Chapter Two
JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
POV: Fakhri
Jadwal Bu Marina datang ke ponsel kerjaku pukul enam lewat empat belas pagi. Aku membukanya sambil menunggu air mendidih untuk kopi.
Pukul delapan, rapat di kantor Kuningan. Pukul sepuluh lewat tiga puluh, pertemuan pemasok di Sudirman. Pukul dua belas, peninjauan gerai di Kebayoran Baru. Pukul satu lewat lima belas, kembali ke Kuningan untuk rapat produk.
Di antara semua itu ada empat belas menit untuk makan siang. Sepertinya kalender itu dibuat oleh seseorang yang tidak pernah duduk di kursi pengemudi.
Aku mengirim balasan kepada Naya, meminta nomor kontak penanggung jawab tiap lokasi dan memastikan mana pertemuan yang bisa digeser. Ia menelepon kurang dari semenit kemudian.
“Mbak Marina belum lihat usulan perubahan, Pak Fakhri. Ada rapat dewan yang baru masuk kemarin malam.”
“Berarti dia akan lihat pagi ini.”
“Iya. Kamu punya kabar buruk?”
“Punya pilihan.”
Naya tertawa pendek. “Kalau begitu, semoga dia sudah sarapan.”
Aku berangkat lebih pagi untuk memeriksa mobil. Setelah kemarin Marina mempertanyakan setiap keputusan kecilku, aku menduga ia akan membaca jadwal baru seperti tantangan pribadi. Itu haknya. Tugasku memberi tahu kapan tantangan itu mulai melawan jam.
Ia masuk mobil pukul tujuh lewat tiga puluh dua, membawa tas kulit, tablet, dan wajah orang yang sudah mengikuti satu rapat sebelum matahari benar-benar naik.
“Pagi, Bu.”
“Pagi. Kamu dapat jadwalnya?”
“Sudah. Saya mau usul dua perubahan.”
“Baru hari kedua kamu bekerja dan sudah mau mengubah dua agenda saya?”
“Kalau saya tunggu hari ketiga, rapatnya sudah lewat.”
Marina memandangku dari spion. Sudut bibirnya bergerak sedikit sebelum ia menunduk ke tablet.
Aku menjelaskan bahwa pintu masuk pertemuan di Sudirman berada di sisi jalan yang berbeda dari alamat utama. Di tengah hari, memutar ke sana lalu berangkat ke Kebayoran akan memakan waktu lebih lama daripada durasi pertemuannya sendiri. Ada dua pilihan: pemasok datang ke kantor cabang Asterra dekat gerai, atau peninjauan gerai dilakukan oleh timnya sementara Marina bergabung lewat panggilan video.
“Aku ingin lihat gerainya sendiri,” katanya.
“Kalau begitu pemasoknya yang pindah lokasi. Naya sudah cek ruang pertemuan di sana kosong.”
“Kamu sudah bicara sama Naya?”
“Saya tanya mana ruang yang tersedia. Belum ada yang saya ubah.”
Ia mengetuk sisi tablet sekali. “Pemasok itu datang dari luar kota. Menyuruh mereka pindah mendadak kurang sopan.”
“Saya setuju. Karena itu saya minta Naya menanyakan apakah mereka belum berangkat. Kalau sudah, kita pakai pilihan kedua.”
“Kamu punya pilihan ketiga?”
“Punya. Ibu bisa berangkat dari rapat pertama sebelum selesai.”
“Itu bukan pilihan yang kusuka.”
“Makanya saya taruh paling akhir.”
Marina tidak menjawab. Aku melihatnya mengetik pesan kepada Naya, lalu meletakkan tablet di sampingnya. Ia tidak menyetujui idenya karena aku yang mengusulkan. Ia memeriksa dulu apa yang dikorbankan orang lain. Aku menghargai itu.
Di kantor, ia turun sebelum balasan pemasok masuk. Aku memarkir mobil dan memeriksa tekanan ban yang tadi terasa sedikit berbeda saat melewati sambungan jalan. Tidak ada masalah. Sambil menunggu, aku makan bekal roti panggang di bangku dekat area pengemudi, bukan di dalam mobil. Dua sopir lain mengobrol tentang jam penjemputan. Salah seorang bercerita bahwa atasannya selalu meminta ia “cari jalan cepat”, tetapi marah jika jalannya berlubang. Aku nyaris ikut tertawa karena baru satu hari bekerja dan sudah bisa membayangkan komentar Bu Marina soal lubang jalan.
Pukul sembilan lewat dua puluh, Naya menelepon. Pemasok belum berangkat dan bersedia bertemu di kantor cabang, asalkan ada contoh kemasan yang mereka bawa. Marina memilih datang sendiri ke sana. Itu memindahkan satu titik tanpa membatalkan pekerjaan siapa pun.
“Mbak Marina bilang usulan kedua nggak perlu,” kata Naya.
“Baik.”
“Dia juga bilang jangan sampai kamu besar kepala.”
“Tolong sampaikan saya masih muat di kursi pengemudi.”
Naya tertawa begitu keras sampai aku menjauhkan ponsel dari telinga.
Rapat pertama molor tujuh belas menit. Saat Marina masuk mobil, ia menutup pintu agak keras dan langsung membuka laptop. Aku menunggu ia memasang sabuk. Kali ini tidak perlu diingatkan.
“Pemasoknya sudah setuju pindah,” katanya.
“Saya dengar dari Naya.”
“Tapi rapat mereka cuma bisa mulai pukul sebelas. Peninjauan gerai harus dipercepat.”
Aku menunjukkan urutan baru di peta. Ia melihatnya sekilas, lalu menghubungi kepala gerai untuk memastikan tim sudah siap lebih awal. Tidak ada bentakan kepada jalanan, tidak ada permintaan menambah kecepatan. Yang ada keputusan, dibuat satu per satu.
Di lampu merah, laptopnya berbunyi. Panggilan dari tim pemasaran masuk dan langsung terhubung ke pengeras suara mobil sebelum ia sempat mematikan sambungan otomatis.
“Mbak, kalau mau kita bisa minta kendaraan masuk lewat jalur belakang mal,” kata suara di seberang. “Biar waktunya lebih cepat.”
“Jalur belakang itu untuk pengiriman barang,” jawab Marina. “Kita pakai pintu yang semestinya.”
Aku tidak berkomentar. Sesaat kemudian ia menatap spion.
“Jangan kelihatan puas begitu, Pak Fakhri.”
“Saya lagi lihat lampu, Bu.”
“Lampunya ada di depan.”
“Makanya saya nggak menatap Ibu.”
Suara kecil di pengeras mobil terdengar seperti orang berusaha menahan tawa. Marina buru-buru mematikan sambungan audio mobil, meneruskan panggilan lewat earphone, dan selama beberapa menit tidak melihat spion sama sekali.
Di depan gerai, sebuah mobil pengiriman berhenti melintang karena petugas sedang menurunkan rak display. Gerbang yang direncanakan tertutup. Aku memberi tahu Marina bahwa kami bisa masuk dari parkir pengunjung dan berjalan lewat koridor samping, sekitar tiga menit lebih lama. Ia memandang rak-rak besar yang sedang diangkat, lalu menelepon kepala gerai.
“Jangan suruh mereka buru-buru cuma karena saya datang,” katanya. “Kami masuk dari samping.”
Saat panggilannya selesai, ia berkata kepadaku, “Jangan catat ini sebagai kemenanganmu yang kedua.”
“Saya belum punya buku catatan kemenangan, Bu.”
“Bagus. Kalau ada, pasti cepat penuh.”
Kami tiba di gerai delapan menit sebelum jadwal yang baru. Marina masuk dengan langkah cepat, tetapi berhenti di pintu ketika seorang pegawai hendak memindahkan kotak contoh produk demi memberi jalan. Ia meminta pegawai itu menyelesaikan pekerjaannya dulu. Lalu ia berdiri menunggu, seperti orang yang tidak pernah menyusun jadwal penuh hingga malam.
Aku memperhatikannya bukan karena ia CEO. Aku pernah membawa orang yang menjadikan keramahan sebagai pertunjukan di depan kamera. Di situ tak ada kamera; ia bahkan tidak tahu aku melihat.
Seusai pertemuan pemasok, hujan mulai turun. Marina kembali dengan satu map tambahan dan wajah yang lebih ringan. Pertemuan selesai, sampel terkumpul, dan rapat produk berikutnya bisa dimulai tepat waktu jika kami langsung pulang.
“Jadi?” tanyanya setelah duduk. “Berapa menit kita punya?”
“Cukup untuk sampai tanpa ngebut. Belum cukup buat makan siang.”
“Aku bisa makan nanti.”
“Saya bisa berhenti sebelum rapat berikutnya kalau Ibu mau ambil sesuatu.”
“Nggak usah. Kamu sendiri sudah makan?”
Pertanyaan itu datang saat aku sedang memeriksa kaca samping. “Sudah, Bu. Tadi pagi.”
“Itu bukan makan siang.”
“Betul. Saya nggak bilang itu makan siang.”
Ia mendengus, lalu kembali bekerja. Aku bisa saja menganggapnya basa-basi. Tapi di sepanjang perjalanan ia menolak satu panggilan yang tidak mendesak agar aku bisa konsentrasi melewati genangan besar tanpa suara orang berdebat dari kursi belakang.
Rapat terakhir mulai tepat waktu. Di depan gedung, sebelum turun, Marina melirik jam lalu menatapku.
“Kamu benar soal jadwal tadi.”
“Terima kasih, Bu.”
“Jangan dibiasakan dengar kalimat itu.”
“Saya catat sebagai kejadian langka.”
Ia turun sambil menggeleng. Aku menunggu sampai ia masuk, lalu menandai jeda istirahat yang akan kuambil sebelum penjemputan sore. Untuk pertama kalinya hari itu, aku sempat mengirim pesan ke Aisyah bahwa aku tidak jadi membantunya mengambil pesanan keramik malam ini.
Ponselku bergetar lagi beberapa menit kemudian. Bukan balasan Aisyah, melainkan perubahan jadwal dari Naya: rapat produk selesai lebih larut, dilanjutkan kunjungan singkat ke gudang sampel. Aku memindahkan waktu istirahat lebih awal dan memastikan ia menerima pesanku.
Hari pertama membuktikan Bu Marina bisa mendengar kata tidak. Hari kedua membuktikan ia bisa melakukan sesuatu dengan kata itu. Aku belum tahu seperti apa malamnya nanti.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET reading
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?