Chapter Fourteen
KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
POV: Fakhri
Sepanjang Senin, Bu Marina tidak menyinggung kalimatnya di mobil pagi tadi. Aku juga tidak.
Kami melewati dua rapat, satu hujan singkat, dan satu manajer pemasaran yang lupa parkir di lantai berapa lalu mengelilingi gedung tiga kali sebelum menemukan mobilnya. Aku menyiapkan rute, mencatat perubahan jemput, dan sesekali memergoki diriku sendiri memikirkan sesuatu yang bukan rute.
Sebagai sopir, atau sebagai saya sendiri?
Aku yang mengajukan pertanyaan itu. Aku yang berjanji menjawab setelah jam kerja. Sekarang jam kerja hampir habis, dan aku tidak bisa pura-pura lupa.
Sore hari Naya mengabari bahwa Marina pulang lebih cepat. Ia datang ke parkiran tanpa laptop, hal yang belum pernah kulihat sejak hari pertama. Tas dokumennya dititipkan ke Naya.
Dan ia duduk di depan.
“Ada tempat makan dekat rute pulang yang nggak terlalu ramai?”
“Ada beberapa, Bu. Ibu mau makan malam?”
“Aku mau diskusi sebentar soal rute minggu depan. Sambil makan, mungkin.”
Rute minggu depan. Rute minggu depan yang sudah ada di tablet Naya sejak Jumat.
“Rute minggu depan bisa saya kirim ke Naya, Bu.”
“Aku tahu.”
“Kalau ini jadwal kerja, saya perlu catat jam lemburnya.”
“Kamu harus selalu bikin semuanya jadi administrasi?”
“Kalau saya salah paham, Ibu tinggal bilang.”
Ia menatap kaca depan. Aku belum menjalankan mobil. Mesin menyala, AC berdesis pelan, dan ada cukup ruang di antara kami baginya untuk membatalkan semuanya tanpa ditonton siapa pun.
“Aku mau makan sama kamu,” katanya. “Bukan bahas rute. Rutenya cuma alasan, dan alasannya jelek. Aku sadar sendiri waktu ngomongnya.”
Aku menarik napas. Aku tidak ingin ia menyesal sudah jujur. Aku juga tidak bisa pura-pura hubungan kerja kami lenyap begitu mesin dimatikan.
“Kalau itu perintah dari atasan saya, saya tolak, Bu.”
“Bukan perintah.”
“Kalau ajakan pribadi, saya mau jawabnya waktu saya benar-benar bebas bilang tidak.”
“Kamu bebas.”
“Di atas kertas, iya. Rasanya belum semudah itu. Ibu yang tanda tangan slip gaji saya.”
Ia tidak menghela napas kesal. Ia menoleh dan menatapku langsung, bukan lewat spion. Dari jarak ini aku bisa melihat maskaranya sedikit luntur di sudut mata setelah seharian rapat. Detail yang seharusnya tidak kucatat.
“Oke,” katanya. “Kalau begitu aku tanya satu hal, dan kamu cukup jawab ya atau tidak. Bukan sebagai sopir.”
“Silakan.”
“Kamu nolak karena nggak mau makan sama aku?”
“Tidak.”
Satu kata. Itu saja. Tapi wajahnya berubah seperti orang yang baru menerima laporan keuangan jauh di atas perkiraan.
“Bagus,” katanya, berusaha keras terdengar biasa. “Kamu bisa jalan sekarang. Kita pulang.”
“Dan Ibu jangan pakai alasan rute lagi,” tambahku sambil memasukkan gigi. “Rute saya terlalu bagus buat dijadikan alasan jelek.”
“Kamu tersinggung demi rutemu?”
“Saya bangga sama kerjaan saya, Bu.”
Ia tertawa, tawa yang keluar dari perut, bukan tawa rapat. Sisa perjalanan kami habiskan membahas kemacetan seperti dua orang yang bekerja bersama. Aku tahu ia tidak sedang menghukumku dengan diam. Ia memberi kami jalan keluar dari percakapan yang tidak bisa diselesaikan di kursi depan, selama aku masih memegang setir untuknya.
Setelah menyerahkan catatan kendaraan ke armada, aku mematikan ponsel kerja. Ponsel pribadiku langsung berbunyi. Aisyah, foto tungku yang sudah terpasang: Berhasil. Sekarang jangan nanya suhu kayak kemarin. Kubalas bahwa satu pertanyaan belum termasuk mengganggu proses kreatif. Ia mengirim tiga emoji mata memutar.
Aku mampir ke warung dekat rumah. Meja pojok kosong, nasi masih hangat, televisi menyiarkan sinetron dengan volume pelan. Tidak ada orang yang perlu kujawab sebagai sopir atau sebagai laki-laki yang tertarik padanya. Seharusnya aku lega.
Yang terjadi, aku menghabiskan sepiring nasi sambil mengingat wajahnya waktu aku bilang tidak.
Aisyah menelepon pas aku membayar. Ia minta bantuan mengirim contoh glasir besok, lalu bertanya kenapa suaraku seperti orang gagal mengisi TTS.
“Lagi mikir cara jawab seseorang.”
“Mulai dari kalimat yang nggak kedengaran kayak laporan kendaraan.”
“Kamu baca pikiranku?”
“Kak. Kamu barusan bilang cara jawab seseorang. Itu bukan kalimat orang yang lagi mikirin oli.”
Aku tidak menyebut nama Marina. Aisyah tidak mendesak. Kami saling kenal cukup lama untuk tahu kapan berhenti. Dengan Marina, kami baru mulai belajar bahasanya.
Saat aku berjalan pulang, ponselku menyala lagi. Nomor Marina, yang disimpan untuk keperluan perjalanan darurat.
Maaf tadi aku pakai alasan kerja. Kamu benar. Nggak akan kuulang.
Kubaca dua kali. Tidak ada permintaan agar aku berubah pikiran. Tidak ada penjelasan panjang betapa beratnya jadi CEO. Kubalas seperlunya.
Terima kasih, Bu. Saya juga nggak mau kita saling nebak.
Baru setelah terkirim, aku sadar kalimatku terlalu kaku untuk pesan pribadi jam sembilan malam. Aku tidak menambahkan apa-apa. Mengubah sapaan karena gugup cuma akan membuat batas yang baru kami sepakati terasa seperti permainan.
Lima menit kemudian, satu pesan lagi masuk.
Tapi rutemu memang bagus.
Aku tertawa sendirian di trotoar, dan seorang bapak yang lewat menatapku seperti aku baru dapat warisan.
Selasa pagi, Naya menungguku di lobi dengan jadwal yang sudah dicetak. Ada catatan dari Sinta: tim QA minta dua hari lagi sebelum menyetujui kemasan untuk batch berikutnya. Kunjungan sore Marina dipindah ke laboratorium.
Marina datang tak lama kemudian. Ia menyapaku seperti biasa di depan petugas armada, tanpa canggung dan tanpa keramahan berlebihan yang bikin orang menoleh.
“Pagi, Pak Fakhri.”
“Pagi, Bu.”
Di mobil, ia berkata, “Aku sudah baca balasanmu.”
“Saya tahu. Centang dua biru.”
“Kamu sengaja jawab pendek?”
“Saya nggak mau pesan Ibu jadi pembukaan debat baru.”
“Bagus. Aku juga nggak.” Ia diam sebentar. “Tapi pesan keduaku tetap berlaku.”
“Soal rute?”
“Soal rute.”
Kami berhenti di lampu merah. Marina membuka laporan pengujian, lalu menutupnya lagi untuk menelepon Sinta. Ia minta kejelasan soal sampel yang harus diulang, dan tidak menyuruh tim mempercepat pekerjaan hanya supaya jadwal peluncuran terlihat rapi. Aku tidak tahu datanya. Tapi aku mendengar pilihannya.
Setelah telepon selesai, ia berkata, “Kemarin malam nggak akan memengaruhi pekerjaanmu. Kalau ada yang terasa beda, bilang.”
“Saya percaya, Bu.”
“Kamu nggak harus langsung percaya.”
“Saya nilai dari cara Ibu ngomong pagi ini.”
Ia menatap ke depan. “Kalau nanti aku mau ngajak kamu ngobrol tanpa urusan kantor, aku bilang apa adanya. Tanpa rute.”
“Saya jawab apa adanya juga.”
Ia tidak bertanya apakah jawabanku nanti iya. Anehnya, aku menyukai itu lebih daripada ajakan makan malam yang belum sanggup kuterima.
Di laboratorium, Marina masuk sendiri membawa berkas dari Naya. Aku tetap di mobil, mencatat perkiraan jam pulang. Urusan pribadi kami belum selesai. Tapi pekerjaan hari itu berjalan tanpa satu pun dari kami memakai rapat QA sebagai alasan untuk menghindari, atau memaksakan, percakapan yang lain.
Untuk sekarang, itu sudah kemajuan.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK reading
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?