← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Twenty

YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA

POV: Marina

Sinta datang sebelum rapat dimulai. Ia membawa berkas rilis batch SV-26-041, hasil uji terbaru, dan surat pengantar yang lipatannya sudah lemas, seperti dibuka-tutup puluhan kali sejak semalam.

Aku meminta Naya memanggil legal, operasi, dan Lilis. Lalu kututup pintu.

“Ceritakan dari awal,” kataku.

Sinta tidak membuka dengan alasan. Itu satu hal yang masih kuhargai darinya.

Sebelum rilis, sebagian pompa kemasan memberi hasil uji segel yang tidak konsisten. Timnya menyetujui pelepasan bersyarat untuk SV-26-041: inspeksi tambahan pada sejumlah unit, plus pemantauan keluhan ritel. Sinta yang menandatangani. Ketika laporan tester macet mulai masuk berminggu-minggu kemudian, ia mengira masalahnya cuma di mekanisme pompa. Ia minta sampel tambahan, tapi tidak pernah menaikkan catatan uji awal itu ke mejaku.

“Kapan kamu tahu inspeksi tambahan nggak cukup?”

“Kemarin sore, Bu. Uji isi pada unit yang segelnya gagal menunjukkan perubahan dibanding sampel kendali. Kami masih menghitung berapa unit yang terdampak.”

“Kenapa catatan rilis bersyarat baru sampai ke aku hari ini?”

“Saya takut kita menyatakan ada masalah besar sebelum saya bisa memastikan seberapa besar.”

“Kamu nggak perlu tahu seberapa besar untuk bilang ke aku ada risiko yang harus ditahan.”

Ia menunduk. “Saya salah.”

“Siapa lagi yang terima laporan tester pertama?”

Sinta membuka daftar distribusi. QA, pengadaan kemasan, penanggung jawab ritel. Masing-masing memegang potongan yang berbeda, dan tidak ada satu orang pun yang ditugasi menjajarkan hasil inspeksi awal dengan keluhan terbaru. Namaku tidak ada di daftar penerima ringkasan pengecualian rilis.

Dan itu juga salahku. Aku seharusnya menuntut laporan itu sejak awal, bukan berasumsi keputusan berlabel “bersyarat” akan naik sendiri ke mejaku begitu keadaannya memburuk.

“Simpan semua versi catatan,” kataku. “Jangan ada yang mengubah tanggal atau menghapus komentar lama. Auditor harus melihat keputusan kita sebagaimana dibuat. Termasuk keputusanku untuk nggak menanyakan detailnya.”

Untuk pertama kalinya sejak masuk, Sinta menatapku lurus. “Saya bisa jelaskan sendiri ke dewan.”

“Kamu akan dapat kesempatan itu. Hari ini kita urus orang yang lagi memegang botolnya.”

Aku marah. Aku juga tahu kemarahanku tidak boleh jadi satu-satunya keputusan di ruangan ini. Sinta pernah menghentikan peluncuran lain karena uji kemasannya belum tuntas. Ia tidak mendadak bodoh. Ia membuat satu keputusan rilis yang terlalu optimistis, lalu menunda kabar buruk karena merasa harus datang dengan jawaban lengkap. Dan sistem di bawah kepemimpinanku memberi ruang bagi penundaan itu.


Lilis melaporkan kondisi pelanggan: kanal bantuan dan pengembalian dana sudah jalan, sebagian masih menunggu penjelasan soal produknya. Legal menjelaskan langkah yang bisa diumumkan hari ini juga tanpa menunggu dewan: hentikan penjualan batch terkait, dan beri tahu pembeli cara mengenali kode di kemasannya. Operasi sudah menahan pengiriman sejak hari pertama ulasan meledak, tapi stok yang sudah di gerai butuh instruksi resmi.

“Kirim instruksi penghentian penjualan SV-26-041 sekarang,” kataku. “Pemberitahuan publik hari ini: batch itu sedang kami periksa, pembeli bisa minta bantuan dan pengembalian dana. Jangan nunggu konferensi pers.”

Naya mencatat jamnya. Legal dan QA menyusun redaksi tanpa kata-kata yang berusaha terdengar aman dengan cara mengaburkan risiko.

Sepuluh menit kemudian, kepala penjualan menelepon. Ia minta pengecualian untuk beberapa gerai yang baru memasang materi promosi mahal.

“Tidak,” kataku.

“Bu, penalti pajangannya—”

“Catat angkanya untuk rapat besok. Penalti bisa kita bicarakan. Produk yang sedang diperiksa nggak boleh dijual cuma karena posternya telanjur dicetak.”

Ia diam. Lalu, dengan suara orang yang baru menyadari bahwa ia sedang merekam dirinya sendiri di kepala auditor: “Baik, Bu.”

Lilis minta ruang keputusan untuk timnya: apakah petugas harus menunggu persetujuan atasan setiap kali ada pelanggan minta pengembalian dana. Kami menetapkan batas dan jalur eskalasi yang sederhana, supaya petugas bisa membantu di panggilan pertama.

“Catat juga hambatannya,” kataku. “Bukan cuma jumlah tiket yang selesai. Angka ‘selesai’ bisa kelihatan bagus, sementara seseorang masih nunggu telepon balik.”


Menjelang sore, pemberitahuan sementara tayang. Beberapa mitra ritel mengonfirmasi stok sudah ditarik dari rak. Yang lain minta bantuan mencari kode batch karena labelnya kecil. Gambar yang dibuat tim desain kemarin akhirnya terpakai.

Aku menelepon Lilis setelah melihat grafik panggilan masuk. Ia tidak bilang semuanya lancar. Ada pelanggan yang kecewa karena pemberitahuan kami datang setelah mereka melihat video orang lain. Ada yang marah karena kotaknya sudah dibuang bersama kode batch-nya.

“Bantu lewat bukti pembelian dan foto botol kalau ada,” kataku. “Jangan bikin mereka merasa salah karena menyimpan produk dengan cara biasa. Mereka beli serum, bukan pekerjaan rumah dari kita.”

Dewan bertemu besok pagi. Legal menyiapkan beberapa skenario, dari penahanan sementara sampai penarikan semua unit batch dari pasar. Aku minta perkiraan stok di tiap saluran, cara menghubungi gerai kecil yang tidak membaca email kantor setiap jam, dan siapa yang mengangkat telepon kalau pelanggan menelepon di luar jam kerja. Aku menandatangani biaya pengiriman panduan ke ritel sebelum presentasi keuangannya selesai dibuat.

Bimo mengirim kabar: dugaan koordinasi unggahan makin layak diaudit, tapi belum terhubung secara sah ke pihak mana pun. Kubalas: lanjutkan, tapi jangan sampai pekerjaan itu dipakai sebagai alasan menunda tindakan QA. Dua masalah ini berjalan bersamaan. Yang satu tidak menghapus yang lain.


Pukul sembilan malam, aku masih di sofa ruang tunggu lobi, membaca naskah untuk dewan. Naya sudah pulang setelah memastikan ada staf jaga yang mengawal komunikasi. Lampu lantai atas sudah separuh mati.

Fakhri keluar dari lift dengan tas di bahu. Ia baru menyerahkan laporan hari itu ke Bimo. Ia tidak membawa hasil ajaib yang bisa menyelamatkanku dengan satu klik. Yang ia bawa cuma tasnya dan wajah lelah.

“Kamu belum pulang?”

“Sebentar lagi.”

“Itu jawabanmu tiga jam lalu.”

“Kamu catat?”

“Aku ingat.”

Ia duduk satu kursi dariku. Aku menunjukkan pemberitahuan batch yang sudah tayang di laman resmi, bukan berkas pelanggan yang tidak berhak ia lihat. Ia membacanya pelan, seperti membaca rute baru.

“Kamu nulis apa yang sudah diketahui dan apa yang belum,” katanya. “Orang bisa ambil keputusan dari situ.”

“Harusnya aku tahu lebih cepat.”

“Iya. Sekarang kamu tahu, dan sudah bertindak.”

Aku menoleh. Ia tidak menawarkan pengampunan. Ia tidak bilang semua ini bukan salahku karena Sinta menahan laporannya. Justru itu yang membuatku ingin duduk sedikit lebih dekat.

“Aku takut besok semua orang cuma dengar angka biaya penarikannya.”

“Kalau gitu bawa juga suara Lilis. Dan orang-orang yang dia telepon.”

“Menurutmu dewan mau dengar?”

“Mereka harus memutuskan setelah tahu akibatnya. Kalau nggak mau dengar, paling nggak kamu sudah bikin akibatnya mustahil diabaikan.”

Hening. Lampu lobi memantul di lantai yang baru dipel. Fakhri menatapku, dan aku sadar jarak di antara kursi kami cukup dekat untuk kujangkau dengan satu gerakan. Aku ingin menyentuh wajahnya. Aku ingin tahu apakah ia juga lupa bernapas kalau aku mendekat.

Aku berdiri lebih dulu. Ia ikut berdiri, dan sekarang kami lebih dekat daripada waktu duduk. Tatapannya turun sebentar ke bibirku, lalu kembali ke mataku. Tubuhku bergerak setengah langkah sebelum pikiranku sempat menyusul.

“Aku mau cium kamu,” kataku pelan. “Tapi aku masih atasanmu.”

Fakhri tidak mundur. Ia menghela napas pendek, seperti orang yang baru menurunkan beban berat dan tahu masih harus mengangkatnya lagi.

“Aku juga mau. Dan aku nggak mau besok pagi kita bertanya-tanya, salah satu dari kita beneran bebas milih atau nggak.”

Aku mengangguk, lalu mundur satu langkah. Ia membiarkanku melakukannya sendiri.

“Pulang,” kataku. “Aku juga pulang setelah kirim satu berkas.”

“Jangan jadikan satu berkas itu alasan buat di sini sampai subuh.”

“Kalau aku bohong, Naya yang nagih.”

“Naya bakal nagih pakai bunga.”

Ia tersenyum, lalu pergi. Aku kembali ke laptop untuk mengirim ringkasan keputusan hari ini, bukan untuk memikirkan ciuman yang belum terjadi. Tapi waktu pintu lift menutup, aku tahu ada yang sudah berubah. Kami tidak lagi pura-pura tidak tahu apa yang kami inginkan. Kami cuma memilih menunggu sampai keinginan itu benar-benar milik kami berdua.