Chapter Ten
ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
POV: Fakhri
Aisyah sedang menghitung kotak di depan studio waktu aku datang Sabtu pagi. Rambutnya diikat asal, lengannya belepotan tanah liat kering, dan ada sepotong selotip menempel di ujung hidungnya. Ia tidak sadar. Aku memutuskan belum memberitahunya.
“Kak, jangan injak kotak yang kanan,” katanya, sebagai ganti selamat pagi.
“Pagi juga.”
“Yang kanan sudah siap kirim. Yang kiri belum kucek.”
Aku melepas sepatu dan mengambil daftar alamat. Enam pesanan, dua galeri, satu van sewaan yang harus kembali sebelum jam empat. Jam kerjaku hari ini sudah kutukar lewat Naya sejak Kamis, jadi tidak akan ada telepon mendadak yang membuat Aisyah menyetir van sendirian sambil mengomeli GPS.
“Ada yang retak?” tanyaku sambil membuka kotak pertama.
“Satu mangkuk. Kubikin ulang. Pembelinya sudah kukabari tanggal barunya.”
“Bagus.”
“Jangan bilang ‘bagus’ kayak kamu supervisorku.”
“Oke. Keputusanmu sangat masuk akal.”
“Itu lebih parah, Kak.”
Aku tertawa dan mengangkat kotak ke meja periksa. Aisyah suka bilang aku terlalu serius untuk orang yang katanya lari dari layar komputer. Tidak sepenuhnya salah. Di studio ini pun otakku otomatis menghitung berapa barang masuk, keluar, dan perlu dibuat ulang. Bedanya, di sini ada yang memukul lenganku dengan lap kalau tanganku berhenti membungkus gara-gara sibuk menghitung.
Pukul sepuluh, lonceng di pintu kaca berbunyi. Kukira kurir.
Ternyata Marina.
Tanpa blazer. Tanpa sepatu hak. Kemeja krem dengan lengan digulung, rambut diikat rendah, dan dua kantong minuman di tangan. Aku mengenalinya dalam satu detik. Butuh satu detik lagi untuk memproses bahwa ia datang sendiri. Tanpa Naya, tanpa sopir. Tanpa aku.
“Studionya buka?” tanyanya.
“Buka!” Aisyah menyambar lebih cepat dariku. “Mau lihat yang ready atau pesan khusus, Kak?”
Marina melirikku. “Aku sudah tanya alamatnya hari Kamis. Kamu bilang boleh datang.”
“Boleh, Bu. Saya cuma nggak nyangka sepagi ini.”
“Aku juga nggak nyangka kamu masih angkat-angkat kotak.”
“Dia memang hobinya ngatur kotak,” kata Aisyah. “Kakak kenal?”
“Bu Marina,” jawabku. “Yang pernah kuceritakan.”
Aisyah menatapku sepersekian detik terlalu lama, tatapan adik yang sedang mencatat sesuatu untuk dipakai belakangan, lalu mengelap tangan di celemek dan mengulurkannya. “Aisyah. Kalau Kak Fakhri pernah ngeluh soal aku, abaikan aja.”
“Dia bilang kamu bikin vas yang bentuknya bikin dia bingung mau diisi apa,” kata Marina.
“Berarti dia belum lihat yang terbaru. Sini, Kak.”
Dan begitu saja, mereka berdua menghilang ke rak belakang. Aku tertinggal bersama kotak-kotak dan kantong minuman yang Marina taruh di meja.
Di tiap gelas ada tulisan spidol dari kedai. Teh tawar dingin. Kopi susu. Dan satu lagi: kopi hitam, tanpa gula.
Aku menatap gelas itu cukup lama.
Aku tidak pernah memberi tahu Marina kopi apa yang kuminum. Lalu aku ingat warung makan hari Kamis: gelas hitam di samping piringku, sachet gula yang kutolak. Ia melihatnya sekali. Sambil makan nasi ayam dan berusaha keras tidak memperhatikan pegawai di meja sebelah.
“Kopimu,” kata Marina waktu kembali ke meja. “Kalau salah, aku masih simpan struknya buat komplain.”
“Nggak salah, Bu. Terima kasih.”
“Kak,” Aisyah menyela, “kamu harusnya lihat mukamu sekarang.”
“Aku lagi baca label minuman.”
“Labelnya di gelas. Bukan di muka Bu Marina.”
Marina tertawa. Aku menyodorkan kopi susu ke adikku, berharap mulutnya sibuk setidaknya satu menit.
“Aku cari hadiah buat Ibu,” kata Marina, kembali serius. “Beliau suka barang yang bisa dipakai. Bukan yang cuma dipajang di lemari karena takut pecah.”
Aisyah mengambil mangkuk berglasir biru dengan permukaan yang sengaja dibuat tidak rata. Marina membaliknya, mengusap bekas putaran halus di dasarnya dengan ibu jari.
“Ini aman dipakai tiap hari?”
“Aman. Aku bikinnya memang buat dipakai. Kalau jatuh dari meja ya pecah, tapi nggak perlu diperlakukan kayak barang museum.”
“Ibu pasti suka.”
Lalu Marina bertanya soal pesanan khusus: wadah pensil kecil, dengan warna yang diambil dari lukisan murid-murid Ibu di pameran kemarin. Termasuk lukisan halte dengan ayah berkaki enam itu. Aisyah langsung mengangkat tangan.
“Paletnya bisa kuambil, Kak. Tapi gambar anak-anaknya nggak akan kusalin tanpa izin mereka.”
“Setuju,” kata Marina tanpa jeda. “Biar Ibu yang tanya ke anak-anaknya dulu. Kalau mereka nggak mau, kita pakai palet lain.”
Aku memperhatikan dari meja periksa. Banyak pembeli akan bilang ini cuma keramik, aku sudah bayar. Marina malah bertanya berapa lama Aisyah butuh waktu untuk membuat contoh, lalu membaca formulir pesanan sampai baris terakhir: harga per wadah, batas revisi, uang muka yang baru dibayar setelah contoh glasir disetujui. Tidak ada permintaan diskon. Tidak ada bisa lebih cepat? Aisyah memberi harga yang sama persis dengan harga untuk orang lain, dan Marina tidak menawar sepeser pun.
“Desain awal kukirim minggu depan, Kak.”
“Oke. Jangan bikin semua dulu sebelum aku dan Ibu lihat contohnya.”
“Deal.”
Mereka berjabat tangan seperti dua orang yang baru menyepakati proyek. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Marina masuk ke sebuah ruangan tanpa membawa jabatannya di depan tubuhnya.
Ia bisa saja membeli seluruh rak. Tapi ia memperlakukan jadwal adikku sebagai sesuatu yang layak dihormati. Itu jauh lebih menarik buatku daripada nominal di formulir.
Menjelang siang, kotak terakhir masuk van. Marina sudah membayar mangkuknya dan bersiap pergi. Aisyah memaksaku mengantar tamu sampai pintu, padahal jarak meja kasir ke trotoar cuma enam langkah.
“Saya hari ini libur, Bu,” kataku, entah kenapa.
“Aku tahu. Aku datang sebagai pembeli.”
“Ibu bisa beli keramik di tempat lain.”
“Bisa. Tapi aku suka karya Aisyah.” Ia menatap papan nama kecil di atas pintu. “Dan aku mau lihat tempat yang sering kamu bantu.”
Ia mengatakannya tanpa senyum yang meminta sesuatu dariku. Aku menahan pintu kaca sementara ia melangkah keluar.
“Terima kasih kopinya, Bu.”
“Sama-sama. Kamu nggak pakai gula, kan.”
“Iya, Bu. Saya cuma kaget.”
“Kaget kenapa?”
“Saya nggak biasa ada orang yang ingat pesanan minum saya setelah lihat sekali.”
“Mungkin selama ini kamu ketemu orang yang kurang merhatiin.”
Begitu kalimat itu keluar, ia langsung menunduk ke kantong mangkuknya, seolah yang barusan ia bicarakan memang cuma kopi. Aku tidak membantunya berpura-pura. Aku hanya mengangguk, dan membiarkannya berjalan ke mobil yang ia setir sendiri.
Rasanya aneh melihatnya duduk di balik kemudi. Seperti melihat dunia dari spion yang dipasang terbalik.
Pintu di belakangku terbuka sedikit. “Dia beneran bosmu?”
“Iya.”
“Dia bayar penuh.”
“Memang harus.”
“Aku bukan ngomongin uangnya, Kak.”
“Jangan bikin cerita sendiri.”
“Aku cuma bilang dia bayar penuh.”
“Ya udah. Berhenti di situ.”
Aisyah mengangkat dua tangan tanda menyerah, tapi senyumnya tidak ikut menyerah. Aku menutup pintu sebelum ia sempat menyusun kalimat berikutnya. Enam kotak masih menunggu, dan aku tidak berniat membahas Marina sambil menyetir van milik orang lain. Sepanjang jalan ke galeri, Aisyah mengoceh soal mangkuk yang harus dibuat ulang.
Aku lega. Itu masalah yang bisa kubantu tanpa harus menebak perasaanku sendiri.
Selotip di hidungnya baru ia temukan di galeri kedua. Ia memukul lenganku sepanjang perjalanan pulang.
Senin pagi, Naya mengirim jadwal prapeluncuran Sera Veil. Acara untuk mitra ritel dan media pekan depan, dengan jam kerja armada sampai malam. Ia minta aku memastikan jalur masuk kendaraan, ruang tunggu sopir, dan seragam. Aku membalas yang sudah pasti, lalu bertanya satu hal: apakah jam istirahat pengemudi sudah masuk jadwal.
Naya membalas singkat: Sudah. Kebijakan baru.
Undangannya mencantumkan nama Marina besar-besar di halaman pertama, di bawah foto produk. Namaku tentu tidak ada, dan memang tidak seharusnya ada. Tapi setelah Sabtu di studio, aku baru benar-benar sadar betapa berbeda cara orang bicara pada Marina begitu mereka tahu jabatannya. Di depan media dan mitra, jarak antara kursi depan dan kursi belakang mungkin akan terasa jauh lagi.
Aku memasukkan denah pintu keluar gedung acara ke daftar tugas, lalu menutup undangan itu sebelum terlalu lama memikirkan hal yang belum terjadi.
Marina masuk mobil tak lama kemudian. Ia memasang sabuk dan menatapku lewat spion.
“Mangkuknya sudah dipakai Ibu buat sarapan,” katanya.
“Bu Tari suka?”
“Katanya, kalau sampai kupecahkan, dia mau minta kamu antar lagi ke studio.”
“Saya bisa kasih alamatnya, Bu. Bu Tari bisa ke sana sendiri.”
“Ibu pasti tetap nyuruh aku ngajak kamu.”
Aku nyaris bertanya, Kalau Bu Marina sendiri, mau? Tapi sebelum kalimat itu sampai ke mulut, Naya menelepon lewat sistem mobil, minta konfirmasi jam kedatangan mitra. Marina menjawab dengan suara CEO-nya: cepat, tegas, tanpa sisa Sabtu pagi.
Aku menyetir ke kantor dan membiarkan pertanyaan itu tinggal di kursi depan. Kosong, tapi tidak benar-benar kosong.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA reading
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?