kami buat.

Ketukan Naya menyelamatkan kami dari kalimat berikutnya.

“Mbak, dewan masuk sepuluh menit lagi. Dua gerai sudah konfirmasi. Satu masih dicari.”

Marina mengangguk. Wajah kerjanya kembali terpasang, meski matanya belum.

“HR akan memproses suratmu sesuai ketentuan,” katanya padaku. “Serahkan daftar audit ke Bimo. Dan jangan nyetir kalau jam analisismu bikin kamu capek.”

“Baik, Bu.”


Di ruang audit, analis tetap Bimo, Dita, memintaku menjelaskan kenapa satu kelompok ulasan dikeluarkan dari hitungan padahal kalimatnya mirip. Kami membuka catatan promo ritel dan mengulang penyaringannya bersama. Dita menemukan satu kesalahan kecil di nama kolom: pembaca bisa mengira waktu unggahan sebagai waktu pembelian.

“Ini salah saya,” kataku.

“Sekarang punya kita,” kata Dita, lalu memperbaikinya sendiri sebelum aku sempat.

Kalau aku cuma mengirim berkas tanpa duduk bersama mereka, kesalahan itu bisa hidup lebih lama dari kontrakku.

Menjelang pukul sepuluh, aku melihat Marina melewati kaca koridor bersama Lilis, Sinta, dan tim legal. Mereka membawa laporan pelanggan dan rencana stok. Marina tidak menoleh ke ruang audit. Aku juga tidak mengejarnya.

Hari ini ia harus memutuskan nasib botol-botol yang sudah dibeli orang lain. Aku harus membuktikan bahwa memilih pergi tidak membuatku menelantarkan pekerjaan yang masih jadi tanggung jawabku.