Chapter Four
ATURAN MOBIL NOMOR SATU
POV: Fakhri
Pagi berikutnya, ada selembar kertas di kursi pengemudi.
ATURAN MOBIL BU MARINA, tertulis di bagian atas. Aku tahu itu buatan Marina karena nomor empat memakai tanda seru dua kali.
Satu: semua perubahan rute harus dikonfirmasi sebelum berbelok.
Dua: panggilan kerja hanya masuk ke pengeras suara jika disetujui.
Tiga: suhu pendingin udara tetap pada angka yang disepakati.
Empat: komentar tentang kebiasaan makan penumpang TIDAK DIPERLUKAN!!
Aku membaca ulang nomor empat. Semalam aku bahkan tidak berkomentar ketika ia menghabiskan setengah rotiku. Rupanya satu pertanyaan tentang makan siang sudah cukup untuk masuk dokumen resmi.
Di bawahnya ada ruang kosong bertanda Catatan pengemudi. Aku mengambil pulpen dari laci mobil dan menulis: perubahan rute mendadak tetap bisa dilakukan bila ada penutupan jalan atau kebutuhan keselamatan. Untuk nomor dua, aku setuju sepenuhnya. Untuk nomor tiga, aku ingin tahu angka yang dianggap disepakati, karena kemarin ia tidak pernah menyebutnya. Nomor empat kubiarkan kosong.
Marina masuk mobil delapan menit kemudian. Ia langsung melihat kertas di tanganku.
“Sudah baca?”
“Sudah, Bu.”
“Ada keberatan?”
“Ada satu pertanyaan. Ini berlaku buat Ibu juga?”
“Aku penumpangnya.”
“Penumpang bisa mengubah rute tanpa konfirmasi?”
“Kalau penumpangnya aku, tentu saja.”
“Berarti aturan pertama itu cuma buat saya.”
Ia mengambil kertas itu dan membaca catatanku. “Kamu cepat sekali mencari celah.”
“Saya mau tahu cara menjalankannya.”
Ia mencoret dua tanda seru pada nomor empat dengan pulpennya sendiri. “Kamu puas?”
“Saya belum komentar soal nomor empat, Bu.”
“Bagus. Pertahankan.”
Kami berangkat. Hari ini lebih longgar, setidaknya menurut standar yang baru kupelajari. Satu rapat internal, satu kunjungan ke laboratorium, lalu perjalanan ke studio seni milik komunitas tempat ibu Marina mengajar sukarela. Undangan itu baru masuk ke jadwal malam sebelumnya, setelah aku tidur. Tidak ada penjelasan mengapa ia ikut mengantar.
Marina bekerja selama perjalanan pertama. Ketika ponselnya berdering, aku menyentuh panel audio untuk memutus sambungan otomatis sebelum suara penelepon masuk. Ia melirik kaca spion.
“Aturan nomor dua,” kataku.
“Jangan terdengar bangga begitu.”
“Saya cuma menjalankan aturan Ibu.”
Di laboratorium, aku menunggu di area parkir yang teduh. Seorang petugas keamanan melihat kertas aturan mobil di konsol dan terkekeh. “Baru kerja sama Bu Marina?”
“Hari ketiga.”
“Lumayan cepat dapat surat edaran.”
Aku membalik kertasnya agar ia tidak membaca lebih jauh. Dokumen itu tidak rahasia, tetapi tetap milik orang yang bekerja denganku. Petugas itu mengerti dan kembali ke posnya.
Selesai dari laboratorium, Marina membawa tas kertas panjang yang dibungkus rapi. Ia mendudukkannya di sampingnya, memasang sabuk, lalu berkata, “Ke studio Ibu. Alamatnya Naya kirim.”
“Sudah saya lihat.”
“Jangan lewat jalan pasar. Ada proyek saluran air.”
Aku menunjukkan rute lain yang sudah kusiapkan. Ia mengangguk. Kami hampir sampai ketika ponselnya berdering lagi. Nama Ibu muncul di layar mobil karena sambungan audio kembali aktif setelah mesin tadi dimatikan. Aku menunggu persetujuan, sesuai aturan kedua.
“Angkat,” katanya.
“Halo, Sayang!” Suara perempuan di seberang terdengar cerah sekaligus terburu-buru. “Kamu sudah dekat? Lukisan yang dua meter itu ternyata nggak muat mobil Nita.”
Marina duduk lebih tegak. “Aku sudah di jalan, Bu. Bisa dititip dulu?”
“Nita harus antar anaknya. Aku sama lukisan nunggu di pintu belakang. Jangan masuk depan, ya. Kita bisa kena macet orang pulang sekolah.”
“Pak Fakhri, belok kiri di depan,” kata Marina tepat ketika mobil mendekati persimpangan.
Aku menyalakan sein dan memastikan jalurnya aman. “Pintu belakang lewat gang setelah apotek, Bu. Kalau yang ini masuknya ke parkiran depan.”
“Oh. Ya sudah, ikuti yang benar.”
Di pengeras suara, ibunya tertawa. “Akhirnya ada orang yang bisa bilang Marina salah jalan tanpa takut dipecat.”
“Bu!”
“Apa? Ibu cuma bilang kamu suka yakin sekali kalau lagi salah.”
Aku berkonsentrasi pada gang sempit di depan supaya tidak ketahuan tertawa. Aturan pertama sudah selamat: perubahan rute dikonfirmasi. Aturan kedua sudah hidup melalui izin Marina. Yang menarik, semua itu terjadi karena dialah yang mengubah rencana dalam hitungan detik.
Bu Tari berdiri di depan bangunan dua lantai dengan cat pada ujung jarinya. Di sampingnya ada lukisan panjang berbungkus kain, dua tabung gambar, serta kotak yang kelihatannya berisi alat seni. Ia tidak tampak seperti orang yang perlu diselamatkan. Ia tampak seperti orang yang sudah mengangkat separuh barang sebelum kami tiba.
“Kamu pasti Fakhri,” katanya ketika aku turun.
“Iya, Bu. Saya bantu masukin yang mana dulu?”
“Lukisannya. Tapi pegang bingkainya, jangan bagian depan. Anak-anak studio baru selesai mengerjakannya.”
Marina menghampiri ibunya dan langsung mengambil kotak kecil. “Kenapa Ibu nggak bilang ukurannya dua meter dari kemarin?”
“Karena kemarin Ibu juga belum tahu mereka mau gabung semua panel jadi satu.”
“Mobil ini bukan mobil angkut.”
“Makanya Ibu telepon sebelum masukin, bukan sesudah.”
Aku membuka bagasi, mengukur ruang dengan mata, lalu melipat satu sisi kursi yang memungkinkan. Lukisan itu muat miring tanpa menekan kain pembungkus. Kotak cat dipindahkan ke lantai belakang dan diamankan agar tidak bergeser. Tidak sulit, tetapi perlu lebih dari satu orang. Marina memegang ujung bingkai tanpa menunggu diminta, sepatunya berdiri di atas lantai yang sedikit basah. Bu Tari memberi aba-aba seperti konduktor.
“Sedikit lagi. Jangan diputar. Nah. Kalian kalau kerja bareng bagus juga.”
“Kami sedang memasukkan lukisan, Bu,” jawab Marina.
“Ibu melihat.”
Aku pura-pura sibuk memeriksa kait bagasi. Bu Tari tersenyum kepadaku lewat jendela belakang. Aku mulai mengerti dari siapa Marina mendapat kemampuan membuat satu kalimat terdengar seperti penilaian lengkap.
Dalam perjalanan menuju gedung pameran, Bu Tari bertanya apa yang biasa kumakan saat bekerja. Marina langsung menoleh.
“Bu, jangan wawancara Pak Fakhri.”
“Ibu cuma tanya makan.”
“Itu awal dari sepuluh pertanyaan berikutnya.”
“Kalau begitu Ibu punya sembilan pertanyaan lagi.”
“Saya biasa bawa bekal, Bu,” jawabku sebelum keduanya berdebat. “Kadang beli di jalan.”
“Marina juga harus begitu,” kata Bu Tari. “Beli makan di jalan kalau nggak sempat.”
“Aku makan, kok.”
“Kopi bukan makan.”
Aku tidak mengatakan apa-apa. Marina mengarahkan pandangan ke spion, menantangku untuk tersenyum. Aku menjaga wajah tetap tenang sampai kami parkir.
Saat kami mengantar barang masuk ke gedung, seorang anak meminta Marina memilih tempat untuk kartu nama di bawah lukisannya. Marina berjongkok, menempelkan kartu itu di sudut yang ditunjuk anak tersebut, lalu mundur agar ia bisa menilai sendiri. Anak itu menggesernya dua sentimeter ke kanan. Marina tidak membetulkan lagi. Aku jadi paham mengapa Bu Tari meminta putrinya datang: bukan karena ia tak sanggup mengurus lukisan, melainkan karena ia ingin Marina berada di ruangan itu.
Seusai mengantar barang dan Bu Tari masuk ke gedung, Marina kembali ke mobil dengan kertas aturan di tangan. Ia duduk di depan karena kursi belakang masih berisi tabung gambar yang perlu kami kembalikan nanti.
“Kamu mau menambah aturan?” tanyanya.
“Mungkin satu. Kalau ada kebutuhan mendadak, bilang saja. Saya nggak keberatan ganti rute. Saya cuma perlu tahu sebelum belok.”
“Aku tadi memang terlalu mendadak.”
“Tapi Ibu dengar waktu saya bilang gangnya bukan yang itu.”
Marina memutar pulpen di jemarinya. Di bawah empat aturannya ia menulis satu kalimat baru, lalu menyerahkan kertas itu kepadaku.
Nomor lima: pengemudi boleh bilang tidak kalau alasannya jelas. Penumpang harus mendengar.
“Berlaku buat Ibu juga?” tanyaku.
“Terutama buat aku,” jawabnya.
Aku menyimpan kertas itu di konsol, bukan karena perusahaan memerlukannya. Aku ingin mengingat hari ketika Bu Marina membuat aturan yang memberi orang lain ruang untuk membantahnya.
Di pintu gedung, Bu Tari melambai lagi. “Jumat datang ke pembukaan, ya! Kalian berdua!”
Marina menoleh kepadaku. “Kamu dengar?”
“Saya dengar, Bu. Tapi undangannya dari Ibu Tari, bukan dari jadwal kantor.”
“Itu berarti kamu boleh menolak.”
Aku melihat kertas di konsol, lalu ke arah gedung tempat Bu Tari menghilang. “Saya mau datang. Kalau waktunya cocok.”
Marina mengangguk seolah itu jawaban biasa. Tapi sesaat sebelum aku menyalakan mesin, ia tersenyum kecil ke arah jendela. Aku berpura-pura sibuk mengatur kaca spion.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU reading
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?